
"Kau yakin akan tinggal? Aku sangat ingin kau bisa ikut denganku." Brennan menatap lesu wanitanya.
"Kau pergi hanya dua hari. Jika aku ikut denganmu, pasti akan sangat melelahkan untukku. Jadi aku akan di sini dan menunggumu kembali." Arina tersenyum sembari memasang dasi Brennan.
"Baiklah, berjanjilah kau akan menungguku. Jangan ingkar, karena aku pasti akan gila jika sampai kau tinggalkan aku lagi." Pria dengan kulit sedikit coklat itu mendekap erat wanitanya.
"Aku janji sayang. Aku janji akan jadi orang yang pertama kau lihat begitu kau sampai di mansion ini." Arina mengusap lembut punggung prianya.
"Baiklah, aku percaya. Lagipula hari pernikahan kita sebentar lagi. Aku percaya padamu." Brennan mengecup kening Arina kemudian bibirnya juga.
Arina terkekeh geli dengan kelakuan Ayah dari calon bayinya. Rasanya baru kemarin mereka lebih tepatnya Arina sangat membencinya, tapi sekarang wanita itu terlihat begitu nyaman di dalam dekapan kekasih hatinya. Brennan benar-benar mampu menyihir Arina dan mencairkan kerasnya hati Arina.
"Kau jaga Mamamu, little. Jangan sampai membuat Mamamu repot apalagi tidak nyaman. Papa mencintai kalian." Brennan membungkuk dan mencium perut rata wanitanya.
"Pasti Papa. Aku dan Mama akan saling menjaga." Arina menjawab dengan menirukan suara anak kecil. Dan hal itu sukses membuat Brennan tertawa. Pria itu terlihat sangat-sangat bahagia. Arina dan calon bayi mereka adalah pusat dunianya.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Tunggu aku kembali." Brennan mengecup kening Arina lagi sebelum akhirnya keluar dari kamar mereka.
"Hah... mungkin aku bisa istirahat lagi. Nanti siang aku ke rumah Papa saja. Aku sangat merindukan mereka." Arina bergumam kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
***
"Sayang... ." Syene memeluk Griffith dari belakang dengan girang.
"Hei, ada apa? Kau kelihatannya bahagia sekali?" Tanya Griffith mengernyit bingung.
"Hari ini aku tidak ada kelas. Apa boleh aku izin ke salon? Sebentar lagi kita akan menikah, dan aku ingin terlihat bersinar di hari bahagia kita." Syene mengedipkan matanya untuk merayu kekasihnya.
"Mau aku temani?" Tawar Griffith padanya.
"Tidak! Aku bisa sendiri. Kecuali kau juga ingin melakukan perawatan, baru aku setuju kau menemaniku." Tolak Syene lembut.
"Ya sudah, biar Drex yang mengantarmu." Usul Griffith yang sekaligus adalah perintah.
"Baiklah. Aku mencintaimu." Ujar Syene bahagia. Gadis itu langsung meraup bibir sang kekasih sebagai bentuk ucapan terima kasihnya.
"Hati-hati. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku." Griffith memperingatkan.
__ADS_1
"Baik sayang. Aku pergi dulu." Sahut gadis bermata biru itu sambil berjingkrak keluar dari ruangan Griffith.
"Gadisku sangat menggemaskan."
***
"Engh...." Arina melenguh pelan dan terbangun dari tidurnya.
"Ini sudah jam berapa?" Gumamnya lalu menoleh ke arah jam dinding di kamarnya.
"Sudah jam dua sore rupanya. Sebaiknya aku segera bersiap untuk ke rumah Papa."
Arina pun merenggangkan otot-ototnya sebelum akhirnya ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dirinya terlihat begitu bahagia, bahkan ia mandi sambil bersenandung. Wanita cantik itu sepertinya benar-benar telah menemukan kebahagiaannya.
Brennan, pria aneh yang awalnya begitu menyebalkan. Akhirnya ia mampu menaklukkan hati seorang Arina. Meskipun caranya tidak bisa dibenarkan, tapi harus diakui ia berhasil membuat wanita yang ia inginkan kini melekat dengannya.
Tiga puluh menit berlalu, Arina pun keluar dari kamar mandi. Dengan masih mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya, ia memilih untuk mengeringkan rambutnya lebih dulu. Ia duduk di kursi depan meja riasnya dan tersenyum memandangi wajahnya yang tampak segar.
