CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Berbagi Tugas


__ADS_3

"Arina, aku ingin bicara." Griffith masuk ke dalam ruangan tempat Xander dirawat tanpa basa-basi.


"A-ada apa?" Arina bangkit dari duduknya, merasa sedikit takut.


"Kita bicara di luar." Griffith kembali keluar tanpa menunggu persetujuan dari Arina.


"Brenn, aku keluar sebentar." Izin Arina pada Brennan.


"Em...hati-hati!" Brennan tersenyum hangat padanya.


Arina pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia yang sedari tenang, sekarang malah berusaha menenangkan diri.


"Ada apa?" Tanya Arina tanpa berani menatap Griffith.


"Aku minta maaf karena sudah menuduh dan memarahimu beberapa hari yang lalu." Pinta Griffith to the point.


Arina cukup kaget mendengar apa yang Griffith katakan padanya hingga ia hanya dia karena tidak tahu harus berekspresi seperti apa.


"Kau bisa untuk tidak merawat Xander lagi. Kau bisa jalani hidup dengan normal kembali tanpa harus terbebani untuk merawat Xander." Lanjut Griffith.


"Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Kemarahanmu adalah hal yang wajar karena kau yang membesarkan dan mengasuh Xander sejak kedua orang tuanya berpisah dan meninggalkannya bersamamu. Tapi aku tetap merawat dan menemani Xander hingga dia sadar. Aku tidak merasa terbebani dengan apa yang aku lakukan saat ini." Arina tersenyum tulus pada Griffith.


"Aku tidak ingin kuliahmu terganggu karena ini. Aku bisa membayar Dokter spesialis dan perawat untuk merawatnya." Griffith kukuh dengan pendiriannya mengingat ia sudah berjanji pada kekasihnya.


"Kau ngotot sekali? Pasti ini karena ancaman kakak Syene." Tebak Arina terkekeh pelan. Griffith menjadi diam tak tahu apa yang harus dijawab.


"Sudahlah, kalian tenang saja. Aku tidak terbebani sama sekali. Aku hanya ingin menemani Xander hingga ia bangun, setidaknya dengan begitu dia bisa tahu aku tidak marah lagi padanya." Arina menepuk pundak Griffith.


"Kau dan kakakmu sama-sama keras kepala namun memiliki hati yang bersih. Ya sudah jika itu maumu, tapi jika kau lelah maka kau harus segera istirahat. Mengerti?" Griffith menoel hidung Arina.


"Tenang saja paman, ah kakak ipar maksudku." Arina tersenyum konyol menggaruk tengkuknya.


"Ya sudah, kau lanjutkan kegiatanmu. Aku titip Xander." Griffith berlalu pergi setelah mengacak-acak rambut Arina. Arina hanya menggeleng dan merapikan rambutnya kemudian masuk ke dalam ruangan Xander lagi.


"Dia bicara apa?" Tanya Brennan penasaran.

__ADS_1


"Hanya meminta maaf. Juga menyuruhku tidak perlu lagi merawat Xander." Arina kembali menikmati sarapannya.


"Lalu?" Brennan terlihat antusias.


"Aku menerima maafnya, tapi aku akan tetap menemani dan merawat Xander hingga dia sadar. Kau tenang saja, sesibuk apapun aku nanti aku pasti akan membagi waktuku untukmu." Arina mengusap pundak Brennan untuk meyakinkan pria itu.


"Aku tidak tahu Arina. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku ingin selalu ada di dekatmu. Aku ingin selalu bisa memelukmu, memanjakanmu, dan aku sangat ingin menjadi alasan kau tersenyum setiap hari." Batin Brennan memperhatikan Arina yang begitu menikmati makanannya.


"Hei, kenapa melamun?" Arina menjentikkan jarinya di depan wajah Brennan. Pria itu hanya tersenyum setelah tersadar dari lamunannya.


"Saatnya membersihkan Xander." Arina bangkit dari duduknya dan hendak beranjak namun Brennan menahannya.


"Kau...kau membersihkan tubuhnya? Membuka pakaiannya? Melihat tubuhnya?" Brennan terlihat shock dan tidak terima.


"Ya mau bagaimana lagi. Itu sudah menjadi tugasku sekarang." Arina menarik tangannya lagi.


"Kurang ajar. Dia membuat mata indah Arina menjadi kotor." Batin Brennan menatap Xander kesal.


