
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" Arina kembali bertanya setelah beberapa saat diam.
"Sttt...diamlah! Biar aku mencobanya dulu." Brennan masih setia memegang tangan Arlin yang ia tempelkan ke dadanya.
"Hoh...sepertinya dia ingin mecari gara-gara denganku. Baiklah, aku juga sudah lama tidak berkelahi dengan seseorang." Batin Arina tersenyum miring. Beberapa ide jahil bin nakal sudah tercetus di kepalanya.
Tiba-tiba Brennan menggerakkan perlahan tangan ke bawah dada menuju perutnya. Arina yang semakin curiga akhirnya tak tahan lagi untuk berdiam diri. Dengan cepat ia ia memutar tangannya hingga Brennan melepaskannya tiba-tiba dan terpaksa.
"Dasar mesum!" Arina melompat dan langsung menendang pusaka Brennan.
"Argghh...kau gila ya?" Brennan mengerang kesakitan memegangi miliknya.
"Itu baru permulaan. Rasakan ini!" Arina kembali menyerang Brennan. Ia memukuli Brennan di mana-mana lalu mencakar-cakar kulit putih Brennan.
"Rasakan...rasakan...berani-beraninya kau menjadikan aku objek fantasi liarmu? Rasakan..." Arina mencakar, memukul, bahkan mencubit kulit putih Brennan.
"Hentikan Arina! Arghh...sakit! Stop it!" Brennan berusaha menghindar namun gadis itu benar-benar brutal dan tak mau kalah.
"Kau pikir aku akan tinggal diam dan membiarkan dirimu melecehkanku begitu saja? Kau salah orang! Bahkan aku tidak takut jika harus berurusan melalui jalur hukum denganmu!" Arina masih terus menyiksa Brennan meski kulit putih pria itu sudah luka-luka karenanya.
"JIM TOLONG AKU!" Teriak Brennan meminta bantuan.
"Tuan, kau di dalam? Kau kenapa?" Suara Jim dari luar menggedor-gedor pintu kamar Brennan yang ia kunci.
"Dasar bodoh! Kau mengunci pintu kamarmu sendiri dan sekarang siapa yang bisa menolongmu?" Arina terkekeh tanpa menghentikan penyiksaannya pada Brennan.
"Tuan? Astaga Nona apa yang kau lakukan?" Jim memanjat balkon dan masuk ke dalam melalui pintu balkon yang tidak tertutup.
"Cih..." Arina menyibak rambutnya dan mengambil kunci milik Brennan yang ia letakkan di atas nakas tadi.
"Kalian! Sekali lagi kalian mencoba menggangguku, aku pastikan kalian akan lebih sakit dari yang sekarang dia rasakan!" Arina menunjuk Brennan dan menatapnya sengit.
Ia kemudian membuka pintu kamar Brennan dan pergi begitu saja.
__ADS_1
"Astaga Tuan, tubuhmu sudah seperti lukisan horor yang dilukis menggunakan darah." Jim berceloteh.
"Obati aku! Bukan malah mengatakan hal yang tidak jelas." Geram Brennan.
Jim segera mengambil kotak obat dari dalam laci nakas kemudian langsung mengobati Brennan dengan berhati-hati.
"Tuan, tapi selain luka cakaran serta memar cubitan kulitmu tidak ada ruam lain seperti biasanya saat tersentuh oleh orang lain." Ungkap Jim girang.
"Aku tahu. Maka dari itu aku menahannya tadi, tapi ternyata dia bukan gadis yang mudah ditaklukkan begitu saja." Brennan masih memegangi miliknya yang masih terasa sakit.
"Lalu kita harus bagaimana agar bisa menahannya di samping Tuan?" Tanya Jim mencoba berdiskusi.
"Aku harus bisa menaklukkan hati salah satu dari keluarganya. Setelah itu baru dia akan tunduk padaku." Brennan dengan wajah datar dan tatapan tajam.
"Tapi siapa yang akan Tuan dekati? Tidak mungkin Nona Syene karena Tuan Griffith tidak mengijinkan." Jim terlihat bingung dan berpikir keras.
"Ibunya atau Ayahnya. Aku akan dekati salah satu dari mereka terlebih dulu, baru setelah itu dia." Brennan menyunggingkan senyum miring.
