
"APA?" Bentak Griffith setelah mendengar cerita dari Syene.
"Berani sekali bedebah itu mendekatimu lagi." Pria itu langsung terlihat gusar setelah tahu kalau Adam kembali mencoba untuk mendekati gadisnya.
"Aku minta maaf, tapi sungguh aku benar-benar tidak tahu dia ada di kedai itu." Syene tampak merasa bersalah setelah melihat kemarahan kekasih hatinya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa menyingkirkan dia? Aku tidak ingin dia kembali menjadi parasit dalam hidupku." Gumam Griffith seraya mengusap kasar wajahnya.
"Bagaimana jika kita mempercepat pernikahan kita? Lagipula persiapan kita juga sudah hampir selesai." Usul Syene tersenyum manis.
"Itu tidak buruk, tapi tetap bukan solusi yang ampuh. Dia saja berani tidur dengan mantan istriku, jadi sekalipun kita menikah itu bukan solusi terbaik untuk menghindari gangguannya." Griffith kembali duduk di samping Syene.
"Begini saja, aku akan membayar beberapa pengawal untuk menjagamu setiap saat. Para pengawal itu nantinya akan menghadang dia begitu dia ingin dekat denganmu, bagaimana?" Tanya Griffith seperti orang yang ketakutan.
"Itu tidak buruk, tapi jangan berlebihan. Kau tahu 'kan aku tidak suka sesuatu yang berlebihan?"
"Aku tahu! Kau tenang saja, aku hanya tidak ingin ada yang menyakitimu apalagi merebutmu dariku. Aku tidak akan sanggup kehilanganmu." Pria itu menarik Syene dan mendekapnya erat.
"Maafkan aku sudah membuatmu gelisah." Gadis berkulit putih itu pun mengusap punggung prianya untuk menenangkan.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku, tidak akan." Griffith melepaskan pelukannya dan menatap dalam sepasang mata biru gadisnya.
"Izinkan aku memilikimu seutuhnya, Syene." Pinta Griffith membelai wajah cantik kekasihnya. Seolah tersihir, Syene hanya bisa mengangguk sambil membalas tatapan Griffith.
Tak ingin banyak membuang waktu, Griffith segera mengunci bibir mungil Syene dengan bibirnya. Keduanya saling mengecup, menciptakan percikan panas membuat suasana sekitar menjadi gerah dan bergairah. Griffith membaringkan Syene dengan hati-hati tanpa melepas pagutan bibir mereka.
Perlahan sang dominan mulai melepas satu persatu kain yang membungkus tubuh kekasihnya. Syene pun melakukan hal yang sama. Gadis itu kali ini juga tak kalah agresif dari prianya meski Griffith tetap mendominasi. Griffith telah menanggalkan seluruh pakaian Syene kecuali kain pengaman segitiga kekasihnya.
Pria itu kembali memberikan kecupan demi kecupan liar di tubuh Syene. Membuat Syene memejamkan mata dan meremas kuat seprainya. Bibir mungilnya mulai mengeluarkan nyanyian indah seiring dengan sentuhan Griffith di tubuhnya.
"Ke-kenapa berhenti, king?" Tanya Syene saat tak lagi merasakan sentuhan Griffith padahal jelas ia merasakan Griffith melepas kain pengaman segitiganya.
"You got your period." Jawab Griffith tersenyum tipis. Syene pun merasa bersalah karena lagi-lagi Griffith gagal memilikinya.
"Tidak apa, ayo kita mandi bersama saja." Griffith menggendong calon istrinya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"King, biarkan aku membantumu." Pinta Syene menunjuk inti milik Griffith yang masih terjaga.
__ADS_1
"Kau yakin?" Tanya Griffith ragu. Bukan meragukan gadisnya, hanya saja Syene belum pernah melakukan hal semacam itu padanya selama ini.
"Em...biarkan aku melakukannya." Putus Syene langsung berlutut.
"Erghh..."
***
"Kau hebat sayang! Dari mana kau mempelajari hal semacam itu?" Griffith terlihat lebih ceria dan segar.
"Otodidak. Selama bersamamu, aku akan berusaha belajar banyak hal untuk menyenangkanmu." Syene tersenyum malu-malu sambil mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut.
"Tidak perlu seperti itu. Selama kau tetap bersamaku, itu adalah kebahagiaan terbesarku." Griffith merangkul Syene dari belakang dan berulang kali mengecup tengkuknya.
