CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Kau ....


__ADS_3

"Selamat datang, Nona. Apa yang bisa kami bantu?" Tanya seorang karyawan spa kecantikan.


"Aku ingin perawatan tubuh. Bisakah aku melihat paket-paket yang tersedia." Jawaban si gadis bermata biru dengan ramah dan sopan.


"Oh, sebelumnya silakan duduk lebih dulu." Si pegawai menarik kursi san mempersilakan gadis itu untuk duduk.


"Terima kasih." Syene duduk dengan anggunnya. Hampir semua pegawai di spa kecantikan itu melirik pada gadis berambut pirang itu. Syene terlihat sangat bersinar bahkan sebelum ia melakukan perawatan.


"Jadi ini untuk paket-paket yang tersedia di spa kecantikan kami." Pegawai ini mengambil sebuah buku tebal yang hanya memiliki beberapa lembar isi di dalamnya. Dia pun mulai menjelaskan semua tentang harga dan perawatan apa saja yang akan Syene dapatkan jika membayar sesuai dengan harga paket yang sudah ditentukan.


Syene begitu antusias mendengarkan setiap penjelasan pegawai dengan name tag 'Ariana' itu. Syene tersenyum melihat semangat kerja gadis di depannya.


"Ariana cukup untuk penjelasanmu. Aku ambil paket yang komplit saja." Syene memotong perkataan Ariana.


"B-baik. Kami akan menyiapkan semuanya dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk Nona." Ariana langsung meminta beberapa rekan kerjanya untuk mempersiapkan semua yang diperlukan.


"Namamu hampir sama dengan adikku. Aku jadi merindukannya." Syene tersenyum ramah pada gadis bernama Ariana itu.


"B-benarkah? Apa adikmu masih kecil atau sudah dewasa?" Tanya Ariana gugup sekaligus penasaran.


"Dia seumuran denganku, hanya lebih muda beberapa bulan saja." Ungkap Syene sambil mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Arina.


"Benarkah? Wah, adik Nona pasti sama cantiknya dengan Nona." Puji Ariana terlihat sangat memuja.


"Ehm ... wajah kami sedikit mirip. Tapi dia memiliki wajah yang sedikit bulat, selebihnya kami cukup mirip kecuali warna mata. Ah, dia tidak menjawab panggilanku. Pasti sedang sibuk." Syene terpaksa menyimpan kembali ponselnya karena tidak mendapat jawaban dari Arina.


"Ariana, semuanya sudah siap." Ujar salah satu teman Ariana.


"Baik, terima kasih. Mari Nona." Gadis berkulit coklat itu mempersilakan dan meminta Syene ikut dengannya.


Syene pun berjalan di belakangnya. Wajahnya yang tadi sangat ceria, kini terlihat sedikit murung. Seperti ada yang mengganggu pikiran gadis belia itu.


"Mari Nona, ganti pakaian Nona dengan ini." Ariana memberikan sehelai bathrobe pada Syene. Syene menurut dan segera mengganti pakaiannya dengan bathrobe dari Ariana di ruangan khusus ganti.


"Mari kita mulai." Ariana mulai melaksanakan tugasnya untuk memberikan perawatan kepada calon pengantin itu.


Sejenak Syene terlihat sangat tenang dan menerima setiap proses perawatan tubuh yang Ariana lakukan padanya dengan baik. Ia memejamkan matanya menikmati kelembutan tangan Ariana yang memanjakan setiap bagian tubuhnya. Sangat tenang, damai, dan menyenangkan.


Beberapa saat berlalu, Syene bahkan tertidur pulas karena terlalu menikmati proses perawatan yang Ariana berikan padanya. Ia pun sama sekali tidak tahu ada seseorang yang memperhatikannya, lebih tepatnya memperhatikan penampilannya yang sedikit terbuka. Pria berambut merah itu tersenyum miring dan sepertinya sedang membayangkan hal-hal kotor.

__ADS_1


"Engh ...." Syene melenguh pelan dan perlahan membuka matanya. Ia masih belum sadar akan kehadiran orang asing di dekatnya. Perlahan ia bangun dari tidurnya Gadis itu tersenyum merasakan tubuhnya jauh lebih segar dari segar. Syene pun turun dari ranjang tempat ia tertidur.


"Astaga! Kau?" Syene terkejut dan segera merapikan penampilannya.


"Kenapa? Bukankah harusnya kau senang aku menemanimu?" Pria berkulit coklat itu tersenyum miring.