"Hah...baru kali ini ada gadis yang tidak ingin dekat denganmu. Biasanya kau yang mati-matian menghindari mereka." Jim terkekeh meledek.
"Tapi apa iya Nona Arina adalah 'obat' yang tepat untuk penyakit Tuan Bren?" Gumam Jim bimbang.
••••••
"Dasar pria cabul! Bisa-bisanya dia malah berfantasi liar menggunakan diriku. Pantas saja penampilannya aneh seperti itu, ternyata otaknya yang tidak beres." Arina menggerutu sepanjang jalan.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap sopir taksi yang ia tumpangi.
"Ini. Ambil saja kembaliannya." Ia memberikan sejumlah uang kepada sopir taksi dengan sopan. Segera ia turun dari taksi itu dan bergegas masuk ke dalam kediamannya.
"Awas saja jika sampai aku bertemu lagi dengannya, bukan hanya menendang pusakanya, aku juga akan mematahkan tubuhnya menjadi beberapa potongan." Arina mengepalkan tangannya erat-erat.
"Sayang, kenapa baru pulang?" Tanya Richard menghampiri putrinya dengan raut cemas.
__ADS_1
"Ada kejadian tidak menyenangkan tadi Pa. Kakak Syene sudah pulang?" Arina bertanya antusias.
"Sudah, tadi sore kekasihnya mengantarnya pulang. Kejadian apa yang kau alami?" Richard hendak memeriksa tubuh putrinya, takut ada yang terluka namun Arina menghindar.
"Hanya kejadian tidak menyenangkan. Aku ke kamar kakak Syene dulu Pa." Arina segera berlari menaiki tangga menuju ke kamar Syene.
"Syene..." Panggil Arina dengan nada kesal.
"Apa? Kenapa?" Syene terkejut dibuatnya.
"Kau tahu? Pria yang tidak sengaja aku tabrak beberapa hari yang lalu? Ternyata dia bukan hanya aneh tapi lebih dari itu dia adalah seorang mesum." Arina menggebu-gebu menceritakan kekesalannya.
"Kau bertemu dengannya lagi? Memang dia apakan dirimu?" Syene mengernyit bingung.
"Dia memaksaku ikut dengannya tadi. Dan kau tahu? Ih...dia berfantasi liar menggunakan diriku." Arina menggeliat menunjukkan rasa jijiknya.
"Maksudnya bagaimana?" Syene tampak masih belum paham dengan cerita sepupunya.
Arina pun menceritakan dari awal pertemuannya dengan Brennan. Bagaimana pria itu membawa paksa dirinya, lalu 'menjebaknya' masuk ke dalam kamar. Kemudian melepaskan pakaian dan meraih tangan Arina untuk menyentuh kulitnya. Hingga berakhir dengan penyerangan yang dilakukan Arina padanya.
"Hahaha...kau sungguh menyerangnya?" Syene tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Arina.
"Tentu. Siapa juga yang mau dilecehkan seperti itu." Arina merebahkan tubuhnya di atas ranjang Syene.
"Bisa saja dia hanya memastikan sesuatu. Griff bilang dia itu tidak pernah mau bersentuhan dengan sembarangan orang meski hanya sedikit saja. Dan jika terpaksa harus bersentuhan maka ia akan menggunakan sarung tangan atau pelindung lainnya untuk melindungi kulit tubuhnya." Ungkap Syene.
"Ck...kulit tubuhnya memang putih bersih juga halus. Tapi apa perlu sebegitunya? Terlalu berlebihan." Arina tidak terima mendengar kenyataan tentang Brennan.
"Mungkin dia memiliki sejenis penyakit kelainan kulit seperti yang diceritakan di beberapa film. Jadi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menyentuhnya." Syene lebih membujuk adiknya agar tidak cepat salah paham.
"Terserah saja. Yang penting aku sudah menyerangnya, jika dia masih berani macam-macam maka aku akan melakukan hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya." Arina meremas kepalan tangannya sendiri.
"Hahaha...kau itu konyol sekali. Sudahlah sekarang kau segera bersihkan dirimu dan setelah itu tidur." Titah Syene lembut.
__ADS_1
"Baiklah baik."
...~ TO BE CONTINUE ~...