CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Puas Bermain


__ADS_3

"Sudahlah, kau terlalu lama berpikir." Ucap Lina sengaja memprovokasi Syene.


"Benar. Ayo kita pergi saja." Ajak Leonard menimpali ucapan adiknya.


"Ja-jangan pergi! Baik, aku akan mengambilnya sendiri." Cegah Syene akhirnya memilih menyanggupi tantangan dari kedua sepupunya.


"Begitu seharusnya. Ayo ambil." Leonard berpindah tempat seolah memberi ruang pada Syene untuk mengambil bukunya.


"Kau bisa Syene, kau bisa." Batin Syene mengangkat kakinya dengan berat.


"Ck...lama sekali dirimu? Mau atau tidak? Kalau tidak mau, kami pergi saja." Tanya Lina ketus.


"Mau. Aku pasti bisa mengambilnya." Syene melangkah dengan berat sementara keringatnya mulai keluar membasahi pelipisnya. Bayangan kedua orang tuanya tewas dalam sebuah kecelakaan begitu jelas tergambar di depan matanya meski ia tidak menyaksikan kejadian itu secara langsung.


"Sudahlah, kami pergi saja." Leonard menarik adiknya beranjak dari tempat itu.


"Lihat! Aku berhasil." Pekik Syene yang ada di dalam bagasi mobil itu.


"Berhasil." Lina tersenyum licik dan melakukan tos dengan kakaknya. Keduanya segera berbalik dan berlari ke arah mobil tadi lalu hendak menutup pintu bagasi mobil itu.


"Leo, apa yang kau lakukan? Lepaskan pintunya!" Syene berusaha sekuat tenaga menahan Leonard agar tidak menutup pintunya.


"Lina, atasi dia cepat sebelum pemilik mobil ini datang!" Titah Leonard pada kembarannya. Lina segera melaksanakan perintah dari kakaknya. Ia berusaha melepaskan tangan Syene yang menahan pintu bagasi mobil itu.


"Berhasil, cepat tutup Leo!" Titah Lina pada kakaknya.


BAMMM


Pintu bagasi mobil itu ditutup dengan cukup kuat oleh Leonard. Sepasang saudara kembar itu tertawa puas karena sudah berhasil mengerjai sepupunya. Mereka bahkan tidak peduli pada Syene yang menggedor pintu mobil itu dari dalam.


"Tapi ini mobil siapa?" Tanya Lina gelisah.


"Peduli apa ini mobil siapa? Yang penting kita sudah mengerjai dia, biarkan saja dia yang menanggung kesalahannya nanti. Ayo kita pergi bersenang-senang." Leonard merangkul adiknya pergi dari tempat itu.


Keduanya tega pergi begitu saja meninggalkan sang kakak sepupu yang terkurung di dalam mobil itu dan ketakutan sendirian. Tubuh mungil Syene bahkan bergetar hebat karena ketakutan. Ia seolah melihat sebuah kecelakaan besar di depan matanya dan korbannya adalah kedua orang tuanya.


"Papa, Mama jangan pergi!" Tangan Syene terulur seolah menggapai sesuatu.


"Tolong! Tolong kami! Selamatkan kami dari tempat ini!" Pinta Syene menangis terisak. Ia benar-benar ketakutan. Ketakutan yang tidak dibuat-buat. Sayangnya tak ada siapapun yang mendengar permintaan tolongnya. Perlahan kesadaran Syene mulai menipis.

__ADS_1


••••••


"Arghh..." Seorang pria mengerang memegangi lengannya yang terluka.


"Sial! Kenapa hari ini aku bisa kalah seperti ini?" Geram pria yang mengerang kesakitan tadi.


"Sepertinya mereka menggunakan cara kotor untuk menang Tuan. Silakan!" Ucap orang kepercayaannya membukakan pintu mobil untuknya.


"Aku Griffith Akayama tak pernah kalah pada siapapun. Selidiki semuanya, jika terbukti mereka menggunakan cara kotor maka lihat saja bagaimana aku membalas mereka dengan lebih kotor!" Titah pria bernama Griffith itu.


"Tuan, ada seseorang di sini." Pekik orang kepercayaannya tadi karena sedang menaruh barang-barangnya di bagasi. Griffith berbalik dan segera melihat siapa yang dimaksud oleh bawahannya.


"Seorang gadis? Apa dia masih bernafas Drex?" Tanya Griffith kesal.


"Masih Tuan. Sepertinya dia hanya pingsan." Ujar Drex setelah menaruh telunjuknya di bawah hidung Syene.


"Bawa saja dia. Nanti baru pikirkan cara untuk mengatasinya." Ujar Griffith kembali duduk tenang.


"Baik Tuan." Drex pun segera duduk di tempatnya dan meluncur pergi dari lapangan tua itu.


