
"Syene, baru bangun?" Tanya Arlin yang sibuk di dapur.
"Iya aunty. Tadi malam aku lembur mengerjakan tugasku. Hoam..." Jawab Syene sambil menguap.
"Mengerjakan tugas atau mengerjakan yang lainnya?" Celetuk Arlin menggoda keponakannya.
"Benar-benar mengerjakan tugas aunty. Aku bahkan sudah mematikan ponselku selama dua hari agar bisa fokus pada tugasku." Syene mengangkat tangannya dan membentuk jari-jarinya seperti seseorang yang tengah bersumpah.
"Baguslah jika kau bisa lebih mementingkan pendidikanmu. Ingat, dengan siapapun kau dekat atau menjalin hubungan kau harus bisa menjaga dirimu." Peringat Arlin.
"Siap aunty. Aunty tenang saja." Syene tersenyum manis dan begitu ceria.
"Arina menitipkan kue ini untukmu. Tadi subuh dia bangun untuk membuatnya dan itu khusus bagianmu." Arlin menunjuk sebuah wadah yang berisi kue brownies.
"Ah...Arina memang yang paling baik." Syene begitu girang dan langsung mengambil kuenya dan menyantapnya.
"Sudah satu minggu ini aunty lihat tidak pulang diantar oleh temanmu itu. Bertengkar?" Tanya Arlin menyelidik.
"Tidak. Dia sedang sibuk dengan proyek besar perusahaannya jadi biarkan saja dia bekerja agar aku juga bisa fokus belajar." Syene begitu asyik menikmati kue buatan Arina.
"Ya sudah, aunty mau bawa ini untuk uncle Ric dulu. Kau di rumah baik-baik ya, jika mau keluar kabari aunty." Arlin beranjak dari dapur.
"SYENE! SYENE DI MANA KAU?" Griffith datang sambil berteriak heboh. Ia bahkan masuk ke dalam mansion itu tanpa permisi.
"Hei, ada apa? Kenapa kau masuk tanpa izin dan ribut-ribut seperti ini?" Tanya Arlin menghentikan langkah Griffith.
"Nyonya, aku ingin bertemu dengan Syene? Apa dia di dalam?" Tanya Griffith terlihat begitu tak tenang.
"Syene, ini temanmu?" Tanya Arlin memanggil kemenakan kesayangannya.
"Iya aunty." Syene cengengesan menghampiri keduanya.
"Kau kenapa ke sini? Juga kenapa teriak-teriak seperti itu? Memalukan." Tanya Syene mencubit-cubit Griffith.
"Kenapa dua hari ini aku tidak bisa menghubungimu sama sekali? Kau sengaja menghindar ya?" Griffith memegang kedua pundak Syene dan terlihat sangat marah.
"Aku bukan menghindar Tuan Griffith yang terhormat. Tapi tugas kuliahku menumpuk makanya aku harus fokus mengerjakannya." Jawab Syene dengan tenang.
"Aku minta kau tinggal bersamaku kau tidak mau. Kau benar-benar tidak apa-apa 'kan?" Keluh Griffith manja serta memutar-mutar tubuh mungil Syene.
"Tidak tidak! Itu tidak boleh minimal sampai aku lulus kuliah. Dan aku baik-baik saja." Tegas Syene tanpa kompromi.
"Ck...anak zaman sekarang. Masalah kecil dibesar-besarkan seperti ini." Arlin yang sudah tahu pokok permasalahannya pun beranjak meninggalkan keduanya.
"Kau sudah makan? Sepertinya baru bangun tidur ya?" Griffith menelisik penampilan Syene.
"Baru bangun tidur. Tadi malam aku tidur jam dua dini hari." Syene berbalik dan kembali ke dapur.
__ADS_1
"Rumahmu sepi sekali? Apa semuanya sedang keluar?" Griffith memantau keadaan sekitar.
"Hanya terlihat sepi! Kau jangan macam-macam jika masih mau keluar dari sini hidup-hidup." Peringat Syene.
"Aku merindukanmu." Griffith memeluk manja gadisnya.
"Aku tidak." Syene merespon dengan angkuh.
"Kau sungguh tidak?" Griffith melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh.
"Ya, sungguh tidak merindukanmu." Syene mengangguk yakin.
"Ya ya, baiklah. Aku pergi kalau begitu." Griffith merajuk dan melangkah meninggalkan Syene.
"Hei, pintu keluar di sebelah sana!" Pekik Syene menunjuk ke arah pintu utama mansion karena Griffith malah mau menaiki tangga.
"Aku keluar dengan cara melompat." Griffith menghilang ke dalam salah satu kamar yang ada di lantai dua.
"Pria ini benar-benar tidak tahu malu." Syene segera menyusul Griffith.
"Kenapa masuk sembarangan? Bagaimana jika salah kamar?" Syene terlihat kesal dan duduk di kursi belajarnya.
"Tapi firasatku selalu benar." Yakin Griffith tersenyum penuh kemenangan.
"Aku merindukanmu." Griffith tiba-tiba mengangkat tubuh mungil Syene dan membaringkan Syene di atas tempat tidur gadis itu.
"Griff jangan macam-macam!" Titah Syene melotot pada pria yang kini sedang menindihnya.
