CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
kebahagiaan Selamanya


__ADS_3

"Griff, a-ada apa?" Syene bertanya terbata-bata.


Enggan menjawab, Griffith masih saja fokus menyetir dengan ugal-ugalan. Sorot mata tajamnya begitu mengerikan, terlihat jelas dari otot-otot lengannya yang timbul bahwa ia mencengkeram stir mobilnya dengan sangat kuat.


"Griff, aku mohon! Katakan ada apa? Apa lagi kesalahanku?" Bentak Syene histeris.


Masih enggan menjawab, Griffith membanting setir ke kiri dengan sangat kuat hingga kepala Syene hampir saja mengenai dasbor mobilnya jika tidak mengenakan sabuk pengaman. Griffith turun dari mobil dan melangkah dengan sangat cepat mengitari mobilnya lalu membuka pintu dan menarik Syene turun dengan kasar. Ia menarik Syene masuk ke dalam mansionnya sementara Syene berusaha untuk tenang dan tidak melawan.


Sesampainya di kamar, Griffith mendorong kekasihnya hingga terpental di ranjang. Buru-buru ia melepaskan kemejanya dan segera naik ke atas tubuh mungil Syene untuk mengunci pergerakan gadis itu.


"Griff, jangan seperti ini! Apa salahku?" Syene berusaha meronta tatkala Griffith mulai mencumbu leher jenjangnya dengan rakus. Syene bahkan bisa merasakan kekasihnya itu menggigit lehernya dengan cukup kuat.


"Kau pikir kau bisa berpaling dariku? Sekalipun bisa, aku akan tetap menarikmu kembali dan memaksamu menjadi milikku seutuhnya!" Griffith membuka satu persatu kancing kemeja Syene dengan brutal.


"Griff, aku mohon jangan seperti ini! Tenanglah dulu dan jelaskan apa salahku?" Pinta Syene ketakutan.


Kembali tidak menjawab, Griffith yang sudah berhasil melepaskan semua pakaian kekasihnya pun tersenyum miring melihat tubuh indah Syene terpampang nyata tanpa penghalang di bawahnya. Tak ingin melewatkan kesempatan, ia segera menggunakan kesempatan yang ada untuk mencumbu setiap inci kulit mulus Syene.


"Griff..." Syene yang tadinya ketakutan kini malah perlahan ikut terbuai oleh sentuhan Griffith. Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan. Sungguh membuatnya melayang meski hanya dengan permainan bibir dari Griffith.


"Griff..." Syene hanya mampu menyebut nama kekasihnya. Ingin meminta Griffith berhenti namun tidak rela karena sensasi luar biasa yang ia rasakan.


"Kenapa? Nikmat bukan?" Griffith menyeringai melihat ekpresi dan reaksi alami tubuh kekasihnya.


"Um..." Syene memejamkan matanya dan mengangguk. Ia pasrah, ia kalah, Griffith benar-benar membuatnya mabuk kepayang saat ini.


"Griff, jangan!" Syene tiba-tiba tersadar saat merasakan tangan besar Griffith mengusap inti tubuhnya.


"Jangan!" Gadis bermata biru itu berhasil meloloskan diri dan menarik selimut untuk melindungi tubuh polosnya.

__ADS_1


"Bukankah kau suka? Ayo, kita lanjutkan." Griffith menyatukan keningnya dengan kekasihnya.


"Tidak sekarang Griff! Aku minta maaf." Syene memejamkan matanya merasa bersalah.


"Kenapa? Kau takut aku marah ketika tahu jika kau sudah tidur lebih dulu dengan pria itu?" Griffith tiba-tiba mencengkeram kuat rahang Syene.


"A-apa maksudmu Griff? Pria siapa?" Tanya Syene terbata-bata sambil menahan sakit.


"Tidak perlu berpura-pura Syene! Kau bahkan mengajaknya untuk berziarah ke makam orang tuamu, tapi denganku? Kau bahkan tidak pernah mengungkitnya sama sekali." Kilat kemarahan membuat wajah tampan Griffith terlihat sangat mengerikan.


"Griff, sakit! Biarkan aku jelaskan dulu." Syene meringis kuat sementara rahangnya tampak sudah memerah bahkan mulai terluka.


"Jelaskan apa lagi? Jelaskan kalau kau ingin menjalin hubungan serius dengannya dan akan meninggalkanku? Begitu?" Pria itu melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga wajah gadisnya terpelanting ke samping.


