
"Tuan, aku mendapatkan kabar kalau pria tua itu masih hidup." Ungkap Drex yang sedang berhadapan dengan Griffith.
"Wow...aku terkejut. Tapi bukankah itu lebih bagus?" Griffith menampilkan seringai menakutkan.
"Maksud Tuan adalah?" Drex terlihat sedikit bingung dengan pemikiran Tuannya. Bukankah jika Tony masih hidup, Syene bisa saja masih berada dalam bahaya?
"Jika dia masih hidup, maka dia pasti akan menuntut pertanggungjawaban dari perempuan ja**ng itu. Aku ingin kau pantau terus pergerakan mereka terutama perempuan ja**ng yang berusaha menjebak gadisku. Kumpulkan semua hal buruk yang bisa kau kumpulkan tentang dia. Jika sampai dia berani menyakiti Syeneku lagi, aku akan pastikan hidupnya akan hancur dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan." Titah Griffith memberi perintah.
"Baik Tuan. Tuan, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Drex tersenyum malu-malu.
"Apa? Kenapa wajahmu jadi konyol seperti itu?" Griffith mengernyit bingung.
"Apa Tuan mencintai Nona Syene?" Tanya Drex tersenyum konyol.
"Ah soal itu ya? Aku tidak mencintainya, tapi lebih dari mencintainya aku ingin bersamanya dan mengikatnya terus di sampingku. Aku sudah bukan anak remaja yang harus mengatakan 'aku mencintaimu' untuk membuktikan perasaanku padanya. Sudahlah jika kau tidak ada hal penting lagi, kau bisa keluar untuk mengerjakan tugasmu. Sekalian kau juga bisa mencari seorang gadis untuk kau kencani." Griffith mengusir orang kepercayaannya.
"Baik Tuan. Aku akan segera menyelesaikan semua tugas darimu." Drex membungkuk dan berbalik keluar dari ruangan kerja Griffith.
"Oh Nona Syene, apa kabar?" Tanya Drex yang berpapasan dengan Syene di depan pintu.
"Aku baik." Syene hanya memberikan jawaban singkat lalu masuk ke dalam ruangan Griffith.
"My girl, kau datang." Griffith segera menghentikan pekerjaannya dan menyambut Syene.
"Aku merindukanmu, Griff." Syene segera memeluk erat pria dewasanya.
"Akhirnya Syeneku merindukanku juga. Sepertinya usahaku tidak sia-sia ya?" Griffith terkekeh menggoda kekasihnya.
"Ih kau ini..." Syene malah mengeratkan pelukannya pada Griffith.
"Apa kau masih sakit?" Tanya pria bermata emerald itu.
"Tidak. Setelah beberapa hari istirahat, sekarang sudah jauh lebih baik." Syene akhirnya melepaskan pelukannya.
"Sudah makan?" Griffith kembali bertanya.
"Ah soal itu. Aku membawakan makan siang untukmu." Syene mengangkat rantang makanan yang ia bawa.
"Wow...apakah kekasih kecilku ini sedang ingin merayuku?" Griffith sedikit membungkuk hingga wajah mereka menjadi sangat dekat.
__ADS_1
"Lebih dari merayumu, aku ingin menyenangkan hatimu." Syene segera 'melarikan diri' sebelum Griffith mengambil kesempatan darinya.
Ia membuka dan melepaskan mangkuk rantangnya satu persatu dan menyusunnya di meja sofa.
"Semoga rasanya tidak buruk." Syene tersenyum malu-malu.
"Rasanya pasti akan lezat." Griffith duduk di samping kekasihnya dan mulai menyantap bekal yang dibawakan Syene.
"Bagaimana?" Tanya Syene begitu antusias menunggu penilaian Griffith.
"Em...semuanya enak hanya omeletnya sedikit asin." Jawab Griffith jujur.
"Aku sudah mengiranya." Syene mendengkus kesal.
"Kenapa?" Griffith mengernyit bingung.
"Saat aku memasak omeletnya tadi, Arina selalu menggodaku hingga aku hilang fokus." Syene memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah, tidak buruk juga hanya sedikit asin saja." Griffith mengelus kepala gadisnya dengan lembut.
"Oh iya, akhir bulan ini keluargaku mau liburan ke Bali. Apa kau mau ikut?" Syene mengedipkan matanya.
"Sepertinya tidak bisa sayang. Biasanya akhir bulan menjadi hari-hari yang sibuk untukku." Griffith menampilkan raut penyesalan.