Tiba-tiba muncul ide nakal di otaknya untuk menggoda prianya. Diambilnya ponselnya dan dibukanya fitur kamera. Ia lalu mengambil beberapa foto seksi dirinya lalu ia kirim kepada Brennan sambil membalas pesan singkat dari pria tersebut.
"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu." Arina kembali mengirimkan pesan suara pada prianya.
Setelah mengakhiri obrolan mereka lewat pesan, Arina pun segera memilih pakaian. Wanita hamil itu sepertinya sedikit kebingungan harus memilih pakaian seperti apa. Belum lagi rata-rata pakaiannya di lemari akan membuatnya terlihat seperti anak remaja.
"Ah, mungkin tidak ada salahnya aku memakai pakaian seperti ini. Setidaknya sebelum perutku besar." Ia tersenyum lalu mengambil kemeja oversize berwarna soft pink dan rok mini dengan motif kotak-kotak berwarna merah kehitaman.
Selesai mengenakan pakaian, ia memutuskan untuk merias tipis wajahnya. Rambutnya ia gerai dan ia buat sedikit keriting di bagian bawah. Penampilannya benar-benar terlihat seperti anak remaja.
"Perfect. Jika Brennan di sini, dia pasti akan langsung menerkammu." Arina tersenyum geli pada pantulan bayangannya. Ia seketika itu juga menggeleng menyadari otaknya mulai tercemar oleh Brennan.
Tak ingin semakin mengulur waktu, ia meraih tasnya dan memakai sepatunya. Setelah dirasa benar-benar siap, Arina keluar dari kamar dan turun ke bawah. Ia disambut oleh Jim yang ternyata sudah menunggunya.
"Jim? Kau tidak ikut dengan Brenn?" Tanya Arina bingung pada pria yang menunduk sopan di depannya.
"Aku akan menyusulnya setelah mengantarmu ke rumah orang tuamu." Jim tersenyum ramah.
"Oh begitu ya. Terima kasih kau selalu mau direpotkan oleh kami." Arina masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Itu sudah tugasku. Brenn sudah banyak berjasa dalam hidupku dan apa yang aku lakukan saat ini belum cukup untuk membalas semua kebaikannya." Ungkap Jim mulai menjalankan mobilnya meninggalkan mansion.
Sepanjang perjalanan Arina benar-benar terlihat bahagia. Ia begitu bersemangat menanyai Jim tentang ini dan itu. Semua kisah Jim dan Brennan ia akhirnya tahu, hingga Drex mulai menyadari sesuatu.
"Sepertinya ada yang mengikuti kita." Ujar Jim mulai mempercepat laju mobilnya.
"Jim hati-hati." Titah Arina dengan satu tangan melindungi perutnya dan satu tangannya lagi memegang erat pada pegangan di pintu.
"Siapa mereka? Sial! Aku bahkan tidak menyiapkan pengawal sama sekali." Jim mengumpat ketika dua mobil hitam di belakangnya semakin mendekati mobilnya.
"Tuhan, apa lagi kali ini?" Batin Arina yang mulai takut sekaligus cemas.
"Sial! Ternyata mereka mengepung dari segala arah." Jim kembali mengumpat ketika di depannya juga ada dua mobil yang menghadang jalannya.
"Arina, apapun yang terjadi pastikan kau tidak pernah keluar dari mobil ini. Aku sudah meminta bantuan. Kau mengerti?" Titah Jim khawatir.
"Aku tidak tahu. Mereka terlalu banyak. Aku...akhh..."
BRAKK
Mobil Jim menabrak pembatas jalan hingga membuat Arina memekik ketakutan. Beruntung mobil itu masih bertahan dan tidak terbalik apalagi berguling. Hanya saja bagian depan mobilnya sudah rusak parah.
"Ingat, jangan keluar! Aku akan hadapi mereka hingga bantuan datang." Jim keluar dari mobil dengan membawa pistol kesayangannya.
"Brenn, aku takut." Arina meringkuk ketakutan sembari memeluk dan melindungi perutnya.
DUARRR
Terdengar bunyi tembakan yang cukup memekakkan telinga hingga Arina pun beringsut mundur dan semakin meringkuk ketakutan.
"Hai sweetie!" Suara seorang pria samar-samar terdengar di telinganya. Perlahan Arina mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang sedang berbicara.
"K-kau? Kau em... ." Belum selesai bicara, pria itu sudah membekapnya dengan sapu tangan. Arina sempat meronta dan ingin melawan, namun kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan orang itu. Perlahan kesadarannya pun menipis.
"Aku mendapatkanmu lagi, Arina."
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1