CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Melenyapkan


__ADS_3

"Ah ...." Deron mendesah panjang setelah mendapatkan pelepasannya.


Entah sudah kali ke berapa ia menyiksa dan menggauli Arina. Pria itu begitu keji pada wanita yang tengah hamil muda itu. Sekalipun Arina sudah lemah dan tak berdaya, ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya adalah hasratnya terpuaskan.


Lain halnya dengan Deron yang begitu puas setelah menyiksa Arina, wanita itu justru terlihat seperti seonggok mayat hidup. Tatapannya kosong tanpa ada secercah harapan di sana. Ia hidup tapi seperti mati. Jika bisa memilih, mungkin mati benar-benar adalah pilihan yang terbaik.


"Bersihkan dirimu! Jika aku kembali nanti kau tidak juga bergerak, maka aku akan kembali menghukummu!" Titah Deron penuh ancaman. Setelah mengenakan kembali pakaiannya, ia beranjak keluar dari kamar terkutuk itu meninggalkan Arina sendirian.


"ARGHHH ...." Arina berteriak histeris seperti orang kesurupan. Air matanya yang telah kering pun kembali mengalir. Tangannya ia gunakan untuk memukul dadanya yang terasa sesak seakan sudah lama tidak mendapatkan pasokan oksigen. Kebahagiaan yang baru beberapa hari ia rasakan kini berganti menjadi kesakitan yang menghancurkan.


"Maafkan aku Brenn! Maafkan aku." Gumamnya seraya menggosok lengannya. Teringat ancaman Deron tadi, ia memutuskan untuk bangun.


Dengan rasa sakit di sekujur tubuh terutama tubuh bagiab bawahnya dan menggunakan sisa tenaga yang ada, ia tertatih-tatih menyeret tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi. Arina menghidupkan keran air dan mengisi bathtub. Menunggu beberapa saat hingga air terisi, Arina melihat benda-benda yang ada di dalam kamar mandi itu.


Ia masuk ke dalam bathtub dan merendam seluruh tubuh hingga lehernya dengan air dingin itu. Kedua tangannya mengelus perutnya yang masih rata sementara kedua matanya kembali berair. Tidak pernah ia bayangkan kalau kebahagiaan yang sebentar lagi akan diraihnya malah harus berakhir seperti ini.


"Sayang, mungkin saat ini kita memang tidak berjodoh dengan Papamu. Tapi Mommy janji, di kehidupan berikutnya Mommy akan membalas cinta Papamu dan akan melahirkanmu ke dunia ini. Selamat tinggal Brenn, aku mencintaimu."


DORRR DORRR


Terdengar suara tembakan menggema di depan kamar. Sayangnya Arina memutuskan untuk tidak peduli lagi. Ia memejamkan matanya untuk menikmati waktunya yang tersisa. Meraup sisa-sisa oksigen yang terasa pahit saat ia hirup. Wanita itu akhirnya tersenyum dengan manisnya sementara wajahnya sudah pucat.


"ARINA ..." Suara seorang pria memanggilnya, sayangnya ia sudah kehilangan kesadarannya.


"Arina apa yang kau lakukan? Bangun sayang! Bangun!" Brennan menggendong wanitanya keluar dari bathtub dan memeluk erat tubuh telanjang wanita itu.


Ia shock melihat air bathtub berubah menjadi warna merah sementara pergelangan tangan Arina terdapat luka sayatan yang sangat dalam. Hatinya teriris ketika sepasang matanya mendapati tubuh Arina tidak baik-baik saja dan ia yakin batinnya pun begitu. Segera ia mengambil kain apapun yang ada di dekatnya dan membungkus tubuh Arina lalu membawanya keluar.


"Diego, aku serahkan semuanya padamu." Ujar Brennan tanpa menghentikan langkahnya. Segera ia meletakkan kekasihnya itu ke dalam mobil.

__ADS_1


"Maafkan aku datang terlambat. Aku mohon bertahan Arina! Bertahan demi kedua orang tuamu dan aku." Gumam Brennan menggenggam erat tangan Arina sementara satu tangannya yang lain fokus mengendalikan stir mobilnya.


Brennan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan tak peduli saat beberapa kali hampir saja menabrak pengemudi lainnya di jalan raya. Yang ada di benaknya saat ini adalah cepat sampai ke rumah sakit dan membangunkan Arinanya. Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, ia sampai di rumah sakit. Segera ia turun dan menggendong Arina berlari masuk ke dalam rumah sakit.