Sepanjang perjalanan Griffith sibuk mengobati luka sayatan pisau di lengannya. Ia membalut lukanya menggunakan perban dengan sembarangan. Padahal luka di lengannya cukup besar dan dalam, tapi sepertinya pria itu sama sekali tidak berpikir untuk pergi ke rumah sakit.


"Em!" Griffith berdeham singkat dan keluar dari mobilnya.


"Kau sedang apa?" Tanya Griffith datar ketika melihat Drex terburu-buru berlari ke belakang mobil.


"Menurunkan barang-barang Tuan dan juga gadis itu." Jawab Drex sopan.


"Kau urus saja barang-barangku dengan baik! Aku akan mengurus gadis itu." Titah Griffith dan beralih ke bagian belakang mobil lalu menggendong Syene keluar dari mobilnya.


"Jangan! Jangan ambil Papa dan Mamaku!" Gumam Syene mengigau dalam pingsannya. Ia bahkan memeluk leher dengan Griffith dengan sangat kuat.


"Manis juga wajahnya." Batin Griffith tersenyum miring memperhatikan penampilan Syene yang berantakan karena keringat membasahi tubuh mungilnya.


Griffith membawa Syene masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Syene di atas tempat tidurnya. Syene tak sadarkan diri sekalipun Griffith menepuk-nepuk pipinya cukup kuat.


"Dia ini sengaja tidur untuk menggodaku atau memang pingsan? Susah sekali dibangunkan. Apa dia tidak tahu wanita-wanita yang naik ke atas ranjangku adalah wanitamu murahan, atau dia memang salah satunya? Ck...." Griffith berdecak kesal dan memutuskan membersihkan diri ke dalam kamar mandi.


Sementara Griffith membersihkan diri di dalam kamar mandi, Syene mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Perlahan ini mulai membuka matanya lalu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.

__ADS_1


"I-ini di mana?" Gumam gadis belia itu memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia mengedarkan pandangannya menelisik setiap sudut ruangan tempat ia berada sekarang.


"Ini kamar seseorang." Batin Syene ketakutan dan langsung turun dari ranjang berukuran besar itu.


"Foto itu pasti adalah foto pemilik kamar ini." Gumam Syene memperhatikan sebuah foto besar di ujung ranjang. Foto seorang pria mengenakan atribut tinju.


Klek


Pintu kamar mandi terbuka. Syene menoleh ke arah sumber suara dan ia kembali terkejut karena Griffith keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya menutupi tubuh bawahnya.


"Ah, kau sudah bangun rupanya." Ujar Griffith datar.


"Maafkan aku Tuan! Aku tidak sengaja masuk ke dalam mobilmu karena hendak mengambil bukuku." Ucap Syene mengangkat bukunya yang sama sekali tidak pernah ia lepaskan dari sebelum pingsan hingga setelah sadar dari pingsannya.


"Apa aku harus memaafkan dirimu? Hanya wanita-wanita murahan yang menggunakan segala cara untuk merangkak naik ke atas ranjangku dan meminta dipuaskan olehku. Kau salah satunya?" Tanya Griffith menelisik penampilan Syene yang sudah sangat memggodanya itu.


"Aku bukan." Syene menggeleng takut.


"Tuan, lenganmu terluka." Spontan Syene berlari mendekati Griffith dan memegangi lengan kekar pria itu.


"Apa ada kotak obat di sini?" Tanya Syene cemas.


"Di dalam lemari, ambil saja!" Titah Griffith spontan lalu beranjak dan duduk di tepi ranjangnya.


Syene segera mencari kotak obat di bagian lemari yang ditunjuk Griffith. Setelah mendapatkannya, Syene segera menghampiri Griffith dan mulai mengobati lukanya. Syene begitu berhati-hati mengobati Griffith.


"Gadis ini...aku ingin memilikinya." Batin Griffith menatap lekat Syene.


"Sudah Tuan! Usahakan jangan sampai terkena air dulu." Ucap Syene setelah mengobati dan membalut luka Griffith dengan perban.


"Kalau begitu aku permisi. Aku harus pulang. Sekali lagi aku minta maaf atas kekacauan yang sudah terjadi." Syene berdiri dan membungkuk beberapa kali.


"Siapa yang bilang kau boleh pulang? Siapapun yang sudah masuk ke dalam wilayahku apalagi kamarku, hanya aku yang bisa menentukan apakah dia bisa pergi atau harus tetap tinggal." Ungkap Griffith seraya tersenyum miring meledek.


"Tuan, ini sudah malam aku mohon. Aku harus pulang atau keluargaku bisa khawatir padaku." Pinta Syene mengatupkan kedua tangannya memohon.


"Kau bisa hubungi keluargamu dan mencari alasan agar mereka tidak khawatir! Tapi aku tidak akan melepaskan dirimu sampai aku puas bermain-main denganmu."


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2