CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Memaksa


__ADS_3

"APA? Syene kecelakaan?" Griffith mengepalkan tangannya dan terlihat sangat marah sekaligus khawatir.


"Segera kirimkan aku alamatnya, aku akan ke sana." Ia memutus panggilan secara sepihak dan bergegas keluar dari ruangan kerjanya.


Segera ia masuk ke dalam mobilnya dan langsung melaju pergi. Tatapan pria itu menunjukkan kemarahan sekaligus kekhawatiran yang sangat besar. Bagaimana bisa disaat seperti ini kekasihnya malah kecelakaan.


"Syene, jangan sampai kau kenapa-kenapa! Jangan hancurkan impian bahagia kita yang sudah di depan mata." Gumam Griffith mencengkeram kuat stir mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, ia segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit. Melewati lorong-lorong rumah sakit dengan perasaan tidak tenang dan jantung yang berdegup kencang. Ketakutan akan kehilangan perempuan yang ia cintai saat ini begitu besar menggerogoti hatinya.


"Drex, bagaimana ini bisa terjadi?" Griffith mencengkeram kerah baju Drex dan memojokkan pria itu ke dinding.


"Aku juga tidak tahu kronologinya seperti apa. Saat aku hendak menjemput Nona Syene, ternyata dia sudah pergi lebih dulu dari SPA itu. Dan aku menelusuri jalanan di sekitar sana untuk mencarinya sampai aku melihat kerumunan orang ramai. Ternyata Nona Syene dalam keadaan terluka parah dan baru saja dinaikkan dari jurang." Jelas Drex mencoba tenang.


"Kau lalai sekali dengan tugasmu Drex." Griffith mengangkat tinggi tangannya dan bersiap menyerang Drex, namun ia urungkan niatnya.


"Maafkan aku, Tuan. Aku bersalah dalam hal ini." Drex menunduk karena rasa bersalah yang menggerogoti hatinya.


"Ada yang lain selain itu? Apa penyebab kecelakaan Syene?" Griffith melepas cengkeramannya dengan kasar.


"Nona Syene mengalami kecelakaan bersama Adam. Mereka berada di dalam mobil yang sama. Keduanya sama-sama dalam kondisi terluka parah saat ditemukan." Jawab Drex apa adanya.


"Dia lagi? Bangsat! Syene, apa kau mulai bermain api di belakangku?" Sorot kekhawatiran di mata Griffith lenyap begitu saja. Yang ada saat ini hanya kilat kemarahan yang membuatnya terlihat sangat menakutkan.


"Aku harap Tuan tidak gegabah dalam mengambil kesimpulan. Bisa saja Nona Syene dijebak oleh Adam dan hendak dibawa paksa olehnya. Lagipula mobil yang ditemukan bersama mereka adalah mobil taksi." Drex mencoba menenangkan sang atasan.


"Ya ya ... apa katamu saja!" Griffith menyandarkan tubuhnya di dinding samping ruang operasi. Pria itu terlihat lebih tenang namun tidak dengan sorot matanya yang tajam dan menakutkan.


"Apa kau sudah mengabari keluarganya?" Tanya Griffith datar tanpa menatap lawan bicaranya.


"Belum. Aku baru mengabari Tuan saja." Jawab Drex tak kalah datar.

__ADS_1


"Kabari mereka! Aku sedang malas berbicara." Griffith memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


"Semoga saja ini bukan masalah yang besar. Syene berjanjilah kau akan baik-baik saja, jangan sampai kecelakaan ini malah menjadi sumber penderitaanmu." Batin Drex seraya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pihak keluarga Syene.


***


"Bangsat! Siapa yang sudah berani menculik wanitaku?" Brennan mengepalkan tangannya.


"Maaf Tuan, aku lalai dalam tugasku. Aku gagal melindungi Arina dengan baik." Jim tertunduk merasa bersalah. Pria itu baru saja sampai di California dan langsung mengabari Brennan tentang hal tidak menyenangkan ini.


"Kau tangani semua pekerjaanku di sini! Biarkan aku yang mencari istri dan anakku." Brennan keluar dari ruangan kerjanya meninggalkan Jim.


"Arina, aku pasti bisa menemukanmu. Harus bisa membawamu kembali padaku. Bertahanlah dan tunggu aku." Brennan berlari menuruni anak tangga demi anak tangga untuk segera mencapai mobilnya.


Perasaannya tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang entah karena berlari atau karena ketakutan. Yang jelas saat ini ia harus segera kembali ke New York untuk mencari wanitanya. Dia harus bisa menemukan wanitanya bagaimanapun caranya.


"Kerahkan semua bawahanmu dan tunggu aku di markasmu!" Titah Brennan pada seseorang di balik panggilan.


