CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Tidak Ingin Seperti Ini


__ADS_3

"Kau yakin cara ini akan berhasil?" Syene tampak sangat cemas setelah mendengar permintaan Arina.


"Aku yakin. Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa lepas dari pria gila itu." Arina begitu yakin dengan kedua mata menatap tajam ke depan.


"Sebaiknya kita bergerak di malam hari. Aku bisa membantu kalian tapi aku tidak menjamin apapun. Brennan bukanlah orang yang bisa kau akali semudah itu." Griffith terlihat ragu namun berusaha untuk ikut meyakinkan diri.


"Kau hanya perlu membantuku ke bandara. Sisanya berhasil atau tidak, itu urusanku." Tegas Arina.


"Baiklah. Kita ketemu lagi malam ini. Aku pergi untuk mempersiapkan semuanya." Griffith beranjak dari duduknya.


"Aku pulang dulu. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku." Ia mengecup kening Syene sebelum akhirnya pergi meninggalkan kedua gadis itu.


"Setelah apa yang terjadi, apa kau benar-benar tidak mau menerima Brennan?" Tanya Syene. Tersirat kekecewaan di kedua matanya sewaktu menanyakan hal itu pada Arina.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa menerimanya apalagi hidup bersamanya." Arina menggeleng dan sedikit menjauh.


"Tapi dia sudah..."


"Bukan dia! Aku memberikannya pada kekasihku, Deron. Itu tidak penting untuk dibahas. Aku mohon, kau bisa membantuku untuk meyakinkan Papa dan Mama agar aku bisa pergi dari sini." Arina menggenggam kedua tangan Syene seolah mengerti apa yang dipikirkan kakaknya.


"Tapi bagaimana jika kita gagal?" Syene tampak ragu.


"Gagal dan berhasil itu menjadi urusanku. Bantu aku, Syene. Aku tidak bisa di sini lebih lama lagi." Arina memohon.


"Ehm...sekarang kau istirahat sementara menunggu kabar dari Griff. Aku keluar dulu." Syene mengelus pipi adiknya kemudian keluar dari kamar Arina.


"Maafkan aku Arina. Aku tidak bisa menjagamu." Syene menghapus air matanya yang sudah ia tahan dari tadi.


••••••


"Bagaimana?" Tanya Brennan pada seseorang melalui sambungan telepon.


"Aku mendapat kabar, malam ini dia akan pergi dari kota ini. Entah ke mana, yang jelas dia akan meninggalkan kota dan negara ini."

__ADS_1


"Kerja bagus. Pantau terus situasinya, kabari aku segera jika sudah saatnya aku bergerak." Brennan tersenyum miring mengakhiri panggilan tersebut. Ia menggenggam kuat ponselnya hingga layar ponselnya retak.


"Arina! Mau lari ke mana kau? Sejauh apapun kau mencoba berlari, aku akan menarikmu kembali padaku!" Gerutu Brennan. Wajahnya memerah karena amarah, bahkan rahangnya mengetat hingga menampakkan urat-urat di lehernya.


••••••


"Syene, kau sedang apa?" Arlin menghampiri keponakannya.


"Ini aunty, aku mengambil passport Arina. Tadi dosen mendadak mengabari kalau Arina terpilih untuk pertukaran mahasiswa di London." Jawab Syene berusaha menyembunyikan kegelisahannya.


"Yang benar saja? Tapi kenapa tidak ada dosen yang menghubungi aunty? Kau menyembunyikan sesuatu?" Arlin menjadi curiga melihat sikap Syene yang tidak seperti biasanya.


"Ehm...aunty, sebenarnya Arina..." Syene terdiam sesaat.


Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan semua yang ia ketahui tentang Arina dan Brennan pada bibinya. Wajah Arlin seketika menjadi sangat pucat dan tampak sangat terkejut mendengar semua kenyataan tentang putri kesayangannya. Air matanya seketika itu juga langsung menetes membasahi pipinya.


"Aku mohon aunty jangan marah pada Arina. Dia dipaksa oleh Brennan untuk melakukannya, dan sekarang dia ingin pergi untuk menghindari pria itu." Syene memeluk erat bibinya berusaha untuk menenangkan wanita yang sudah membesarkannya.


"Kenapa harus putriku? Kenapa harus Arina mengalami kejadian menyakitkan seperti ini?" Gumam Arlin meremas dadanya yang terasa sesak.


