
"Tuan Brennan." Sapa sang bawahan.
"Bagaimana Jim? Apakah sudah kau dapatkan informasi yang aku inginkan?" Tanya Brennan dengan ekspresi datar.
"Sudah Tuan. Ini data-datanya." Jim menyerahkan sebuah iPad pada Brennan.
"Arina Elnardo. Putri dari Richard Elnardo rupanya. Sepertinya akan mudah mendapatkannya." Gumam Brennan menyeringai.
"Nona Arina juga merupakan adik sepupu dari kekasih Tuan Griffith. Mereka berdua sangat dekat, sudah seperti saudari kandung." Jelas Jim menimpali.
"Begitu ya? Mungkin aku bisa dekati kakaknya dulu sebelum mengambil hati orang tuanya. Jim, aturkan pertemuanku dengan Griffith." Titah Brennan masih memperhatikan foto cantik Arina.
"Baik Tuan." Jim pamit undur untuk segera melaksanakan perintah bosnya.
"Arina nama yang memiliki makna damai, cantik. Takdir mempertemukan kita saat ini, maka aku harus menarikmu untuk menjadi milikku." Brennan menyeringai dengan sorot mata tajam.
"Tuan Bren, maaf tapi Tuan Griffith tidak ingin Tuan bertemu kekasihnya lagi." Jim terlihat panik dan cemas bersamaan.
"Ck...kenapa dia begitu pelit. Aku juga tidak mau merebut kekasihnya. Ya sudah, kau pantau posisi Arina. Biar aku menemuinya langsung." Brennan terlihat kesal dan meletakkan iPadnya dengan kasar di meja.
"Baik Tuan, aku akan segera mengabari di mana Nona Arina berada sekarang." Jim keluar lagi dari ruangan Brennan.
"Dasar pelit. Siapa juga yang mau merebut kekasihnya. Aku juga tidak mau barang bekas, apalagi bekasnya." Gerutu Brennan kesal.
••••••
"Hua...ponselku kenapa tiba-tiba bisa rusak?" Arina merengek sambil memeluk Syene.
"Sudah, nanti kau bisa beli yang baru." Syene berusaha menenangkan adiknya.
"Tapi banyak sekali file-file yang belum aku pindahkan. Semuanya penting. Hua..." Arina kembali menangis, bukan menangis sungguhan karena gadis itu sangat-sangat jarang menangis.
"Aku tahu file penting yang kau maksud itu hanya foto-foto narsismu. Kau bisa mengambil ulang saat sudah punya ponsel baru nanti." Syene terkekeh geli melihat tingkah adiknya yang berlebihan.
"Ck...menyebalkan." Arina memanyunkan bibirnya.
"Kenapa aku yang menyebalkan? Salahkan ponselmu yang rusak tiba-tiba." Syene mengacak rambut Arina hingga sedikit berantakan.
"Hai Arina, hai bibi Syene." Sapa Xander yang baru bergabung.
"Siapa bibimu hah? Sembarangan." Syene meninju lengan Xander.
"Ck...sudah jelas tertangkap basah sedang bermesraan masih tidak mau mengaku." Xander tersenyum nakal menggoda Syene.
__ADS_1
"Memang tertangkap basah apanya?" Tanya Arina penasaran.
"Kakakmu ini dengan pamanku sedang bercumbu di dapur. Aku sampai frustrasi gara-gara kelakuan nakal mereka." Xander tersenyum tanpa rasa bersalah sementara Syene menunduk malu.
"Hoho...kelakuanmu ternyata begitu ya?" Arina merangkul kuat leher Syene hingga kakaknya itu mengadu meminta lepas.
"Yang penting kan kami tidak lebih dari itu." Syene melotot tajam pada Xander yang sudah membuka aibnya.
"Siapa yang tahu saat hanya berduaan di kamar?" Xander terkekeh.
"Xander, sekali lagi kau bicara aku akan tarik lidahmu keluar." Ancam Syene sok galak.
"Uh paman, aku sangat takut." Xander kembali terkekeh.
"Sayang, aku tidak menyangka ternyata kau sangat menakutkan." Ucap Griffith dari belakang Syene dan Arina.
"Griff, itu aku...bukan seperti itu. Aku hanya bercanda." Syene berdiri dan berusaha menjelaskan pada Griffith sedangkan Arina dan Xander terkekeh geli.
"Ayo ikut aku. Aku akan membawamu bertemu psikiater." Griffith membawa Syene pergi meninggalkan sepasang sahabat itu.
