
"LINA...LINA..." Terdengar suara seorang pria berteriak menggelegar memanggil nama Lina.
"Astaga...anak itu kenapa lagi?" Asyana terburu-buru keluar dari dapur menghampiri putranya.
"Leon, kenapa berteriak seperti itu?" Bentak Asyana pada putranya.
"Di mana Lina? Aku ingin bicara dengannya." Leon bertanya dengan gaya angkuhnya.
"Lina sedang tidak di rumah. Bahkan dari kemarin dia belum pulang. Ada apa?" Asyana mencoba meraih pundak Leon namun Leon menghindar.
"Berikan aku lima juta dollar." Leon menadahkan tangannya dengan begitu angkuh.
"Lima juta? Uang sebanyak itu mau kau apakan?" Asyana cukup kaget mendengar permintaan putranya itu.
"Aku ada bisnis bersama temanku. Berikan cepat!" Pemuda itu terlihat gusar dan tidak sabaran. Sesekali ia menggosok hidungnya dan memejamkan matanya seperti sedang membenarkan penglihatannya.
"Tidak ada! Mommy tidak punya uang sebanyak itu. Apalagi akhir-akhir ini kondisi perusahaan Daddy kalian juga mengalami masalah. Sebaiknya kau batalkan saja bisnis dengan teman-temanmu itu." Asyana menolak mentah-mentah keinginan putranya.
"Dasar orang tua payah!" Bentak Leon lalu mendorong Ibunya hingga tersungkur di lantai. Ia beranjak pergi meninggalkan wanita yang sudah melahirkannya itu tanpa peduli dengan kondisinya.
"Kenapa anak-anakku jadi seperti ini? Kenapa mereka jadi pembangkang seperti ini? Apa yang salah dengan didikanku dan Lionel pada mereka?" Batin Asyana memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Aunty...astaga aunty." Syene bergegas berlari dan membantu bibinya untuk berdiri.
"Aunty tidak apa-apa?" Syene sangat cemas dan memeriksa keadaan tubuh adik dari mendiang Ayahnya itu.
"Tidak sayang. Aunty baik-baik saja, kalian ada apa datang kemari?" Wanita itu mencoba untuk tersenyum agar tidak ditanyai lebih banyak oleh keponakannya.
"Ah...aku dan Griff datang untuk menjemput aunty. Jadi malam ini Opa dan Oma akan mengadakan makan malam bersama keluarga Griff dan Brennan. Uncle Lionel yang meminta kami untuk menjemput aunty, katanya dia nanti akan langsung ke kastil." Jelas Syene panjang lebar.
"Oh begitu ya? Ya sudah, aunty siap-siap dulu." Asyana mengelus pipi keponakannya.
"Baik aunty." Syene mendorong lembut bibinya untuk segera pergi bersiap.
__ADS_1
"Sayang, apa makan malam nanti akan formal?" Griffith terlihat gugup.
"Mungkin tidak. Oma sangat tidak suka sesuatu yang terlalu kaku." Syene menepuk pundak calon suaminya untuk menenangkan.
"Apa akan ada banyak keluargamu yang hadir?" Pria itu sepertinya benar-benar gugup saat ini.
"Tidak ada sayang. Hanya anggota keluarga yang sudah biasa kau temui. Tidak ada yang lain." Syene mencubit pipi Griffith karena gemas
"Tapi aku benar-benar sangat gugup. Biasanya tidak seperti ini karena hanya bertemu sebentar lalu pergi. Tapi ini...aku akan duduk bersama lalu makan malam bersama mereka." Griffith sekarang melepaskan dua kancing atas kemejanya.
"Anggap saja mereka keluargamu. Sudahlah, jangan berpikir terlalu banyak!" Syene mengusap punggung kekasihnya untuk menenangkan.
"Syene, aunty sudah siap." Asyana menghampiri Syene. Wanita itu terlihat sangat anggun dengan gaun putih bergaris-garis hitam yang ia kenakan.
"Wah...aunty cantik sekali. Pantas saja uncle Lionel tidak rela jika aunty harus pergi sendirian." Syene menggoda bibinya.
"Kau ini bisa saja." Asyana mencubit gemas pipi keponakan.
"Ya sudah, ayo kita berangkat." Syene menggandeng tangan Asyana sementara Griffith mengikuti kedua perempuan itu.
