CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Menyelesaikan


__ADS_3

"Engh..." Arina melenguh pelan dan membuka matanya. Satu tangannya meraba-raba tempat tidur di sampingnya namun ia tidak merasakan kehadiran seseorang di sana.


"Brenn?" Panggilnya dengan suara serak.


"Aku di sini, sayang." Brennan tersenyum mendapati wanita yang ia cintai itu mencarinya untuk pertama kali.


"Kau sudah rapi? Mau bekerja?" Arina mengernyit memperhatikan penampilan Brennan.


"Tidak bekerja. Hanya ada sesuatu yang harus aku lakukan." Jawab pria yang sudah rapi dengan setelan formalnya.


"Hal apa? Apa sangat mendesak?" Tanya Arina penasaran.


"Ya, sangat mendesak. Jika aku tidak menyelesaikan masalah itu sekarang, aku tidak tahu kapan lagi bisa menyelesaikannya." Brennan mendekati wanitanya dan menatap Arina penuh cinta.


"Apa aku tidak boleh tahu masalahnya?" Wanita yang tengah hamil muda itu memasang tampang memelas.


"Kau boleh tahu, tapi nanti setelah aku menyelesaikannya. Sekarang kau istirahat saja dan tunggu aku kembali menjemputmu. Mengerti?" Brennan menangkup wajah cantik Arina. Arina pun otomatis mengangguk.


"Aku pergi dulu. Tadi aku juga membuatkan sarapan untukmu, jangan lupa dimakan dan minum vitamin yang sudah aku siapkan. Aku mencintaimu." Brennan mencuri satu ciuman dari Arina. Ia pergi setelah mendapat izin dari wanitanya.


"Apa yang ingin dia lakukan? Jangan-jangan..."


•••••


"Hoam..." Syene menguap lebar sambil menuruni tangga.


"Masih mengantuk ya? Tadi malam habis melakukan apa sampai kurang tidur seperti itu?" Tanya Arlin menggoda keponakannya.


"Ish aunty. Aku itu dari tempat Arina lalu ke mansion Griff sebentar. Tidak ada yang aneh-aneh." Syene duduk di kursi yang berhadapan dengan Arlin.


"Arina? Kenapa dengannya?" Arlin mengernyit penasaran.


"Arina hamil. Dia ingin menggugurkan bayinya, tapi aku mencegahnya. Untung saja setelah aku menenangkannya, dia mau mendengarku." Ungkap Syene secara sadar.


"A-Arina hamil?" Arlin sangat terkejut dengan kenyataan tentang putrinya.

__ADS_1


"Em...sudah satu bulan lebih. Dia juga mengalami muntah-muntah yang hebat. Tubuhnya menjadi kurus sekali." Jelas Syene.


"Aunty harus menemuinya. Jika seperti itu lebih baik dia pulang dan tinggal bersama kita, aunty tidak ingin dia kenapa-kenapa." Ujar Arlin hendak beranjak.


"Aunty, tidak sekarang. Brennan sedang di sana untuk meyakinkannya. Tenanglah dulu." Gadis bermata biru itu berusaha menenangkan bibinya.


"Brennan? Dia menemukan Arina?" Arlin bertambah kaget.


"Em...sepertinya ada yang mengikuti aku dan Griff tadi malam. Tapi aku berani menjamin, Brennan tidak akan menyakiti Arina apalagi sekarang Arina sedang mengandung bayinya." Syene tampak tenang.


"Putriku." Arlin akhirnya duduk kembali. Wajahnya terlihat lesu dan tubuhnya melemah.


"Aunty jangan khawatir, Arina akan baik-baik saja." Lanjut Syene menimpali.


"Nyonya, Nona, maaf mengganggu. Ada yang ingin bertemu." Ujar seorang pelayan pada keduanya.


"Siapa?" Syene mengernyit penasaran.


"Beliau seorang pria, tapi tidak menyebutkan nama." Lanjut pelayan itu.


"Mungkin sahabatnya uncle." Gumam Arlin beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar. Syene yang sedang dalam mode penasaran pun segera menyusul sang bibi.


"Kau kenapa ke sini? Mau cari mati?" Tanya Syene kesal.


"Aku ke sini untuk menemui orang tua Arina! Aku ingin meminta Arina secara baik-baik dan meminta maaf atas semua kesalahanku." Ujar Brennan penuh keyakinan.


