CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Ternyata


__ADS_3

"Oma...Opa..." Syene berteriak bahagia begitu sampai di kastil.


"Ya ampun cucu Oma, baru sekarang kau mengingat Oma tuamu ini ya." Asyh memeluk erat cucu kesayangannya.


"Maafkan Syene Oma. Akhir-akhir ini aku banyak tugas makanya tidak sempat mengunjungi Oma dan Opa." Syene tersenyum konyol.


"Dia bohong Oma. Kakak Syene itu sekarang sudah punya kekasih makanya dia em..."


Syene langsung membekap mulut Arina sebelum sepupunya itu selesai berbicara.


"Wah...Syene kita sudah dewasa sekarang ya. Sudah punya kekasih rupanya." Arlen merangkul Asyh sambil tersenyum meledek cucunya.


"Tidak Opa, itu tidak benar. Arina hanya mengada-ngada." Syene berusaha untuk berkilah.


"Jangan tidak mengakui kekasihmu Syene. Jika dia tahu, apa yang akan dia pikirkan? Lebih dari itu hubungan kalian bisa jadi terganggu." Asyh menasehati cucu sulungnya.


"Aku minta maaf Oma. Aku hanya belum siap mengenalkan dia pada kalian." Syene menunduk merasa bersalah.


"Kami tidak akan memaksa untuk yang satu itu. Tapi selalu ingat pesan kami, jaga diri kalian baik-baik jika kalian sedang dekat dengan seorang pria ataupun sudah mempunyai kekasih." Arlen mengelus kepala kedua cucunya bergantian.


"Opa, Oma, akhir bulan ini kita jadi kan ke Indonesia?" Tanya Arina semangat.


"Jadi sayang. Pasti jadi." Asyh mencubit lembut pipi Arina yang memang sedikit bulat.


"Okay. Oh iya malam ini aku dan kakak Syene akan menginap di sini. Papa dan Mama keluar berbulan madu lagi." Arina memasang wajah memelas sambil memeluk Syene.


"Ya sudah kalian ke kamar sana. Jangan banyak bergadang, kalian besok juga harus masuk kuliah lagi." Titah Arlen pada cucu-cucunya.


"Siap Opa." Arina langsung menarik Syene naik menuju kamar khusus untuk mereka jika ingin menginap di kastil Addison.


"Cucu-cucu kita sudah dewasa sekarang." Gumam Asyh tersenyum memperhatikan kedua gadis yang sudah menghilang ke dalam kamar itu.


"Benar. Dan kita harus istirahat sekarang karena sudah malam." Arlen menuntun Asyh ke kamar mereka. Keduanya masih sangat harmonis dan romantis meski usia mereka sudah usia senja.


••••••


"Kakak Syene, nanti aku mau bawa bikini ke Bali." Arina terlihat begitu bersemangat.


"Em..." Syene hanya berdeham merespon sambil sibuk memainkan ponselnya.


"Tapi apa Opa dan Oma tidak akan marah ya?" Tanya Arina bimbang.

__ADS_1


"Em..." Syene kembali hanya berdeham merespon celotehan adik sepupunya sedangkan tangannya begitu aktif memainkan ponselnya.


"Ih...kakak Syene dengarkan aku dulu." Rengek Arina langsung merebut ponsel Syene.


"Hei kembalikan!" Syene gelagapan dan berusaha merebut ponselnya namun Arina menghindar.


"Hah? Kau dan dia saling bertukar pesan nakal ya?" Pekik Arina kaget melihat isi pesan Syene bersama Griffith.


"Ck...hanya pesan saja." Syene berhasil mengambil kembali ponselnya saat Arina lengah.


"Kakak Syene, katakan padaku apa saja yang sudah kalian lakukan setiap kali ketika bertemu?" Tanya Arina curiga.


"Tidak ada Arina. Aku berani bersumpah! Tidak lebih dari sekedar berciuman. Dan isi pesan kami juga masih dalam batas kewajaran." Syene memutuskan menyimpan benda pipih itu.


"Aku jadi ingin merasakan punya kekasih juga." Arina segera memeluk manja Syene.


"Jangan gegabah. Mempunyai seorang kekasih tidak seindah yang kau bayangkan. Apalagi pria seperti Griff itu sangat posesif karena pernah terluka." Syene juga membalas pelukan adik kesayangannya.


