
"Keluarga Nona Syene?" Seorang Dokter keluar dari ruangan operasi.
Asyh, Arlen, dan Arina pun bergegas menghampiri sang Dokter. Drex hanya diam di tempat karena merasa tidak nyaman sekaligus merasa bersalah atas kecelakaan Syene. Ia hanya diam dan menyimak semua obrolan antara Dokter dan keluarga Syene.
"Bagaimana keadaan cucuku, Dokter?" Tanya Asyh sendu. Wanita tua itu terlihat begitu kacau. Wajahnya sembab dan penampilannya cukup berantakan. Mungkin saja saat ini ia dan Arlen berada dalam ketakutan yang amat besar.
"Operasi berjalan lancar. Hanya saja saat ini Nona Syene belum siuman dan kita baru bisa memastikan kondisinya setelah dia sadar. Kepalanya terkena benturan yang cukup keras, dan kami khawatir Nona Syene bisa mengalami kemungkinan amnesia." Jelas sang Dokter dengan harapan pihak keluarga bisa mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang ada.
"Syene ku ...." Asyh kembali terisak dan memeluk sang suami erat.
"Terima kasih untuk informasinya, Dokter. Kapan kami bisa melihat Syene?" Arlin yang mencoba tegar pun mau tak mau harus mewakili kedua orang tuanya.
"Secepat mungkin kami akan memindahkan Nona Syene ke ruang rawat inap. Setelah itu baru para keluarga bisa melihat dan menjenguknya."
"Baik. Terima kasih Dokter." Arlin membungkuk sopan.
"Kalau begitu aku permisi dulu." Dokter pria itu pun beranjak meninggalkan keluarga Syene juga Drex.
"Syene ... kenapa dia harus mengalami nasib se-tragis ini? Sebentar lagi hari pernikahannya." Gumam Asyh masih terisak.
"Sabar Ma. Kita juga engga pernah mau hal ini terjadi, tapi apa boleh buat kalo ternyata ini harus terjadi. Kita hanya bisa sabar dan mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan Syene. Semoga aja Syene baik-baik aja setelah sadar." Arlin menenangkan kedua orang tuanya.
"Mama takut. Mama takut kisah kedua orang tuanya terjadi juga sama dia. Mama engga mau kehilangan cucu-cucu Mama."
"Tenanglah sayang. Cucu kita pasti baik-baik saja." Arlen memeluk erat sang istri, berusaha untuk memberikan kekuatan meski ia sendiri pun tak kalah bersedih.
"Ya udah, Mama dan Papa tunggu di sini. Aku urus semua administrasinya dulu." Arlin beranjak setelah mendapatkan izin.
"Tuan, Nyonya, aku minta maaf atas semua ini. Jika saja aku tidak terlambat menjemput Nona Syene, mungkin kecelakaan ini tidak perlu terjadi." Drex menghampiri Asyh dan Arlen dengan kepala tertunduk lesu.
__ADS_1
"Bukan salahmu, Nak. Seandainya pun kau yang menjemput cucuku, jika kecelakaan itu harus terjadi dia akan tetap terjadi. Semua ini sudah diatur olehNya." Arlen mencoba tersenyum tipis seraya menepuk pundak Drex.
"Tuan Griff tadi pergi, pasti dia juga sangat terpukul akan hal ini. Aku akan mencarinya dulu." Drex pamit dan beranjak setelah mendapatkan izin juga.
"Semoga saja cucuku baik-baik saja. Semoga apa yang ia alami saat ini tidak berdampak untuk hubungannya dengan Griff." Asyh menghela nafas panjang.
"Semoga saja."
***
"Brennan ...." Seorang pria mengenakan pakaian serba hitam membuang rokok yang tengah ia hisap dan segera menyambut Brennan.
"Jangan basa-basi! Kau sudah mengumpulkan semua bawahanmu?" Tanya Brennan dingin. Ekspresinya sangat tidak bersahabat dan auranya terasa sangat menakutkan.
"Itu perkara mudah, Bung. Tapi bisa kau jelaskan dulu apa yang sudah terjadi?" Pria berkepala botak itu menuntun Brennan untuk duduk di dekatnya.
"Wanitaku diculik oleh seseorang. Dan aku ingin kau segera menemukannya. Bawa dia kembali kepadaku dalam keadaan baik-baik saja!" Jawab Brennan dingin.
