
"SYENE!" Terdengar suara seorang perempuan berteriak memanggilnya.
Syene dan Etan sontak berbalik. Wajah Syene yang tadinya sedikit ceria seketika menjadi masam ketika tahu siapa yang memanggilnya.
"Ada apa lagi?" Tanya Syene malas.
"Uh ya ampun. Kau dan Etan sudah berhubungan ya? Jadi kau tidak ingin lagi menjadi kekasih pria tua itu?" Tanya Lina menghina.
"Itu bukan urusanmu! Dengan siapapun aku berhubungan itu bukan urusanmu." Tegas Syene menunjuk sepupunya.
"Ya ya. Memang bukan urusanku. Ah, biarkan aku memotret kalian untuk aku jadikan koleksi. Aku yakin setelah ini kalian akan berpisah dan sepupuku yang payah ini akan mencari pria tua lain." Lina mengarahkan ponselnya mencoba memotret Syene dan Etan.
BRANGG
Syene menepis tangan Lina hingga ponsel mahalnya jatuh ke lantai.
"Sebaiknya kau berkaca Lina! Kau mengatakan diriku seperti seorang ja**ng, tapi kau sendiri bahkan tidak ragu untuk ditiduri oleh para pria tua yang kau sebut itu. Bersihkan dirimu sendiri sebelum kau menorehkan noda pada tubuh orang lain!" Syene berlalu begitu saja meninggalkan Etan dan Lina.
"Bodoh!" Geram Etan yang pergi menyusul Syene.
"SYENE! AWAS SAJA KAU! AKU PASTI AKAN MEMBALASMU UNTUK HARI INI!" Lina berteriak tanpa peduli orang-orang sekitarnya yang sudah memperhatikan dirinya.
••••••
"Hei, kau tidak apa-apa?" Etan mensejajarkan langkahnya dengan Syene yang berjalan begitu cepat.
"Menjauh dariku!" Titah Syene kesal.
"Kenapa? Karena ucapan Lina tadi? Sudahlah tidak perlu kau dengar, dia 'kan memang sudah begitu sejak kecil." Etan berusaha membujuk temannya.
"Pergi Etan! Aku sedang ingin sendiri." Syene menghempaskan tangannya yang berhasil diraih oleh Etan.
"Kenapa? Kau merasa tidak percaya diri lagi ucapannya tadi?" Etan menarik tangan Syene hingga langkah gadis itu terhenti dan berbalik arah.
"Apa sehina itu jika aku menjalin hubungan dengan pria yang jauh lebih berumur dariku?" Tanya Syene dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang bergetar.
"Tidak ada yang salah dari apa yang kau pilih Syene. Yang salah adalah jika kau berhubungan dengan suami orang atau merebut seseorang yang tidak seharusnya kau miliki." Etan meraih Syene ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kenapa selalu aku direndahkan. Tidak mempunyai orang tua, trauma pada sesuatu yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuaku, bahkan di saat aku menemukan seseorang yang membuatku nyaman dan menjalin hubungan dengannya, semua itu salah di mata mereka. Kenapa harus aku yang selalu salah?" Syene memukul-mukul punggung Etan.
"Sudah! Jangan kau pikirkan apa yang mereka katakan. Yang terpenting adalah orang-orang yang menyayangimu tidak pernah meragukanmu. Orang yang tidak suka denganmu akan selalu punya cara untuk menjatuhkanmu, tapi orang-orang yang menyayangimu tidak akan pernah bertanya seberapa suci dirimu. Mereka akan tetap ada dan memelukmu dalam keadaan apapun." Etan menenangkan sahabatnya dan mengelus-elus rambut panjangnya.
"Jangan menangis lagi. Biarkan kebenaran nanti yang akan menghukum mereka. Ayo, aku antarkan kau pulang." Etan mengurai pelukannya dan menghapus air mata Syene.
"Syene?" Seseorang memanggilnya dan Syene sudah tahu siapa orang itu.
"Lain kali saja. Terima kasih untuk traktiran tadi." Syene tersenyum dan berbalik menghampiri Griffith yang tak jauh darinya.
"Hah...hidupmu...rumit Syene." Etan tersenyum kecil melihat Syene dan Griffith yang sudah menjauh darinya.
••••••
"Kau kenapa? Apa ada yang mengganggumu?" Tanya Griffith khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Hanya mataku tadi dimasuki debu." Syene berkilah.
"Jangan berbohong sayang! Kau tidak pandai berbohong. Katakan siapa yang mengganggumu!" Griffith membawa kekasihnya ke dalam pelukannya.
