
"Astaga, aku kenyang sekali." Syenen menepuk-nepuk perutnya yang terasa penuh.
"Siapa suruh kau menghabiskan semua makanan tadi?" Griffith membantu mengelus perut kekasihnya.
"Sayang kalau tidak dihabiskan dan malah dibuang." Syene merengek.
"Ya sudah, nanti juga akan lega sendiri." Griffith terkekeh dengan tingkah Syene.
"Ngomong-ngomong di mana Arina dan Brennan? Sejak tadi mereka tidak kelihatan." Syene celingukan mencari kedua orang itu.
"Mungkin mereka sedang bicara. Biarkan saja." Tebak Griffith asal.
"Hah, hidup Arina jadi rumit sejak bertemu Griffith. Padahal dia adalah gadis yang baik dan tidak pernah membuat masalah dengan siapapun." Gumam Syene sedih.
"Sudah aku bilang, yang terlihat rumit dan buruk sekarang, belum tentu nantinya juga akan terus begitu. Arina hanya butuh waktu begitu juga Brennan." Griffith mengelus rambut pirang Syene.
"Aku ingin pulang saja. Tidak nyaman di sini, mereka pasti butuh waktu untuk bicara. Nanti saja hubungi Arina melalui telepon." Usul Syene.
"Baiklah, ayo kita pulang. Aku juga tidak nyaman di sini, tidak bisa macam-macam denganmu." Timpal Griffith menggoda calon istrinya.
"Ck..." Syene berdecak namun tidak menolak ucapan kekasihnya. Keduanya pun keluar dari rumah minimalis itu tanpa berpamitan dengan sang pemilik.
Syene dan Griffith telah pergi menyisakan Arina dan Brennan. Keduanya berada di dalam kamar Arina dan duduk berdampingan namun sedikit berjauhan. Keduanya terlihat berkutat dengan pikiran masing-masing bahkan terlihat gugup bak sepasang pengantin baru yang akan melakukan ritual malam pertama.
"Arina!" Brennan memecah keheningan.
"Em..." Arina hanya berdeham untuk menanggapi pria di sampingnya.
"Kembalilah padaku. Aku janji akan memperlakukanmu dengan lebih baik, hiduplah bersamaku." Griffith berputar arah menghadap wanita hamil itu.
"Aku..." Lidah Arina terasa kelu untuk menolak ataupun menerima. Ia hanya menunduk tanpa bisa melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Arina, aku memang salah sebelumnya karena memaksamu. Tapi sungguh aku tidak bisa tanpamu." Brennan mengangkat dagu Arina hingga tatapan mereka bertemu.
"Aku tidak layak untukmu." Arina menepis tangan Brennan dan beranjak keluar ke balkon kamarnya. Brennan tentu segera menyusulnya. Pria itu tanpa ragu memeluk Arina dari belakang.
"Kenapa kau mengatakan kau tidak layak bahkan saat aku sendiri yang memilihmu? Karena masa lalumu? Arina, aku tidak peduli dengan itu semua. Yang aku inginkan hanya dirimu bukan masa lalu atau masa depanmu. Kita bisa merangkai semuanya bersama menjadi lebih indah." Ungkap Brennan tulus.
"Kenapa? Kenapa harus aku? Banyak wanita di luar sana yang lebih pantas kau pilih." Suara Arina terdengar bergetar.
"Karena kau. Hanya itu alasanku! Kau memiliki semua yang aku mau. Gadis satu-satunya yang bisa bersentuhan secara fisik denganku. Tapi alasan utamanya adalah karena hatiku telah memilihmu." Brennan melepaskan pelukannya dan menuntun Arina untuk berbalik.
"Dengarkan aku! Aku tidak peduli seberapapun gelapnya masa lalumu, bagiku mencintaimu berarti menerima baik buruknya dirimu. Jadi tolong, jangan lagi merendahkan dirimu seperti itu." Pinta Brennan.
"Aku akan memikirkannya." Arina mengelak dari tatapan mata Brennan.
"Kau tidak perlu memikirkannya karena aku akan membuktikan kata-kataku dengan caraku. Jangan menolakku Arina." Pria dengan sepasang mata hitam itu memeluk erat wanita yang teramat ia cintai itu.
"Apa kau juga bersedia menikahiku?" Tanya Arina ragu.
"Tentu. Kenapa kau ragu akan hal itu?" Brennan mempererat pelukannya.
