CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Menghapus Debu


__ADS_3

"Astaga, kenapa aku bisa kesiangan seperti ini?" Syene terburu-buru memasukkan semua buku pelajarannya yang perlu ia bawa. Setelah semuanya siap ia segera berlari turun ke bawah.


"Muncul juga kau akhirnya. Ayo cepat, kita sudah terlambat ini." Ajak Arina langsung menarik kakak sepupunya kemudian keduanya naik ke atas motor. Hari ini Arina yang mengendarai motor mereka.


"Aku benar-benar tidur terlalu nyenyak sampai bangun terlambat tadi pagi." Pekik Syene pada Arina.


"Kau pasti habis mimpi indah ya? Apa kau memimpikan pria yang membonceng dirimu tadi malam? Apa dia sangat tampan?" Tanya Arina penasaran sambil fokus mengendarai motor.


"Dia memang sangat tampan. Tapi dia juga sangat dewasa, selisih umurnya denganku sangat jauh." Jawab Syene namun ia tersenyum malu-malu.


"Kalau memang dia itu baik, usia tak menjadi masalah. Oma dan Opa juga terpaut usia dua belas tahun, tapi lihatlah mereka masih sangat romantis bahkan sampai saat ini." Arina menghentikan motornya di parkiran kampus.


"Kalau itu memang benar. Tapi sebaiknya aku fokus pada kuliahku dan setelah itu aku bisa bekerja dengan baik." Syene merangkul Arina dan keduanya berjalan beriringan menuju kelas mereka.


"Siapa namanya?" Tanya Arina antusias.


"Griffith. Dia mengizinkanku memanggilnya Griff." Jawab Syene masih senyum-senyum.


"Griff? Apa dia pamannya Xander yang itu?" Gumam Arina bertanya-tanya.


"Aku masuk ya, kelasku sudah sampai." Pamit Syene diangguki Arina.


Arina pun melanjutkan langkahnya melewati lorong-lorong kampus. Tidak seperti Syene yang dikucilkan meski memiliki kecantikan yang sempurna, Arina selalu menjadi pusat perhatian terutama para kaum Adam karena selain parasnya yang cantik dan manis, Arina juga salah satu mahasiswi yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan kampus.


"Hei anak kecil!" Seseorang menyapa Arina dan ia sudah cukup mengenal suara itu.


"Xander..." Arina berbalik dan berlari menghampiri temannya itu.


"Apa kabarmu? Bagaimana kuliahmu?" Tanya lelaki berambut keriting dan berkulit coklat itu.


"Semuanya lancar dan aku baik-baik saja. Kau kenapa bisa di sini?" Arina begitu bahagia bertemu dengan teman kecilnya itu.


"Aku mengikuti program pertukaran mahasiswa dan malah dikirim ke kampus ini. Kau senang bukan?" Xander mencubit pipi Arina.


"Senang. Sangat senang, jadi ada yang akan mentraktir ku dan Syene makan setiap hari." Arina terkekeh tanpa dosa.


"Ck...mentang-mentang aku ini banyak uang ya. Padahal dia dan Syene juga tak kalah berduit dariku." Xander menjepit kepala Arina di bawah ketiaknya hingga gadis itu berteriak meminta ampun.


"Oh ya, apa pamanmu ada di New York saat ini?" Arina begitu serius.


"Paman Griff? Dia tidak pernah ke mana-mana. Kehidupannya sudah terikat di sini." Jawab Xander seadanya.


"Ya sudah, aku masuk dulu." Pamit Arina setelah sampai di depan kelasnya dan langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


"Ini kan kelasku juga." Gumam Xander juga masuk.


"Kau di kelas ini juga?" Tanya Arina bingung.


"Benar. Dan aku akan duduk di sini untuk menyiksamu. Hahaha..." Xander tertawa jahat lalu duduk di bangku kosong samping Arina.


"Sepertinya aku yang akan menyiksamu Tuan dingin. Hahaha..." Arina juga ikut tertawa jahat.


"Kita lihat saja nanti. Hahaha..." Xander kembali tertawa jahat.


"Ck..." Arina berdecak dan memutuskan untuk diam agar bisa fokus belajar karena dosen sudah datang juga.


Pelajaran mereka pun dimulai dengan baik dan berjalan dengan lancar.


••••••


"Drex, apa jadwalku siang ini?" Tanya Griffith datar.


"Tidak ada Tuan. Hari ini kosong, tapi nanti malam ada sebuah pertandingan yang harus Tuan ikuti." Jelas Drex sopan.


"Baiklah, siang ini aku ingin pergi sendiri menggunakan motorku! Jangan ikuti aku!" Titah Griffith serius.


