
Dalam senyap, Archela melarikan diri dari diri Layha yang tiada henti memperlakukan dirinya sebagai seorang anak kecil.
Saat malam tiba dan semua terlelap dalam tidur mereka masing-masing, Archela mengendap-endap keluar istana. Namun, sayang sekali. Dirinya tidak bisa lari lebih dari pintu istana.
"Layha akan membunuhku jika membiarkanku pergi, Seyla," ucap Zerlicia menggendong Archela tanpa perasaan.
Dirinya menggendong Archela bagaikan tengah membawa sekarung gandum di pundaknya. Dia membawa Archela begitu saja hingga dirinya sampai di kamar leluhurnya.
****
Keesokan harinya—
Zerlicia, Layha dan Archela, berkumpul di satu ruangan untuk mendiskusikan tentang rencana mereka kedepannya. Kekuatan Archela telah bangkit kembali, namun, Layha yang memegang kendali atas kekuatan Archela.
Tubuhnya yang mungil juga membatasi pergerakan nya, kini, mau tidak mau, Archela harus selalu berada di samping Layha setiap waktu supaya Layha memberikan keringanan kepada Archela dan berharap dirinya mendapatkan kembali kekuatannya meskipun hanya sedikit dari seluruh kekuatannya.
"Ratu iblis kini ada tiga. Hufh, keseimbangan dunia ini telah terguncang. Apa kalian tahu? Dengan banyaknya pemimpin iblis yang memimpin seluruh iblis dalam waktu yang bersamaan, itu akan mengganggu keseimbangan dunia ini. Dengan kata lain, mereka.... Tidak akan tinggal diam."
**
Mereka ya? Dulu Seyla sempat berkata padaku tentang ras yang mengirimku ke dunia ini. Aku yakin, mereka tidak akan tinggal diam jika tahu bahwa pemimpin iblis kini berjumlah tiga orang.
"Hanya dua, Archela!" kata Layha kemudian melompat dan memeluk Archela yang hendak mengambil biskuit yang ada di meja.
"Hah?!" Archela yang kaget, seketika tersedak akibat dari Layha yang memeluknya secara tiba-tiba.
"Butuh susu?" ucap Layha dengan membusungkan dadanya... meskipun ukurannya tidak jauh besar dari ukuran dadaku.
"Enggak, makasih!"
"Ih... katanya kamu akan menuruti semua keinginanku?!" Layha mulai merengek kepada Archela. Setiap kali Archela menolak keinginan Layha, saat itu lah Layha mulai merengek kepada Archela agar keinginannya tercapai.
"Memangnya punyamu keluar?!"
"Ugh... iya juga. Masa menyusui ku sudah berakhir sejak dahulu kala.... bagaimana ini, Zerlicia?! Aku ingin sekali menimang bayi namun, aku tak ingin mengganggu garis keturunan keluarga kita."
Apa yang kau bicarakan?!
"Ah, aku baru ingat jika aku punya janji dengan Rleas," aku punya firasat bahwa Layha akan menyuruhku untuk menikah dan memiliki keturunan tapi... aku masih belum kepikiran untuk menginjakan kakiku ke jalan kedewasaan!
__ADS_1
Jadi aku kabur....
"Kau punya janji untuk melakukan itu dengan Rleas?! Betapa senangnya, aku senang memiliki keturunan yang pengertian seperti dirimu," ucap Layha. Ugh, dia benar-benar menginginkan aku untuk memiliki seorang anak.
"Mana mungkin, secara dia adikku!" ini melelahkan jika aku terus berada di tempat seperti ini.
"Kok bisa gi—"
"Yah, dia kabur," ucap Layha setelah Zerlicia menutup pintu ruangan tersebut.
"Jadi apa rencanamu, Layha?"
"Kau bertanya padaku? Bukankah seharusnya aku yang bertanya pada dirimu?" ucap Layha membalas pertanyaan Archela.
"Yah jika kamu ingin ikut rencanaku maka, aku ingin membangun kembali kerajaan ini.."
"Itu ide yang bagus. Dari segi mana pun, bocah itu belum sanggup untuk menjadi penguasa. Dia masih labil."
"Kau benar. Namun, jika ada masalah serius, aku akan meminta pertolongan darimu."
".... kau akan? Apakah kamu bersedia mengembalikan kekuatanku?"
".... ya, untuk sekarang, mari fokus terhadap rencanamu, Layha."
*****
Dengan begitulah, mereka menghabiskan waktu satu tahun lamanya untuk membangun ulang kerajaan Ralley kembali.
"Ah Tuan putri,"
"Ayolah, jangan panggil aku dengan sebutan seorang itu, rasanya aneh didengar."
"Hahaha, bagaimana bisa saya memanggil Anda dengan menggunakan nama Anda tanpa memandang status Anda. Saya merasa tidak sopan jika harus memanggil Anda dengan menggunakan nama."
"Tak apa, aku telah mengizinkannya."
"Ya, mungkin Anda setuju namun, leluhur Anda...."
"Yah, dia memang agak aneh... maafkan tentang perlakuan nya."
__ADS_1
"Tak apa, justru, saya senang melihat leluhur kerajaan Ralley selama saya hidup. Saya yakin sekali jika kerajaan yang mampu menampung seluruh ras yang ada tanpa adanya tindak rasisme terhadap ras ras lain di dunia ini, tidak mungkin didirikan oleh seorang yang biasa-biasa saja. Sudah dapat dipastikan bahwa leluhur Anda adalah seorang yang hebat!"
"Kau terlalu berlebihan dalam memuji La—Leluhurku."
"Ngomong-ngomong Tuan Putri, apa kamu tertarik masuk ke akademi?"
"Hmmm." Akademi ya? Aku belum pernah merasakannya.
"Dengan difasilitasi langsung oleh leluhur Anda, saya dapat menjamin bahwa akademi yang berada di kerajaan ini, akan berjalan sesuai dengan visi dan misinya."
Itu menarik untuk dicoba namun, apakah aku boleh mencoba hal semacam ini? Hmm, seharusnya yang disekolahkan itu... adalah.
"Aku akan mencobanya namun, ada syaratnya."
"Syarat? Syarat apa yang Anda ingin saya penuhi?"
"Syarat nya adalah...."
*****
"Jadi, Zerlicia, bagaimana perkembangan kerajaan kita?"
"Normal, namun, semua orang memanggil diriku dengan sebutan Tuan putri. Kau tahu? Ini terasa aneh."
"Haha, kelak kamu akan terbiasa. Ngomong-ngomong, bagaimana jika dirimu mencoba sesuatu yang baru?" ucap Layha sembari menunjukkan sebuah poster kepada diriku.
"Kau tahu? Aku ingin membicarakan tentang hal ini tadi namun, kurasa kita punya pemikiran yang sama ya?"
"Hahahaha, dahulu aku tidak bisa bersekolah dengan baik jadi, aku ingin setidaknya dirimu merasakan bagaimana rasanya sekolah itu."
Yah, kau menyuruhku untuk merasakan bagaimana rasanya bersekolah. Padahal di duniaku yang sebelumnya, aku telah bersekolah sampai tingkat dua SMA.
"Bisakah kita juga menyekolahkan adik-adikku?"
"Tentu saja..."
Langsung disetujui?
Yah, aku senang mendengar nya. Akhirnya cerita ini memasuki bagian kehidupan anak sekolahan.
__ADS_1