
Menghindari serangan Archela dengan melompat kebelakang, membuat Zerlicia merasa terdesak olehnya. Dirinya terdesak lantaran ia tak sengaja melompat ke arah tembok di belakangnya. Dan hal ini membuat Zerlicia, harus segera menjaga jarak dari diri Archela.
"Hebat, kau seakan-akan melihat serangan ku selanjutnya...? Tapi, aku tak sebodoh monster di luaran sana!"
Berharap dirinya dapat menjaga jarak dari Archela, Sang Ratu Iblis, Zerlicia harus bergerak kembali karena Archela mengubah arah serangannya dari yang awalnya vertikal, menjadi diagonal ke arah Zerlicia.
Pedang yang dipegang oleh Ratu Iblis, merupakan sebuah pedang yang entah pedang itu muncul dari mana. Zerlicia sama sekali tidak menyadari jika Archela mengeluarkan pedang dari alam ghaib. Zerlicia berfikir, jika Archela telah memegang pedang sejak awal namun, Zerlicia tidak sadar jika pedang yang Archela gunakan, baru saja ia keluarkan.
Pedangnya cukup panjang hingga mampu meraih tubuh Zerlicia meskipun Zerlicia telah menghindar.
"KyaAarh" Zerlicia menjerit kesakitan, ia kemudian terkapar di lantai dungeon dengan bahaya yang semakin mendekati nya.
Ini bagaikan apa yang ia mimpikan. Persis seperti mimpi buruk yang menghantuinya akhir-akhir ini... jika Zerlicia menyerah sekarang, mimpi buruknya akan berubah menjadi kenyataan.
Bangkit! Zerlicia harus segera bangkit sebelum Archela mendekati nya. Luka yang bisa dibilang tidak parah namun, karena ia telah kelelahan sejak awal, maka hal itu menyebabkan ia terkapar karena kehabisan tenaga.
"Freeze!", ketika musuh semakin mendekat, namun kau tak bisa berbuat banyak. Disamping itu, otakmu terus berfikir untuk melawan! Dan karena hal itu lah, insting mu bekerja! Zerlicia sontak mengeluarkan sihir es untuk membuat tembok penghalang dirinya. Zerlicia membuat sebuah tembok dengan membekukan partikel-partikel yang terdapat di udara terbuka. Tak hanya membuat tembok pembatas, Zerlicia mengarahkan sihirnya itu ke arah Archela dengan harapan dapat membeku karena sihirnya namun...
"Sayang sekali ~", dengan mudahnya ia terbang menghindari serangan Zerlicia.
Tak menghabiskan waktu hanya untuk mengasihani diri, Zerlicia segera mencari tempat yang tepat untuk memulai pertarungan dengan Archela.
Sementara Archela terbang di langit-langit, Zerlicia bergerak menuju ke tengah-tengah ruangan.
"Aku suka cara berfikir mu," ucap Archela memuji Zerlicia. Meskipun Zerlicia telah terkapar satu kali, Zerlicia tidak langsung menyerah dan langsung meminta tanding ulang dengan Ratu iblis.
"Kau tak punya senjata?"
"...", Zerlicia terdiam ketika Archela menanyainya tentang senjata yang seharusnya ia bawa.
"Ah, karena itulah kamu menggunakan sihir? Dan karena itulah kamu kesulitan melawanku dalam pertarungan jarak dekat?", ujar Archela.
"...", lagi-lagi Zerlicia tidak menjawab ucapannya, disamping ia ketakutan dengan aura mencekam yang dikeluarkan oleh Archela, Zerlicia tak bisa kehilangan fokusnya hanya karena menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Archela tersebut.
"Baiklah, aku melihat pertarungan mu dan, aku ingin merasakan langsung, sejauh mana teknik pedang yang kau miliki," ia kemudian mengambil pedang dari sebuah portal kemudian melemparkannya ke arah Zerlicia.
"Ambil!", Archela memerintah Zerlicia untuk mengambil pedang pemberiannya tersebut.
