CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Restu


__ADS_3

"Bagaimana? Kau sudah siap untuk pulang?" Brennan terlihat sangat bersemangat mengemasi barang-barang Arina.


"Em...siap sekali." Arina tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


"Tapi kau pulang ke mansion Papamu atau ke mansionku?" Brennan menatap Arina penuh harap.


"Mansion Papa. Ingat Brenn, masih ada tugasmu yang harus kau selesaikan sebelum kita bisa menikah dan tinggal bersama. Bagianku untuk meyakinkan Papa sudah selesai, tinggal bagianmu saja." Arina tersenyum meledek calon suaminya itu.


"Bagaimana jika seandainya Ayahmu tetap tidak mengizinkan aku untuk menikahimu?" Brennan menunduk sedih.


"Jika Papa keras kepala, kau bisa gunakan cara mudah yaitu menarik belas kasihannya. Kau berlutut saja sambil menangis dan memohon. Jika Papa masih saja tidak memberi izin, maka cara terakhir adalah kau menculikku." Arina menahan tawa melihat ekspresi yang ditampilkan Brennan.


"Sepertinya ide yang bagus. Ayo." Brennan menggenggam tangan Arina dan menariknya lembut untuk keluar dari ruangan inapnya.


"Brenn, tadi aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius." Arina mulai khawatir. Tentu saja khawatir, jika Brennan sampai menggunakan cara terakhir yang ia sebutkan tadi, masalahnya akan menjadi semakin runyam.


"Tidak tidak. Apa yang kau berikan padaku sebagai ide, itu yang aku akan lakukan sekarang. Apapun asal aku bisa bersamamu." Pria itu menuntun Arina masuk ke dalam mobil.


"Jangan gila Brenn! Jika kau sampai menggunakan cara terakhir, bisa-bisa semuanya semakin runyam." Arina mulai khawatir. Bagaimanapun juga Brennan bukanlah seorang pria yang suka bermain-main.


"Kenapa kau malah takut sekarang? Sudahlah jangan khawatir, jika kau bisa aku juga pasti bisa." Brennan tersenyum dan menambah laju mobilnya sementara Arina memilih diam dan pasrah.


Sepanjang perjalanan mereka tidak bicara banyak. Arina yang lebih banyak diam karena hatinya tidak tenang. Ia merasa bersalah bersalah karena sudah memberikan ide konyol tadi hanya demi mengerjai Brennan. Mereka akhirnya sampai di depan kediaman Elnardo.


"Sampai." Brennan tersenyum lebar dan tampak bersemangat. Ia melepaskan sabuk pengamannya lalu melepaskan milik Arina juga.


"Brenn..." Arina menahan tangan prianya saat Brennan hendak membuka pintu mobilnya.


"Em?" Brennan mengernyit bingung. Arina mendekat padanya tiba-tiba mengecup bibir calon suaminya. Brennan yang mendapatkan kesempatan pun tak ingin melepasnya begitu saja. Ia menahan tengkuk wanitanya dan memperdalam pagutan mereka.


"Hanya itu yang bisa aku berikan sebagai bentuk dukunganku." Arina menunduk malu.


"Tidak masalah. Kau sudah memberikan segalanya bahkan memberikan hadiah terindah untukku." Tangan Brenn terulur mengelus perut Arina.

__ADS_1


"Sudah, ayo turun." Arina tersipu dan menepis tangan Brennan. Buru-buru ia keluar duluan dari mobil membuat Brennan gemaa dengan tingkahnya.


"Seandainya untuk bersamamu tidak perlu sesulit ini, mungkin kita sudah bahagia sekarang. Tapi aku yang bersalah atas semua yang sudah terjadi hingga membuat kita menjadi rumit seperti ini. Hah..." Brennan menghela nafas kasar dan keluar dari mobilnya.


Ia melangkah dengan tenang masuk ke dalam mansion Elnardo. Sayangnya jantungnya tidak seirama dengan langkahnya. Jantungnya lebih senang berdisko ria di dalam sana. Langkahnya terhenti begitu melihat Richard duduk sendirian di ruang keluarga dan bersedekap, tak lupa menatap tajam dirinya. Ia berusaha tersenyum meski tidak mendapat balasan dari calon Ayah mertuanya.


"Tuan Elnardo, boleh aku bicara sebentar denganmu?" Brennan mulai merasa gerah dengan tingkah angkuh Richard yang mungkin hanya dibuat-buat.


