
"Ekhem..." Seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu berdeham dengan cukup keras.
"Kau?" Griffith terlihat cukup kaget dengan kehadiran orang itu. Ia menurunkan Syene dari pangkuannya dan menarik Syene untuk berlindung di belakangnya.
"My bro, sudah lama sekali kita tidak bertemu bukan?" Ujar pria itu sambil melangkah mendekati keduanya.
"Stop! Diam di sana!" Titah Griffith terlihat kesal. Ia segera mengambil jasnya yang tergantung di standing hanger dan memakaikan jas itu pada Syene.
"Kembali ke kamar dan jangan keluar sebelum aku mengizinkanmu. Aku mencintaimu." Titah Griffith lalu mencium singkat kening Syene. Syene pun menurut dan segera keluar dari ruangan kerja Griffith.
"Woo...so hot." Ucap pria tadi sesaat setelah Syene keluar.
"Buang jauh pikiran kotormu itu, Adam! Dia milikku dan kau tak pantas berkhayal apapun tentangnya!" Tegas Griffith tak suka dengan ucapan pria yang ia panggil Adam itu.
"Ck...masih saja posesif. Kau lupa istrimu dulu juga..."
"Kali ini tidak akan! Aku pastikan kali ini wanitaku tidak akan pernah termakan rayuanmu!" Telak Griffith jengah.
"Ah...i see. Sepertinya dia memang wanita yang baik. Hah..." Pria berambut merah berkacamata dengan kulit sedikit coklat itu duduk di hadapan Griffith dengan angkuhnya.
"Untuk apa kau ke sini? Tidak punya rasa malu?" Sindir Griffith yang terlihat sangat tidak suka dengan pria di depannya.
"Ayolah bung! Hal itu sudah berlalu lima tahun yang lalu dan kau masih bersikap seperti ini padaku? Sudah kubilang hal itu adalah sebuah kesalahan. Aku dan Cherry dijebak." Adam terlihat sangat santai dan terkesan meledek Griffith.
"Itu urusan kalian. Katakan apa urusanmu! Jika tidak ada, maka sebaiknya kau pergi dan jangan pernah kembali lagi!" Titah Griffith menatap nyalang Adam.
"Baiklah baik jika kau lebih suka berbicara serius denganku. Aku ke sini karena ingin mengajakmu bekerjasama. Aku sedang membangun sebuah perusahaan fashion dan aku ingin mengajakmu untuk berinvestasi di sana. Bagaimana?" Jelas Adam dengan ekspresi serius.
"Berinvestasi di perusahaanmu? Apa kau sedang bermimpi? Mengizinkanmu melangkah masuk ke dalam kediamanku saja itu sudah sebuah kesalahan, bagaimana mungkin aku mau memberikan uangku untukmu? Kau lucu." Griffith mengambil sebatang rokok dan hendak membakarnya namun ia mengurungkan niatnya.
"Tuan Akayama, aku datang untuk menawarkan kerjasama. Bukan untuk berdebat, nanti aku akan meminta sekretarisku untuk mengirimkan berkasnya untukmu. Aku yakin kau pasti akan tertarik dengan tawaranku." Adam bangkit dari duduknya.
"Jaga baik-baik wanitamu, Griffith! Atau sejarah bisa saja terulang kembali!" Adam tersenyum miring dan berjalan keluar sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Brengsek!" Griffith mengepalkan kedua tangannya dan terlihat benar-benar emosi.
"Aku perlu mendinginkan otakku." Pria berambut sebahu itu pun keluar dari ruangan kerjanya untuk kembali ke kamarnya.
"Sayang?" Griffith membuka pintu kamarnya perlahan. Sayangnya Syene tidak memberikan jawaban apapun.
Griffith tersenyum mendapati gadisnya itu ternyata sudah terlelap. Ia memelankan langkahnya mendekati ranjang. Senyumnya semakin lebar tatkala mendapati Syene tertidur begitu pulas bahkan tanpa melepas jas yang Griffith pakaikan padanya tadi. Dengan gerakan sangat pelan, Griffith naik ke ranjang dan bergabung dengan Syene.
"Selamat malam, sayang. Aku harap ini bukan sekedar mimpi indah yang akan berakhir setelah aku bangun dari tidurku. Aku harap kau adalah perempuan terakhir dalam hidupku." Griffith tersenyum memeluk erat kekasihnya.
"Kau menyebalkan Griff. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Syene mengigau dan hal itu sukses membuat Griffith terkekeh.