"...", tentunya Zerlicia enggan mengambilnya karena takut namun...
__ADS_1
"Ambil atau kau akan mati di sini!", ketika ia dibentak seperti itu oleh Archela, Zerlicia mau tak mau harus mengambil pedang pemberiannya itu, meskipun di dalam hatinya, ia masih belum mempercayai Ratu iblis sepenuhnya.
Setelah Zerlicia mengambil pedang tersebut, mereka berdua kemudian terlibat dalam adu pedang. Kali ini Zerlicia berhasil menangkis serangan Archela dan mengikuti irama yang dibuat oleh Sang Ratu iblis tersebut.
"Kenapa dirimu hanya bertahan saja?! Kemana kegilaanmu dalam menguasai seni berpedang seperti apa yang aku lihat tadi?!", bentaknya.
Zerlicia tak bisa menyerang secara asal-asalan, jika ia melakukannya, maka tak lama nyawanya akan lenyap seketika. Untuk sekarang, Zerlicia menangkis seluruh serangan yang dilakukan oleh Archela kemudian mengamati setiap gerak-geriknya.
Setelah itu, barulah ia dapat memulai serangan balik dengan indah.
"Bagus! Benar begitu!!" teriak Ratu iblis setelah menerima serangan dari Zerlicia yang kondisinya tengah terluka, "Meskipun kamu terluka cukup parah, kamu masih bisa membuat serangan secantik ini? Mengagumkan!", lanjutnya.
Kemudian disambung dengan serangan kedua yang Zerlicia lakukan, ia menebas dengan sekuat tenaga yang ia punyai. Tak jarang ia menambahkan sedikit elemen sihir pada bilah pedang yang ia gunakan tersebut, untuk memberi kerusakan lebih parah kepada lawannya.
"Apa kau telah mencapai batasan mu?", ucap Archela dengan nada sedih melihat Zerlicia terengah-engah hingga tak dapat berdiri.
Meskipun begitu, Zerlicia merogoh tas petualang di lututnya dengan harapan, terdapat beberapa ramuan di dalam tas tersebut. Kalau tidak salah, Zerlicia menyimpan setengah dari sisa ramuan yang ia bawa ke tas pahanya itu.
"Cantiknya, meskipun penampilanmu cukup berantakan karena darah di pakaianmu, kamu sangat cantik di saat-saat seperti ini."
"..."
Zerlicia menegak dua ramuan penyembuh serta dua ramuan pemulih energi sihir. Setelah ia selesai meminum semua yang ia perlukan, Zerlicia melanjutkan kembali serangannya terhadap diri Archela.
"Tidak...."
"Wow, kau menjawab kata-kataku?! Kupikir kamu menjadi bisu karena melihat kekuatanku?", Archela sengaja mengejek Zerlicia.
"Aku punya sesuatu yang harus aku lakukan dengan kekuatanmu, jika aku gagal di sini, aku tak akan bisa beristirahat dengan tenang!"
"Ada sesuatu yang harus dilakukan? Apa itu?"
"Itu....", Zerlicia terdiam sejenak.
"Balas dendam."
Seketika Archela tersenyum lebar disaat mendengar Zerlicia mengatakan hal semacam itu. Sungguh tidak terduga, Seorang reinkarnator yang harusnya menjaga negara, malah justru ingin menghancurkan negara tempat kelahirannya sendiri. Benar-benar seorang wanita yang gila!.
"Bagus.. tetapi, tetap saja! Jika kamu tidak membuktikan bahwa kamu pantas membawaku pergi dengan kekuatanmu, maka kamu tak akan bisa membalaskan dendam mu..."
__ADS_1
"Aku akan!", teriak Zerlicia dengan wajah serius menatap diri Archela.