"Kau ini jahil sekali pada bibimu." Arina menepuk ringan kepala Xander.
"Biarkan saja. Siapa suruh mereka bermesraan di tempat terbuka. Aku ini pria normal yang bisa terpancing." Xander memperhatikan Arina dengan tatapan sedikit aneh.
"Ck...sudahlah. Bicara denganmu sama saja seperti bicara dengan pria mesum." Arina beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi.
••••••
"Aku harus membeli ponsel di mana?" Gumam Arina yang sedang berjalan santai di sebuah pusat perbelanjaan.
"Jika kakak Syene ada, dia bisa menyarankan gerai ponsel yang baik untukku." Arina melangkah sambil memilih gerai ponsel yang ingin ia datangi.
"Akhh..." Tiba-tiba ia memekik karena tangannya ditarik oleh seseorang.
"Siapa kau? Lepaskan aku!" Arina berusaha memberontak namun pria yang menariknya semakin menguatkan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Arina.
Pria itu membawa Arina keluar dari pusat perbelanjaan itu dan memaksa Arina masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang sudah menunggu.
"Kau?" Arina kaget melihat seorang pria di sampingnya ternyata adalah pria yang tidak sengaja ia tabrak beberapa hari yang lalu.
"Jim, jalan!" Titah Brennan pada Jim.
"Baik Tuan." Jim segera menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran mall.
__ADS_1
"Kau siapa? Kenapa membawaku pergi? Soal kejadian waktu itu aku sudah meminta maaf dan aku yakin kau yakin kau juga tidak terluka." Protes Arina kesal.
Brennan tidak menjawab apapun celotehan Arina. Ia hanya diam dengan ekspresi datar dan mata fokus menatap ke depan.
"Arghhh..." Brennan tiba-tiba mengerang kesakitan karena Arina mencubit punggung telapak tangannya.
"Aku bertanya kepadamu, kenapa malah diam seperti itu?" Tanya Arina kesal.
"Kau!" Brennan menunjuk wajah Arina namun ia segera mengepalkan dan menurunkan tangannya.
"Tuan, kita sampai." Ujar Jim menghentikan mobil di depan sebuah mansion mewah.
"Ayo turun!" Ajak Brennan kemudian turun dari mobilnya.
"Ck..." Arina berdecak kesal mau tak mau pun turun dari mobil.
Arina mengikuti langkah Brennan hingga masuk ke dalam sebuah kamar.
"Ck...kenapa aku begitu bodoh mengikuti langkahnya?" Arina berbalik hendak keluar lagi namun Brennan dengan cepat menghadang jalannya dan mengunci pintu kamarnya dengan cepat.
"Kau ini kenapa sebenarnya? Aku tidak mengenalmu sama sekali, juga sudah meminta maaf atas kesalahanku. Apa semua itu masih kurang?" Bentak Arina yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
Tanpa berkata apapun, Brennan menjauh dari Arina dan perlahan melepaskan jas dan kemejanya hingga ia bertelanjang dada.
"Kemarilah!" Brennan melambaikan tangannya pada Arina.
Arina tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Bagaimana bisa pria itu tanpa malu menunjukkan lekuk tubuhnya yang memang sangat menggoda itu pada gadis asing sepertinya? Benar-benar gila.
"Ada apa?" Tanya Arina ketus.
"Aku Brennan." Brennan mengulurkan tangannya.
"Arina." Arina menyambut uluran tangan pria di depannya.
"Kenapa? Lepaskan tanganku!" Arina berusaha menarik tangannya namun Brennan masih setia menggenggamnya.
"Apa maumu sebenarnya?" Arina kembali membentak Brennan dan berusaha menarik tangannya namun kekuatan pria itu ternyata sangat kuat.
Arina mengalah dan diam. Bersabar dan menunggu apa yang ingin pria aneh itu lakukan padanya. Beberapa menit berlalu, Brennan kemudian membawa tangan Arina menyentuh kulit dadanya.
"Kau berfantasi liar yah?" Arina kembali ingin menarik tangannya namun Brennan benar-benar kuat menahannya.
Brennan memejamkan matanya merasakan lembutnya kulit tangan Arina yang bersentuhan dengan kulit dadanya. Arina ingin sekali menendang pria di depannya itu, namun ia juga tak ingin gegabah dan menimbulkan masalah yang lebih besar.
__ADS_1
"Aku menemukanmu."
...~ TO BE CONTINUE ~...