Ia bangkit dan turun dari atas Syene. Duduk di tepi ranjang, mengambil sebatang rokok lalu membakarnya dan menghisap rokok tersebut. Syene berusaha bangkit dari posisinya dan meraih pakaiannya yang tidak jauh. Segera ia mengenakannya sebelum Griffith kembali berubah pikiran dan menyerangnya. Selesai mengenakan pakaian, ia menepis segala rasa takutnya dan memeluk Griffith dari belakang.


"Apa?" Tanya Griffith datar. Dari suaranya, sepertinya ia jauh lebih tenang sekarang.


"Aku bisa bersama Etan dan berniat ke makam kedua orang tuaku, itu sudah bukan hal baru. Dari kecil pun kami sudah melakukan itu setiap tahun. Tapi tadi pagi aku benar-benar tidak mengajaknya sama sekali. Dia yang mendatangiku lebih dulu dan kami berpapasan saat aku hendak pergi." Jelas Syene sesuai apa yang terjadi.


"Lalu dia merangkulmu seperti seorang kekasih? Memperlakukanmu dengan begitu manis seolah kalian itu pasangan?" Masih dengan suara datar, jelas sekali Griffith tengah cemburu.


"Aku minta maaf. Dia memang mempunyai kebiasaan dari kecil selalu merangkul pundakku ketika kami bersama. Tapi sungguh aku tak punya hubungan yang lebih dari itu dengannya. Aku mencintaimu Griffith dan itu tidak akan pernah berubah." Syene semakin erat memeluk tubuh kekar prianya.


"Katakan sekali lagi! Aku tidak mendengarnya." Titah Griffith dengan senyum tipis yang berusaha ia sembunyikan.


"Aku mencintaimu Griffith Akayama, dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Sekalipun aku lupa ingatan, hatiku akan tetap menuntunku padamu." Syene tersenyum malu-malu masih memeluk erat Griffith.


"Aku juga sangat mencintaimu, Syene Addison. Menikahlah denganku!" Griffith melepaskan diri dari Syene dan menarik kekasihnya hingga duduk di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Me-menikah?" Tanya Syene terkejut.


"Em...menikahlah denganku! Sungguh aku menahan diri karena tak ingin menyakitimu, tapi aku tak akan sanggup menunggumu hingga lulus sayang. Kau selalu bisa membuatku menggila setiap kali bersamamu, menikahlah denganku!" Griffith menatap dalam sepasang mata biru kekasihnya.


"Aku...aku harus meminta izin dari aunty Arlin dan uncle Richard. Juga Opa dan Oma." Syene menunduk malu.


"Tapi kau mau 'kan?" Griffith memegang dagu gadisnya dan mengangkat wajah cantik Syene hingga kembali menatapnya.


"Aku mau. Tapi tidak..."


"Aku yang akan meminta izin dan restu dari mereka." Griffith segera memotong perkataan Syene dan langsung mengunci bibir mungil kesayangannya.


Keduanya kembali memadu kasih melalui pagutan panas yang mewakili betapa besarnya rasa cinta keduanya. Pagutan yang sangat lembut namun menuntut, membuat siapapun akan iri jika menyaksikan keduanya. Keduanya begitu menikmati keintiman mereka meski belum bisa melakukan hal yang lebih jauh dari itu.


"Aku mencintaimu Syene Addison! Sangat-sangat mencintaimu. Aku mohon jangan membuatku gila lagi." Griffith memeluk erat Syene yang masih ia dudukan di atas pangkuannya.


"Aku juga mencintaimu Griff. Aku minta maaf karena sering membuatmu salah paham padaku. Tapi sungguh tidak akan ada pria lain selain dirimu." Syene mengusap punggung Griffith.


"Jadi, kapan kita akan menikah?" Griffith membawa Syene untuk bertatapan dengannya.


"Minta izin dulu dengan keluarga besarku." Syene tersenyum malu-malu dan mencubit ringan hidung mancung prianya.


"Baiklah, besok aku akan segera menemui mereka. Lebih cepat kita menikah, itu akan lebih baik. Kau tak perlu takut soal kuliahmu, aku janji kau akan menyelesaikannya tanpa hambatan apapun." Griffith tersenyum bahagia.


"Baiklah sayang. Aku serahkan padamu semuanya, aku sang ratu dan hanya menerima beres semuanya." Syene tertawa bahagia.


"Aku ingin kebahagiaan ini selamanya, Tuhan! Bukan hanya datang sekejap lalu pergi lagi seperti yang sudah-sudah!


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2