"Mungkin nanti kita berbulan madu ke sana." Griffith mengedipkan matanya untuk menggoda gadis kecilnya.
"Siapa juga yang mau menikah denganmu?" Syene melipat tangannya di depan dadanya dengan angkuh.
"Dua sampai tiga tahun dari sekarang kita lihat saja bagaimana caramu menolak seorang iblis bernama Griffith Akayama." Griffith tersenyum miring.
"Akayama? Ya ampun aku baru sadar kau keturunan Jepang." Syene menepuk-nepuk keningnya.
"Jepang-Amerika tepatnya. Ngomong-ngomong aku sudah kenyang, apa tidak ada dessert?" Griffith meneguk air mineral yang Syene taruh di meja.
"Tidak ada. Aku lupa membuatnya." Syene menyusun dan merapikan alat-alat makan yang Griffith gunakan barusan.
"Karena niatmu setengah-setengah untuk menyenangkan hatiku, kau harus aku hukum." Griffith menggeser tubuhnya hingga duduk begitu dekat dengan Syene.
Pria berkulit coklat muda itu menghentikan pergerakan tangan Syene yang sedang sibuk. Tanpa banyak berkata Griffith segera mengunci bibir kekasihnya dengan miliknya. Awalnya Syene terkejut dengan ciuman mendadak dari prianya, namun Syene kemudian menerima Griffith dengan baik. Pria berambut ikal itu begitu lihai membawa Syene hanyut dalam gelombang panas yang ia ciptakan. Membuat gadis lugu itu menjadi sedikit lebih liar saat bersamanya.
__ADS_1
"Dessert termanis yang pernah aku nikmati." Griffith membersihkan sisa-sisa kekacauan pada bibir Syene.
"Kenapa kau selalu saja berbuat mesum padaku?" Syene mencubit lengan Griffith namun pria itu tidak mengadu kesakitan sama sekali.
"Karena kau milikku. Dan hanya kau yang aku inginkan." Pria dewasa itu tersenyum menggoda kekasihnya.
"Kata-katamu benar-benar seperti iblis penggoda." Gadis bermata biru itu mendorong Griffith hingga terbaring di sofa.
"Because i am the devil." Griffith menyeringai.
"Sudah, lebih baik kau lanjutkan pekerjaanmu sana." Usir Syene mengalihkan pembicaraan.
"Temani aku!" Pinta Griffith menarik tangan Syene hingga terbaring di atasnya.
"Baik, aku temani. Tapi jangan mengambil kesempatan saat aku lengah." Syene kembali melepaskan diri.
"Oh, jelas aku akan dengan senang hati mengambil kesempatan." Griffith beranjak menuju meja kerjanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sementara Syene juga melanjutkan tugasnya merapikan meja tadi.
Setelah selesai ia memutuskan untuk duduk dan bermain ponsel sambil menunggu Griffith selesai bekerja. Meskipun ia yakin akan sangat membosankan, tapi demi Griffith, ia akan lawan rasa bosannya nanti.
••••••
"Sial! Kenapa perempuan bodoh itu bisa lolos?" Lina terlihat begitu marah. Keadaan kamar tempat ia berada sekarang juga sangat kacau.
"Semoga saja pria tua itu tidak mencariku untuk membuat perhitungan. Bisa-bisa aku mati jika sampai dia mencariku." Gumam Lina gelisah.
"Oh kenapa berantakan sekali?" Tanya seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun.
"Ah baby, itu tadi aku mencari ponselku." Lina menghampiri pria itu dan memeluknya dengan gerakan sensual.
"Lina, kau membuatku ingin segera ingin menghabisimu." Pria tua itu segera mengangkat Lina dan melemparnya ke atas ranjang.
"Pelan-pelan uncle Dan. Aku milikmu hari ini." Lina merentangkan tangannya menyambut pria bernama Dan itu.
"Kau sangat seksi sayang." Dan melucuti satu persatu pakaian Lina.
"Aku milikmu uncle Dan." Lina memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Dan pada tubuh moleknya.
Lina yang tadi sangat marah karena rencana jahatnya gagal, kini menjadi sangat liar dan buas. Membiarkan Dan menikmati setiap inci tubuhnya. Mendesah meneriakkan nama pria tua itu. Keduanya begitu menikmati hubungan terlarang mereka hingga tidak sadar sama sekali ada yang sedang mengintai aktivitas panas mereka.
__ADS_1
"Wanita ja**ng! Lihat bagaimana video dan foto-fotomu nanti akan menghancurkan hidupmu."
...~ TO BE CONTINUE ~...