CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
How To Kissing?


__ADS_3

"Hei, siapa pria yang bersamamu kemarin?" Tanya Lina dengan angkuhnya.


"Bukan urusanmu!" Jawab Syene ketus.


"Cih...aku tidak menyangka ternyata wajahmu saja lugu tapi kelakuanmu benar-benar kotor. Apa selama ini uncle Richard kurang memberikanmu uang hingga kau harus menjual dirimu pada pria tua?" Lina memandang Syene dengan tatapan merendahkan.


BRAKKK


Syene memukul mejanya dan bangkit dari duduknya dengan wajah merah padam karena sudah tak dapat menahan emosinya lagi. Gadis itu dengan berani mencengkram kerah baju sepupunya hingga Lina kesulitan bernafas.


"Selama ini aku terlalu bersabar menghadapi kau dan kembaranmu yang gila itu. Selama ini aku diam meskipun kalian terus menggangguku, tapi mulai detik ini aku tidak akan diam lagi Lina! Kau menyentuh sehelai rambutku maka akan ku botakkan rambutmu, kau mencubitku sekali maka akan ku patahkan tanganmu. Dan jika kau berani menghinaku dengan mulut busukmu itu maka aku akan merobeknya hingga tak bisa gunakan lagi meskipun hanya sekedar untuk makan dan minum." Syene melepaskan Lina dengan kasar hingga sepupunya itu jatuh tersungkur karena kehilangan keseimbangan. Ia pun mengambil tas dan buku-bukunya lalu pergi meninggalkan Lina begitu saja.


"Sialan! Kembali kau!" Teriak Lina namun Syene tak peduli.


Syene terus melangkah meninggalkan kelasnya. Melewati koridor kampus yang tidak terlalu sepi namun tidak juga terlalu ramai. Ia terus melangkah menetralisirkan detak jantungnya yang kacau karena barusan untuk pertama kalinya ia berani melawan orang yang mengganggu ketenangannya.


"Kau gila Syene! Kau kenapa berani-beraninya melawan dia tadi? Bisa-bisa hidupmu menjadi lebih sengsara setelah ini." Gumam gadis yang kini sedang berjalan di trotoar sambil menundukkan kepalanya.


"Tapi tidak ada salahnya menjadi jahat untuk melindungi diri sendiri dari para penjahat sebenarnya." Syene mengangkat kepalanya dan tersenyum miring menakutkan.


Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah halte bus dan memutuskan untuk duduk di sana. Suasana di halte itu tidak ramai membuat Syene dengan santainya bisa duduk dan melakukan apapun. Ia mengeluarkan sebuah buku gambar dan sebatang pensil lalu mulai mencoret-coret.


Satu jam.


Dua jam.


Bahkan tiga jam berlalu, namun Syene masih asyik dengan kegiatannya. Ia bahkan tak menyadari ada seseorang yang sedang duduk di sampingnya. Mungkin ia berpikir bahwa orang-orang di dekatnya itu adalah orang-orang yang sedang menunggu kedatangan bus berikutnya.


"Apa itu kekasihmu?" Tanya seorang lelaki yang duduk di sampingnya.


"Bukan. Tapi kami sedang dekat beberapa hari ini." Jawab Syene santai.


"Wah wah...Syeneku sudah dewasa sekarang. Sudah bisa dekat dengan pria rupanya." Ucap lelaki tadi. Mendengar namanya disebut, Syene otomatis mengangkat kepalanya dan menoleh untuk melihat siapa pemilik suara yang berbicara dengannya.


"Etan? Kau?" Tanpa bisa melanjutkan kata-katanya Syene langsung memeluk Etan yang tersenyum nakal di sampingnya.

__ADS_1


"Kau kapan sampai? Apa bersama Mommy dan Daddy?" Tanya Syene tanpa melepas pelukannya.


"Haha...aku baru saja tiba. Tadi dari bandara sengaja lewat di sini dan melihatmu sedang sibuk. Daddy dan Mommy tidak ikut, hanya aku saja." Jawab Etan, putra angkat Ed dan Joanna.


"Ih, kau ini kenapa suka tidak mengabari dulu." Syene melepas pelukannya dan mencubit perut sahabatnya sejak kecil itu.


"Aku memberimu kejutan. Oh ya kau mau pulang sekarang? Ayo kita pulang bersama." Ajak Etan bersemangat.


"Aku..."


"Ayo pulang!" Ajak Griffith yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Pria itu menggenggam tangan dan terkesan kasar pada gadis itu.


"Etan aku pulang dulu. Nanti aku akan menceritakan banyak hal kepadamu." Syene pamit dengan membawa semua barang-barangnya.


