CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Menjemputmu


__ADS_3

"Kau yakin tak ada yang mengikuti kita 'kan?" Syene bertanya memastikan.


"Tenanglah sayang. Tak ada yang mengikuti kita, aku sudah mengatur semuanya dengan baik dari jauh hari." Griffith mengelus pipi Syene dan tersenyum meyakinkan.


"Aku hanya tidak ingin ada orang-orang Brennan yang diam-diam menyelinap di antara bawahanmu. Aku tidak mau dia kembali menyakiti Arina." Khawatir Syene.


"Tenanglah. Jika memang ada pengkhianat di antara bawahanku, aku akan melindungi Arina lebih ketat lagi. Aku tidak akan biarkan siapapun menyakiti orang-orang yang kau sayangi." Tegas Griffith yakin.


"Semoga saja tidak ada." Gumam Syene dengan perasaan yang tetap saja tak tenang sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mobil mereka.


"Kita sampai." Griffith berhenti di depan sebuah rumah sederhana bergaya minimalis modern di tengah padang ilalang. Tampak sepi dan tak ada pengawal satu pun, namun itu hanya penampakan palsu.


"Ayo masuk." Griffith menuntun Syene keluar dari mobilnya. Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah itu.


"Arina?" Sapa Syene begitu kakinya menginjak ke dalam rumah itu.


"Syene, aku di sini." Suara lemah Arina menjawab dari arah dapur.


"Astaga, kau kenapa?" Syene terkejut melihat kondisi Arina yang memprihatinkan. Wajahnya begitu pucat dan ia terlihat sangat lemah.


"Mual dan muntah. Hanya itu yang bisa kulakukan selama sebulan lebih ini." Arina terduduk lemas di lantai dapurnya.


"Astaga, parah sekali efek kehamilanmu. Ayo, duduk di kursi." Syene membantu sepupunya untuk berpindah tempat dibantu Griffith.


"Minum dulu." Gadis bermata biru itu memberikan segelas air kepada Arina.


"Aku lelah. Janin itu begitu menyiksaku, aku tidak menginginkannya." Ujar Arina lemah.


"Jangan! Jangan sakiti janinmu! Dia sama sekali tidak bersalah dalam hal ini." Titah Syene tegas.


"Tapi aku tak pernah menginginkannya. Dia hanya akan menjadi sumber masalah untukku." Arina sedikit berteriak.


"Arina, tetap saja dia tidak bersalah. Jangan bertindak bodoh! Kau bisa menyesalinya nanti." Syene memeluk adiknya berharap bisa membuatnya sedikit lebih tenang.


"Aku benci! Benci dengan hidupku yang sudah tidak ada gunanya. Masa depan yang impikan dan rencanakan sudah hancur." Arina terisak memukuli dadanya sendiri.


"Arina, jangan seperti ini! Tidak semua yang terlihat buruk akan selamanya buruk." Syene berusaha menangkap kedua tangan adiknya agar Arina berhenti memukuli dirinya sendiri. Griffith turut prihatin namun ia juga tak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


"Sudah ya! Jangan menangis lagi. Kita pikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini tapi jangan sampai kau bunuh bayi ini." Syene melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata Arina.


"Aku lelah, ingin tidur." Arina memelas.


"Ya sudah, aku antar ke kamar." Syene beranjak dari duduknya kemudian menuntun adiknya perlahan menuju ke kamar.


"Istirahatlah." Syene menyelimuti Arina yang sudah berbaring. Ia keluar setelah Arina tak merespon apapun ucapannya.


"Sayang, aku rasa Brennan perlu tahu hal ini." Ujar Griffith dengan hati-hati. Takut jika menyinggung perasaan kekasihnya.


"Aku rasa juga begitu. Bayi itu tidak bersalah dan Brennan berhak tahu tentang bayinya. Tapi untuk saat ini kondisi Arina tidak memungkinkan." Syene memeluk calon suaminya dengan perasaan sedih.


"Kita tunggu sampai Arina sedikit lebih tenang. Setelah itu kita bicarakan baik-baik dengannya." Usul Griffith. Syene hanya mengangguk menanggapi usul dari kekasihnya.


"Aku ingin membuatkan makanan untuk Arina." Syene melepaskan diri dari Griffith dan kembali melangkah ke dapur.


"Biar aku bantu." Pria dewasa itu segera menyusul langkah mungil Syene.


