CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Mencoba Lagi


__ADS_3

"Kau cantik sekali, sayang." Griffith berbisik menggoda Syene yang duduk di sampingnya.


"Jangan coba-coba untuk merayuku!" Syene menunduk dan tersenyum malu-malu.


"Tidak. Tapi sungguh kau sangat cantik, aku jadi ingin cepat-cepat bisa memilikimu seutuhnya." Griffith menggenggam erat sebelah tangan kekasihnya.


"Aku milikmu Griff, sekarang dan sampai kapanpun aku hanya milikmu." Syene mengangkat kepalanya untuk menatap wajah tampan Griffith hingga pandangan mereka bertemu. Keduanya beradu pandangan cukup lama.


"Syene..." Suara Asyh menyadarkan keduanya.


"Oma, Opa." Syene segera menghampiri kedua orang tua itu dan menyambutnya.


"Cucu Opa dan Oma cantik sekali." Puji Arlen pada cucu sulungnya.


"Terima kasih Opa." Syene membantu kedua orang tua itu untuk duduk berhadapan dengan Griffith.


"Di mana aunty dan uncle mu?" Tanya Asyh bingung karena di ruang keluarga hanya ada Griffith dan cucunya.


"Entahlah, tadi mereka bilang ingin ke dapur sebentar. Mungkin sedang memeriksa para pelayan." Syene kembali duduk di samping Griffith.


"Opa, Oma." Suara centil seorang gadis menyapa Asyh dan Arlen.


"Lina, Leo." Asyh dan Arlen terlihat bahagia menyambut dua cucu mereka namun tidak dengan Syene yang hanya memasang wajah malas.


Leonard dan Lina segera duduk mengapit kakek nenek mereka.


"Hai, apa kabar?" Asyana memeluk Syene dan mengecup puncak kepala ponakannya.


"Baik aunty." Syene menjawab seadanya karena memang tak terlalu dekat dengan bibinya yang itu.


"Di mana Arlin dan Richard?" Tanya Lionel celingukan.


"Entahlah, mungkin di dapur." Jawab Arlen santai.


"Oh, ya sudah aku yang akan memanggil mereka." Asyana pun beranjak ke dapur.


Sementara menunggu Asyana, Arlin, dan Richard kembali, mereka yang ada di ruang keluarga pun berbincang santai. Syene memilih untuk lebih banyak diam karena malas dengan perkataan yang selalu menyindir dari kedua sepupunya.


"Apa Syene benar-benar akan menikah? Apa kau sudah menghamilinya?" Tanya Leonard menyindir.


"Ide yang bagus. Sayangnya aku tak pernah diizinkan menyentuhnya lebih dari sekedar berciuman." Griffith tersenyum namun tidak dengan sepasang matanya yang menyiratkan ketidaksukaan.

__ADS_1


"Oh wow...ternyata sepupu kita masih suci. Aku benar-benar bangga." Lina menimpali.


"Sudah lengkap ya?" Arlin datang dari arah dapur bersama Richard dan Asyana. Suami istri itu duduk di samping Syene sementara Asyana duduk di samping Lionel suaminya.


"Jadi apa yang membuatmu mengumpulkan kami semua di sini, Griff?" Tanya Arlen sebagai kepala keluarga dari keluarga besar itu.


"Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih karena kalian sudah berkenan menerimaku dan berkumpul di sini. Tujuanku mengajak semuanya berkumpul terutama Opa dan Oma adalah untuk menyampaikan niat baikku. Aku ingin melamar dan menikahi Syene Addison, cucu dan keponakan kalian. Aku tahu mungkin ini terkesan cepat dan mendadak, bukan karena Syene sudah hamil dan sebagainya tapi benar-benar murni karena aku mencintainya. Selama ini aku dan Syene benar-benar tak pernah melakukan hal yang melebihi batas. Aku mencintai Syene dan aku tak ingin kehilangan dia, maka dari itu aku ingin meminta restu dan persetujuan dari kalian semua untuk menikahinya. Soal pendidikannya, aku menjamin dan berjanji tidak akan menghalanginya dan justru akan mendukungnya hingga lulus bahkan jika dia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi, apa Opa, Oma, para uncle dan aunty Syene bersedia untuk memberikan restu dan izin kalian?" Griffith tersenyum manis dan terlihat sangat tenang.


"Jika itu memang bentuk keseriusanmu, kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Tapi Syene, apa kau yakin dengan keputusan kalian? Kau masih sangat muda, Opa hanya tidak ingin kau labil dalam membuat keputusan dan akan menyesal nantinya." Arlen menatap serius cucunya.


