CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Sahabat : Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

"Ke mana dia? Apa dia takut padaku?" Gumam Arina celingukan melihat ke arah pintu utama mansion Brennan.


"Ck...benar-benar tidak ada yang bisa dibanggakan darinya selain wajahnya yang lumayan tampan." Gadis itu mendengkus kesal dan bosan.


"Wow...lihatlah siapa yang menungguku?" Brennan tersenyum lebar melihat Arina.


Arina hanya memutar malas mata indahnya. Ia bahkan enggan berdiri untuk sekedar menyambut sang empunya kediaman.


"Apa yang membuatmu bersedia datang menemuiku lagi?" Brennan duduk di samping Arina setelah melepaskan jas dan sarung tangannya.


"Berhenti menggangguku dan keluargaku!" Titah Arina datar.


"Em...kau sepertinya sudah salah paham. Aku tidak mengganggumu tapi justru ingin dekat denganmu." Brennan menggeser tubuhnya hingga begitu dekat dengan Arina sementara gadis itu tetap bertahan di tempatnya dan tidak beranjak sama sekali.


"Aku tidak butuh dekat denganmu! Sebaiknya kau tidak menggangguku lagi atau kau akan menyesalinya." Arina hendak berdiri namun Brennan dengan cepat menahannya.


"Aku akan menyesal atau kau yang akan menyesal? Kau tidak tahu siapa aku?" Brennan menangkup wajah Arina dan mengarahkan pandangan gadis itu padanya.


"Siapapun kau, aku tidak peduli! Aku hanya ingin kau berhenti menggangguku atau aku benar-benar akan menghancurkan masa depanmu!" Ancam Arina menatap tajam tepat di kedua mata Brennan.


"Sepertinya masa depanmu yang akan hancur lebih dulu sebelum kau menghancurkan diriku." Brennan tersenyum miring dan mengikis jarak di antara wajah mereka.


PLAK


Satu tamparan Arina berikan pada pria itu.


"Jangan pernah kurang ajar! Aku bukan wanita yang bisa kau sentuh sesuka hatimu." Ia mendorong Brennan hingga pria itu terbaring di sofa. Arina menggunakan kesempatan yang ada untuk melarikan diri.


"Arina berhenti di sana atau aku benar-benar akan menghancurkan Ayahmu!" Teriak Brennan menggelegar.


Arina berhenti dan berbalik.


"Jika kau sampai melakukan hal keji itu, maka kau lebih rendah dari seekor binatang! Memangnya siapa kau sampai harus memaksakan kehendakmu padaku? Ayahku yang membesarkanku, Ibuku yang melahirkanku pun tidak pernah memaksakan kehendak mereka padaku. Lalu kau? Kau hanya orang asing yang tidak jelas asal usulnya lalu tidak sengaja berpapasan denganku dan sekarang ingin memaksaku?" Arina menghentikan perkataannya dan menarik nafas lalu menghembuskannya.


"Dengar Brennan Dominic atau siapapun kau! Aku Arina Elnardo tidak akan pernah tunduk padamu! Jika kau ingin menghancurkan Ayahku, merebut semua miliknya, atau apapun itu silakan. Tapi aku tidak akan pernah tunduk pada siapapun. Hidupku milikku dan aku yang berhak menentukan pilihan untuk diriku sendiri." Gadis bermata coklat itu kembali berbalik dan keluar meninggalkan Brennan.


"Gadis itu benar-benar menguji kesabaranku." Geram Brennan memukul tempat kosong di sampingnya.

__ADS_1


Ia beranjak dari tempat duduknya dan segera mengejar Arina. Sayangnya gadis manis itu sudah pergi dengan mobilnya.


"Sial!" Brennan merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Pantau keberadaan gadis itu dan segera kabari aku." Titah Brennan pada seseorang di balik panggilan.


"Arina! Lihat bagaimana aku akan memaksamu dengan kekerasan." Batin Brennan melangkah masuk ke dalam mobilnya.


••••••


"ARGHHH! Kenapa kau datang dan menghancurkan hari-hari baikku?" Arina berteriak meluapkan semua kekesalannya.


"Lebih baik kau pergi dan jangan ganggu aku lagi! Aku tidak suka membenci orang jadi jangan membuatku membencimu atau siapapun!" Arina kembali berteriak membuat suara lembutnya menggema dari atas bukit tempat ia berada sekarang.


"Sedang ada masalah?" Tanya seseorang dari belakang.


"Pergi! Aku sedang ingin sendiri." Usir Arina yang sudah hafal siapa pemilik suara itu.