Brennan menjadi gelisah ketika melihat Arina keluar dari kamar mandi sambil membawa sebuah baskom kecil berisi air dan juga handuk. Kegelisahannya bertambah tatkala Arina mulai melepas baju Xander dengan berhati-hati.


"Tapi kau tidak bisa menyentuhnya?" Arina mengernyit.


"Aku bisa." Brennan berdiri setelah mengambil sepasang sarung tangan kulit dari tasnya.


Setelah memasang sarung tangannya, Brennan menyuruh Arina menjauh dan ia yang mengambil alih tugas Arina. Brennan tampak kesulitan, namun menolak semua bantuan yang Arina tawarkan padanya. Gadis jelita yang sedari tadi memperhatikannya itu hanya tersenyum geli. Brennan bahkan memaksa Arina untuk menutup matanya. Akhirnya setelah perjuangan panjang, Brennan berhasil melakukannya.


"Sudah selesai." Ucap Brennan dan Arina akhirnya membuka matanya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Arina khawatir.


"Arghh...sakit..." Brennan memegangi dadanya tiba-tiba.


"Kenapa? Apa kau membawa obatmu?" Arina menjadi panik dan memapah Brennan untuk duduk di sofa.


"Obatku." Brennan memilih memeluk erat Arina.

__ADS_1


"Brenn, di mana obatmu? Apa di dalam tas?" Arina sedikit kesal.


"Obatku sudah dalam pelukanku." Pria bermata hazel itu tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai Arina.


"Kau kenapa menyebalkan sekali?" Arina mencubit-cubit punggung pria itu namun Brennan hanya terkekeh.


"Hobi baruku adalah memelukmu, Arina." Ucap Brennan lembut. Pria yang awalnya kasar itu, akhir-akhir ini menjadi lebih lembut dan perhatian pada Arina.


"Arina, mulai hari ini aku akan membantumu merawat dia terutama membersihkan tubuhnya. Mengerti?" Brennan melepaskan pelukannya dan menatap tajam Arina.


"Memangnya kenapa? Aku bisa melakukannya sendiri." Arina menatap curiga padaku pria di depannya.


"Kau ini bagaimana? Bagaimana bisa kau membersihkan tubuh pria yang bukan siapa-siapamu? Itu termasuk pelecehan." Protes Brennan.


"Astaga! Bren, jika yang kau maksud adalah itu aku sama sekali tidak sekonyol itu. Aku menutup mataku setiap kali sampai ke bagian sana." Ungkap Arina terkekeh.


"Tetap saja, aku tidak terima. Kau hanya boleh menatap dan melihat tubuhku saja, bukan yang lain." Tegas Brennan.


"Cih...yang boleh melihatmu itu hanya kekasihmu. Apa urusannya denganku?" Arina hendak melepaskan diri namun Brennan menahannya.


"Kau lupa? Kau sudah pernah melihat tubuh atasku. Itu artinya kau adalah kekasihku." Brennan tersenyum miring.


"Tidak mungkin. Pasti banyak perempuan lain yang sudah melihatnya sebelum aku." Arina menolak mempercayainya.


"Sayangnya pikiranmu itu salah. Aku tidak pernah bisa dekat dengan siapapun kecuali Jim sahabat sekaligus asistenku. Dan kau adalah gadis pertama yang bisa bersentuhan denganku. Dan kau juga sudah melihat tubuhku, itu artinya kau adalah kekasihku mulai saat ini." Brennan tersenyum penuh kemenangan.


"Tidak bisa seperti itu. Itu egois namanya." Arina tidak terima dengan keputusan sepihak dari Brennan.


"Tidak mau tahu. Aku sekarang harus berangkat ke kantor. Nanti siang, Jim akan menjemputmu untuk kuliah. Jangan nakal!" Brennan berdiri dari duduknya dan mengecup kening Arina. Setelah itu ia bergegas keluar dari ruangan Xander agar Arina tidak protes atau menolaknya lagi.


"Kenapa dia menyebalkan sekali? Bisa-bisanya dia membuat keputusan sepihak begitu. Awas saja dia, nanti aku pasti akan menghukumnya." Geram Arina kesal. Sementara ia kesal di dalam, Brennan yang masih belum beranjak pun mendengar semua kekesalannya.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu Arina! Tidak akan pernah!"


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2