CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Dia Brennan


__ADS_3

"Arina awas!" Pekik Syene.


BUKK


Arina menabarak seseorang di belakangnya. Untungnya orang yang ia tabrak itu mau menahan tubuh mungilnya hingga ia tidak terjatuh ke lantai.


"Maaf Tuan. Maafkan adikku." Pinta Syene segera menarik Arina.


"Maaf Tuan, aku tidak sengaja. Semoga kau tidak terluka." Arina membungkuk beberapa kali dan menarik Syene segera pergi.


Sepasang mata tajam dari pria yang ia Arina tabrak itu terus mengikuti mereka hingga keduanya menghilang dibalik keramaian.


"Tuan, kau tidak apa-apa?" Tanya seorang pria di belakang pria berkacamata itu.


"Bukankah itu kekasihnya Griffith?" Tanyanya pada bawahannya.


"Benar Tuan. Dia adalah gadis yang sedang dekat dengan Tuan Griffith." Jawab bawahannya.


"Cari tahu tentang gadis yang satunya. Yang dia sebut adiknya itu, sepertinya aku sudah menemukan obat yang tepat." Titahnya pada bawahannya.


"Baik Tuan." Jawab sang bawahan dan keduanya pun beranjak dari tempat itu.


••••••


"Hah...menakutkan." Gumam Arina mengelus dadanya.


"Kau juga. Sudah aku bilang jangan berjalan mundur seperti itu." Syene mengomeli Arina yang sibuk menyeruput minumannya.


"Tapi pria tadi terlalu menakutkan. Kenapa dia berpakaian sangat tertutup seperti itu? Bahkan ia juga mengenakan sarung tangan, padahal kan sekarang bukan musim dingin." Arina mengernyit bingung sambil mengaduk spaghetti miliknya.


"Entahlah. Mungkin dia sedang sakit, tapi sepertinya aku bertemu dengannya. Sayangnya aku lupa di mana." Syene ikut menyantap ramen miliknya.


"Ih...apa dia mempunyai penyakit kulit yang menular? Astaga tadi dia menyentuhku." Arina seketika menggosok kedua lengannya yang tidak sengaja disentuh oleh pria yang ia tabrak tadi.


"Ck...kau ini berlebihan. Jangan berpikir terlalu buruk pada seseorang." Syene menenangkan adiknya.


"Hah...benar juga. Dia itu tampan meski penampilannya sedikit aneh." Arina kembali fokus menyantap makanannya.


"Setelah ini antar aku ke mansion Griff ya! Tidak enak jika sudah berjanji tapi tidak ditepati." Pinta Syene tersenyum malu-malu.

__ADS_1


"Bilang saja kau sudah kebelet ingin bertemu kekasihmu itu." Arina memutar malas kedua matanya.


"Jangan begitu. Nanti jika kau sudah menemukan priamu, kau akan tahu sendiri bagaimana perasaan itu." Syene menaikturunkan alisnya.


"Aku tidak akan seperti dirimu. Selesai kuliah aku mau melanjutkan pendidikanku lagi." Arina terlihat begitu yakin.


"Em...benar-benar aku dukung jika kau bisa mewujudkannya." Syene mengacungkan jempolnya.


"Aku pasti bisa." Arina tersenyum yakin.


Keduanya melanjutkan perbincangan mereka sambil menikmati makanan mereka. Membahas hal yang penting maupun tidak penting. Tanpa menyadari ada dua pasang telinga yang mendengar semua percakapan mereka.


"Sudah selesai? Kalau sudah sebaiknya aku segera mengantarmu ke mansion kekasihmu. Aku tidak mau pulang sendiri malam-malam nanti." Ajak Arina.


"Sudah. Ayo." Syene menenteng tas belanjaan mereka dan keduanya segera keluar dari restoran tempat mereka makan tadi.


Segera mereka melangkah ke parkiran pusat perbelanjaan dan meluncur pergi meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan keduanya begitu bahagia. Meski mereka bukan saudari dari orang tua yang sama, tapi keduanya sangat saling menyayangi sejak dari kecil. Mereka adik kakak yang lebih seperti sahabat yang bisa saling berbagi segala cerita bersama.


"Kita sampai Nyonya Akayama." Arina menghentikan motornya di depan mansion Griffith.


"Kau tidak mau masuk dulu?" Syene menawarkan.


Gadis itu begitu girang. Benar-benar seperti anak remaja polos yang begitu menikmati hidupnya. Tanpa beban apapun selain tugas kuliah yang terkadang menumpuk. Belum mengenal dunia percintaan yang penuh drama.