"Oh ayolah, apa kau tidak ingin menceritakan masalahmu pada sahabatmu?" Xander mendekatinya dan memberikan sekaleng bir yang sudah dibuka.


"Kenapa kau bisa di sini?" Tanya Arina lalu meneguk bir yang Xander berikan padanya.


"Kau itu sangat ramah, mana mungkin tidak ada yang mau berteman denganmu." Arina kembali meneguk bir di tangannya hingga habis.


"Sebenarnya aku tidak membutuhkan teman. Aku hanya membutuhkan dirimu." Xander menuntun Arina berhadapan dengannya.


"Arina, jadilah kekasihku." Pinta Xander menatap Arina dengan tatapan sayu. Entah karena mabuk atau karena apa?


"Jangan bercanda Xander! Kita itu sudah bersahabat sejak kecil, tidak mungkin lebih dari itu." Arina hendak melepaskan diri dari Xander namun pemuda itu masih menahannya.


"Aku tidak peduli. Aku ingin kau menjadi kekasihku, Arina." Xander menaikkan suaranya dan mencengkeram rahang Arina.


"Xander lepaskan aku!" Arina berusaha mendorong sahabatnya itu namun Xander justru yang berhasil mendorongnya hingga tersungkur di tanah.


"Kau menolakku? Baiklah, kita lihat sejauh mana kau bisa menolakku." Xander menarik kaki Arina hingga terlentang di tanah dan ia langsung naik ke atas tubuh mungil Arina. Mengunci tubuh Arina dengan tubuhnya sehingga gadia itu tidak mampu untuk melawannya.


"Kau harus ku miliki meski hanya sekali! Kau menolakku maka aku akan membuatmu tidak diinginkan oleh pria mana pun!" Xander berusaha untuk mencium bibir Arina namun Arina berusaha menghindar.

__ADS_1


"Xander kau sudah mabuk! Lepaskan aku!" Arina memberontak sementara tangan Xander sudah bergerilya menjamah tubuhnya.


"Ya aku mabuk! Mabuk karena dirimu!" Xander tersenyum mengerikan.


SETTT


Xander menarik baju Arina dengan kasar hingga robek. Bibirnya melengkung ke atas ketika matanya bertubrukan dengan sepasang aset kembar Arina yang begitu menggodanya.


"Xander lepaskan aku!" Arina berusaha sekuat tenaga melawan pemuda itu.


"Aarrghh..." Xander mengerang kesakitan karena pusakanya ditendang oleh Arina entah bagaimana caranya.


Arina menggunakan kesempatan yang ada untuk melarikan diri namun Xander dengan cepat kembali menangkapnya.


"Brengsek! Jangan pernah menyentuhku!" Arina meronta dan berhasil melepaskan diri. Sayangnya ia kini berdiri di tepi bukit. Jika salah melangkah maka bisa dipastikan ia akan tergelincir dan jatuh ke jurang.


"Mau lari bagaimana lagi? Ayo, kemari. Biarkan aku mencicipi dirimu sekali saja." Xander melambaikan tangannya menyuruh Arina mendekat.


"Tidak! Lebih baik aku mati daripada harus menyerahkan diriku pada iblis sepertimu!" Arina melangkah mundur dengan langkah kecil.


"Kau tidak mau datang? Maka aku yang akan menangkapmu." Xander melangkah ke depan untuk menangkap Arina. Arina dengan cepat berlari ke arah berlawanan dan Xander yang kehilangan keseimbangan pun tergelincir dan jatuh ke jurang.


"XANDER!" Arina seketika shock dan berteriak memanggil sahabatnya.


"Arina?" Brennan yang baru datang segera menghampiri gadis itu. Ia melepaskan mantelnya dan menutupi tubuh Arina dengan mantelnya.


"Sttt...tenanglah." Brennan memeluk erat Arina untuk menenangkannya.


"Aku membunuh orang. Aku membunuh temanku." Arina menangis tersedu-sedu. Antara takut dan rasa bersalah bercampur jadi satu.


"Kau tidak bersalah. Kau hanya membela diri." Brennan setia berusaha menenangkan Arina. Pria itu bahkan melupakan tujuannya datang menemui Arina setelah mendapati Arina dalam keadaan memilukan.


"Ayo, aku bawa kau pulang." Brennan menggendong Arina tanpa mendapat perlawanan dari gadis galak itu.


"Astaga, dia pingsan. Apa dia sempat dibius?" Batin Brennan mendapati Arina sudah tak sadarkan diri.


"Jim, segera hubungi polisi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. Aku akan membawanya ke mansion untuk diobati." Brennan meminta Jim untuk menunggu di bukit itu sementara ia membawa Arina kembali ke mansionnya dengan menyetir sendiri.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2