"Tolong! Selamatkan istriku. Aku mohon." Pinta Brennan dan para perawat segera mengambil alih Arina dari tangannya.


"Serahkan pada kami. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri Tuan." Ucap seorang Dokter wanita dan langsung membawa Arina ke ruang IGD bersama para perawat diikuti Brennan yang menyusul dari belakang.


"Maafkan aku Arina. Maafkan aku meninggalkanmu sendirian. Aku mohon segera bangun dan marahi aku." Gumam Brennan terisak. Pria itu benar-benar kacau melihat wanitanya menderita seperti itu. Kedua tangannya menjambak rambutnya berulang kali karena frustrasi dan rasa bersalah yang menyerang hatinya sekaligus.


"Brenn, kenapa di sini? Siapa yang sakit?" Tanya Arlin yang muncul bersama Richard.


"Itu ... em, Arina." Jawab Brennan gugup karena takut.


"Arina? Sakit apa?" Arlin terlihat panik.


"Ya Tuhan putriku!" Arlin menangis histeris dan luruh terduduk di lantai.


"Kenapa kedua putriku harus mengalami hal tragis ini bersamaan? Apa salah mereka Tuhan?" Jerit Arlin tidak terima dengan apa yang telah terjadi.


"Aku minta maaf. Aku lalai menjaganya." Pinta Brennan menunduk sedih. Richard mengangkat tangannya menghentikan Brennan untuk berbicara lalu ia berjongkok memeluk istrinya.


"Aku yakin kedua putri kita kuat. Mereka pasti bisa melewati ini semua." Ujar Richard menguatkan Arlin.


"Kenapa harus mereka yang mengalami ini semua? Mereka adalah anak-anak yang baik. Tidak pernah menyakiti siapapun." Lirih Arlin yang masih terisak.


"Semua ini sudah takdir, sayang. Apa yang sudah diharuskan terjadi pasti akan terjadi. Kita harus menjadi kekuatan mereka untuk bangkit." Richard mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Keluarga Nona Arina?" Dokter tadi keluar dari ruangan IGD.

__ADS_1


"Aku." Brennan segera menghampiri sang Dokter.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Brennan cemas dan takut.


"Nona Arina dan bayinya dalam keadaan baik. Tapi kondisi mereka saat ini sangat lemah, jadi kami perlu melakukan perawatan intensif terhadap mereka. Maaf mengatakan ini, tapi istri anda mengalami pemerkosaan yang cukup brutal. Terlihat dari alat ke**minnya yang lecet dan terluka. Saat ini dia masih terlelap, dan aku harap setelah dia sadar nanti kau bisa mendampinginya dengan sabar." Ujar sang Dokter.


"B-baik Dokter. Terima kasih." Brennan tersenyum tipis. Ia tidak tahu saat ini harus bersedih ataukah bahagia. Arina dan calon bayi mereka selamat meski saat ini dalam kondisi lemah. Tapi wanitanya disentuh dan dikotori oleh pria lain.


"Kau pergilah jika ingin pergi! Aku tahu apa yang sedang ada dalam benakmu saat ini. Arinaku tidak butuh pria yang meragukannya." Usir Richard datar.


"Aku harus pergi! Aku harus pergi untuk melenyapkan bajingan yang sudah menyakiti wanita dan calon bayiku. Aku janji akan kembali." Brennan pergi dengan sorot kemarahan dan dendam terpancar jelas dari kedua matanya.


"Arina ...." Gumam Arlin yang masih terisak meski tidak separah tadi.


"Sudah, Arina di sini aman bersama Dokter. Sebaiknya kita pergi untuk melihat keadaan Syene dulu." Richard menuntun istrinya untuk berdiri.


Keduanya melangkah beriringan melewati lorong rumah sakit itu untuk sampai di ruang inap Syene. Dari jauh terlihat Drex bersama kedua orang tua Arlin sedang mengobrol. Mungkin Drex sedang berusaha menghibur kakek nenek Syene.


"Ric, jangan beritahu tentang Arina pada Papa dan Mama. Aku tidak mau mereka semakin sedih." Pinta Arlin sendu.


"Baiklah jika maumu." Richard tersenyum menghapus jejak air mata istrinya dan merapikan rambut Arlin. Keduanya melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan ruang inap Syene.


"Di mana Griff? Apa dia pergi lagi?" Tanya Arlin penasaran.


"Tuan Griff ada di dalam. Dia bilang ingin berdua saja dengan Nona Syene." Jawab Drex sopan. Arlin menggangguk pelan setelah mendengar penjelasan Drex.


"Syene ... Syene sadar!"


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2