
"Astaga, setelah selesai ini aku harus pergi untuk mencoba gaun pengantin. Ternyata menikah itu cukup merepotkan." Gumam Syene berjalan keluar dari kelasnya sambil menunduk. Seperti biasanya, gadis itu akan terlihat tidak percaya diri jika dia sedang sendirian meski teman-temannya sudah tidak ada yang merundungnya lagi.
"Seandainya Arina belum mengambil cuti kuliah, aku pasti punya teman untuk bepergian. Tapi dia harus menjaga baik-baik keponakan kecilku." Syene kembali bergumam.
"Hei, sedih sekali berjalan sendirian?" Suara seorang pria membuat langkah Syene terhenti. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang sedang berbicara padanya.
"Kau?" Syene mengernyit heran melihat pria asing di depannya.
"Adam, aku Adam. Teman Griffith yang kemarin, harusnya kau masih ingat padaku." Adam tersenyum manis bak malaikat pada Syene.
"Oh, menjemput adikmu? Atau kekasihmu?" Tanya Syene cuek.
"Menjemput calon kekasihku." Adam kembali tersenyum dan menatap Syene dengan tatapan yang membuat Syene merasa tidak nyaman. Gadis itu seolah ditelanjangi melalui tatapan Adam.
"Oh..." Gadis bermata biru itu melanjutkan langkahnya dan hendak melewati pria berambut merah itu. Dengan sigap Adam menahan tangan Syene.
"Yang aku maksud adalah dirimu, bidadari." Adam tersenyum menggoda Syene.
"Oh aku? Ya ampun kau baik sekali. Tapi aku bisa pulang sendiri." Syene menepis tangan Adam dan berlalu begitu saja meninggalkan pria itu.
"Gadis yang unik. Kau mungkin bisa menolaknya sekarang, tapi nanti kau sendiri yang akan merangkak naik ke atas ranjangku dan memohon padaku." Gumam pria berkulit coklat itu seraya memperhatikan Syene yang masuk ke dalam sebuah mobil mewah.
***
"Siapa itu?" Tanya Griffith dengan wajah datar namun jelas sekali pria itu sedang menahan amarahnya.
"Pria dari negara api kemarin. Dia pasti ingin mencari masalah denganmu melalui aku." Jawab Syene yang juga menahan kesalnya.
"Sebaiknya jauhi dia dan jangan pernah berurusan dengannya. Mengerti?" Griffith mengusap puncak kepala gadisnya dengan lembut.
"Aku mengerti, king. Aku juga bisa menebak maksud dan tujuan pria aneh itu tiba-tiba mendatangiku meski tidak benar-benar yakin. Sudahlah, jangan membahasnya! Kita langsung ke butik 'kan?" Syene menatap kekasihnya dengan tatapan berbinar dan hal itu sukses membuat Griffith luluh.
"Tentu. Apa kau sebahagia itu?" Griffith meraih Syene ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tentu Griff. Aku sangat-sangat bahagia. Kau tahu? Aku sudah tidak sabar ingin mengenakan gaun pengantinku, dan menjadi ratu sehari untukmu. Pasti aku akan terlihat sangat cantik." Gadis dalam pelukan Griffith itu benar-benar terlihat bahagia.
"Kau sudah cantik bahkan tanpa gaun pengantin, sayang." Ucap Griffith tersenyum nakal lalu mendekat pada kekasihnya.
"Dan kau menjadi semakin cantik dan yang tercantik saat kau tidak mengenakan apapun." Bisik Griffith nakal lalu menggigit kecil telinga Syene.
"Jangan mulai Griff!" Syene memukul pelan dada kekar prianya dan hal itu sukses membuat Griffith terkekeh.
"Tuan, kita sudah sampai." Ujar Drex tersenyum manis.
"Drex, ajukan bonus bulan ini untukmu. Dan aku memberimu waktu empat hari untuk liburan bulan depan sebelum aku dan Syene menikah." Griffith menatap tangan kanannya itu serius.
"Terima kasih Tuan. Aku tahu, setelah menikah kalian akan pergi berbulan madu dan aku yang akan menggantikan tugasmu. Baiklah kalau begitu aku akan bekerja dengan sangat keras." Drex terlihat bahagia dan bersemangat.
"Em...terima kasih untuk kesetiaanmu." Griffith dan Syene pun turun dari mobil.
