
"Opa, Oma kenapa sakit?" Arina merangkak naik ke atas ranjang kakek neneknya kemudian duduk di tengah-tengah mereka.
"Hanya sakit biasa. Namanya juga sudah orang tua." Asyh merangkul cucunya.
"Tidak mau kalian sakit. Opa dan Oma harus terus sehat sampai nanti aku dan Syene lulus. Lalu kami bekerja, kemudian Syene menikah dan aku melanjutkan pendidikan." Arina menyandarkan kepalanya di pundak Asyh sementara Arlen setia mengelus kepala sang cucu.
"Ya ya, Oma dan Opa janji akan sehat lagi agar bisa melihat kalian lulus lalu bekerja dan lain sebagainya." Asyh tersenyum manis pada cucunya yang memang sudah dekat dengannya dibanding dua cucu lainnya.
"Opa juga ingin melihatmu menikah." Celetuk Arlen.
"Iya, itu harus. Tapi Arina tidak berpikir untuk menikah muda. Aku ingin seperti Opa dan Papa yang berpendidikan tinggi lalu membangun kerajaan bisnis." Arina tersenyum bangga menatap kakeknya.
"Itu tidak salah. Tapi kau tetap perempuan, sesukses apapun dirimu nanti kau tetap membutuhkan seorang pria untuk menjagamu. Kenalkan kekasihmu pada Oma seperti Syene!" Titah Asyh tersenyum menggoda.
"Aku tidak..."
"Aku akan menjaga Arina dengan baik dan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakannya." Brennan tiba-tiba memotong obrolan ketiga orang itu.
"Kau siapa nak? Dilihat dari wajahmu, usiamu sepertinya terpaut cukup jauh dari Arina." Tanya Arlen penasaran.
"Aku Brennan Dominic. Selisih usia kami kurang lebih lima belas tahun tapi itu tidak menjadi pengganggu untuk hubungan kami." Brennan tersenyum ramah dan mendekati ketiga orang itu.
"Kau seumuran dengan Griff ya?" Arlen manggut-manggut seolah sedang menghitung.
"Arina, kekasihmu datang? Ayo ajak dia berkumpul bersama di bawah. Aunty harus memberikan obat pada Oma dan Opa." Titah Asyana membawa beberapa jenis obat di tangannya.
"Ish..." Arina seakan merajuk dan turun dari ranjang kakek neneknya kemudian berlalu meninggalkan Brennan yang segera menyusulnya.
"Kau kenapa masuk? Aku kan tidak menyuruhmu masuk tadi." Tanya Arina kesal.
"Maaf. Aku hanya ingin mengenal keluargamu dan orang-orang yang kau sayangi." Brennan merangkul pundak kekasihnya dan mengikuti langkah Arina.
"Bren, aku tidak pernah merasa kalau aku ini kekasihmu. Jadi tolong berhenti mengatakan aku ini kekasihmu." Arina melepaskan tangan Brennan dari pundaknya.
"Tapi aku mencintaimu Arina." Brennan segera berpindah ke hadapan Arina hingga membuat langkahnya terhenti.
"Kau tidak mencintaiku. Yang kau miliki itu bukan cinta tapi obsesi. Obsesi karena aku bisa berdekatan denganmu sedangkan wanita lain tidak." Telak Arina hingga Brennan terdiam.
__ADS_1
"Pikirkan baik-baik sebelum kau mengambil keputusan. Cinta dan rasa ingin memiliki bagiku adalah dua hal yang berbeda. Kau bisa ingin memiliki seseorang tanpa harus mencintai dia dulu, dan kau bisa mencintai seseorang tanpa harus memilikinya. Jadi tolong Brenn, berhenti mengatakan aku ini kekasihmu atau apapun itu, apalagi mengatakan kau mencintaiku. Itu sangat tidak masuk akal." Arina kembali melangkah meninggalkan Brennan.
"Aku akan membuktikan bahwa aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Arina. Suatu hari kau pasti bisa melihat dan merasakan apa yang aku katakan padamu." Brennan melangkah meninggalkan kastil tanpa ada niatan menyusul Arina.
••••••
"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Griffith menatap Xander tajam. Pria itu menyilangkan tangan dan bergaya bak seorang Ayah yang sedang menginterogasi putranya.
"Aku terbawa emosi paman. Juga saat itu aku sedang mabuk." Xander menunduk merass bersalah.
"Emosi kenapa?" Kini Syene yang bertanya.
"Aku menyukai Arina. Tapi Arina malah dekat dengan pria lain dan hal itu membuatku jadi kesal." Xander tidak berani untuk menatap kedua orang itu.
