CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Menunggu Lebih Lama


__ADS_3

...WARNING : AREA 18+ 🔞...


.


.


.


.


.


.


.


.


"Arghhh..." Arina menggeram kesal.


"Apa orang itu masih menghubungimu?" Brennan menatap kekasihnya bingung.


"Sudah aku blokir nomor yang satunya, sekarang dia menggunakan nomor yang lain untuk mengganggu. Entah siapa sebenarnya dia?" Arina melempar ponselnya ke atas ranjang.


"Apa akhir-akhir ini kau bertemu seseorang dan membuatnya tergoda?" Pria berambut ikal itu menarik wanitanya hingga duduk di atas pangkuannya.


"Siapa? Aku akhir-akhir ini selalu bersamamu, mana ada kesempatan untuk bertemu orang baru. Entahlah, mungkin hanya orang-orang yang sedang kurang kerjaan."


"Sayang, besok aku harus ke Los Angeles untuk memantau perusahaanku di sana. Apa kau mau ikut?" Tanya Brennan membelai wajah cantik Arina.


"Los Angeles? Em...aku tidak mau ikut. Pasti akan sangat melelahkan. Lebih baik aku menunggumu di rumah saja." Wanita hamil itu tersenyum manis.


"Kau yakin?" Brennan mengusap bibir Arina dengan jempolnya.


"Em...." Arina mengangguk yakin.


"Bisakah aku memilikimu malam ini?" Tanya Brennan menatap sayu wanitanya.

__ADS_1


Arina seketika menjadi diam. Ia tampak ragu untuk menolak atau menerima keinginan Ayah dari calon bayinya. Ingatan saat Brennan menggaulinya dengan paksa kembali berputar di otaknya. Juga kenangan masa lalu yang membuatnya sulit untuk mempercayai seorang pria pun kembali mengusik hatinya. Meski kini hatinya telah membuat keputusan, tapi rasanya masih saja ada keraguan untuk melakukan hal itu dengan Brennan.


"Jika kau tidak mau, tidak masalah. Asal kau sudah memilih untuk bersamaku, maka aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap. Aku tidak akan memaksamu lagi. Maafkan aku." Brennan tersenyum dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan namun berusaha ia sembunyikan.


"Entahlah. Aku hanya belum siap. Maafkan aku." Pinta Arina merasa bersalah.


"Em...aku mengerti." Bren memeluk Arina erat.


"Tapi mungkin kau bisa mencoba untuk menggodaku." Arina terkekeh dan tersenyum nakal.


"Tidak perlu. Aku akan menunggu sampai kau yang tergoda padaku dengan sendirinya. Setidaknya sebentar lagi kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Menjadi Nyonya Brennan dan Ratu di mansion ini."


"Tidak, aku tetap akan menjadi Arina yang manis dan hanya menjadi istri yang baik untukmu serta Ibu yang baik untuk anak-anak kita." Wanita hamil itu terkekeh malu-malu dan menyembunyikan wajahnya di cermin leher Brennan.


Brennan memejamkan matanya merasakan embusan nafas hangat wanitanya. Hasrat yang sedari tadi sudah ia tahan malah kini semakin menggebu-gebu. Rasanya sudah terlalu sulit untuk menahan gairah yang menguasai dirinya saat ini. Tapi, ia juga tidak mungkin untuk memaksa wanitanya lagi. Cukup sekali saja menyakiti Arina dengan pemaksaan semacam itu.


"Brenn, a-apa itu?" Arina menjadi sangat gugup saat ia tidak sengaja bergerak dan merasakan sesuatu yang di bawah bokongnya.


"Ti-tidak. Bukan apa-apa." Brennan juga seketika menjadi gugup. Ia memilih untuk menurunkan Arina dari pangkuannya. Wajahnya terlihat memerah dan dadanya naik turun dengan nafas yang tidak bernafas beraturan.


"A-aku mandi dulu. Kau istirahat saja dulu, jangan tunggu aku." Brennan memutuskan beranjak ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.


***


"Brenn...." Arina memeluk prianya yang sedang mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari belakang.


"Ke-kenapa kau masuk? Kau bisa sakit nanti." Brennan mematikan shower dan mengambil jubah mandi yang tersedia di dalam kamar mandi untuk menutupi tubuh Arina.


"Jika kau memang sangat menginginkannya, aku siap Brenn." Arina tersenyum manis. Tidak seperti tadi, saat ini ia terlihat lebih tenang dan meyakinkan.


"Tidak, aku baik-baik saja. Pakai ini." Brennan kembali hendak memakaikan jubah mandi tadi pada Arina, namun lagi-lagi ditolak.