"Ric, putri kita..." Arlin berhambur memeluk suaminya.


"Ada apa Syene?" Tanya Richard datar.


Mau tak mau Syene kembali menceritakan tentang Arina dan Brennan pada Richard. Berbeda dengan sang istri yang menjadi sangat sedih dan menangis pilu, Richard justru menunjukkan ekspresi datar namun sorot matanya memancarkan kemarahan. Tanpa berkata apapun, ia melepaskan pelukan istrinya dan melangkah ke kamar Arina. Sesampainya di depan pintu kamar Arina, ia membuka pintu itu tanpa mengetuknya.


"Tidak boleh! Tidak boleh hamil! Jangan! Jangan sampai hamil!" Arina terdengar bergumam sementara Richard bisa melihat putrinya menggenggam segenggam obat dan segelas air putih.


"Apa yang kau lakukan?" Richard menghampiri putrinya dan segera memaksa Arina membuang obat-obatan di tangannya.


"Pa, aku harus meminum obat itu. Aku tidak mau hamil, aku masih ingin melanjutkan kuliahku." Arina memohon pada Ayahnya.


"Tidak sebanyak itu. Tenanglah sejenak, jangan malah menambah masalah dengan mengkonsumsi obat-obatan yang tidak jelas seperti itu!" Alih-alih memarahi putrinya, Richard memilih untuk memeluk Arina.

__ADS_1


"Aku tidak mau Pa. Aku tidak ingin seperti ini, kenapa dia harus memaksaku untuk bersamanya? Kenapa?" Arina memukuli punggung Ayahnya berulang kali.


"Papa ada untukmu! Jangan takut! Papa akan melindungimu dengan nyawa Papa." Richard menahan sakit di punggungnya demi putri kesayangannya.


"Bantu aku pergi dari sini! Aku mohon." Pinta Arina melepaskan diri dari sang Ayah.


"Baiklah, Papa akan membantumu. Tapi berjanjilah jangan menangis lagi, Papa tidak suka melihatmu menangis." Pinta Richard menghapus air mata putrinya.


"Ehm...aku sudah tidak menangis." Arina mencoba tersenyum tipis meski itu hanyalah senyuman terpaksa.


"Ayo, biar Papa yang membawamu pergi dari sini." Richard menggenggam erat tangan putrinya dan menuntun Arina keluar dari kamarnya.


"Syene..." Arina berlari menuruni tangga dan langsung memeluk kakak sepupunya.


"Maaf, aku terpaksa menceritakan semuanya pada aunty dan uncle. Mereka juga perlu tahu kondisimu." Pinta Syene membalas pelukan Arina.


"Jangan meminta maaf! Bantu aku untuk menjaga mereka ketika aku sudah tidak di sini nanti. Jangan biarkan mereka bersedih." Arina meminta dengan segenap hati.


"Aku berjanji. Aku akan berusaha untuk menjaga mereka dengan baik. Kau juga di sana nanti harus menjaga dirimu dan kesehatanmu." Syene melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Arina.


"Ehm...aku pergi dulu." Arina kembali melanjutkan langkahnya bersama sang Ayah dan keluar dari mansion mereka.


"Semoga saja Arina bisa hidup lebih baik di sana nanti." Batin gadis bermata biru itu seraya memeluk sang Bibi yang masih terisak menatap kepergian putri kesayangannya.


••••••


"Tuan, sepertinya mereka mengetahui bahwa kita sudah berhasil mendapatkan keberadaan mereka. Penerbangannya dibatalkan dan tidak ada tanda-tanda Nona Arina akan pergi dari kota ini lagi." Jelas Jim dengan nafas terengah-engah.


"Sial! Licik sekali mereka! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, yang jelas aku ingin Arinaku segera ada di hadapanku! Jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka aku akan memusnahkan keluarganya hingga tak tersisa!" Brennan menyunggingkan seringai menakutkan.


"Baik Tuan! Kami akan melanjutkan pencarian! Semoga saja Nona Arina bisa cepat kami bawa untuk Tuan!" Jim menunduk dan membungkuk lalu berbalik meninggalkan Brennan.


"Arina! Jangan terlalu pintar! Kau pikir kau sudah menang karena sudah berhasil pergi dariku? Ck...kita lihat bagaimana kau sendiri yang akan merangkak datang padaku dan memohon agar aku mengampunimu!"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2