CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Semakin Penasaran


__ADS_3

"Syene, bisa tolong nanti sekalian antarkan makanan ini untuk Arina dan Brennan?" Tanya Arlin sambil memasukkan makanan buatannya ke dalam kotak bekal, sementara Syene sendiri sedang asyik menikmati sarapannya.


"Tentu aunty. Nanti aku akan antarkan pada mereka. Oh iya, uncle Richard kapan kembali?" Syene terlihat menyudahi kegiatannya.


"Dua hari lagi. Perusahaannya di California sedang berkembang pesat, maka dari itu akhir-akhir ini dia menjadi sangat sibuk." Jawab Arlin tersenyum.


"Hem.... Semoga saja uncle sudah selesai sibuk saat hari pernikahanku dan Arina." Gumam Syene penuh harap.


"Pasti, sayang. Uncle-mu tidak akan mengecewakan kalian. Ini makanannya." Arlin menyerahkan kotak bekal tadi pada keponakannya.


"Sudah selesai ya? Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu." Syene bangkit dari duduknya kemudian mengecup pipi bibinya sebelum pergi meninggalkan bibinya.


"Sebentar lagi rumahku akan menjadi sepi tanpa keributan dari kedua putriku." Arlin tersenyum namun tidak dengan matanya yang menyiratkan kesedihan sekaligus rasa haru.


"Semoga saja kedua putriku benar-benar bahagia bersama pria pilihan mereka."


***


"Kenapa malah mendung tiba-tiba?" Gumam Syene menatap langit yang tampak gelap.


"Hah.... Sepertinya aku harus berhenti untuk menghindari hujan." Syene memutuskan untuk berhenti di depan sebuah kedai kopi. Setelah memarkirkan motornya dengan benar, ia masuk ke dalam kedai kopi yang ternyata cukup ramai itu.


"Sebaiknya aku mengabari Arina dulu kalau aku akan sedikit terlambat." Syene duduk di salah kursi yang tersedia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Arina.


Selesai mengabari Arina, ia memutuskan untuk memesan segelas Cappuccino hangat untuk menemaninya berteduh. Di luar kedai kopi, suasana tampak sedikit kacau. Beberapa orang berlarian untuk menghindari hujan yang mulai turun. Syene pun mau tak mau harus menunggu dengan sabar hingga hujan berhenti.


"Hei, kita bertemu lagi." Adam menyapa dan duduk di kursi depan Syene. Syene hanya menatap Adam sekilas lalu kembali memandangi hujan yang turun.


"Sendirian saja?" Tanya Adam basa-basi.


"Seperti yang bisa kau lihat." Jawab Syene seadanya.


"Kau galak juga ternyata. Hei, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Adam kembali berusaha mengobrol dengan gadis di depannya.


"Jika tidak penting sebaiknya tidak perlu!" Tegas Syene kemudian menyeruput Cappuccino hangatnya.


"Apa yang kau sukai dari Griffith?" Tanya Adam.


"Semuanya." Syene terlihat begitu malas untuk menanggapi pria di depannya.

__ADS_1


"Terutama hartanya 'kan?" Adam tersenyum miring seolah meremehkan Syene.


"Hahaha..." Syene tiba-tiba tertawa mendengar pertanyaan Adam.


"Harta? Kau lucu sekali Adam. Aku bahkan sudah kaya tanpa harta Griffith, hartanya itu tidak seberapa dengan yang aku punya. Kau benar-benar lucu." Syene bangkit dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Adam tanpa mengatakan apapun lagi. Meski di luar masih gerimis, Syene tetap memilih pergi dari kedai kopi itu.


"Gadis itu benar-benar membuatku semakin penasaran saja. Griff, sungguh rasanya aku ingin kembali mengulangi dosaku yang dulu. Tapi kali ini tidak hanya sesaat, aku ingin memiliki gadismu untuk selamanya." Gumam Adam menatap kepergian Syene.


***


"Akhirnya sampai juga." Syene menghela nafas lega begitu sampai di mansion Brennan. Setelah memarkirkan motornya dengan benar, ia melangkah memasuki rumah besar itu.


"Woah...." Syene segera berbalik arah setelah mendapati adiknya sedang bermesraan dengan Brennan.


"Syene...." Pekik Arina kegirangan dan langsung berlari mendekati Syene.