"Semoga saja Nona Syene benar-benar adalah kebahagiaan dan perempuan terakhir untuk Tuan Griff." Gumam Drex tersenyum melihat kedua orang itu.
***
"Syene..." Arina pun tidak kalah heboh saat melihat kedatangan kakaknya. Keduanya langsung berpelukan manja seperti dua orang yang sudah lama tidak bertemu.
"Apa kau sudah memilih gaunmu?" Tanya Syene sambil mengedarkan pandangannya melihat jejeran gaun pengantin yang tersusun rapi.
"Belum. Kami juga baru sampai dan memang sengaja menunggu kalian." Jawab Arina masih setia memeluk kakaknya.
"Oh... jadi kita pilih sekarang?" Syene menatap adiknya nakal.
"Ayo..." Arina mengangguk semangat seakan sudah paham dengan pikiran Syene. Keduanya pun mulai berkeliling bersama seorang pelayan di butik itu.
"Wanitaku dan wanitamu benar-benar tidak terpisahkan. Mereka sangat bahagia setiap kali bersama. Bagaimana jika kita membangun sebuah mansion untuk kita tempati berempat? Agar mereka selalu bersama dan mereka bisa saling menemani saat kita sedang sibuk." Usul Griffith duduk di samping Brennan.
"Boleh juga idemu. Dan aku yakin setelah itu Arina-ku pasti akan semakin mencintaiku." Timpal Brennan tersenyum dan mulai berkhayal.
__ADS_1
"Ck... kau itu seorang pria tapi kenapa suka sekali berkhayal seperti seorang gadis?" Griffith memukul pelan lengan rekan bisnisnya.
"Aku hanya membayangkan betapa Arina akan sangat bahagia saat mendapat kejutan itu. Aku yakin dia pasti akan memelukku terus dan kami akan..." Brennan menghentikan ucapannya sendiri sementara wajahnya sudah bersemu merah.
"Menjijikkan. Kau bahkan lebih menjijikkan dari seorang banci." Griffith bergidik ngeri sementara Brennan tampak santai dan tidak terprovokasi dengan ucapan Griffith.
"Ponsel Arina berbunyi." Ujar Griffith menyadarkan Brennan dari khayalannya.
Brennan segera mengambil ponsel Arina yang ada di dalam tas Arina dan menjawab panggilan itu. Sayangnya tidak ada siapapun yang berbicara dari seberang sana selain bunyi deru nafas seseorang. Tidak hanya sekali, tapi nomor yang sama itu menghubungi ponsel Arina berulang kali. Brennan berulang kali menjawabnya, sayangnya tidak ada seseorang yang berbicara selain bunyi deru nafas yang terdengar.
"Siapa?" Tanya Griffith mengernyit heran.
"Tidak tahu. Tidak ada namanya juga tidak ada yang berbicara." Brennan memilih untuk meng-nonaktifkan ponsel calon istrinya agar tidak ada lagi yang mengganggu.
"Pasti hanya orang iseng. Abaikan saja." Griffith bangkit dari duduknya dan beranjak untuk menyusul Syene dan Arina.
Puas berkeliling, ia sama sekali tidak mendapati keberadaan kedua perempuan itu. Lelah mencari, Griffith memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya tadi.
"Bagaimana? Apa mereka sudah selesai?" Brennan terlihat penasaran.
"Entahlah, mereka tidak kutemukan. Mungkin sedang mencoba gaunnya atau sedang mempersiapkan kejutan untuk kita." Griffith mengangkat kedua bahunya santai.
"Hah... terkadang para wanita memang sedikit repot untuk urusan penampilan tapi itulah yang membuat mereka bahagia. Apalagi ketika mereka mendapatkan hasil yang luar biasa dari kerepotan mereka." Brennan terkekeh geli.
"Benar. Kau benar sekali, padahal aku tidak keberatan Syene mau memakai apa saja karena malamnya pun akan aku sobek juga." Imbuh Griffith tersenyum nakal.
"Ganas bung. Jadi kapan kita memulai proyek mansion kita?"
"Secepatnya saja."
***
"Bangsat! Bisa-bisanya kau membiarkan pria itu mengendalikan hidupmu, Arina?" Geram pria berambut pirang sembari meremas ponselnya.
__ADS_1
"Lihat saja! Jika ingin mengendalikan, maka hanya aku yang boleh mengendalikan hidupmu! Bukan pria itu atau pria manapun."
...~ TO BE CONTINUE ~...