
"Shhh..." Arina meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama tubuh bagian bawahnya.
"Pria ini benar-benar maniak." Gerutu Arina mengingat bagaimana semalam hingga menjelang subuh Brennan menggauli dirinya tanpa henti.
Dan sekarang Brennan tertidur pulas ssmbil memeluk erat dirinya. Sayangnya Arina sama sekali tidak tertarik apalagi tersentuh dengan hal itu. Perlahan ia memindahkan tangan dan kaki Brennan yang mengapit erat tubuh mungilnya. Setelah berhasil, ia turun dari tempat tidur dengan sangat pelan dan berhati-hati. Kemudian ia memungut semua pakaiannya yang berceceran di lantai dan mengenakannya dengan cepat. Di rasa semua selesai, ia segera keluar dari kamar itu membawa serta semua barangnya.
"Maaf, tapi Nona tidak bisa pergi tanpa persetujuan atau izin dari Tuan Brennan!" Jim mencegah langkah Arina.
"Bukan urusanmu!" Arina ingin melewati Jim namun pria itu sigap menahan tangannya.
"Sebaiknya Nona menurut jika tidak ingin Tuan Brennan melakukan hal yang akan membuat Nona menyesal karena sudah melawannya." Jim mencengkeram kuat lengan Arina.
"Aku sudah minta izin tadi, makanya aku bisa keluar. Jika kau tidak percaya kau bisa tanya sendiri." Arina berusaha meyakinkan orang kepercayaan Brennan.
"Dia sepertinya tidak berbohong. Tuan Brennan juga tidak suka dengan orang yang bertele-tele dan plinplan." Batin Jim. Akhirnya pria itu melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Arina.
Arina bergegas pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Sementara Arina berhasil keluar dari mansion Brennan. Sang pemilik baru terbangun dari tidurnya dan meraba-raba tempat di sampingnya.
"Arina?" Panggil Brennan. Beberapa saat berlalu dan tak ada yang menjawabnya.
"Bangsat! Dia lari lagi." Pria itu segera turun dari ranjang dan memakai asal pakaiannya.
"JIM! JIM!" Ia berteriak menggelegar memanggil orang kepercayaannya sambil berjalan keluar dari kamarnya.
"Ada apa Tuan?" Jim menghampiri Tuannya dan menunduk sopan.
"Cari gadisku sampai ketemu! Bawa dia kembali padaku dengan cara apapun!" Titah Brennan dengan sorot mata penuh amarah.
"Tapi tadi dia bilang Tuan yang mengizinkan dirinya pergi." Jim mengernyit sekaligus merasa bersalah.
"Dasar bodoh! Kau percaya begitu saja? Sudah, aku tak ingin mendengar apapun lagi! Cari dia dan bawa dia kembali dengan cara apapun!" Brennan mengulangi perintahnya.
"Baik Tuan!" Jim berbalik dan segera memanggil anak buah Brennan untuk berkumpul dan melakukan pencarian.
__ADS_1
"Arina! Kau pikir semudah itu untuk pergi dariku? Kita akan lihat siapa pemenang sebenarnya dalam permainan kejar-kejaran ini!"
••••••
"Ric, Arina belum ada kabar sama sekali dari tadi malam. Aku sangat khawatir padanya." Keluh Arlin pada suaminya.
"Sabarlah! Mungkin dia sedang harus menemani Brennan. Jika lewat dari dua puluh empat jam dan dia belum memberi kabar, maka kita akan lapor polisi." Richard mencoba menenangkan istri tercintanya.
"Baru kali ini Arina tidak mengabari kita sama sekali. Anak itu terlalu tangguh untuk ukuran seorang perempuan. Akan banyak bahaya yang mengintainya di luar sana." Gumam Arlin cemas.
"Tenanglah dulu. Bukankah para pengawalku ada di mana-mana untuk kalian? Jadi putri kita pasti aman." Richard memeluk Arlin.
"Semoga saja. Perasaanku sangat tidak enak. Kali ini sangat berbeda dengan rasa khawatir yang biasanya." Arlin memegangi dadanya.
"Aku akan coba hubungi..."
"Pa, Ma..." Terdengar suara Arina menyapa keduanya membuat perkataan Richard terhenti.
"Aku tadi malam menemani Xander dan ponselku kehabisan baterai." Arina tersenyum menenangkan Ibunya.
"Syukurlah jika kau tidak kenapa-kenapa. Ini..." Arlin mengernyit hendak menyentuh leher putrinya.
"Aku ke kamar dulu Ma. Semalaman tidak tidur dengan benar." Arina bergegas berlari kecil ke kamarnya.
"Ric, aku melihat ada tanda merah di leher putri kita. Aku takut jika dia..." Arlin tak sanggup melanjutkan perkataannya dan memeluk suaminya.
"Tenanglah! Putri kita sudah dewasa, dia sudah tahu apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan. Bisa saja tanda itu karena hal lain." Richard kembali menenangkan istrinya.
"Semoga saja begitu. Aku benar-benar tidak ingin melihat putriku terluka dan tersakiti. Tidak Arina apalagi Syene." Sahut Arlin sedih.
"Mereka tidak akan kenapa-kenapa. Tenanglah sedikit."
"Benar. Mungkin aku yang berpikir terlalu berlebihan." Arlin melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan Richard.
__ADS_1
"Menjaga kedua putriku yang sudah dewasa ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Ingin rasanya mengembalikan waktu di saat mereka masih anak-anak." Batin Richard memijat pelipisnya.
••••••
"Sayang, aku ingin pulang." Syene memeluk manja Griffith dari belakang.
"Kenapa? Apa kau bosan?" Griffith mengernyit bingung.
"Tidak. Hanya saja aku khawatir pada Arina. Aku ingin bertemu dengannya dan melihat keadaannya." Jawab Syene lalu berpindah duduk di pangkuan kekasihnya.
"Ya sudah, tapi tunggu sebentar lagi ya. Aku selesaikan dulu sedikit lagi pekerjaanku." Pinta Griffith tidak enak hati.
"Em...aku akan menunggumu." Syene kembali ceria bahkan menghadiahi kekasihnya satu kecupan manis.
Syene turun dari pangkuan Griffith dan berpindah duduk di sofa untuk menunggu prianya selesai bekerja. Sambil menunggu, Syene memilih memainkan ponselnya agar tidak bosan dan bisa mengalihkan pikirannya sejenak.
Tring
Bunyi ponsel Syene pertanda ada pesan yang masuk. Dengan tenang ia membuka pesan yang ia ketahui adalah dari Arina.
"Kau di mana? Aku ingin meminta bantuan darimu dan Griff." Isi pesan dari Arina.
Syene mengernyit dan memutuskan untuk menghubungi adiknya, mencoba memastikan apa yang telah terjadi. Sayangnya panggilan Syene tidak mendapat respon atau jawaban apapun.
"Ada apa?" Tanya Griffith menghampiri kekasihnya.
"Arina mengirimkan pesan ingin meminta bantuan kita. Tapi saat aku hubungi, dia tidak menjawab panggilanku." Syene menjadi cemas.
"Ayo, aku antar dirimu pulang sekarang. Semoga saja dia ada di rumah." Griffith meraih tangan Syene dan menariknya dengan lembut keluar meninggalkan ruangan kerjanya.
"Arina, jangan sampai sesuatu yang buruk menimpamu!"
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1