"Kau jangan kurang ajar! Berani sekali mengambil kesempatan saat aku tertidur." Syene memilih pergi meninggalkan Adam. Entah sengaja atau memang tidak, ia juga menyenggol lengan Adam dengan cukup kuat.


"Syene, kau sangat menggemaskan." Gumam Adam juga beranjak dari ruangan itu.


***


"Menyebalkan sekali. Dia pikir dia siapa? Sangat tidak sopan!" Syene menggerutu sambil mengenakan pakaiannya.


"Awas saja, jika aku ketemu lagi dengannya akan aku butakan matanya dan aku tendang miliknya itu sampai dia tidak akan berani lagi kurang ajar dengan siapapun." Syene bergegas pergi keluar dari ruangan ganti.


"Ariana, ini." Syene memberikan sebuah kartu kepada Ariana untuk membayar.


Setelah proses pembayaran selesai, Syene bergegas pergi dengan menaiki taksi yang tidak ia lihat dulu siapa yang sebenarnya sedang mengemudi. Pria dengan seragam sopir dan mengenakan topi itu menyeringai.


"Sir, kau berbelok ke arah yang salah." Tegur Syene sedikit kesal.


KLEK


"Kau? Turunkan aku di sini!" Titah Syene penuh kekesalan.


"No! Aku dengan susah payah bisa membawamu, tidak mungkin aku melepaskanmu begitu saja." Adam menolak keinginan Syene dan malah menambah laju mobilnya.


"Sialan kau! Apa yang kau inginkan, hah?" Syene memukul kepala Adam hingga pria itu mulai hilang fokus dan kendali.


"Jangan memukulku! Argh...kau ini tenanglah sedikit! Syene ...." Ucapan Adam terhenti dan ia mulai panik.


"Ke-kenapa mobilmu? Adam hentikan mobil ini! Kau melewati jalan yang tidak seharusnya, salah-salah nyawa kita bisa melayang." Syene pun mulai panik karena Adam kehilangan kendali atas mobilnya.


"AARGHHH ..."


BRAKKK


***

__ADS_1


"Engh..." Arina melenguh pelan. Perlahan wanita yang tengah hamil muda itu membuka matanya. Ia sedikit terganggu dengan terang cahaya yang masuk ke dalam matanya hingga membuatnya mengerjap beberapa kali.


Rasanya sangat asing. Semuanya asing, mulai aroma pengharum ruangan, dekorasi ruangan tempat ia berada saat ini bahkan sangat jauh berbeda dengan kamarnya dan Brennan atau kamarnya sendiri di rumah orang tuanya. Perlahan ia mencoba untuk bangun, mencoba mengingat apa yang sudah ia alami dan kenapa dia bisa berada di tempat yang sangat asing seperti ini.


"Shhh ... kepalaku pusing." Gumamnya seraya memegangi kepalanya.


"Aku ingat. Aku mengingatnya." Arina yang tiba-tiba mengingat apa yang ia alami pun sontak turun dari ranjang besar tempat ia terbaring dan berlari ke arah pintu.


BUKK BUKK BUKK


"Bukan pintunya! Aku harus pulang. Lepaskan aku!" Pinta Arina beteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar itu.


"Siapapun yang ada di luar, aku mohon lepaskan aku! Aku tidak punya urusan dengan kalian semua." Arina kembali berusaha meski sepertinya akan sia-sia saja usahanya.


"Brenn, Papa, Opa, aku takut." Ia luruh terduduk lemas di lantai. Kedua tangannya memeluk perutnya dengan air mata yang mulai menetes dari sudut mata indahnya. Ia yang biasanya pemberani dan berani melawan siapapun yang mengganggunya dan Syene, saat ini justru terlihat ketakutan dan rapuh. Bukan tanpa alasan, ia tidak ingin calon bayinya berada dalam bahaya.


"Aku mohon lepaskan aku. Aku ingin pulang." Arina mencoba menggedor pintu itu dengan sisa-sisa kekuatannya.


Tap


Tap


Tap


Samar-samar terdengar suara langkah kaki seseorang dari orang. Arina langsung berdiri dan sedikit menjauh dari pintu. Ia bahkan terlihat tengah mempersiapkan diri untuk lari.


KLEK


Pintu itu dibuka kuncinya dari luar. Tak lama terlihat pegangan pintu itu bergerak dan pintu kamar itu mulai terbuka.


"Bisa Arina, kau pasti bisa." Batinnya bersiap-siap.


"Jangan coba-coba untuk lari!" Suara seorang pria membuat niatnya seketika menjadi batal.


"Kau ...."


"Ya ... aku."


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2