"Tapi tidak sekarang. Kenapa tidak tunggu sampai Arina siap untuk pulang menemui aunty dan uncle?" Syene begitu panik.


"Aku seorang pria dan aku yang bersalah dalam hal ini. Jadi biarkan aku menyelesaikannya dengan caraku sendiri." Tegas Brennan.


"Tapi kau bisa saja..."


"Ada apa?" Suara Arlin memotong obrolan keduanya.


"Nyonya Arlin! Aku Brennan, aku rasa kau pasti ingat denganku. Aku ingin bertemu dengan Nyonya dan Tuan Elnardo untuk membicarakan hal penting. Aku mohon agar Tuan dan Nyonya bisa memberikan sejenak waktunya untukku." Pinta Brennan sopan. Pria itu terlihat yakin dan tidak takut apapun.

__ADS_1


"Masuklah! Aku akan menghubungi suamiku untuk segera pulang." Titah Arlin dingin.


"Terima kasih." Brennan mengikuti langkah Arlin dan ia berhenti di ruang tengah sementara Arlin melanjutkan langkahnya ke dapur.


"Matilah! Apa yang harus kulakukan?" Gerutu Syene kebingungan sekaligus khawatir.


"Bren, lebih baik kau mengurungkan niatmu jika kau masih sayang dengan nyawamu dan masih ingin melihat bayimu lahir." Usul Syene memaksa.


"Tidak akan! Jika harus mati untuk mendapatkan restu dari orang tua Arina, aku siap. Setidaknya dengan begitu dia akan tahu bagaimana aku sangat serius dan mencintainya." Brennan menolak usul dari sepupu wanitanya.


"Kenapa kau sangat keras kepala? Jika kau mati, perjuanganmu akan sia-sia dan hanya menyisakan rasa sakit untuk Arina." Syene hendak memukul Brennan namun ia mengurungkan niatnya mengingat pria itu tak bisa sembarangan bersentuhan dengan orang lain.


"Aku tidak akan mati semudah itu." Yakin Brennan menatap tajam Syene.


"Terserah saja!" Syene mendengkus kesal dan memilih duduk di depan Brennan tanpa menyuruhnya untuk ikut duduk.


Selang beberapa saat akhirnya Richard datang. Syene sudah bisa melihat kilat kemarahan dari wajah dan tatapan suami bibinya itu. Richard bahkan mengepalkan tangannya hingga urat-urat di tangannya terlihat jelas.


"Berani sekali kau datang?" Richard menarik Brennan hingga berbalik dan tanpa aba-aba ia meninju wajah Brennan hingga pria itu tersungkur di lantai.


"Astaga!" Syene terkejut dan sontak berdiri di atas sofa.


"Tuan Richard, biarkan aku menjelaskan semuanya. Beri aku sedikit waktu untuk menjelaskan semuanya, setelah itu terserah kau jika mau membunuhku sekalipun." Pinta Brennan namun tidak berusaha melawan Ayah dari wanitanya.


"Tidak ada yang perlu aku dengar darimu! Kecuali jika kau bisa mengembalikan kehidupan putriku seperti dulu!" Richard menarik dan mencengkeram kerah baju Brennan hingga pria itu berdiri.


BUKK BUKK


Richard meninju perut Brennan dengan membabibuta. Pria itu memukuli Brennan dan meluapkan segala kemarahannya. Syene tak tahu harus berbuat apa, karena jika dia melerai, bisa saja dirinya ikut menjadi korban. Tapi sepasang matanya menangkap keanehan pada kulit Brennan. Kulitnya tampak melepuh seperti beberapa waktu lalu saat ia memukuli Brennan.


"Astaga, penyakitnya kambuh." Tanpa berpikir lagi, Syene melompat ke belakang sofa dan berlari ke kamarnya.


"Jahanam! Kau sudah merenggut kebahagiaan putriku dan sekarang kau ingin mendengarmu! Tidak akan pernah!" Richard masih saja memukuli Brennan meski pria itu sudah memar di mana-mana. Bahkan mulutnya memuntahkan darah segar akibat pukulan Richard, sayangnya ia tidak punya keinginan untuk melawan atau sekedar membela diri sama sekali.


Nafas Brennan sudah terengah-engah karena penyakitnya kambuh. Penglihatannya pun mulai memudar, namun ia tetap berusaha untuk tersadar agar bisa 'melawan' kemarahan Richard.

__ADS_1


"BERHENTI!"


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2