
"Hei, kau sedang apa?" Arina mendekati Xander yang sedang duduk bersandar di ranjang dan memainkan ponselnya.
"Kau sudah datang?" Xander segera menyimpan ponselnya dan tersenyum pada Arina.
"Em...aku bawakan makanan untukmu." Arina membalas senyuman Xander sambil mengeluarkan makanan yang ia bawa dari paperbag.
"Maaf, aku jadi merepotkanmu terus." Xander memperhatikan Arina dengan tatapan sedih.
"Kau tak perlu meminta maaf. Sekarang makan ini." Arina tersenyum tulus memberikan makanan yang ia bawa pada Xander.
Pemuda itu menerimanya dengan senyuman yang menyiratkan rasa bersalah.
"Makanlah!" Arina lalu duduk di dekat kaki Xander dan memijat sepasang kaki sahabatnya dengan telaten.
"Kau tahu? Mengetahui kau sudah sadar beberapa hari yang lalu, rasanya bahagia sekali. Tidak sia-sia aku merawatmu selama dua bulan ini." Gadis bermata coklat itu tersenyum tulus masih terus memijat kaki Xander.
"Arina, apa benar-benar tidak bisa memberiku satu kesempatan untuk mendapatkan hatimu?" Tanya Xander serius menatap Arina.
"Tidak! Tidak untukmu atau pria manapun." Arina menyudahi kegiatannya dan beranjak duduk di sofa.
"Apa kau diam-diam sudah punya seseorang yang kau cintai?" Selidik Xander.
"Aku....tidak ada." Arina menjadi salah tingkah namun tatapan matanya memancarkan kesedihan.
"Aku pulang dulu, masih ada banyak tugas yang harus aku kerjakan." Arina bergegas keluar dari ruangan itu.
"Aku harus kuat. Aku tidak boleh lagi mengingat kejadian bodoh yang sudah aku lakukan. Itu adalah kesalahanku sendiri." Arina berjalan menunduk. Sesekali bahkan air matanya menetes ke lantai rumah sakit.
Ingatannya kembali berputar mengingat masa lalu dan kejadian yang membuat ia menutup hatinya untuk seorang pria. Gadis itu berjalan keluar dari rumah sakit ke jalan tanpa peduli hujan mulai turun membasahi bumi. Ia masih menangis, menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air hujan malam itu.
"Deron, aku merindukanmu. Kenapa kau tinggalkan aku di sini begitu saja? Kenapa kau menghilang tanpa kabar apapun?" Teriak Arina frustrasi.
"Setelah semua yang aku lakukan dan berikan untukmu, kenapa?" Arina terduduk di jalanan yang sepi meratapi masa lalunya yang bisa dikatakan kelam.
"Menangislah! Keluarkan semua beban dan rasa sakitmu." Seorang pria memeluk erat tubuh mungilnya. Dari suaranya saja Arina sudah tahu siapa orang itu.
__ADS_1
"Pergi! Aku tak butuh belas kasihanmu!" Arina mendorong Brennan menjauh darinya namun pria itu menolak. Ia tetap memeluk erat Arina dan menenangkan gadis itu.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun! Aku akan menjadi seseorang yang selalu ada untukmu sekalipun kau tidak menginginkanku!" Tegas Brennan membuat Arina terdiam. Ia hanya menangis dan menangis di dalam pelukan Brennan.
Masa lalu dan kebodohan serta cintanya yang begitu besar, masih ia simpan hingga hari ini. Menunggu seseorang yang sudah membuangnya tanpa ucapan selamat tinggal.
"Lepas! Aku mau pulang." Arina kembali mendorong Brennan dan kali ini ia berhasil.
"Aku akan mengantarmu." Brennan mengejar gadis itu dan berhasil menarik tangannya. Mau tak mau Arina akhirnya ikut dengan pria itu.
Di dalam mobil, keduanya diam tanpa sepatah kata pun. Brennan fokus menyetir dan Arina sibuk dengan pikirannya dan air matanya setia mengalir membasahi pipinya. Entah bagaimana, hal yang sudah berhasil ia lupakan akhirnya kembali menyerang ingatannya.
"Kau berbelok ke arah yang salah! Aku ingin pulang ke rumahku." Bentak Arina ketika Brennan berbelok ke arah yang berlawanan dengan arah rumahnya.
Brennan tidak menjawab apapun dan tetap fokus menyetir. Arina terlihat sangat marah namun tidak seperti biasanya, kali ini ia memilih diam daripada melukai pria di sampingnya. Ia kembali membuang pandangan ke arah lain. Tak berselang lama akhirnya keduanya sampai di depan mansion Brennan.
"Ayo!" Brennan yang sudah turun lebih dulu pun membukakan pintu untuk Arina. Gadis yang sudah ia tandai sebagai kekasihnya itu hanya menurut tanpa ada bantahan apapun.
"Masuk!" Titah Brennan setelah membuka pintu kamarnya. Sekali lagi Arina hanya menurut dan masuk ke dalam kamarnya.