"Aku suka pria yang posesif. Seperti Papa pada Mama, uh...manis sekali." Arina tersenyum sendiri.


"Benar juga. Tapi posesifnya Griff lebih dari itu. Dia bahkan menempatkan orang-orangnya di mana-mana untuk mengawasiku." Ungkap Syene.


"Mungkin. Ya sudahlah, ayo kita istirahat. Bukannya besok kau ingin berbelanja? Jangan sampai besok kita malah bangun terlalu siang untuk kuliah." Ajak Syene yang sudah memilih berbaring.


"Benar juga, aku sampai lupa rencana kita besok. Selamat malam kakak." Arina ikut berbaring dan menarik selimut menutupi tubuh mereka.


"Selamat malam." Balas Syene mulai memejamkan. Keduanya perlahan pun mulai mengarungi dunia mimpi mereka.


••••••


"Ih...kenapa kak Syene belum juga keluar?" Gerutu Arina yang sudah sedari tadi menunggu di parkiran kampusnya.


"Arina?" Seorang pria menyapa gadis itu.


"Kau? Uncle Griff? Unclenya Xander 'kan?" Arina menebak-nebak.


"Benar. Ya ampun kau sudah gadis sekarang." Griffith mencubit gemas pipi Arina.


"Tidak sopan! Ada apa uncle ke sini? Menjemput Xander? Bukannya dia tadi sudah pergi duluan ya?" Tanya Arina bingung.


"Aku kemari untuk menjemput kekasihku." Jawab Griffith sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

__ADS_1


"Tunggu...jangan bilang kekasihnya uncle itu adalah kakak Syene?" Tebak Arina penasaran.


"Kakak Syene?" Griffith mengernyit bingung sedikit tidak mengerti siapa yang Arina maksud.


"Arina...Griff kau di sini?" Syene yang terlihat girang seketika menjadi bingung.


"Jadi benar Griff yang selama ini kau maksud adalah Griffith Akayama, pamannya Xander Akayama?" Arina tersenyum nakal.


"Jadi Syene adalah gadis kecil yang beberapa tahun lalu aku temui di depan rumah. Pantas saja aku seperti begitu mengenal sepasang mata indahnya." Batin Griffith tersenyum menatap kekasihnya.


"Bagaimana rasanya mendapat daun muda heh?" Arina menyenggol lengan Griffith.


"Ck...kau ini masih kecil, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak berbuat yang macam-macam dengan kakakmu ini." Griffith menarik Syene hingga berdiri di depannya dan memeluknya erat dari belakang.


"Ya ya...awas saja kau berani macam-macam! Sekarang kembalikan kakakku karena kami harus pergi berbelanja." Arina merebut paksa Syene dari tangan Griffith.


"Jadi kalian akan pergi berdua?" Tanya Griffith tampak kecewa.


"Maaf Griff, aku lupa mengabarimu tadi. Nanti aku janji setelah selesai berbelanja, aku akan mendatangimu." Syene memelas berharap kekasihnya tidak marah padanya.


"Ya sudah. Kalian hati-hati." Griffith menghadiahi gadisnya sebuah kecupan manis di kening.


"Kami pergi dulu." Arina segera menarik kakaknya naik ke atas motor mereka dan meluncur pergi sebelum Griffith merayu Syene untuk berbelok padanya.


"Dasar anak gadis." Griffith menggeleng gemas melihat tingkah keduanya pun memutuskan pergi dari kampus itu.


••••••


"Apalagi yang mau aku beli ya?" Arina terlihat begitu bersemangat sementara kedua tangannya sudah menenteng beberapa paperbag dengan merek-merek ternama.


"Belanjaanmu sudah sangat banyak. Jangan sampai uang tabunganmu malah habis hanya untuk belanja." Syene mengingatkan adiknya.


"Tenang saja. Aku sudah memisahkan tabunganku dengan uang yang akan aku habiskan untuk berbelanja." Arina memutar arah berhadapan dengan Syene dan berjalan mundur.


"Hei, kenapa berjalan seperti itu. Nanti kau bisa menabrak seseorang." Syene hendak menarik Arina namun gadis itu menghindar.


"Sebaiknya aku beli apalagi ya?" Tanya Arina sambil melihat-lihat sekitar.


"Arina awas!"


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2