Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 01 Bab. 10 : Petaka


__ADS_3

Berjalan menuju ke dungeon yang lebih dalam, Zerlicia menebas segala monster yang menghalanginya menggunakan pedang yang hampir tumpul karena terlalu banyak ia gunakan hari ini.


"Pedang ku.... sudah aku duga..." ucap Zerlicia di saat pedang yang ia gunakan, patah dalam pertarungan.


Seketika ia membuat pedang dari elemen sihir meskipun tahu, jika ia akan kehilangan banyak tenaga di saat menggunakannya.


Zerlicia harus berhemat! Persediaan makanan serta ramuan yang ia bawa, sangatlah terbatas. Jika ia tidak bisa menghemat energi sihirnya, Zerlicia dapat saja terbunuh seketika di dalam dungeon tersebut.


"Lantai 27? Sial, hari ini aku hanya bisa sampai di lantai 27?!", keluh Zerlicia dengan kesal, ia kemudian bersandar pada dinding dungeon, lalu ia duduk beristirahat sejenak di sana.


Sembari melihat-melihat sekeliling, Zerlicia sangat lelah hari ini, jika dipikir-pikir lagi, dia telah berjalan seharian penuh dan kini, malam telah tiba. Ia sangat kelelahan, jika ia memaksa melanjutkan perjalanan nya, nyawanya dapat terancam!


Ia berniat beristirahat di sebuah goa kecil yang terletak di dalam dungeon, membangun tenda, serta memasak makanan untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Zerlicia kemudian tidur untuk memulihkan tenaganya.


Saat ia terbangun di keesokan paginya, Zerlicia duduk melamun sejenak lalu pergi membereskan semua perlengkapan yang ia keluarkan. Seharusnya, Zerlicia beristirahat lebih lama lagi, kemarin dia sangat boros dalam menggunakan energi sihirnya, jadi kemungkinan, energi sihirnya masih belum pulih sepenuhnya.


"Aku lelah."


Zerlicia menggumam, ia terus melawan setiap monster yang datang pada dirinya, tanpa peduli seberapa kuat monster tersebut. Seperti yang dibilang sejak awal, apapun caranya, Zerlicia harus membuat Ratu iblis membantunya.


Dan kini, Zerlicia berharap, apa yang ia lakukan ini, mampu meyakinkan Ratu iblis untuk memberinya pertolongan.


Meskipun ia sangat kelelahan, matanya mengantuk, nafasnya terengah-engah, Zerlicia tetap harus melangkah maju, setiap rintangan yang dia temui, harus ia kerjakan agar dirinya dapat melangkah maju ke depan.


"Sudah aku duga.... memaksakan diri itu, sangat....", Zerlicia sampai di lantai ke 43.


Dia berniat melanjutkan perjalanan nya tanpa beristirahat sekalipun namun... sepertinya itu mustahil untuk ia lakukan. Zerlicia hampir saja terkapar karena kelelahan, darah monster yang membasahinya juga hampir kering, baunya sangat menyengat, mau tak mau, Zerlicia harus berganti pakaian.


"Kalau saja aku bereinkarnasi menjadi seorang laki-laki.... mungkin aku bisa menghidupi mereka dengan baik," ucap Zerlicia membasuh tubuhnya di sebuah danau kecil yang ia lihat.


"Perempuan itu lemah! Aku tahu hal itu... meskipun aku telah berusaha dengan keras, kenyataan bahwa aku tidak mungkin melewati batasanku sebagai seorang perempuan, sangatlah besar! Siapa aku yang berani melawan hukum alam?", ucapnya dalam hati sembari meneteskan air matanya.

__ADS_1


Zerlicia berendam di dalam sebuah danau kecil yang cukup terbuka. Meskipun di dalam hatinya masih terdapat kekhawatiran, tapi di sini hanya terdapat monster tanpa akal. Zerlicia harus merasa lega karena tak ada manusia lain di dungeon ini. Namun di samping itu, Zerlicia juga harus tetap waspada dengan monster liar seperti goblin dan sebagainya.


Zerlicia juga mencuci pakaian yang ia kenakan di danau kecil itu, dirinya hanya membawa satu pakaian lain yang akan ia gunakan ketika pakaian yang ia kenakan telah rusak sepenuhnya. Namun tetapi, pakaiannya hanya kotor karena darah monster yang ia lawan. Ia tidak perlu mengganti pakaiannya hanya karena hal sekecil itu.


Zerlicia memakai sebuah handuk, menghangatkan diri dengan api unggun yang ia buat, Zerlicia duduk diam sembari sedikit melamun tentang adik-adiknya. Tidak ada orang yang dapat ia ajak bicara, dia sangat kesepian, Zerlicia tak bisa mengutarakan keluhan yang terpendam di dalam hatinya. Zerlicia harus memendam semuanya hingga ia menyelesaikan urusannya dengan Ratu iblis.


"Sungguh, siapa aku yang berani melawan hukum alam?", ucap Zerlicia menatap langit-langit dungeon sembari menunggu pakaiannya yang basah, menjadi kering setelah ia jemur di atas api unggun.


Setelah pakaiannya kering, ia kembali berpakaian lalu tidur di dalam tenda untuk mengisi ulang tenaganya. Di hari esok, ia harus berjuang lebih keras lagi agar dia menjadi seorang yang lebih kuat dari sebelumnya.


"Mimpi itu lagi...?", ujar Zerlicia melamunkan apa yang telah ia mimpikan.


