
"Apa ini tempatnya?" Gumam Syene bertanya-tanya. Ia sekarang tengah berada di depan sebuah gedung yang terlihat seperti hotel tapi keadaan sekitarnya agak sepi.
"Nona permisi, apa alamat ini benar di sini?" Tanya Syene pada seorang gadis yang kebetulan melewatinya.
"Benar. Ini tempatnya." Gadis yang ia tanyai itu kemudian beranjak tanpa menunggu respon balik dari Syene.
"Mungkin sebaiknya aku masuk untuk melihat apa lagi rencana si jahat itu." Syene akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung bertingkat di depannya.
Hal pertama yang Syene lihat adalah resepsionis. Ia akhirnya memutuskan untuk bertanya lagi.
"Permisi, aku ke sini mencari seorang gadis bernama Lina. Dia memberikan kode ini untukku." Syene menunjukkan layar ponselnya pada si resepsionis.
"Oh itu adalah nomor kamar. Mari aku antarkan." Pria berseragam itu pun beranjak menuntun Syene menuju kamar yang dimaksud.
Syene mulai merasakan keanehan. Sepertinya sepupunya itu kembali merencanakan sesuatu, namun ia tidak bisa menebak apa sebenarnya yang Lina rencanakan.
"Silakan Nona, langsung masuk saja." Sang resepsionis tadi kemudian meninggalkan Syene di depan pintu kamar.
Syene tidak langsung masuk. Ia memutuskan untuk menekan bel yang ada di depan pintu kamar. Menunggu cukup lama hingga pintu kamar itu terbuka.
"Oh hai Syene." Lina begitu ramah menyambut Syene.
"Ck...kenapa kau menyuruhku datang ke tempat seperti ini?" Tanya Syene kesal.
"Ya ampun, jangan marah-marah begitu! Ayo masuk dulu." Lina menarik Syene ikut masuk ke dalam kamar itu.
"Sebaiknya cepat katakan apa maumu! Aku tidak nyaman berada di sini lama-lama." Titah Syene ketus.
"Duduk dulu dan kita nikmati waktu bersama dulu." Lina menuntun Syene duduk di sofa yang tersedia.
"Ini makanan untuk kita, silakan dinikmati." Ujar Lina mulai menyantap daging steak miliknya.
"Aku tidak begitu suka dengan hidangan berbahan utama daging. Sebaiknya kau katakan saja apa maumu!" Syene kembali bertitah ketus.
"Hah...kau ini benar-benar tidak bisa diajak bersenang-senang. Baiklah jika kau hanya ingin bersenang-senang sendirian." Lina beranjak dari tempat duduknya.
"Aku pergi dulu uncle Tony. Nikmati mainan barumu malam ini." Ucap Lina dengan suara meninggi.
Sebelum Lina benar-benar keluar dari kamar itu, muncul seorang pria berumur dari dalam ruangan yang bisa Syene tebak itu adalah kamar mandi.
"Lina kau mau ke mana? Kembali kau!" Pekik Syene seketika merasa takut. Pria yang menghampirinya itu hanya mengenakan boxer.
"Jangan takut sweety. Aku tidak menyangka kau ternyata jauh lebih cantik dari Lina." Ucap pria tua di depannya.
"Kau sudah salah orang!" Syene hendak pergi namun pria bernama Tony itu langsung menariknya dan mendorongnya hingga terbaring di sofa.
"Ck...mana mungkin aku salah orang. Kau datang yang datang sendiri padaku." Tony mulai membelai wajah Syene.
"Jangan pernah menyentuhku!" Titah Syene.
__ADS_1
BUKK
Syene menendang pusaka Tony dengan sangat kuat.
"ARGHHH....GADIS MURAHAN KEMBALI KAU!" Teriak Tony sambil mengerang kesakitan dan memegangi pusakanya.
Syene bersyukur karena pintu kamar itu tidak dikunci dari luar sehingga ia bisa dengan mudah keluar. Tapi sayang, perjuangannya sepertinya hanya sia-sia karena ada dua pria berbadan besar yang menghadang langkahnya.
"Minggir!" Geram Syene.
"Jangan berharap kau bisa keluar dari tempat ini dengan selamat!" Ucap seorang pria itu lalu mendorong Syene masuk ke dalam kamar lagi.
"Brengsek! Keluarkan aku!" Teriak Syene.
"Jangan berteriak sekarang karena permainan kita belum dimulai." Tony menarik Syene lalu mendorong gadis itu hingga tersungkur di lantai.
PLAK PLAK
Tony menampar Syene dua kali di pipi kanan dan kirinya. Syene menitikkan air mata merasakan perih yang teramat sangat di pipinya. Ia tidak pernah menyangka kalau Lina akan sejahat ini hingga tega menjual dirinya pada pria hidung belang.
"Jangan menyentuhku!" Syene memberontak ketika Tony mengungkung tubuh kecilnya.
"Ck...mulutmu sepertinya sangat suka berteriak. Baiklah, aku akan membuatmu berteriak sepuasnya malam ini." Tony tersenyum miring berusaha untuk mencumbu Syene.
"Lepaskan aku! Lepas!" Syene kembali berhasil menendang pusaka milik Tony.