"Baik Tuan!" Drex keluar dari ruangan kerja Griffith.


"Aku jadi merindukan dia." Gumam Griffith. Ia memutuskan untuk keluar dari ruangannya.


••••••


"Syene, ini hasil tugasmu minggu lalu. Kau mendapatkan nilai yang tertinggi lagi." Dosen pria yang menyampaikan materi tadi menyerahkan selembar kertas pada Syene.


"Terima kasih, Sir." Syene terburu-buru naik ke podium untuk mengambil hasil nilainya.


"Ck...baru mendapatkan nilai tertinggi saja sudah bangga. Buang rasa takutmu pada mobil dulu, baru kau boleh bangga!" Ucap seorang teman kelas Syene.


"Wooo...benar itu. Dasar payah!" Teman-teman kelasnya yang lain ikut menyoraki.


Syene menunduk sedih sekaligus malu dan turun dari podium. Teman-temannya masih tidak berhenti menyoraki meski sang Dosen sudah berusaha melerai. Syene duduk di tempatnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"SUDAH! SUDAH! JIKA KALIAN MASIH SAJA RIBUT DAN MENERTAWAKAN KELEMAHAN TEMAN KALIAN, AKU TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN MEMBERIKAN TUGAS TAMBAHAN KALIAN!" Bentak Dosen pria itu mengancam para mahasiswa-mahasiswinya.


"Woooo....tidak seru." Satu persatu mahasiswa-mahasiswi pun keluar dari ruang kelas itu karena memang kelas sudah selesai.


Syene baru berani keluar setelah memastikan semua teman-teman kelasnya sudah keluar semua. Dengan langkah lemah ia berjalan menyusuri lorong kampus itu. Mengabaikan semua tatapan sinis dan merendahkan dari beberapa orang yang melewatinya atau yang sedang bersantai.

__ADS_1


"Ekhem..." Suara batuk palsu seseorang membuat langkah Syene terhenti.


Syene mengangkat kepalanya dengan ragu dan takut. Takut jika itu adalah salah satu mahasiswa yang akan mengganggunya lagi.


"Kau?" Tanya Syene tak percaya melihat Griffith di depannya.


"Kita bertemu lagi, Syene." Sapa Griffith merentangkan kedua tangannya.


Entah angin apa yang sudah berembus meniup otak kecil Syene. Kakinya otomatis berlari dan tangannya memeluk tubuh kekar Griffith.


"Ma-maaf." Pinta Syene salah tingkah dan melepaskan pelukannya.


"Tidak masalah. Kau bisa memelukku sepuas hatimu." Griffith mengangkat dagu Syene agar ia bisa menatap wajah Syene.


"Kenapa kau menangis?" Tanya Griffith kesal. Ada rasa tidak terima dalam hatinya melihat wajah sembab gadis di depannya.


"Tidak. Tadi mataku hanya kemasukan debu." Syene berkilah.


"Ayo, ikut denganku! Biarkan aku membersihkan debunya." Ajak Griffith namun Syene tidak bergerak.


"Biarkan aku izin dulu dengan keluargaku. Aku tidak mau nanti mereka khawatir padaku." Syene dengan raut cemas dan tidak enak hati.


"Silakan. Itu akan lebih baik daripada aku dituduh membawa kabur anak gadis orang." Griffith tertawa kecil dan hal itu mampu membuat Syene terpukau.


"Se-sebentar." Syene menjauh dan memutuskan untuk menghubungi Arlin.


"Dia unik. Jika anak gadis seusianya sekarang sudah bebas bercinta dengan pria yang berbeda, dia bahkan masih harus meminta izin hanya untuk pergi dengan orang asing." Griffith tersenyum penuh arti memperhatikan setiap gerak-gerik Syene yang sedang serius berbicara lewat ponsel.


"Bagaimana?" Tanya Griffith begitu Syene menghampirinya.


"Aku diizinkan." Syene hanya tersenyum, tentu ia tidak mungkin mengatakan hal yang terlalu mendetail pada Griffith yang baru saja ia kenal.


"Ayo, biarkan aku yang menghapus debu yang sudah membuat matamu berair." Griffith naik ke atas motornya disusul Syene. Setelah memastikan Syene sudah naik dan duduk dengan aman, barulah ia meluncur pergi.


Keduanya tidak tahu ada dua pasang mata yang menatap mereka tidak suka sekaligus merendahkan.


"Ternyata diam-diam dia bermain dengan pria dewasa." Ucap Lina menghina.


"Dasar murahan! Bisa-bisanya aunty Arlin membesarkan anak sepertinya." Leonard menimpali.


"Sudahlah, ayo kita bersenang-senang saja." Ajak Lina merangkul kakaknya.


"Let's go!"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2