Sama seperti kemarin, mimpi itulah yang membuat Zerlicia enggan untuk beristirahat. Rasanya, mimpi tersebut seperti mengikatnya agar ia tak bisa bergerak lebih jauh lagi.


Dirinya bermimpi, Zerlicia bermimpi tentang sebuah gadis yang cukup pendek dari dirinya, di dalam mimpinya, Zerlicia diikat ke tiang, lalu gadis itu seakan-akan mempermainkannya layaknya ia sedang mempermainkan sebuah boneka.


Zerlicia sangat yakin, jika gadis di dalam mimpi, merupakan seorang Ratu iblis yang harus ia temui. Itulah mengapa, Zerlicia selalu melamun di saat ia baru bangun dari tidurnya.


Zerlicia sangat takut melanjutkan langkahnya, meskipun begitu, tanggung jawab yang ia bawa lebih besar dibandingkan dengan rasa takutnya. Zerlicia harus melangkah maju! Ia harus berkembang! Zerlicia harus segera menemui Ratu iblis supaya dia dapat menjalin sebuah kontrak dengan Ratu dari segala iblis tersebut.


Lantai 66. Semakin lama Zerlicia semakin mendekati ruangan singgasana Ratu iblis. Tak lama lagi, ia akan melawan sebuah entitas terkuat di dunia lain ini. Namun tetapi, Zerlicia kini merasa bimbang untuk melanjutkan langkahnya.


Ramuan yang ia bawa, sebentar lagi akan habis. Zerlicia takut jika ramuannya habis sebelum ia berhasil sampai ke ruangan singgasana Ratu iblis.


<"Fokus!">


Lagi-lagi suara yang sama terdengar kembali. Suara tersebut seakan memberi efek hipnotis ke diri Zerlicia. Sebab, suara tersebut hanya muncul ketika Zerlicia merasakan kebimbangan di dalam hatinya.


"Iya-iya, tak lama lagi...." ucap Zerlicia untuk menyemangati dirinya sendiri.


Ia berjalan menuju ke lantai yang lebih dalam lagi, dengan persiapan tekad yang begitu kuat, Zerlicia melangkah selangkah demi selangkah mendekati ruangan singgasana Ratu iblis yang menjadi targetnya.

__ADS_1


Sesaat ia tersadar jika dia terkena hipnotis oleh suara yang muncul di dalam kepalanya itu, namun, karena telah terlanjur berjalan, Zerlicia tak peduli dengan dirinya dihipnotis ataupun tidak.


Yang ia pedulikan hanyalah pergi menemui Ratu iblis agar dirinya dapat terikat kontrak dengannya. Tak kurang dari itu! Jika ia bimbang, maka suara itu akan menghipnotisnya lagi hingga sampailah Zerlicia ke ruangan singgasana Sang penguasa Iblis yang keji.


Seminggu telah berlalu, setidaknya itu adalah waktu Zerlicia sekarang jika dihitung dari jumlah dia tidur di dalam dungeon. Karena ia tidur sebanyak 7 kali, otomatis Zerlicia berfikir bahwa, ia telah berada di dalam dungeon selama 7 hari penuh. Bahkan lebih.


Dan kini, dia telah sampai di depan pintu gerbang menuju ke ruangan singgasana Ratu penguasa iblis. Ketika Zerlicia mendekati pintu gerbang yang besar tersebut, sontak saja pintu itu terbuka dengan sendirinya. Seolah-olah pemilik ruangan mengizinkan Zerlicia memasuki ruangannya.


Di dalam kesunyian, Zerlicia mengamati sekeliling, ramuan yang ia bawa hanya tersisa belasan. Sekitar 7 ramuan penyembuhan dan juga 6 ramuan untuk memulihkan energi sihir. Zerlicia juga membawa sedikitnya 10 ramuan penambah kekuatan, meskipun begitu, kini ramuannya itu, hanya tersisa 3 buah saja.


"Manusia... sebelumnya tidak pernah ada manusia yang memasuki ruangan ini. Jika memang bisa, pasti orang itu tubuhnya telah berantakan," ujar seorang gadis dari dalam kegelapan sebelum pada akhirnya, wajahnya terlihat setelah lampu lentera di dalam ruangannya, menyala.


"Perkenalkan, Ratu dari segala jenis iblis, Archela! Sepertinya kamu bukanlah manusia biasa, apakah aku salah, Nona reinkarnator?"


"Ka--dari mana kamu mengetahuinya?!", dengan panik, Zerlicia berteriak ke arah Archela yang muncul dengan aura mencekam di belakang tubuhnya.


<"Fokus"> suara itu lagi...


Zerlicia lagi-lagi mendapat sebuah telepati dari seseorang. Telepati itu menyuruhnya untuk fokus dengan apa yang ia tengah kerjakan.


Akan tetapi...


"Kau dengar itu?"


"...?!" seketika Zerlicia merinding takut, sebab, suara Archela sama seperti suara yang ia dengar di kepalanya.


"Benar, tak ku sangka kamu benar-benar serius datang ke sini, padahal kamu bisa saja menghiraukan ucapanku itu dan kabur."


"...."


"Yah, terserah, meskipun dirimu seorang reinkarnator, kau tetaplah manusia biasa, ya? Tapi, meskipun begitu, aku suka manusia yang kuat. Jangan membuatku kecewa, Nona!", sontak, Archela menyerang Zerlicia dalam sekejap. Zerlicia pun terdesak oleh serangannya.

__ADS_1


Beruntung, Zerlicia berhasil menghindari nya.


"Bagus, mari bersenang-senang, manusia!"


__ADS_2