"Kau kenapa sudah sampai saja? Bukankah kau bilang akan terlambat?" Tanya Arina memeluk manja kakaknya.


"Apa kau akan berakhir di kamar jika aku benar-benar terlambat?" Syene menoel hidung mancung Arina untuk menggoda wanita yang tengah hamil muda itu.


"Ih.... Tidak ada kisah seperti itu." Arina malu-malu dan semakin erat memeluk Syene.


"Ini makanan dari Mamamu untuk kalian berdua. Sepertinya sudah sedikit dingin, nanti hangatkan sebelum kau memakannya." Syene menyerahkan kotak bekal yang ia bawa kepada Arina.


"Mereka jika sudah bertemu, dunia seakan hanya milik mereka." Brennan menggeleng gemas dengan tingkah dua saudari itu.


***


"Kau ini...jika kau sampai sakit, bagaimana?" Arina menyeka rambut pirang Syene yang sedikit basah.


"Lebih baik aku sakit, daripada aku harus berlama-lama berteduh lalu mendengar ocehan tidak jelas dari pria negara api itu." Oceh Syene terlihat kesal.


"Pria negara api? Siapa? Apa aku mengenalnya?" Arina terlihat antusias dan duduk di samping Syene.


"Tidak penting dia itu siapa. Yang jelas dia itu sedang ingin mencari masalah dengan Griff." Syene menghela nafas kasar.


"Wah wah...ada yang memperebutkan dirimu ya? Aku tidak menyangka ternyata kau banyak peminatnya." Arina terkekeh menggoda kakaknya yang terlihat bete.


"Ck... masalahnya pria negara api itu sangat menyebalkan. Sudahlah, untuk apa membahas sesuatu yang tidak penting. Kau keluar sana, aku mau tidur sebentar. Tadi malam aku kurang tidur gara-gara mengerjakan tugas yang menumpuk, syukurnya hari ini tidak ada kelas." Syene mengusir Arina dari kamar itu.

__ADS_1


"Ya sudah kau istirahat saja dulu." Arina tersenyum sambil merapikan barang-barang yang tidak penting.


"Tapi ini kamarmu dan Brennan, tidak jadi saja." Syene hendak beranjak namun ditahan oleh Arina dengan cepat.


"Ini bukan kamar kami. Ini kamarku dulu saat kami bersama karena perjanjian itu. Jadi kau bebas menggunakan kamar ini. Tidurlah." Arina tersenyum dan beranjak keluar dari kamar itu.


"Hah...aku lelah." Syene merebahkan tubuhnya dan segera memejamkan matanya.


***


"Engh...." Syene melenguh pelan merasakan tidurnya terganggu.


"Arina, jangan menggangguku!" Ia menepis tangan seseorang yang sedang menoel hidungnya.


"Erghh...." Syene mengerang kesal dan mau tak mau ia bangun dari tidur nyenyaknya.


"Kau ini kenapa? Aku sudah bilang, aku sangat lelah." Syene mengomel tanpa membuka matanya meski ia dalam posisi duduk.


"Sejak kapan aku mengganggumu, sayang? Aku tidak sanggup melihatmu tidur terus, rasanya ingin menidurinya."


"Griff?" Syene langsung membuka matanya begitu mendengar suara kekasihnya.


"Kau sudah tidur berapa lama?" Tanya Griffith tersenyum nakal.


"Aku?" Syene mengedarkan pandangannya untuk mencari jam dinding. Seketika itu ia juga tersadar, ternyata dirinya sudah berada di kamarnya dan Griffith.


"Astaga, pasti aku tertidur seperti babi. Sampai-sampai aku tidak sadar saat dia membawaku." Batin Syene langsung merasa malu.


"Griff, aku merindukanmu." Syene tersenyum kikuk sementara tangannya ia buka lebar untuk meminta pelukan dari prianya.


"Kau sudah melakukan kesalahan ya?" Tanya Griffith curiga namun segera memeluk kekasihnya.


"Aku tidak melakukan kesalahan. Tapi ada yang ingin aku ceritakan padamu." Syene menatap lekat calon suaminya itu.


"Apa? Ceritakan saja."


"Kau janji jangan marah padaku?"


"Em...."

__ADS_1


"Sebenarnya aku...."


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2