"Tidak aunty. Aku sudah tidak memiliki orang tua. Satu-satunya keluarga yang aku miliki adalah kakakku, tapi dia juga sudah meninggal. Hanya keponakanku saja, tapi dia tidak bisa hadir karena sedang di Jepang." Jelas Griffith sembari fokus menyetir.
"Begitu ya? Tidak apa, yang penting kalian selalu bahagia." Asyana tersenyum menepuk pundak kedua orang yang duduk di depannya. Ketiga orang itu bercengkrama sepanjang perjalanan. Syene sangat berusaha menghibur dan membuat bibinya tertawa meski ia tidak tahu apa masalah yang sedang bibinya hadapi.
"Sampai." Griffith memarkirkan mobilnya di pelataran depan kastil.
"Sepertinya Brennan dan Arina sekeluarga juga sudah sampai." Gumam Syene tersenyum bahagia.
"Ya sudah, ayo masuk." Griffith mengulurkan tangannya pada Syene dan disambut dengan senyuman hangat. Ketiganya masuk ke dalam kastil dengan suasana hati yang gembira.
"Syene..." Arina yang terlihat begitu bahagia langsung berhambur memeluk sang kakak.
"Hei, hati-hati!" Syene menerima pelukan dari adiknya.
__ADS_1
"Itu orang tua Brenn?" Tanya Syene penasaran begitu melihat sepasang orang tua sedang berbincang dengan kakek-nenek mereka.
"Bukan. Itu paman dan bibinya, orang tuanya sudah meninggal." Jelas Arina yang berubah menjadi sedikit gugup.
"Oh...ya sudah aku ke dapur dulu, kau teruskan mengobrol dengan mereka." Titah Syene lalu beranjak ke dapur sementara Arina juga kembali bergabung untuk menemani para orang tua.
***
"Wow...ini sungguh lezat." Puji Brennan sembari menyantap hidangan yang terhidang di atas meja makan.
"Jika suka, makanlah yang banyak. Nanti Mama akan ajari Arina untuk memasaknya." Arlin tersenyum memperhatikan kelakuan Brennan yang lebih santai dibanding sebelumnya.
"Tidak, tidak! Jangan ajari Arina, aku tidak mau membuatnya repot untuk urusan dapur. Ajari saja aku langsung." Usul Brennan semangat.
"Kau terlalu memanjakan Arina." Celetuk Richard membuat semuanya tertawa seketika.
"Aku tidak memanjakannya, hanya tidak ingin merepotkannya saja. Dia adalah wanitaku jadi aku punya kewajiban untuk membuatnya menjadi ratu yang bahagia setelah bersamaku nanti." Brennan menatap lekat Arina yang juga sedang menatapnya.
"Well, terserah kau saja." Richard mendengkus kesal tapi juga tersenyum mendengar penuturan Brennan.
Makan malam mereka kembali berjalan dengan baik. Masing-masing dari mereka begitu menikmati makan malam itu termasuk paman dan bibi dari Brennan yang terlihat mudah sekali berbaur dengan keluarga Arina. Griffith lebih banyak berdiam diri, membuat Syene sedikit bingung dengan tingkah kekasihnya itu.
Selesai makan malam, para anggota keluarga kembali berkumpul di ruang keluarga sambil membahas beberapa hal penting. Mulai dari tanggal pernikahan kedua pasang calon pengantin, hingga gedung yang sebenarnya sudah dipilih oleh Syene dan Griffith. Lagi-lagi Griffith lebih banyak berdiam diri dan hanya sekedar menjawab seadanya.
"Griff, aku rasa aku perlu bicara denganmu." Syene menarik tangan kekasihnya dan beranjak meninggalkan yang lainnya setelah meminta izin.
Syene menarik Griffith keluar dari kastil dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil pun, Griffith tetap berdiam diri sementara Syene bisa melihat guratan kesedihan di wajah prianya itu.
"Kau kenapa?" Syene menggenggam kedua Griffith sambil menatap sepasang mata tajam yang tampak sendu.
"Tidak. Hanya sedikit sedih. Saat Ayah Xander menikah dulu, dan saat pernikahan pertamaku, orang tuaku ada lengkap bersamaku. Sayangnya aku malah gagal mempertahankan rumah tanggaku. Dan sekarang, disaat aku yakin telah menemukan perempuan yang tidak akan meninggalkanku, mereka sudah tidak ada bersamaku." Griffith tersenyum getir.
"Griff..."
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...