
"Griff, kembali ke mansionmu sekarang." Titah Syene terlihat kesal.
"Tapi di dalam sana mereka masih berkumpul." Griffith terlihat keberatan dengan keinginan calon istrinya.
"Griff, lakukan saja apa yang aku mau! Urusan mereka nanti aku yang selesaikan." Syene kembali mengulangi perintahnya.
"Baiklah." Mau tidak mau Griffith menuruti keinginan gadis yang ia cintai.
Ia melajukan mobilnya kembali ke mansionnya. Sepanjang perjalanan, Syene hanya diam dan membuang muka ke arah jendela. Griffith pun hanya fokus menyetir. Sampai di mansion pun Syene langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam tanpa menunggu Griffith.
"Ada apa lagi kali ini?" Griffith terlihat gusar dan mengusap kasar wajahnya. Ia segera menyusul Syene yang ia yakini saat ini sudah di dalam kamar.
***
"Sayang?" Panggil Griffith dengan lembut. Sayangnya yang dipanggil sama sekali tidak memberikan jawaban.
"A-ada apa ini?" Gumam Griffith terkejut karena kondisi kamar yang redup dan hanya ada lampu tidur yang menyala. Sementara itu terlihat Syene sedang duduk di atas ranjang dengan pose yang sangat menantang. Siluetnya bahkan terlihat sangat seksi membuat Griffith seketika menjadi gerah.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Griffith menutup dan mengunci pintu kamarnya. Ia langsung menghampiri kekasihnya.
"Griff, aku ingin kau jujur padaku! Jawab setiap pertanyaanku dengan jujur!" Syene menarik Griffith hingga duduk begitu dekat dengannya.
"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?" Griffith melepaskan dua kancing atas kemejanya.
"Apa kau sungguh mencintaiku?"
"Tentu." Griffith menjawab sembari menelan kasar ludahnya saat matanya tidak sengaja melirik belahan dada Syene yang terekspos.
"Apa kau masih mencintai mantan istrimu?"
__ADS_1
"Tidak! Sama sekali tidak!" Griffith berusaha menahan tangannya agar tidak nakal.
"Lalu kenapa kau masih saja mengungkit masa lalu di depanku?" Syene terlihat begitu marah namun hal itu justru membuat Griffith semakin bergairah.
"Kau cemburu?" Griffith tersenyum nakal.
"Tentu. Aku sangat cemburu Griff! Aku tidak mau kau terus mengungkit masa lalumu meskipun itu adalah bagian dari hidupmu." Tatapan Syene berubah menjadi sendu membuat Griffith merasa bersalah.
"Sayang, sungguh aku tidak ada maksud lain. Tadi aku hanya mengenang kedua orang tuaku saja, bagaimana mereka sangat bahagia ketika melihat kedua putra mereka menikah. Bukan mengenang yang lain." Griffith meraih Syene ke dalam pelukannya dan menenangkan kekasihnya.
"Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya, Griff. Aku ingin kau hanya mengingatku saat ini dan seterusnya. Aku tidak mau kau mengingat wanita lain lagi." Syene melepaskan diri dari Griffith.
Tanpa aba-aba, Syene mendorong Griffith hingga terbaring di ranjang. Ia pun merangkak naik dan duduk di atas perut Griffith. Gadis itu menatap kekasihnya dengan tatapan liar dan menggoda. Detik kemudian ia menyambar bibir tebal Griffith dengan rakus sementara tangannya melepaskan satu persatu kancing kemeja Griffith.
Griffith yang memang sudah lama menginginkan gadisnya itu pun diam dan membiarkan Syene melakukan apapun yang diinginkan terhadapnya. Pria itu diam namun tidak dengan tangannya yang bergerilya menyentuh setiap lekuk tubuh Syene, bahkan lingerie yang dikenakan Syene sudah ia lepaskan dan buang entah kemana. Syene kini berada di atasnya tanpa sehelai benang namun gadis itu tampak tidak keberatan dengan hal itu.