"Bagus, aku suka kebulatan tekad mu itu, hahahaha, tidak pernah ada seorang reinkarnator sebelum dirimu yang mencoba menggunakanku sebagai alat balas dendam. Kebanyakan dari mereka menginginkan kekuatan ku untuk melindungi sebuah negara. Aku tak mau itu. Apalagi, mereka sangat arogan. Tetapi dirimu... Kau menarik perhatian ku! Setidaknya jika kamu kalah dariku, kamu tak akan aku bunuh! Mari kita lanjutkan ceritamu setelah kamu kalah dariku!"
"Itu tak akan terjadi!", Zerlicia menjerit sekuat tenaga, melesat ke arah Archela kemudian mulai mengibaskan pedang tajam nya ke arah Archela yang menjadi lawannya.
"Pertarungan ini akan menjadi sebuah pertarungan terlama yang aku lakukan setelah sekian lama...
"Jadi, tolong serius!"
****
"Apa yang harus kita lakukan, Kakak?" beberapa saat setelah Zerlicia meninggalkan kota tempat dimana Lein berada bersama Wayra dan adiknya.
"Untuk sekarang, ada yang tahu dimana panti asuhan yang mengasuh adik-adik nya? Setidaknya aku perlu berada di sana untuk memberi mereka perlindungan," ucap Wayra menjawab pertanyaan adiknya.
"Lebih baik kalian tetap berada di kota ini. Mengingat diri kalian tengah menjadi buronan kelas nasional, tindakan kalian berdua hanya akan membuat Nona Zerlicia marah besar," ucap Lein menengahi pembicaraan mereka.
Lein datang dengan membawa pakaian pelayan untuk Elsa, sedangkan untuk Wayra, Lein membawakan pakaian yang biasa Zerlicia pakai.
"Terutama untuk mu, Wayra, lebih baik kamu bersembunyi karena para pasukan telah hafal dengan wajahmu. Mungkin sekarang kamu aman karena Zerlicia memotong rambutmu hingga terlihat seperti orang lain namun, jika kamu terus berkeliaran di luar sana, penyamaranmu akan terungkap," ujar Lein kemudian menyuruh mereka berdua mandi.
"Jadi... yang Zerlicia lakukan itu...?"
"Aku tak tahu isi pikirannya. Yang jelas, ia selalu bertindak seperti seorang Kakak, mungkin seorang ibu? Dia selalu peka terhadap perasaan dan masalah yang dialami oleh seseorang. Meskipun aku yakin, dia awalnya memotong rambutmu hanya agar hasratnya terpenuhi," lanjut Lein.
"Apapun itu, Zerlicia tak mau kita menambah masalahnya. Untuk sekarang, kita harus bertahan selama Nona ku menjelajahi dungeon."
"Kau benar. Kalau begitu, tolong bantuannya, Lein," ucap Wayra berterimakasih kepada diri Lein karena telah menjawab seluruh rasa kekhawatiran nya.
Kembali ke waktu semula.....
Mereka bertiga masih belum melakukan pergerakan yang begitu besar, keseharian mereka hanya bekerja di dalam kantor guild petualang. Namun, lambat laun, pasukan akan mencari mereka di dalam kota tersebut.
****
"Apa?! Kamu telah kelelahan? Apa kamu telah meminum semua ramuan yang kau punya? Malangnya~" pertarungan tak berhenti mereka lakukan, Zerlicia dan Archela, terus beradu pedang meskipun hari telah berganti, dan Zerlicia merasa begitu kelelahan sekarang.
"Manusia tetaplah seorang manusia, mereka tak akan pernah bisa menandingi kekuatan ras lain," ujar Archela.
__ADS_1
"Berisik!!!", meskipun tahu jika tak ada gunanya ia menyerang, Zerlicia tetap menyerangnya. Alhasil, Zerlicia harus menerima rasa sakit yang begitu menyiksa.
"Lama-lama pertarungan ini jadi membosankan. Ah sudahlah, mari kita akhiri saja?", setelah ia menebas tangan kanan Zerlicia, Archela kemudian bersiap untuk menusuk jantung Zerlicia yang terkapar dengan bersimbah darah di atas lantai dungeon.