CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Kau Bahagia?


__ADS_3

"Argh...bosan sekali tidak ada Arina di sini." Syene menggerutu tidak senang.


"Biasanya aku selalu menghabiskan waktu bersamanya setelah selesai jam kuliah. Tapi sekarang aku harus sendirian seperti ini." Ia mengaduk makanannya tidak berminat.


"Kau ingin dia kembali?" Suara seseorang membuat Syene tersentak. Syene seketika menjadi tegang dan mematung.


"Beritahu aku di mana dia?" Brennan duduk berjarak di sampingnya.


"A-aku tidak tahu dia di mana." Syene menggeser tubuhnya dan hendak pergi namun Jim menahannya.


"Syene, mulutmu memang mengatakan tidak tahu. Tapi reaksi tubuhmu tidak bisa berbohong. Katakan di mana Arina sekarang!" Brennan telah berdiri di depan Syene dan tatapannya sangat mengintimidasi gadis itu.


"A-aku benar-benar tidak tahu. Jika tidak percaya kau bisa memeriksa ponselku. A-awalnya dia ingin pergi ke Melbourne, tapi dia merubah rencananya dan aku tidak tahu sekarang dia di mana." Syene hendak memberikan ponselnya pada Brennan.


"Syene?" Suara seorang pria menyapa Syene.


"Etan?" Syene berbalik danseketika bernafas lega. Ia pun langsung meloloskan diri dari Jim.


"Kau kenapa bisa di sini? Kapan sampai?" Syene langsung menyibukkan diri dengan Etan.


"Aku merindukan sahabatku, maka dari itu tadi dari bandara aku langsung ke sini menjemputmu. Kau sudah bisa naik mobil 'kan?" Etan merangkul Syene dan membawa sahabatnya pergi dari tempat itu.


"Ikuti dia ke mana pun dia pergi! Aku yakin dia akan menjadi kunci yang membawa kita menemukan Arina ku!" Titah Brennan menatap tajam Syene yang sudah menghilang bersama Etan.


••••••


"Mereka tadi siapa? Seingatku kekasihmu bukan dia." Tanya Etan penasaran.


"Dia memang bukan kekasihku. Dia itu pria gila yang mengejar-ngejar Arina, sayangnya sekarang Arina pergi dan bersembunyi darinya." Jelas Syene.


"Oh...oh ya, mau menghabiskan waktu bersamaku? Terakhir kali aku datang, kau tiba-tiba dijemput oleh kekasihmu dan sampai aku pulang pun tidak ada kesempatan untuk sekedar makan bersama." Etan tersenyum dengan wajah penuh harap.


"Aku hubungi Griff dulu untuk meminta izin." Syene mengambil ponselnya dari tas dan hendak menghubungi Griffith.

__ADS_1


"Ck...kau ini jangan terlalu loyal. Dia itu baru kekasihmu, belum menjadi suamimu." Etan merebut ponsel Syene.


"Etan, tidak bisa begitu. Dia itu sangat posesif dan pencemburu, jadi lebih baik aku kabari dia lebih dulu agar tidak terjadi salah paham nantinya." Syene berusaha mengambil ponselnya dari Etan, namun sahabatnya itu menghindar.


"Jika dia salah paham, nanti aku yang akan menjelaskan. Ayolah Syene, yang sudah menikah saja masih bisa bebas menikmati waktu pribadi mereka. Kalian bahkan masih sepasang kekasih, jadi seharusnya lebih bebas lagi menikmati waktu pribadimu." Bujuk Etan pada gadis di sampingnya.


"Terserah kau saja." Syene memalingkan wajahnya.


Ucapan Etan memang benar adanya, tapi itu tidak berlaku untuk Griffith yang sangat posesif dan pencemburu. Sekarang Syene hanya bisa berdoa dan berharap agar Griffith tidak tiba-tiba membutuhkannya atau menemukannya sedang bersama Etan.


"Kita sampai." Etan menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran mewah.


"Kau membawaku ke restoran semewah ini? Apa kau punya uang?" Ledek Syene mencoba mencairkan suasana dan perasaannya yang tidak tenang.


"Kau ini! Suka sekali meledekku seperti itu. Daddy Ed sudah mewariskan seluruh hartanya untukku, jadi hanya sekedar mentraktir dirimu makan, tidak akan membuatku bangkrut." Etan merangkul Syene masuk ke dalam restoran itu.


"Selamat sore Tuan, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang wanita yang bertugas sebagai resepsionis.