"Apa kau lapar? Mau aku masakkan sesuatu?" Syene tersenyum mendapat perlakuan manis seperti itu.
"Em, bagaimana jika kita masak bersama saja? Aku juga ingin seperti pasangan di film-film. Sepertinya akan romantis."
"Baiklah, apapun yang kau inginkan. Ayo...."
***
"Sudah Tuan. Tuan hanya perlu membuatnya menandatangani kontrak dari kita, dan setelah itu rencana Tuan akan sepenuhnya berhasil." Ujar sang bawahan sopan.
"Bagus! Aku sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran Griffith Akayama." Adam menyeringai.
"Semua sudah aku siapkan. Jika tidak ada lagi yang penting, aku mohon pamit, Tuan."
"Em... pergilah!" Adam menggerakkan tangannya untuk menghardik bawahannya.
"Griffith Akayama! Saat hari itu tiba, aku harus mendokumentasikannya dengan baik. Kehancuranmu akan lebih menyakitkan dari yang kau lakukan padaku lima tahun yang lalu."
"Adam...." Seorang wanita memanggilnya dengan lembut.
"Untuk apa kau datang lagi ke sini? Aku tidak membutuhkanmu ataupun tubuhmu lagi." Tanya Adam dengan ketus.
"Adam, aku mohon jangan sakiti Griffith! Jangan ganggu dia! Apa yang dia perbuat padamu lima tahun yang lalu itu karena kesalahanmu, kesalahan kita. Tolong jangan ganggu dia lagi." Mohon wanita berambut abu-abu dengan kulit putih pucat itu.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, Cherry! Ah, bagaimana jika kau bekerja sama denganku? Imbalannya kau mendapatkan dia kembali dan aku tidak akan pernah mengganggu kalian lagi. Bagaimana? Jika tidak mau aku tidak akan memaksa." Adam bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Cherry.
"Apa yang harus aku lakukan?"
***
"Wah... ini lezat sekali. Kau benar-benar hebat." Brennan terlihat begitu bahagia setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Jangan memujiku, semua itu bekal dari Mama. Aku hanya menghangatkannya lagi tadi." Arina menggeleng melihat tingkah lucu pria di depannya.
"Ah iya, aku lupa. Ya masakanmu juga sangat lezat."
"Em...semua itu karena Mama selalu bilang 'Perempuan harus bisa masak sekalipun suaminya nanti adalah seorang koki hebat.' Jadi mau tidak mau ya aku harus belajar." Ungkap Arina gemas.
"Mamamu memang benar. Dulu Ayahku seorang koki ternama, tapi beliau selalu ingin menyantap masakan Ibuku. Bahkan beliau selalu memuji masakan Ibuku lebih enak dari masakannya sendiri. Lucu sekali." Brennan tersenyum sekalipun matanya menyiratkan kesedihan. Arina turut tersenyum dan menggenggam tangan calon suaminya.
"Karena seorang istri dan Ibu akan selalu memasak dengan cinta untuk keluarganya."
"Kau benar. Ibuku tak pernah mengeluh harus memasak setiap hari meski kadang beliau terlihat kelelahan. Karena Ayah tidak suka makan di luar, maka Ibu selalu harus memasak setiap waktu Ayah mau."
"Ayah romantis sekali meski kesannya membuat Ibu menjadi lelah. Ayah hanya berusaha menghargai hasil tangan wanita yang ia cintai. Dan Ibu, meski terlihat lelah tapi aku yakin beliau bahagia melakukan semua itu." Arina mengusap punggung tangan Brennan.
"Em...aku ingin kelak kita juga akan seperti itu. Seperti Ayah dan Ibuku, seperti Papa dan Mamamu. Selalu harmonis sekalipun semuanya tidak mudah untuk dilalui." Brennan mendekat pada Arina dan mencuri satu ciuman dari wanita muda itu.
"Sebentar, ponselku berdering. Mungkin Mama atau kakak Syene." Arina beranjak dari tempatnya untuk mengambil ponselnya.
.....
"Siapa?" Tanya Brennan bingung ketika Arina kembali.
"Entahlah, nomor asing. Dan tidak ada yang berbicara." Arina menggeleng bingung.
"Apa nomor yang sama?" Gumam Brennan gusar.
"Nomor yang sama? Maksudnya?" Arina kembali duduk di kursinya tadi dan menatap Brennan penuh tanya.
"Sebenarnya waktu itu...."
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...