•••••


"Tuan, kami sudah menemukan keberadaan Nona Arina. Dia ternyata tidak pergi sama sekali dari negara ini. Hanya bersembunyi saja." Ujar Jim.


"Benar Brenn, kali ini aku tak akan salah lagi." Yakin Jim.


"Baik! Kita ke sana malam ini juga! Aku harus segera menjemputnya kembali ke sisiku." Titah Brennan.


"Baik. Aku siapkan semuanya." Jim keluar dari ruangan Brennan meninggalkan pria itu sendiri bersama sebuah foto Arina yang berukuran besar.


"Arina! See, bukankah aku akhirnya bisa menemukanmu juga? Kau sangat tidak pandai bersembunyi, sayang." Brennan menyunggingkan seringai menakutkan.


"Tunggu aku! Aku akan menjemputmu kembali." Ia berdiri dari duduknya, merapikan penampilannya, kemudian keluar dari ruangannya membawa pistol kesayangannya.


•••••


"Akhirnya jadi juga." Syene tersenyum girang melihat hasil masakannya bersama Griffith.


"Kenapa jadi banyak begini?" Griffith menggaruk tengkuknya melihat hasil masakan mereka yang ternyata cukup banyak.

__ADS_1


"Sudah tidak apa. Arina memang harus banyak makan sekarang." Syene melepaskan appron yang ia kenakan.


"Aku panggil Arina dulu, kau siapkan sisanya. I love you." Syene mengecup pipi kekasihnya sebelum akhirnya berlari kecil ke kamar Arina.


"Calon istriku semakin agresif sekarang." Griffith tersenyum sambil menyiapkan peralatan makan yang akan mereka gunakan. Ia duduk lebih dulu sambil menunggu Syene dan Arina ikut bergabung.


Beberapa menit kemudian akhirnya kedua perempuan itu ikut bergabung. Wajah Arina tampak sedikit lebih segar meski masih sama pucatnya. Arina tampak sedikit lebih bersemangat dan berbinar melihat begitu banyak makanan di depannya.


"Ayo dimakan. Makan apapun yang kau inginkan." Syene berinisiatif mengambilkan makanan untuknya.


"Terima kasih Syene. Kau memang yang terbaik." Arina segera melahap makanannya.


"Jangan lupakan kakak iparmu!" Ujar Griffith bercanda.


"Ya ya, kalian yang terbaik." Arina akhirnya tersenyum dan kembali melahap makanannya.


Ketiga orang itu makan dengan lahap diiringi dengan candaan ringan. Arina yang tadi lemah tak berdaya, kini terlihat jauh lebih baik. Ia bahkan ikut tertawa saat Griffith maupun Syene melemparkan candaan garing.


"Wow...seru sekali ya?" Suara seorang pria membuatnya ketiganya sontak terdiam.


"Kau? Kenapa bisa di sini?" Tanya Syene terkejut. Syene dan Griffith cukup terkejut dengan kedatangan Brennan sementara Arina yang tadi sudah tampak lebih baik kini kembali pucat.


"Aku? Tentu saja untuk menjemput milikku." Brennan berdiri di belakang Arina dan memegang kedua pundak Arina.


"Aku merindukanmu, sayang." Bisik Brennan lalu mencium pipi Arina.


"Masih ada yang tersisa 'kan? Aku juga lapar setelah perjalanan jauh." Pria berpakaian serba tertutup itu kemudian duduk di samping Arina dan tanpa malu ikut menikmati makanan yang terhidang di depannya.


"Ayo, makan yang banyak sayang. Kau terlihat lebih kurus." Brennan berinisiatif menyuapi Arina. Perempuan yang tengah hamil muda itu tampak ragu untuk menerima namun tidak dengan tubuhnya yang merespon baik apa yang Brennan ucapkan. Bibirnya terbuka untuk menerima suapan dari pria di sampingnya.


"Benar-benar tidak tahu malu." Gumam Syene sedikit kesal.


"Sudahlah! Biarkan saja mereka, aku rasa kedatangannya tidak terlalu buruk untuk Arina. Lihat saja reaksi alami tubuh Arina, dia menerima Brennan." Sahut Griffith ikut berbisik.


"Awas saja jika sampai dia menyakiti adikku apalagi keponakanku." Syene meremas sapu tangan yang ada di dekatnya.


"Tenang saja. Brennan tahu cara untuk menaklukkan Arina." Griffith sedikit terkekeh melihat ekspresi calon istrinya.

__ADS_1


"Semoga saja kau benar."


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2