"Sore. Aku sudah melakukan reservasi atau nama Etan Alexon." Etan tersenyum ramah pada resepsionis di depannya.


"Ah, ruangan yang Tuan pesan sudah kami siapkan. Biar rekan kami yang mengantar Tuan ke sana." Sang resepsionis pun meminta seorang rekannya mengantarkan Etan dan Syene menuju ruangan yang sudah Etan pesan sebelumnya.


"Kau terlalu menghamburkan uang. Padahal kita bisa duduk di luar sana tanpa harus memesan ruangan khusus VIP seperti ini." Celoteh Syene tidak suka.


"Ayolah Syene, kita bahkan sangat jarang sekali bisa makan bersama seperti ini setelah kita dewasa. Jadi tolong jangan menolak." Etan tersenyum menatap sahabat kecilnya itu.


"Tetap saja ini namanya pemborosan. Cukup sekali ini saja, lain kali jangan lagi! Mengerti?" Syene menunjuk Etan seolah memberikan peringatan.


"Baiklah Nyonya, baik." Etan memegangi telinganya seolah menyesal dan merasa bersalah. Kemudian keduanya tertawa lepas bersama.


"Apa yang ingin kau pesan? Pesan saja! Hartaku adalah hartamu juga." Titah Etan sedikit angkuh.


"Siapa yang bilang? Hartamu itu nantinya miliknya istri dan anak-anakmu." Sanggah Syene tidak terima.

__ADS_1


"Tapi kan kau itu anaknya Daddy Ed dan Mommy Joanna juga. Kau lupa?" Etan menatap Syene sedikit tidak suka.


"Kalau itu aku tidak lupa. Tapi tetap saja aku tidak boleh berfoya-foya dengan sesuatu yang bukan milikku." Tegas Syene.


"Hah...terserah kau saja." Etan memutuskan untuk fokus memilih beberapa makanan yang ingin ia santap sementara Syene akhirnya menyerahkan keputusan pada Etan untuk memesan semuanya.


"Kau tahu? Aku benar-benar merindukan masa kecil kita. Masa di mana kita masih bisa sering bersama tanpa harus memikirkan apapun. Setiap liburan sekolah kita bisa menghabiskan waktu bersama, hari-hari itu terasa sangat menyenangkan." Etan menatap lekat Syene yang sudah menjadi teman baiknya sejak kecil.


"Tapi kita tidak bisa kembali ke masa-masa itu apalagi memutar waktu. Kehidupan itu berjalan ke depan bukan berputar di tempat yang sama." Syene mengalihkan pandangan ke arah lain karena tidak nyaman ditatap sedemikian rupa oleh Etan.


"Syene, apa kau bahagia dengan kekasihmu?" Tanya Etan tiba-tiba membuat Syene kembali menatapnya.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Syene mengernyit bingung.


"Aku sangat ingin tahu. Karena yang aku tahu, kau adalah gadis yang menyukai kebebasan meski kau bukan gadis yang nakal. Kau juga sekarang seakan bukan dirimu lagi. Jadi aku ingin tahu, apa kau benar-benar bahagia dengannya? Atau kau hanya berusaha untuk terlihat bahagia?" Etan memasang wajah serius menanti jawaban dari Syene.


"Aku rasa aku sudah cukup bahagia. Ya, aku bahagia." Syene menjawab seadanya dan terlihat ragu. Ia kembali memalingkan wajahnya dan menghindari kontak mata dengan Etan.


"Tapi matamu mengatakan sebaliknya, Syene." Batin Etan masih menatap punggung Syene.


Keduanya kemudian hening. Bahkan ketika para pelayan datang mengantar dan menghidangkan makanan pun, keduanya menikmati makanan mereka tanpa ada obrolan apapun. Hanya ada bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring memenuhi ruangan itu. Bahkan sampai selesai mereka menikmati semua hidangan pun, tak ada obrolan apapun dari keduanya. Suasana tiba-tiba menjadi begitu canggung, membuat keduanya merasa tidak nyaman.


"Ekhem..." Etan berdeham untuk mencairkan suasana.


"Setelah ini mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Etan basa-basi.


"Ehm..sepertinya aku mau langsung pulang saja. Masih banyak tugas yang harus aku kerjakan." Putus Syene.


"Baiklah." Etan melirik jam tangannya.


"Ayo, agar kau tidak kemalaman." Etan meraih tangan Syene dan menuntunnya keluar dari ruangan itu.


"SYENE!"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2