Brennan seketika langsung melepaskan pelukannya dan menatap Arina dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tahu kau pasti meragukanku. Jadi pergilah! Aku tidak butuh belas kasihanmu." Wanita muda itu mendorong Brennan hingga sedikit mundur ke belakang.
Tanpa Arina sangka, pria berambut ikal itu malah menariknya hingga bibir mereka bertemu dan menyatu. Brennan melumatt lembut bibir ranum yang sangat ia rindukan itu. Belum lagi dengan kabar bahagia yang baru saja ia terima, membuatnya semakin tidak ingin melepaskan Arina.
"Aku mencintaimu. Terima kasih. Terima kasih untuk hadiah terindah ini." Tangan besar Brennan terulur mengusap perut Arina yang masih rata.
"Kau em..." Belum sempat Arina menyelesaikan kata-katanya, bibirnya kembali 'dipatuk' oleh Brennan.
"Tentu saja dia milikku. Aku tidak pernah meragukan hal itu. Terima kasih karena menjaganya." Brennan memeluk erat Ibu dari calon bayinya.
__ADS_1
Kenyataan ini membuat Arina terharu hingga menitikkan air mata. Jika dibayangkan dengan masa lalunya, Brennan benar-benar terlalu sempurna untuknya. Pria itu benar-benar seperti malaikat yang muncul dan menariknya dari kegelapan, meski perbuatannya sempat melukai hati Arina. Pria yang sedang memeluknya itu benar-benar gila dalam mencintainya.
"Jadi kapan kau bersedia menikah denganku?" Tanya Brennan menghapus air mata wanitanya.
"Siapa bilang aku mau menikah denganmu?" Arina meloloskan diri dan kembali masuk ke kamar. Ia terlalu malu untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
"Hei, sebagai pria sejati aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku." Brennan menyusul wanitanya.
"Sudahlah, kau pulang saja! Aku ingin istirahat." Arina naik dan berbaring di atas tempat tidurnya. Brennan tak mau kalah pun ikut berbaring di sampingnya.
"Tidak akan pulang dan tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Mulai detik ini aku akan selalu menemani dan menjaga istri dan anakku. Aku tidak akan mengizinkan bahaya apapun mendekati mereka." Tegas Brennan. Biarlah ia dikatakan egois, yang terpenting ia tidak kehilangan Arina untuk kedua kalinya.
"Kau tidak nyaman. Tempat tidurku terlalu sempit untukmu." Arina mencoba untuk mencari alasan.
"Tidak masalah. Bersamamu adalah hal ternyaman di dunia ini." Brennan menarik Arina untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu Arina Elnardo. Sangat-sangat mencintaimu." Bisik Brennan menggoda iman Arina.
"Brenn, jangan! Aku sedang hamil." Arina menepis tangan Brennan yang mulai nakal.
"Hahaha...ya sudah. Malam ini aku akan menahannya. Tapi tidak malam-malam berikutnya." Pria itu tersenyum nakal menatap Arina yang sudah tersipu malu.
"Ck...kenapa kau jadi mesum begini?" Arina mencubit perut prianya hingga Brennan mengadu kesakitan.
"Tapi hanya kau wanita yang membuatku menjadi mesum seperti ini. Hanya kau yang inginkan." Brennan menghujani wajah cantik Arina dengan kecupan.
"Bren, aku takut. Jika suatu hari masa laluku..."
"Tidak! Tidak akan pernah! Lupakan itu dan jangan pernah kita bahas lagi. Sudah aku katakan aku ingin dirimu bukan kisahmu! Aku tidak peduli dengan semua yang sudah berlalu. Dan aku pun tidak akan pernah mengungkitnya. Aku bersumpah!" Tegas Brennan tak ingin dibantah apalagi diragukan.
"Em..." Hanya itu yang mampu Arina ucapkan. Ingin mengatakan ia juga mencintai Brennan, tapi hatinya belum siap. Entahlah, tapi rasanya sangat sulit menerima cinta yang baru meski cinta itu lebih tulus dari cinta yang masih ia tunggu. Haruskah Arina benar-benar memutuskan tali masa lalu yang mengikatnya dan memilih tali masa depan meski belum tentu lebih indah? Karena kata-kata manusia bisa saja berubah.
__ADS_1
"Tuhan, bantu aku sekali ini saja."
...~ TO BE CONTINUE ~...