"Griff, apa perbedaan usia kita yang jauh akan menjadi penghalang kita untuk bahagia? Aku takut suatu saat hal itu akan membuat hubungan kita menjadi rumit." Syene memeluk erat prianya seakan takut kehilangan.
"Aku hanya takut hubungan kita tidak akan semudah itu." Syene mendongak menatap wajah tampan Griffith.
"Semua akan menjadi mudah jika kau tidak memikirkan kata-kata dari orang yang tidak penting. Begitupun sebaliknya." Griffith menoel hidung mancung gadisnya hingga Syene tersipu.
"Kenapa bisa dengan Etan? Ponselmu tidak bisa aku hubungi sama sekali." Wajah Griffith yang tadi ramah kini berubah menjadi sedikit jutek.
"Ah ponselku. Masih dengan Etan." Bukannya menjawab, Syene malah merengek.
"Jawab pertanyaanku Syene Addison!" Griffith melepas pelukannya dan memegangi kedua pundak Syene dengan kuat.
"Maaf. Tadi dia mendatangiku di kampus dan mengajakku makan bersama. Aku ingin mengabarimu tapi dia malah merebut paksa ponselku dan menahannya." Syene sedikit ketakutan melihat kilat kemarahan di wajah Griffith.
"Bagaimana jika dia berniat jahat padamu? Dasar ceroboh!" Griffith melepaskan Syene dan menyentil kening kekasihnya.
"Maafkan aku. Sungguh aku tidak berbohong." Syene meraih satu tangan Griffith dan memohon.
__ADS_1
"Aku maafkan kali ini. Tapi jangan pernah kau ulangi lagi atau aku akan benar-benar melarangmu berteman dengan siapapun termasuk dia." Ancam Griffith.
"Baiklah Tuan Akayama yang tersayang. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi." Syene cengengesan melihat wajah kesal prianya.
"Sudah, wajahnya jangan cemberut seperti itu!" Syene memegang kedua pipi Griffith dan mencubitnya ringan.
Griffith tetap memasang wajah kesal dan menatap tajam padanya. Syene tersenyum licik dan mendekat pada kekasihnya. Tanpa aba-aba dan permintaan izin, gadis itu menempelkan bibirnya pada bibir Griffith dan menciumnya lembut. Griffith mau tak mau pun langsung tersenyum menerima lumataan kekasihnya.
"Ekhem...Tuan di depan ada polisi yang sedang melakukan razia." Drex berdeham keras menyadarkan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.
"Apa urusannya denganku Drex? Kau yang menyetir. Mengganggu saja." Terpaksa mereka meyudahi adegan romantis mereka karena gangguan Drex.
"Aku hanya takut mereka mengira aku membawa pasangan mesum Tuan." Drex tersenyum jahil melirik keduanya terutama Syene yang menyembunyikan wajahnya pada dada Griffith.
"Kau fokus saja pada tugasmu! Jangan banyak bicara." Griffith menatap tajam bawahannya, kesal karena sudah mengganggu kesenangannya.
"Bagaimana aku bisa fokus jika mereka bermesraan di belakangku?" Gumam Drex tak terima. Ia menghentikan mobil tepat di area para polisi lalu lintas melakukan razia.
"Sedang merazia apa Chief?" Tanya Drex basa-basi sambil menunjukkan surat-surat yang diminta.
"Apa kau melihat gadis ini? Atau kau sempat berpapasan dengannya?" Tanya petugas di depan Drex sambil menunjukkan sebuah foto. Mata Drex seketika membulat namun ia dengan cepat kembali bersikap normal.
"Aku tidak tahu Chief. Aku belum pernah melihat gadis secantik itu. Apa sudah selesai pemeriksaannya?" Tanya Drex sopan.
"Boleh kami melihat ke dalam mobilmu dan bagasinya?"
"Silakan saja Chief. Aku hanya membawa atasanku dan kekasihnya." Drex turun untuk membukakan pintu bagasi mobil Griffith pada para polisi itu.
"Semuanya aman. Silakan lanjutkan perjalanan kalian." Titah polisi itu setelah selesai memeriksa.
"Terima kasih." Drex masuk kembali ke dalam mobil dan meluncur pergi.
"Aku tidak menyangka Brennan akan begitu keras hingga mengarahkan para polisi untuk mencari Arina." Syene menjadi cemas.
"Tenanglah! Arina pasti akan aman di sana. Brennan tidak akan semudah itu bisa menemukannya." Griffith membujuk Syene.
"Semoga saja."
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...