"Waktuku tidak banyak, masih ada banyak urusan lebih penting yang harus aku selesaikan." Richard merespon dengan datar.


Brennan kembali melangkah hingga tepat berdiri di depan Richard. Ia menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan. Sesaat kemudian ia berlutut di depan Richard dengan begitu dramatis membuat kedua wanita yang diam-diam memperhatikan mereka pun menutup mulutnya. Richard cukup terkejut dengan yang dilakukan Brennan, namun ia tetap memasang tampang dingin dan datar serta tatapan tajam.


"Tuan Richard, berikan aku satu kesempatan untuk menebus kesalahanku pada Arina. Biarkan aku mengganti air matanya yang sudah jatuh menjadi kebahagiaan. Aku benar-benar sangat mencintai putrimu. Hanya satu, aku janji. Jika aku gagal kau bisa menghukumku apa saja. Tapi aku mohon biarkan aku menikah dan hidup bersama Arina. Izinkan kami membangun keluarga kecil kami bersama." Pinta Brennan serius meski tidak se-dramatis yang Arina berikan padanya sebagai ide tadi.


"Hah..." Richard menghela nafas kasar dan melirik dua wanita yang tengah memperhatikan mereka terutama putrinya.


"Baiklah, aku terpaksa merestui kalian." Ucap Richard akhirnya.


"Papa, tidak bisa terpaksa." Arina berlari sambil merengek pada Ayahnya.


"Baiklah. Papa merestui kalian dan mengizinkan kalian menikah. Tapi janji dengan Papa, kalian akan bahagia!" Richard menangkup wajah cantik putrinya.


"Aku janji." Brennan dengan cepat menjawab.


"Wah...calon pengantin sudah mendapat restu ya?" Syene yang baru saja kembali bersama Griffith pun tersenyum menggoda adik sepupunya.


"Syene, sudah berapa persen persiapan pernikahan kalian? Apakah aku masih bisa menyusul agar bisa menikah di hari yang sama denganmu?" Arina menjadi sangat bersemangat.


"Kau tenang saja, aku dan Griffith sudah mengatur sebagian untuk kalian. Kita menikah di hari yang sama, jadi tidak perlu terlalu repot karena semuanya akan kita gabung. Kembali kartu undangan, wedding cake, dan pakaian pengantin kita." Syene tersenyum menaikturunkan alisnya.


"Syukurlah. Jadi impian kecil kita untuk menikah bersama bisa terwujud." Arina memeluk erat kakak sepupunya.


"Sebahagia itu Arinaku." Diam-diam Richard tersenyum melihat keceriaan putrinya yang sempat hilang kini telah kembali.

__ADS_1


"Kau kenapa masih di sini? Pulang sana! Kau juga." Richard menghardik kedua calon menantunya.


"Tapi..."


"Tidak! Jangan harap kau bisa tinggal bersama putriku sebelum kalian resmi menikah." Tegas Richard.


"Sudah bung. Terima saja nasibmu." Griffith terkekeh meledek rekan bisnisnya yang sebentar lagi akan menjadi iparnya juga.


"Baiklah aku pulang sekarang." Brennan berbalik tak lupa menarik Griffith untuk ikut bersamanya.


"Dia tidak memakai sarung tangan? Apa tidak takut penyakitnya kambuh?" Syene mengernyit bingung.


"Menurutku dia mengalami Haphephobia. Yang membuat dia merasa takut bersentuhan dengan orang lain, jadi ketakutan yang berlebihan itu membuatnya merasakan efek-efek yang tidak wajar." Arina tersenyum tipis.


"Semoga saja kau bisa menjadi obat untuknya." Syene menoel hidung adiknya.


"Semoga saja."


•••


"Jadi bagaimana?" Seorang pria berambut pirang dengan tato di sekujur tubuhnya bertanya pada bawahannya.


"Aku sudah menemukannya Tuan. Dia tidak pernah pergi dari kota ini sejak dulu." Jelas sang bawahan sopan.


"Bagus cari kesempatan agar aku bisa mendapatkannya kembali." Titah pria berambut pirang itu.


"Tapi Tuan, aku juga mendapat kabar bahwa dia akan menikah sebentar lagi." Ujar sang bawahan gusar.


"Menikah? Hahaha...yang benar saja. Apa dia bisa menikah dengan pria lain selain aku?" Pria berambut pirang itu tertawa congkak.


"Baik Tuan. Kalau begitu aku akan segera mengatur semuanya." Sang bawahan pamit.


"Arina..."

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2