Syene masih begitu posesif mencumbu tubuh kekar Griffith begitu juga dengan kedua tangan Griffith yang semakin menjadi menggerayangi tubuh indah kekasihnya. Pergerakan Syene yang sedikit lamban membuat Griffith tidak sabar. Akhirnya ia membalikkan posisi hingga Syene berada di bawah kuasanya.
"Aku yakin Griff! Sekarang atau nanti, kita akan tetap melakukannya. Aku hanya ingin kau melupakan wanita itu dan kau hanya menatapku seorang." Jawab Syene yakin.
Griffith ambruk di atas tubuh Syene dengan nafas memburu. Mendengar jawaban kekasihnya, membuatnya sedikit kecewa. Ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di samping Syene. Membatalkan semua niatnya untuk memiliki Syene seutuhnya malam ini. Tidak lupa ia menarik selimut untuk menutupi tubuh indah Syene.
"Kenapa Griff? Kenapa berhenti?" Tanya Syene sendu.
"Aku tidak akan melakukannya hanya untuk melupakan masa laluku. Syene, aku mencintaimu dan sangat ingin memilikimu seutuhnya. Tapi bukan karena aku ingin melupakan masa laluku. Jangan anggap tubuhmu sebagai bahan taruhan atau apapun itu yang bisa kau tukar dengan hal yang kau inginkan. Aku sudah lama melupakan wanita itu, dan aku sudah bilang padamu tadi aku hanya teringat kedua orang tuaku." Griffith bangun dan memasang kembali celananya.
"Kau istirahatlah dulu. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Pria itu memutuskan untuk keluar dari kamar meninggalkan Syene sendiri.
"Hah..." Syene mendesah kecewa karena gagal mendapatkan kekasihnya. Ternyata Griffith tidak sebejat itu untuk mengambil kesempatan darinya. Griffith ingin melakukannya karena mereka saling mencintai, bukan sebagai bahan taruhan atau apapun itu.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus meminta maaf." Syene menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan terburu-buru mengenakan lingerienya tadi. Setelah itu ia keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ruangan kerja Griffith.
"Griff, aku boleh masuk?" Tanya Syene setelah mengetuk pintu.
"Em..." Hanya dehaman yang terdengar sebagai jawaban.
Syene membuka pintu besar di depannya dan perlahan melangkah masuk ke dalam. Terlihat Griffith begitu sibuk dengan laptopnya. Syene tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat begitu tampan dengan penampilan yang sedikit kacau.
"Sayang..." Syene mendekati Griffith dan menutup laptop pria itu. Ia kemudian duduk di atas pangkuan Griffith dan memeluk kekasihnya. Griffith tidak merespon namun kedua tangannya memeluk pinggang Syene dengan lembut.
"Aku minta maaf karena sudah tidak yakin padamu. Tapi sungguh aku cemburu ketika bibirmu yang seksi itu menyebut wanita itu." Pinta Syene sembari merayu kekasihnya.
"Jadi aku hanya boleh menyebut namamu dengan bibirku?" Tanya Griffith tersenyum.
"Em...hanya boleh menyebut namaku, hanya boleh menciumku, pokoknya kau hanya boleh untukku dan aku pun begitu." Syene dengan manja semakin erat memeluk Griffith.
"Jadi apa yang ingin kau berikan padaku jika aku hanya menyebut namamu?" Griffith berniat menggoda gadisnya itu.
"Aku?" Syene melonggarkan pelukannya dan menatap Griffith lekat.
Tanpa berkata-kata lagi, Syene kembali menyatukan bibirnya dengan bibir tebal Griffith. Satu tangan Griffith menahan tengkuk Syene sementara satu tangan lainnya merangkul erat pinggang Syene. Keduanya begitu menikmati pagutan panas itu seakan dunia ini hanya milik mereka. Bahkan mereka tidak sadar, ada sepasang mata tajam yang sedang memperhatikan kegiatan panas mereka.
"Griff, aku mencintaimu." Bisik Syene menyandarkan kepalanya pada dada Griffith setelah mereka menyudahi pagutan panas mereka.
"Aku terlebih mencintaimu Syene. Sangat-sangat mencintaimu." Griffith kembali memeluk Syene erat.
"Ekhem..."
"Kau?"
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...