"Tubuhmu menjelaskan kau sedang tidak baik-baik saja, Brenn. Tapi baiklah jika tetap kukuh dengan pendirianmu, terima kasih." Arina merebut pelan jubah mandi yang dipegang Brennan dan mengenakannya. Ia tersenyum nakal pada pria itu sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi.


"Wanitaku benar-benar membuatku gila." Brennan memutuskan untuk mengejar Arina.


"Sayang...." Ucapan Brennan terhenti ketika melihat Arina tanpa pakaian dan sedang sibuk memilih pakaian ganti di depan lemari. Pria itu kalah malam ini, dan ia harus mendapat wanitanya.

__ADS_1


"Sayang, aku menginginkan dirimu." Brennan memeluk Arina dari belakang dan tangannya menggoda kedua bukit kembar kenyal milik wanitanya.


Arina memejamkan matanya merasakan sentuhan dari Brennan yang membuat tubuhnya memanas. Kali ini tanpa paksaan dan ia juga ingin menikmati hal itu dengan baik. Brennan m membalik tubuh mungilnya hingga mereka berhadapan. Pria itu mulai mendaratkan bibirnya di atas bibir mungil yang selalu membuatnya panas dingin. Tangannya pun tak mau kalah dari bibirnya. Sepasang tangannya bergerilya meraba, mengelus, dan meremas setiap inci tubuh molek Arina.


Wanita yang tengah hamil muda itu pasrah pada gairahnya yang juga memuncak. Ia tampak menikmati setiap yang Brennan lakukan padanya. Bibirnya pun tak ragu untuk mengeluarkan nyanyian yang merdu untuk mewakili betapa ia begitu menikmati setiap sentuhan prianya. Rasanya gila. Belum sampai pada intinya saja Arina sudah mendapatkan pelepasannya.


Brennan menggendong tubuh mungil yang kini sedikit berisi itu dan membaringkannya di atas ranjang. Dengan begitu, ia akan lebih leluasa untuk menikmati wanitanya. Kembali ia kecup dengan bibirnya setiap bagian tubuh wanitanya yang mampu membuatnya melayang. Wanita pertama dan terakhir yang akan menjadi miliknya. Membawa Arina terbang ke langit ke tujuh dengan sentuhannya. Namun wanita itu menghentikan Brennan saat ia hendak melakukan penyatuan.


"Pelan-pelan. Ingat, ada dia yang harus kita jaga." Arina tersenyum malu-malu dengan wajah yang memerah sementara tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.


"I will, my love."


Tanpa ingin membuang waktu, Brennan segera melakukan penyatuan dengan wanitanya. Membuat Arina semakin mengeluarkan nyanyian indahnya diiringi dengan hentakannya yang berirama. Kali ini benar-benar berbeda, Arina mengikuti dan mengimbangi setiap permainan prianya dengan baik. Tak ada keterpaksaan, ia bahkan beberapa kali terlihat agresif untuk memimpin. Wanita itu akhirnya benar-benar telah membuat keputusan untuk menyerahkan segalanya pada Brennan, tidak hanya hatinya tapi juga raganya meski Brennan bukanlah pria pertama untuknya.


"Aku mencintaimu, Arina. Sangat-sangat mencintaimu." Ucap Brennan diiringi dengan hentakannya semakin menjadi untuk meraih puncaknya.


"Aku juga mencintaimu...akh...." Arina membalas diiringi dengan suara desah yang semakin keras hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama.


"Terima kasih, sayang." Brenn kembali mendaratkan ciuman pada bibir wanitanya.


"Em...." Arina berdeham dengan nafas yang terengah-engah.


"Apa kau ingin makan sesuatu? Kau pasti lapar sekarang." Tanya Brennan cemas.


"Aku tidak lapar, hanya sedikit lelah." Arina memeluk prianya dengan manja.


"Ya sudah, kita istirahat sekarang. I love you." Brennan menghujani kening Arina dengan kecupan.


"Haha....i love you too, Brenn." Arina tertawa geli. Namun jelas sekali tawanya kali ini berbeda. Tawanya kali ini sangat lepas dan tidak terpaksa.


"Aku harap kita akan selalu seperti ini bahkan akan lebih bahagia lagi hingga kita tua dan menyaksikan anak-anak kita tumbuh dewasa. Aku tak ingin ada gangguan apapun di antara kita, aku akan melenyapkan semua gangguan itu dengan tanganku."


***


"Arghhh...! Berani-beraninya dia memblokir semua nomorku dan sekarang mematikan ponselnya." Pria berambut pirang itu melempar ponselnya dengan keras ke dinding.


"Lim, siapkan semuanya! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menjemputnya."

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2