"Aku yakin Opa. Aku ingin menikah dengan Griff." Syene tersenyum menatap kekasihnya.


"Jika benar-benar sudah yakin, maka teruskan niat baik kalian. Jangan ditunda-tunda lagi." Titah Arlen tersenyum bahagia.


"Yes! Terima kasih Opa dan Oma." Griffith langsung memeluk kedua orang itu bergantian.


"Jaga cucuku dengan baik! Jangan pernah sakiti dia!" Tegas Asyh.


"Siap Oma. Aku pasti akan menjaga dan mencintai Syene dengan segenap jiwaku." Griffith tersenyum bahagia dan tampak begitu antusias.


"Sayang, kita akan menikah." Griffith beralih memeluk kekasihnya yang juga terlihat sangat bahagia.


"Nah, niat baik sudah disampaikan dan disetujui bukan? Sekarang urusan perut jangan kita lupakan." Richard beralih membantu Asyh dan Arlen berdiri.


"Ayo Pa, Ma." Richard dan Lionel membantu kedua mertua mereka untuk melangkah sementara yang lainnya mengikuti dari belakang kecuali Lina dan Leonard.


"Hei, kalian tidak ikut?" Ajak Arlin yang berbalik melihat kedua keponakannya masih bersantai.


"Tidak, kalian saja dulu. Kami masih belum lapar." Jawab Lina santai.


Arlin pun berbalik menyusul yang lainnya ke dapur.


"Hei, kau lihat 'kan bagaimana dia terus berpura-pura seolah dia benar-benar suci? Aku tidak mau dia bahagia karena berbohong." Lina menatap kakaknya memelas.


"Benar. Kita harus pikirkan cara untuk membuatnya tidak bahagia. Tapi apa imbalanmu jika kita berhasil?" Leonard tersenyum tak mau rugi.


"Seorang gadis dan sejumlah uang untukmu agar kau bisa membeli banyak barang illegal itu." Tawar Lina.


"Deal! Aku akan memikirkan satu rencana paling baik untuk menghancurkannya." Leonard tersenyum licik dan jahat.


•••••

__ADS_1


"Syene, kau masih demam?" Tanya Arlin memecah keheningan.


"Sudah tidak terlalu lagi aunty." Syene tersenyum pada bibinya.


"Syukurlah. Makan yang banyak agar kau segera pulih." Usul Arlin mengambilkan sayur dan lauk untuk Syene.


"Terima kasih. Aunty juga makan yang banyak." Syene balas mengambilkan sayur dan lauk untuk Arlin.


"Kau sakit?" Griffith berbisik.


"Hanya sedikit demam tadi pagi." Syene menjawab singkat.


"Kenapa tidak bilang?" Griffith terlihat khawatir.


"Sudahlah, jangan membahas hal yang tidak penting dulu. Ayo makan yang benar." Syene menatap sedikit tajam kekasihnya dan mau tak mau Griffith pun menurut.


Semuanya kembali menikmati hidangan di atas meja tanpa obrolan. Namun bukan berarti mereka tidak menikmati acara itu. Selesai makan bersama, masing-masing dari mereka mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Syene memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat.


"Sayang?" Griffith membuka pintu kamar Syene perlahan.


"Griff? Kenapa bisa masuk?" Tanya Syene sedikit terkejut. Griffith melepas sepatunya dan ikut berbaring di samping Syene.


"Aku sudah meminta izin tadi. Kau sungguh sudah baik-baik saja?" Tanya Griffith khawatir.


"Em...hanya masih sedikit lemas saja." Syene tersenyum meyakinkan.


"Boleh aku mengunci pintu kamarmu?" Tanya Griffith lembut.


"Em..." Syene mengangguk pelan. Griffith segera turun dari ranjang dan dengan cepat mengunci pintu kamar Syene dengan kunci yang tergantung di dekat pintu.


"Aku merindukanmu, sayang." Griffith segera menyergap bibir mungil Syene yang sudah menjadi candunya.


Syene memejamkan matanya menerima pagutan panas dari calon suaminya. Keduanya selalu menikmati momen intim mereka dalam bentuk apapun. Bibir Griffith mulai berpindah ke leher Syene hingga membuat gadis itu melenguh pelan.


"Griff, jangan sekarang!" Pinta Syene berusaha untuk menyadarkan diri meski tubuhnya sudah tak mampu menolak setiap sentuhan Griffith.


"Maaf, aku benar-benar tak bisa mengendalikan diri lagi. Tapi aku mencoba lagi." Griffith menyudahi aksinya dan merapikan penampilan Syene.


"Griff, aku ingin menemui Arina."


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2