"Bukan siapa-siapa! Lagipula kenapa kau mengatakan dia seorang pria?" Arina terlihat seolah menantang pria di depannya.
"Karena kau meneriakkan nama Deron dan jelas itu adalah seorang pria!" Brennan mendekati Arina dan memegang kuat kedua lengannya.
"Terserah aku mau menangisi siapapun. Sudah aku bilang, hidupku adalah milikku dan aku yang paling berhak menentukan pilihan untuk hidupku!" Tak ada sedikitpun rasa takut yang terpancar dari sepasang mata coklat gadis itu.
"Oh ya? Baik kalau menurutmu hidupmu adalah milikmu! Malam ini aku akan membuat hidupmu menjadi milikku juga!" Brennan melepaskan dasinya dan segera mengikat kedua tangan Arina. Ia lalu mengangkat Arina dan melemparnya ke atas tempat tidurnya.
"Bren, apa yang ingin kau lakukan?" Arina berusaha menghindari pria yang terlihat sedang dikuasai amarah itu apalagi Brennan membawa dua utas tali dari laci nakasnya.
"Sudah kubilang, aku akan menjadikan hidupmu milikku juga!" Brennan kini melepas satu persatu pakaiannya hingga ia polos tanpa pakaian apapun. Arina memejamkan matanya namun ia tidak bisa lagi menghindari pria itu karena kakinya terikat pada ukiran di ujung ranjang.
"Bren, jangan! Lepaskan aku!" Gadis berpipi agak chubby itu meronta tatkala Brennan mulai melucuti pakaian miliknya.
"Aku sudah cukup bersabar! Jika tak bisa cara baik, maka aku akan menggunakan cara kasar! Aku tak peduli Arina, aku hanya ingin kau menjadi milikku. Milikku seutuhnya!" Brennan tersenyum miring melihat Arina yang juga sudah polos tanpa pakaian apapun.
__ADS_1
"Bren, jangan! Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Arina berusaha untuk bernegosiasi dengannya.
"Sudah terlambat!" Segera Brennan melahap bibir mungil Arina tanpa memberikan celah bagi gadis itu untuk melawan.
Kedua tangannya bergerilya ke mana-mana menyentuh, meraba setiap jengkal lekuk tubuh Arina tanpa melewatkan apapun. Arina benar-benar tak diberi celah sedikitpun untuk menolak apalagi melawan.
"Kau ingin menghancurkanku? Tidak akan pernah bisa! Kau yang akan menyesal telah melakukan ini!" Batin Arina tersenyum sinis.
Perlahan ia menenangkan tubuhnya sendiri yang kaget karena sentuhan Brennan yang cukup brutal. Karena sudah tidak ada celah melawan pria yang sedang mencumbu tubuhnya itu, ia pasrah. Membiarkan Brennan melakukan apapun padanya. Ia memilih menikmati setiap yang Brennan lakukan padanya meski dalam hatinya ia merasa sakit hati dan mengutuk pria di atasnya. Hingga Brennan melakukan penyatuan diri dengannya, ia memilih mengeluarkan suara-suara indahnya yang mampu membuat Brennan menggila. Membuat Pria itu semakin bersemangat memacu miliknya di dalam tubuh Arina.
"Kau suka bukan? Jangan pernah berpikir kau bisa pergi dariku!" Brennan semakin laju memacu miliknya hingga ia meraih pelepasan.
"Sudah puas? Lepaskan aku sekarang!" Titah Arina lemah.
"Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Tapi aku tidak menyangka kau rupanya sudah tidak tersegel. Siapa yang merenggutnya darimu?" Tanya Brennan menatap Arina dengan tatapan tajam.
"Bukan urusanmu!" Arina memalingkan wajahnya enggan menatap pria yang masih berada di atasnya.
"Kau bisa meyakinkan Ayahmu waktu itu hingga tidak perlu melakukan visum itu. Kau benar-benar hebat! Tapi tidak masalah! Itu bukan prioritas utamaku, karena yang aku inginkan adalah dirimu, dirimu seutuhnya!" Brennan merebahkan tubuhnya di samping Arina dan memeluk erat gadis itu.
"Kau tidak akan pernah bisa pergi lagi dariku, Arina!" Bisik Brennan penuh keyakinan.
"Kau bercanda. Kita lihat nanti bagaimana kau bisa mencegahku pergi darimu." Batin Arina dengan berbagai ide licik di otak kecilnya.
#####
"Shh..." Syene meringis memegangi dadanya.
"Kau kenapa? Apa tidak sehat?" Griffith menghentikan kegiatan makannya dan segera memeriksa keadaan kekasihnya.
"Tiba-tiba dadaku terasa sakit seperti tertusuk. Aku khawatir pada Arina." Syene menatap sedih pada Griffith.
"Dia pasti baik-baik saja. Sekarang dia sedang bersama Xander 'kan? Jadi dia tidak akan kenapa-kenapa. Tenanglah." Griffith menenangkan kekasihnya dan memberikan segelas air putih untuk Syene.
"Semoga saja kau benar-benar tidak kenapa-kenapa Arina."
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...