"Aku juga sangat mencintaimu, Syene." Berulang kali Griffith menghadiahi kecupan manis di kening Syene. Setelah Syene kembali tenang dan pulas, Griffith baru mulai mencoba memejamkan matanya.
***
"Sayang, kenapa di sini? Brennan di mana?" Arlin menghampiri Arina yang sedang duduk sendirian di taman depan kastil.
"Brenn sedang sibuk bermain billiard bersama Papa dan uncle Leon." Arina mendengkus kesal karena merasa diabaikan.
"Rasakan Brenn! Makanya jangan mengabaikanku." Arina tersenyum puas membayangkan calon suaminya akan dimarahi habis-habisan oleh Ibunya.
"Hah...Brenn, kenapa sekarang otakku dipenuhi olehmu. Kau benar-benar jahat, kau mampu menyihirku hingga mata dan otakku sepenuhnya tertuju padamu." Arina tersenyum bahagia sembari menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.
"Arina, bantu aku. Ampun Ma...aku tidak sengaja. Arina..." Terlihat Brennan berlari terbirit-birit keluar dari kastil dan langsung bersembunyi di belakang Arina.
"Tega sekali kau asyik bermain dan meninggalkan putriku sendirian di luar, hah? Bagaimana bisa aku percaya kau bisa menjaga putriku dengan baik sementara hal kecil saja kau tak becus?" Arlin mengomeli calon menantunya itu.
"Ampun Ma. Janji aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja." Pinta Brennan mengatupkan kedua tangannya namun masih tetap bersembunyi di belakang Arina.
"Sayang, kau percaya padanya?" Tanya Arlin pada putrinya.
"Aku percaya Ma." Arina tersenyum nakal pada Ibunya.
__ADS_1
"Baiklah jika kau percaya, maka Mama juga terpaksa percaya. Sudah malam, kalian akan menginap atau mau pulang? Jika menginap, Mama akan meminta pelayan untuk menyiapkan kamar."
"Kami pulang saja Ma." Arina menghampiri Ibunya dan memeluk Arlin erat.
"Terima kasih sudah percaya pada pilihanku. Aku janji akan bahagia seperti yang kalian harapkan." Ucap Arina haru.
"Mama dan Papa percaya, kau dan Syene akan bahagia dengan pria yang tepat. Sekarang pulanglah dan segera istirahat, jangan sampai terlalu lelah. Ingat! Hari pernikahan kalian sebentar lagi, jaga kesehatan kalian." Peringat Arlin pada putrinya.
"Em. Mama, Papa, Opa, dan Oma juga. Aku ingin kalian semua lengkap di hari bahagia kami. Ya sudah, kami pulang dulu." Arina melepaskan diri dari Ibunya dan kembali mendekati Brennan.
"Kami pulang dulu, Ma." Pamit Brennan takut-takut.
"Ingat! Jaga putriku dengan baik! Jangan sampai dia kenapa-kenapa!" Titah Arlin tegas.
"Aku janji Ma." Brennan tersenyum yakin. Ia pun menuntun Arina menuju mobilnya. Keduanya meluncur pergi setelah mendapatkan izin.
"Brenn, terima kasih." Arina menatap lekat Brennan yang sedang menyetir.
"Untuk?" Brennan mengernyit bingung.
"Untuk semuanya. Terima kasih kau memaksaku menerimamu, terima kasih kau memaksaku menjadi milikmu, terima kasih kau mau menerimaku meski aku..." Ucapan Arina terpotong tatkala Brennan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
"Cukup sayang! Kau tidak perlu mengatakan semua itu. Aku hanya melakukan apa yang sudah sewajarnya aku lakukan untuk perempuan yang aku cintai. Jadi berhenti berterima kasih padaku. Cukup katakan 'aku mencintaimu Brennan' itu saja." Brennan tersenyum nakal menggoda.
"Terlalu percaya diri, siapa juga yang mau mengatakan hal itu?" Arina memalingkan wajahnya dan tersenyum malu-malu.
"Kau yakin tidak mau mengatakannya? Baiklah, aku akan memaksamu mengatakannya. Kehamilanmu masih kecil, jadi aku rasa masih aman untuk tiga ronde." Brennan sengaja menambah laju mobilnya.
"Jangan macam-macam Bren!" Arina menatap tajam calon suaminya itu.
"Bren..." Bentak Arina karena Brennan tidak mau mendengarnya.
"Baiklah baik! Aku mencintaimu Brennan! Aku sangat mencintaimu Brennan!"
__ADS_1
"Good girl!"
...~ TO BE CONTINUE ~...