Sepasang daging kenyal itu awalnya hanya menempel, namun perlahan Griffith mulai menuntut lebih dan menuntun Syene membuka mulutnya. Pria dewasa itu menikmati bibir mungil Syene yang sudah menjadi candunya dengan begitu rakus. Membawa kedua tangan Syene memeluk leher kekarnya. Membuat Syene terbang tinggi ke awan hanya dengan ciuman panas yang ia berikan pada gadisnya.
"Griff...engh..." Syene melenguh tertahan tatkala bibir Griffith mulai berpindah ke leher jenjangnya sementara kedua tangan Griffith mulai berani menggerayangi bagian-bagian sensitif tubuh Syene.
"Griff stop! Ini sudah terlalu jauh." Bentak Syene kesal dan segera mendorong Griffith hingga terbaring di sampingnya.
"Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa lebih jauh dari ini. Banyak perasaan orang-orang yang menyayangiku yang harus aku jaga. Kau mau marah silakan, tapi tolong hargai keputusanku." Ucap Syene tegas.
"Gadis ini benar-benar menyebalkan. Tapi kenapa aku malah semakin tergila-gila padanya?" Batin Griffith tersenyum tipis.
"Aku minta maaf." Pinta Griffith menarik Syene hingga didekap erat olehnya.
"Aku janji akan belajar lebih keras untuk mengontrol diriku." Ucap Griffith sungguh-sungguh.
"Em..." Syene hanya berdeham singkat.
"Aktifkan ponselmu sekarang!" Titah Griffith meraih ponsel Syene dari atas nakas dan memberikannya pada Syene.
"Ada apa memangnya?" Gumam Syene dengan malas menghidupkan ponselnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian ponsel Syene berbunyi tanpa henti. Puluhan bahkan ratusan pesan singkat dan chat masuk. Dari nada deringnya saja Syene sudah tahu itu siapa karena Griffith yang memasang nada khusus itu untuk dirinya sendiri.
"Sebanyak ini pesanmu? Apa kau sekhawatir itu padaku?" Syene menatap curiga pada pria yang sedang memeluknya erat.
"Ck...masih bertanya. Harus dengan cara apalagi agar kau bisa yakin padaku, pada perasaanku?" Griffith terlihat tidak senang dengan pertanyaan Syene.
"Haha..maaf maaf. Ya siapa yang bisa percaya begitu saja, kita baru mengenal selama satu minggu lebih beberapa hari. Tapi kau sudah seserius ini, rasanya seperti mimpi." Ungkap Syene cengengesan.
"Mimpi bagimu tapi nyata untukku. Syene aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, aku minta tolong percaya padaku." Griffith seolah kehabisan akal untuk menghadapi gadisnya.
"Iya iya, aku percaya. Sebentar, tumben sekali si jahat ini menghubungiku." Syene segera mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Syene malas.
" ... "
"Yang benar saja? Apalagi rencana jahat kalian?"
" ... "
"Ya sudah, kirimkan alamatnya nanti aku akan ke sana." Syene memutus panggilan itu sepihak.
"Siapa?" Griffith menatap curiga pada Syene.
"Sepupuku yang bernama Lina. Dia mengajakku makan malam katanya untuk meminta maaf atas perlakuan jahatnya padaku." Jawab Syene malas memperhatikan alamat yang Lina kirimkan padanya.
"Alamat ini bukannya?" Griffith terlihat kaget dengan alamat yang tertera di ponsel Syene.
"Kau tahu tempat ini?" Tanya Syene curiga.
"Hanya tempat hiburan. Hati-hati jika jadi pergi, hubungi aku jika terjadi sesuatu." Griffith tersenyum tapi tidak dengan otaknya.
"Baik Tuan Griffith yang tersayang." Syene menyimpan ponselnya dan memutuskan untuk bermanja dengan pria yang sudah bisa dikatakan sebagai kekasihnya itu.
••••••
"Tenang saja uncle, malam ini aku akan memberikan mainan baru untukmu." Ucap Lina tersenyum lebar.
"Kau benar-benar yang terbaik sweety. Tidak hanya tubuhmu yang nikmat untuk dicicipi, tapi otakmu juga selalu punya sejuta cara untuk menyenangkanku." Sahut seorang pria paruh baya yang sedang memeluk erat Lina. Keduanya dalam keadaan tidak mengenakan pakaian sama sekali.
"Ini Lina, uncle. Lina tidak akan pernah mau mengecewakan orang-orang yang sudah memanjakan dan menyayangi Lina. Ayo, kita lanjut dua kali lagi." Ajak Lina langsung berinisiatif mencumbu pria yang lebih layak untuk menjadi Ayahnya itu.
Keduanya kembali melakukan hubungan terlarang itu untuk kesekian kalinya. Saling memberikan kepuasan meski keduanya bukanlah pasangan sah. Lina begitu lihai memberikan layanan untuk pria tua di bawahnya bahkan ia tidak terlihat jijik sedikitpun. Dirinya begitu menikmati tugasnya untuk memuaskan pria hidung belang itu.
"Syene, sebentar lagi aku berbagi kenikmatan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya. Setelah itu kita lihat, apakah keluarga kita masih akan menganggapmu sebagai malaikat? Atau mereka akan membuangmu jauh dari keluarga Addison."
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1
#####
Ada yang mau mutilasi si Lina mungkin? Silakan silakan.