"Aargh...sialan!" Tony mengumpat tapi Syene berhasil lolos. Sayangnya kali ini sepertinya dewi fortuna tak berpihak padanya Pintu kamar dikunci dari luar hingga Syene tak bisa lari dengan mudah.
"Kena kau!" Tony berhasil menarik tangannya lagi. Ia menyeret Syene dan melempar Syene ke atas ranjang.
"Aku pasti akan menghabisimu malam ini!" Guman Tony mulai melancarkan aksinya.
BRAKKK
Pintu kamar dibuka paksa dari luar.
"Siapa kau berani sekali ingin mengganggu kesenanganku?" Tanya Tony gelagapan.
"Siapa aku itu tidak penting! Tapi gadis yang ingin kau sakiti itu adalah milikku!" Sang pria yang adalah Griffith mengayunkan tongkat baseball di tangannya.
"Griff!" Syene segera menggunakan kesempatan yang ada untuk berlari dan bersembunyi di belakang Griffith.
Griffith tersenyum dan berbalik. Satu tangannya menangkup pipi Syene yang memar karena ulah Tony.
"Tutup matamu dan tutup telingamu!" Titah Griffith tersenyum mengerikan.
Syene mengangguk dan segera melakukan perintah Griffith padanya. Griffith menepuk beberapa kali puncak kepala gadisnya sebelum berbalik. Kilatan kemarahan terpancar jelas dari sorot mata Griffith. Tony sudah salah mencari musuh.
"Pergi kau! Aku kembalikan perempuan itu padamu!" Usir Tony ketakutan.
__ADS_1
"Bukankah ingin bermain? Ayo bermain!" Ujar Griffith menyeringai.
Griffith mengayunkan tongkat baseball di tangannya dan dalam satu kali pukulan, tongkat itu sudah bersarang di kepala Tony.
"Kau salah mencari rival, tua bangka. Seharusnya kau nikmati masa tuamu bersama anak-anak dsn istrimu, sayangnya kau lebih bahagia mati dalam keadaan seperti ini." Griffith menendang kepala Tony yang sudah beralaskan darah.
"Ayo sayang." Ajak Griffith menggendong Syene.
"Griff, dia?" Syene sempat mengintip dan kembali menutup rapat kedua matanya setelah melihat Tony terbujur kaku bersimbah darah.
"Dia hanya tertidur. Besok akan bangun di tempat seharusnya dia berada. Sekarang tutup kembali matamu karena malam ini aku tidak membawa motor." Titah Griffith pada kekasih hatinya.
"Aku tidak mau naik mobil." Tolak Syene takut.
"Kau akan baik-baik saja karena ada aku yang akan menjagamu. Cukup pejamkan matamu dan fokuskan pikiranmu padaku!" Ujar Griffith tersenyum.
Syene akhirnya mengangguk dan melaksanakan perintah dari Griffith. Griffith membawanya masuk ke dalam mobil dan duduk dengan posisi Syene di pangkuannya.
"Kembali ke mansion!" Titah Griffith pada sopirnya.
Sang sopir pun segera menjalankan mobil sesuai perintah bosnya. Sepanjang perjalanan Syene memeluk erat Griffith. Gadis itu benar-benar ketakutan tapi bedanya kali ini ia jauh lebih tenang.
"Apapun yang menbuatmu takut untuk naik mobil, aku yakin kau bisa melawannya. Aku akan menemanimu untuk melawannya bersama-sama." Batin Griffith memperhatikan Syene.
Selang satu jam mereka akhirnya sampai di mansion Griffith. Pria itu tetap menggendong Syene dan keluar dari mobil dengan berhati-hati. Ia membawa Syene masuk ke dalam mansion langsung menuju ke kamarnya.
"Ini bukan rumahmu yang biasanya?" Tanya Syene bingung.
"Ini rumah kita." Jawab Griffith tegas.
"Jangan banyak bergerak." Pria dewasa itu membaringkan Syene di ranjangnya.
Ia berjalan ke pojok ruangan di mana terdapat sebuah lemari pendingin berukuran sedang. Griffith mengambil satu kantong kompres dari lemari pendingin.
"Biar aku kompres pipimu." Pinta Griffith dan Syene mengangguk pasrah.
"Griff, aku minta maaf karena sudah ceroboh." Syene menatap Griffith penuh penyesalan.
"Bukan salahmu. Aku pasti akan menghukum siapapun yang sudah berani menyakitimu." Griffith tersenyum pada gadisnya.
"Aku tahu kau pasti akan datang untuk membawaku pergi." Syene tiba-tiba memeluk Griffith.
"Aku akan selalu ada untuk menjaga dan melindungimu kapanpun dan di mana pun." Griffith juga memeluk Syene tak kalah eratnya.
"Terima kasih." Ucap Syene terharu.
"Tinggallah di sini malam ini. Nanti aku yang akan menyampaikan pada keluargamu." Pinta Griffith dan langsung diangguki oleh Syene.
"Aku buatkan makanan untukmu, kau istirahat saja dulu." Griffith melepaskan pelukannya dan beranjak keluar dari kamar.
__ADS_1
"Griff, kau membuat hatiku menginginkanmu menjadi milikku."
...~ TO BE CONTINUE ~...