"Berikan pada mereka!" Titah Griffith agar Syene memberikan barang bawaannya kepada pengawalnya.


"Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri." Tolak Syene dengan senyum manisnya.


Griffith naik ke atas motornya disusul Syene. Setelah memastikan Syene sudah aman, pria berusia tiga puluh lima tahun itu pun meluncur pergi dengan motornya. Sepanjang jalan keduanya diam namun Syene memeluk erat pria yang sedang memboncengnya itu. Ada suatu debaran rasa yang ia semakin nyata ia rasakan sekarang. Rasanya terlalu cepat jika mengatakan ia jatuh cinta pada Griffith. Tapi debaran itu seolah mewakili segalanya. Keduanya akhirnya sampai di depan rumah mewah nan luas milik Griffith.


"Siapa lelaki itu?" Tanya Griffith datar namun tidak bisa menyembunyikan raut kesalnya.


"Sahabatku sejak kecil." Jawab Syene santai dan memilih duduk di tepi ranjang Griffith.


"Sahabat apa perlu saling berpelukan seperti itu?" Griffith melangkah mendekati Syene.


"Kami sudah seperti kakak adik. Aku bahkan memanggil kedua orang tuanya sama seperti dia memanggil mereka yaitu Daddy dan Mommy." Jelas Syene tanpa rasa takut.


"Tapi kau adalah milikku Syene! Aku sudah memenangkan pertandingan itu dan itu artinya kau adalah milikku!" Griffith mendorong Syene hingga terbaring di ranjangnya. Syene tersenyum miring dan menarik dasi Griffith hingga keduanya begitu dekat dengan intim.


"Aku tahu kau sudah memenangkan pertandingan kemarin. Aku juga tahu mau tidak mau aku adalah milikmu. Tapi bukan berarti seluruh kehidupanku adalah milikmu Tuan Griffith! Aku masih tetap pemilik utama seluruh kehidupanku." Syene tersenyum melepaskan Griffith hingga pria itu terhuyung ke belakang. Tanpa mempedulikan Griffith, Syene malah asyik mengeluarkan buku gambarnya tadi dari dalam tasnya.


"Ini untukmu. Hasilnya tidak sebagus pelukis profesional tapi aku menggambarnya dengan hati." Ujar Syene memberikan hasil gambarnya tadi pada Griffith.


Griffith menerimanya dan membuka buku gambar itu. Tatapan kemarahannya tadi seketika berubah menjadi berbinar hanya karena melihat wajahnya di dalam buku gambar gadisnya. Ia berubah menjadi seperti seorang anak kecil yang baru melihat gambar kartun kesukaannya.

__ADS_1


"Bilang terima kasih." Titah Syene tersenyum melihat ekpresi Griffith yang berubah menjadi menggemaskan.


"Aku suka." Griffith meletakkan buku gambar Syene di atas nakas dan beralih memeluk gadisnya.


"Bilang terima kasih karena aku tahu kau pasti suka." Titah Syene lagi.


"Terima kasih. Aku sangat menyukainya." Griffith memeluk Syene dengan erat. Pria itu sepertinya sangat bahagia hanya karena hal kecil yang Syene berikan untuknya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu pada siapapun Syene. Tidak akan pernah." Batin Griffith.


"Griff, aku lapar." Keluh Syene manja.


"Kau lapar? Mau makan apa?" Tanya Griffith langsung saja menjadi perhatian pada Syenenya.


"Apa saja. Aku hanya ingin makan sekarang." Rengek Syene.


"Satu ciuman dan aku membawakan makanan lezat untukmu." Pinta Griffith tersenyum nakal.


"Tidak mau Griff! Aku mau makan." Tolak Syene menggeleng kuat.


"Jika tidak ada ciuman maka tidak ada makanan." Goda Griffith.


"Ck..." Syene berdecak kesal. Namun tak lama karena ia menarik Griffith hingga wajah mereka menjadi sangat dekat. Tanpa ragu ia menempelkan bibir mereka.


"Sudah. Sekarang berikan makanannya padaku!" Titah Syene dengan berani.


"Kau sangat payah dalam berciuman. Baiklah aku akan mengambil makanan untukmu dan setelah kau kenyang aku akan mengajarimu cara berciuman yang benar." Griffith kembali mengecup bibir Syene sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.


"Dasar pria dewasa mesum!" Rutuk Syene namun ia tersenyum malu-malu.


...~ TO BE CONTINUE ~...


#####


Aduh duh...Syene ama Griff mulai nakal ya. Ayo pada diingetin si Griff biar engga kelepasan sama anak gadis orang.

__ADS_1


__ADS_2