"Semua informasi ada di sini." Brennan memberikan ponselnya pada pria yang mengenakan anting-anting itu.
"Baiklah! Aku pasti akan segera menemukan wanitamu. Tunggu aku." Pria itu beranjak ke meja kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya.
Tangannya begitu lihai memainkan keyboard laptopnya sementara sepasang matanya begitu cermat memperhatikan layar laptopnya. Entah apa yang ia lakukan, Brennan hanya bisa menghela nafas melihat tingkah menyebalkan pria yang berada tak jauh darinya.
"Gotcha! Kemarilah! Apa kau mengenal orang ini?" Ujar pria aneh namun tampan itu membuat Brennan segera menghampirinya.
"Aku tidak mengenalnya. Jadi dia pelakunya?" Brennan mengepalkan tangannya menatap layar di depannya di mana terlihat jelas Deron menggendong Arina yang tidak sadarkan diri dan memindahkannya ke mobilnya.
"Well, tugasku bertambah lagi. Aku akan mencari detail informasi tentangnya." Pria botak itu melanjutkan pekerjaannya. Kali ini Brennan serius memperhatikan pria di sampingnya.
__ADS_1
"Deron Black! Usia 35 tahun, warga asli Amerika. Dan saat ini dia sedang menjadi buronan karena keterlibatannya dalam penyelundupan senjata api ilegal. Dia adalah salah satu anggota mafia yang cukup besar di negara ini."
"Sial! Bagaimana bisa Arina berurusan dengan orang seperti itu?" Geram Brennan.
"Hem ... wanitamu hebat juga m, Bung. Baiklah sebagai teman yang tidak terlalu baik denganmu karena penyakit anehmu itu, aku akan berusaha menemukan wanitamu dan membawanya kembali ke sisimu." Pria botak itu bangkit dari duduknya dan hendak beranjak.
"Diego, terima kasih."
"Santai saja, Bung. Asal setelah tugasku selesai dan berhasil, kau menambah jumlah investasimu di perusahaanku." Diego tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Arina! Berjanjilah kau akan baik-baik saja dan tunggu aku."
***
"Makan ini!" Titah Deron menaruh sepiring makanan di depan Arina.
Arina hanya diam dan menatap makanan di depannya. Ia meringkuk dengan wajahnya yang sembab. Keadaan saat ini terlihat benar-benar memprihatinkan. Wajahnya lebam di beberapa tempat, bahkan sudut bibirnya terdapat bercak darah yang sudah mengering.
"Kau tidak ingin makan? Kau ingin aku mengulangi apa yang aku lakukan tadi?" Deron tersenyum miring memperhatikan wanita yang hanya dibungkus selimut itu.
"Diam? Diam tandanya iya dan itu artinya kau ingin lagi!" Deron menarik selimut tebal itu hingga lepas dari tubuh Arina. Terlihat jelas beberapa bagian tubuhnya juga terdapat lebam dan bercak kecupan. Jelas sekali wanita itu telah dilecehkan oleh mantan kekasihnya itu.
Arina hanya diam. Lidahnya terasa keluh, kerongkongannya pun serasa kering. Dalam hati ia menjerit, memaki pria yang kini berada di atas tubuhnya. Kotor, itu yang ada di benaknya saat ini. Pria itu benar-benar telah menghancurkannya. Membunuhnya secara perlahan dengan perbuatan kejinya. Sepasang matanya tak mampu lagi mengeluarkan air mata.
Barusan Deron memaksanya dan berulang kali menggaulinya. Tak hanya itu, ia juga menyiksa fisik Arina. Dan sekarang pria itu mengulangi perbuatan kejinya lagi. Menggauli Arina dengan brutal dan ganas. Membuat wanita muda itu merasakan penderitaan dan kesakitan tidak hanya di sekujur tubuhnya tapi juga batinnya.
"Kau suka bukan?" Tanyanya dengan percaya diri sambil memacu miliknya untuk menyiksa Arina.
Arina diam. Tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tatapan matanya datar dan seolah tak ada kehidupan di sana. Hatinya menjerit, kehidupan ini terlalu tidak adil baginya. Kenapa harus dia yang merasakan kesakitan ini? Kenapa harus dia yang mengalami nasib se-tragis ini?
__ADS_1
"Brenn, maafkan aku. Maafkan aku."
...~ TO BE CONTINUE ~...