"Cih...harusnya kau berjuang dengan cara yang lebih baik." Syene memutuskan untuk beranjak dan duduk di sofa.
"Aku ingin kau kembali ke Jepang setelah kau sembuh. Aku tidak ingin kau berbuat onar dan melukai adik iparku lagi. Di Jepang nanti kau akan belajar mengelola bisnis keluarga Akayama peninggalan Ayahmu." Tegas Griffith.
"Baik." Xander menghembuskan nafas berat. Ingin menolak perintah dari sang paman, sayangnya Griffith tidak akan merubah keputusan yang sudah ia buat.
"Sayang, kau sedang apa?" Griffith menghampiri Syene yang sedang cekikan sambil bermain ponsel.
"Tidak. Hanya bertukar pesan dengan temanku Etan." Syene menunjukkan layar ponselnya sekilas pada Griffith.
"Jangan tersenyum karena pria lain!" Griffith merebut ponsel Syene dan langsung meng-nonaktifkannya.
"Griff!" Syene ingin marah namun akhirnya ia menahan diri.
"Kembalikan ponselku!" Gadis bermata biru itu menatap sengit kekasihnya.
"Ini. Tapi ingat, jangan tersenyum pada pria lain baik itu secara langsung maupun tidak langsung!" Titah Griffith posesif.
"Terlalu berlebihan!" Gumam Syene terpaksa menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Kau mau pulang? Atau menemaniku di sini?" Tawar Griffith.
"Aku ingin pulang sebenarnya. Opa dan Oma sedang tidak sehat, jadi ingin menemani mereka." Putus Syene.
__ADS_1
"Ya sudah, aku antarkan kau pulang." Griffith meraih tangan kekasihnya dan menuntunnya berdiri.
"Xander, aku antarkan bibimu pulang dulu. Kau sendiri dulu ya." Griffith menarik Syene keluar dari ruangan itu setelah mendapat anggukan dari Xander.
"Sayang, apa masih takut untuk naik mobil?" Tanya Griffith dengan hati-hati.
"Entahlah. Tapi sejak hari itu di mana kau menggendongku masuk ke dalam mobil dan memintaku untuk menutup mata, hal itu membuatku lebih tenang. Rasanya ingin mencoba mengalahkan ketakutanku." Syene tersenyum miris.
"Ya sudah, nanti aku akan menemanimu melawan rasa takutmu. Sekarang kita naik motor dulu." Griffith memasangkan helm pada Syene.
Keduanya pun pergi meninggalkan rumah sakit setelah mengenakan atribut mereka. Griffith membawa motornya sedikit lebih pelan jadi mereka bisa sambil berbicara sepanjang perjalanan seperti sepasang kekasih pada umumnya. Keduanya tampak begitu bahagia seakan duni hanya milik berdua.
"Sampai." Griffith menghentikan motornya di depan kastil Addison.
"Terima kasih sayang." Syene turun dari motor dsn tersenyum manis.
"Hadiahnya?" Griffith tersenyum nakal.
Pipi Syene seketika merona malu. Tidak ingin melawan karena ia juga menyukai apa yang Griffith lakukan padanya, akhirnya ia membiarkan Griffith menikmati sejenak bibir mungilnya.
"Aku mencintaimu." Ucap Griffith tersenyum manis.
"Aku juga." Balas Syene memberikan finger heart ala-ala drama korea pada kekasihnya.
"Sudah, masuk sana dan temani Opa dan Oma. Aku harus kembali lagi untuk menemani Xander, titip salam untuk mereka." Xander menghardik kekasihnya dengan lembut.
"Hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai!" Syene melangkah dengan pelan masuk ke dalam kastil sementara Griffith menghidupkan mesin motornya kemudian meluncur pergi.
"Uh...simpanan pria dewasa sudah berani unjuk gigi rupanya." Sindir Lina dengan tatapan sinis.
"Ck...kasihan sekali ya. Saking tidak pernah ada orang tua yang mendidiknya, jadinya bertingkah murahan seperti itu." Leonard menimpali.
"Uh...memangnya kenapa kalau aku simpanan pria dewasa ataupun kekasih pria dewasa? Setidaknya aku tidak memberikan tubuhku pada pria tua secara cuma-cuma apalagi pria tuanya tidak hanya satu." Syene mengibaskan rambutnya dengan angkuh dan meninggalkan kedua sepupunya itu.
"Syene! Aku pasti akan membalasmu!" Batin Lina geram dan mengepalkan kedua tangannya.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1