***


"Lepaskan aku! Aku ingin pulang." Bentak Arina murka.


"Pulang ke mana? Di sini rumahmu, kau lupa?" Pria berambut pirang dengan sekujur tubuh dipenuhi tato itu menampilkan seringai yang begitu menyebalkan.


"Ini bukan rumahku! Ini neraka bagiku. Deron, bebaskan aku dari sini!" Arina masih saja menggunakan nada tinggi. Wanita itu menatap pria di depannya penuh kebencian.


"Neraka? Kau lupa di sini, di kamar ini adalah tempat kau pertama kali merasakan kenikmatan surga dunia? Apa kau lupa dengan hal itu?" Deron menatap sayu wanita di depannya. Apalagi penampilan Arina yang cukup kacau namun tetap saja menggoda.


Mendengar ucapan Deron, mata Arina mulai menelusuri setiap sudut kamar tempat ia berada saat ini. Ingatan tentang hari itu mulai berputar kembali di otaknya. Hari di mana ia memberikan segalanya untuk Deron yang saat itu berstatus sebagai kekasihnya.


Pria itu sangat lihai dalam merayu. Ia merayu Arina yang polos dan lugu dengan berbagai cara dan alasan hingga gadis itu mau menyerahkan hal paling berharga yang ia miliki. Namun setelahnya, yang Arina dapatkan hanyalah kekecewaan dan penyesalan.

__ADS_1


"Semua itu sudah berlalu! Dulu aku terlalu bodoh untuk percaya pada pria yang mengatakan cinta padaku. Tapi sekarang aku tidak akan percaya pada siapapun juga. Lepaskan aku!" Arina menatap tajam lawan bicaranya.


"Kau tahu? Melihatmu seperti ini, rasanya aku ingin segera mengulang kembali malam itu." Deron mulai bergerak mendekati wanita hamil itu.


"Jangan coba-coba mendekatiku!" Arina refleks berjalan mundur menghindari Deron.


"Kenapa? Kenapa menghindar? Bukankah kau suka dengan semua yang sudah kita lalui? Apa salahnya jika kita mengulang kisah kita kembali? Aku janji Arina, aku janji tidak akan menyakitimu apalagi meninggalkan dirimu lagi. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku dulu." Pria bertato itu masih saja melangkah dengan santainya sambil melepaskan kancing bajunya.


"Jangan mendekatiku! Jangan macam-macam Deron!" Arina juga terus berusaha menghindar. Sayangnya tubuh mungilnya malah tertahan oleh ranjang.


"Wow ... kau bahkan sudah tahu bagaimana cara untuk menarikku." Deron langsung saja mendorong Arina hingga ia terpental ke ranjang.


"Bangsat! Jangan sentuh aku!" Arina memaki ketika tangan besar Deron mulai membelai wajah dan paha mulusnya.


"Kulitmu masih saja sangat halus! Tidak berubah sama sekali. Apa milikmu juga masih sama seperti dulu?" Deron melepaskan ikat pinggangnya.


"Pergi! Jangan sentuh aku!" Arina meronta namun kekuatan Deron lebih besar hingga pria itu berhasil mengikat kedua tangannya dengan ikat pinggang.


"Agar aku tidak penasaran, ada baiknya jika aku mencobanya sendiri." Deron menahan kedua kaki Arina agar tidak dapat menendangnya. Tangannya segera menarik pakaian Arina hingga sobek.


Tak ingin berlama-lama, bibirnya langsung menyerang bibir mungil Arina dengan buas. Sayangnya Arina memilih untuk mengatup rapat mulutnya. Matanya mulai berkaca-kaca mengingat Brennan. Rasanya ia menjadi kotor karena tubuhnya dijamah oleh pria lain meski pria itu adalah yang pertama menjamahnya dulu. Tapi saat ini diriny adalah milik Brennan, milik Brennan seorang.


"Brenn, maafkan aku." Pintanya dalam hati dengan air mata yang sudah mengalir membasahi sudut matanya.


Melihat Arina menangis, Deron mengakhiri kebrutalannya. Meski belum mendapatkan apa yang dia inginkan, ia memilih berhenti. Ada rasa bersalah saat melihat wanita di bawahnya menangis. Ada perasaan kesal dan marah karena penolakan dari Arina.


"Baru dua tahun berlalu Arina, apa begitu mudahnya kau menghapus semua tentangku dari ingatanmu?" Tanyanya lirih.


"Bahkan sehari saja cukup untuk aku melupakan bajingan sepertimu." Jawab Arina lemah tanpa menatap Deron.


"Baik! Maka aku akan memaksamu hingga kau tidak akan pernah bisa melupakanku!"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2