"Siapa itu?" Gumam Arina bingung ketika melihat sebuah mobil hitam tampak mengikutinya dari belakang.


"Mungkin hanya searah." Arina kembali tenang namun tetap fokus memperhatikan spion motornya.


"Tidak, sepertinya dia benar-benar mengikutiku. Ini jalam ke kastil dan tidak ada rumah orang lain di dalam." Arina mulai merasa ketakutan.


Tanpa berpikir panjang ia langsung menambah laju motornya namun matanya sesekali masih fokus memperhatikan spion motornya. Mobil hitam tadi masih saja berada di belakangnya meski berjarak cukup jauh. Arina akhirnya sampai di depan kastil. Ia segera masuk dan mengendarai motornya ke dalam bagasi kastil. Setelah itu ia segera masuk ke dalam kastil melalui pintu samping. Tidak langsung ke kamar, Arina memutuskan untuk mengintip keluar melalui jendela.


"Mereka memang mengikutiku. Lihat saja, mereka memutar mobilnya lagi sebelum sampai ke ujung. Tapi siapa mereka?" Batin Arina menerka-nerka.


"Arina, kenapa di situ?" Tanya Arlin yang kebetulan ada di kastil.


"Tadi ada mobil hitam yang mengikutiku Ma. Entah siapa dan apa tujuan mereka." Arina segera menghampiri Ibunya.


"Lain kali jangan pulang malam-malam. Di mana Syene?" Arlin celingukan melihat sekitar.

__ADS_1


"Itu dia, tadi aku mengantar kakak Syene dulu ke mansion Griffith. Mungkin dia akan menginap di sana." Jelas Arina.


"Oh, ya sudah kau segera mandi sana. Makan malam sebentar lagi siap." Arlin kembali ke dapur sementara Arina beranjak ke kamarnya.


"Sebenarnya siapa orang yang mengikutiku tadi?" Batin Arina masih menerka-nerka sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


••••••


"Sayang, kau memasak apa?" Griffith memeluk Syene dari belakang.


"Hanya membuat pasta untukmu." Syene tersenyum sambil mengaduk masakannya.


"Kau tidak makan?" Tanya Griffith khawatir.


"Tadi aku dan Arina sudah makan di mall. Oh iya, tadi kami bertemu dengan seseorang yang sangat aneh. Dia berpakaian sangat tertutup bahkan mengenakan sarung tangan dan topi." Syene mulai berceloteh menceritakan kejadian yang ia dan Arina alami tadi.


"Hanya bertemu atau kalian bersinggungan?" Tanya Griffith curiga.


"Sebenarnya Arina tidak sengaja menabraknya gara-gara dia berjalan mundur." Syene sambil memindahkan pasta yang ia masak ke piring.


"Tapi Griff, aku seperti pernah bertemu dengan orang aneh itu. Hanya saja aku lupa di mana dan kapan?" Syene menarik Griffith untuk bersamanya.


"Apa dia seperti ini?" Griffith menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Foto seorang pria yang sangat mirip dengan yang Syene dan Arina temui tadi.


"Benar. Bagaimana kau bisa punya fotonya?" Tanya Syene penasaran.


"Kau lupa? Aku pernah mengajakmu bertemu dengannya beberapa hari lalu. Namanya Brennan, dia adalah salah satu rekan bisnisku." Jelas Griffith sambil menyantap pasta buatan kekasihnya.


"Ah...aku baru ingat. Kau bilang dia punya penyakit aneh 'kan? Penyakit apa itu? Apa menular?" Syene mencecar kekasihnya dengan berbagai pertanyaan.


"Entahlah, aku sendiri kurang tahu tentang penyakitnya. Hanya yang aku tahu dia itu tidak sembarangan bersentuhan dengan orang lain meski orang itu sangat menjaga kebersihan." Griffith menjelaskan meski ia sebenarnya tidak suka gadisnya bertanya tentang pria lain.


"Begitu ya? Aku harus mengingatkan Arina agar lebih hati-hati lagi. Jangan sampai Arina bertemu dengannya lagi." Syene mengambil ponselnya dan segera mengetikkan sejumlah pesan pada sepupunya.


"Benar. Lebih baik tidak berurusan dengannya karena dia itu sangat tidak terduga. Dia tertutup dan tidak banyak bicara. Tidak mempunyai teman dekat selain asistennya." Ungkap Griffith.


"Semoga saja Arina tidak perlu berurusan dengannya lagi."


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2