Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 1 Bab. 4 : Rasa bersalah


__ADS_3

Ketika dirinya tiba di kota yang memberinya misi jebakan tersebut, Zerlicia dengan rasa kesal, mendekati pelayan yang melayaninya lalu menarik kerah bajunya.


"A---Ada apa, C... Nona Namsaka..." gadis itu ketakutan. Pelayan tersebut takut, bahkan dirinya sampai tidak berani menyebut nama panggilan Zerlicia.


"Ada apa?! Apa kau tahu apa yang aku alami ketika mengerjakan misi sulit ini!!?" Zerlicia berteriak tepat di depan wajah resepsionis (?) dengan emosi yang membludak.


"....?" Rintih kesakitan karena lehernya terasa seperti tercekik, resepsionis guild tersebut menggelengkan kepala seraya sedikit mencoba menjawabnya dengan kata-kata.


Mendengar hal itu, seluruh orang yang ada di dalam kantor guild, seketika berdiri lalu memasang mode siaga dan menyuruh Zerlicia menghentikan apa yang dia lakukan sekarang ini juga! Zerlicia tidak mau masalah hari ini semakin banyak saja. Oleh karena itu, dirinya melepaskan resepsionis itu dan kemudian dirinya, menagih bayaran atas misi jebakan yang telah ia jalankan.


"Aku meminta bayaranku!" Zerlicia kemudian menyerahkan keenam kepala bandit yang menyerangnya kepada resepsionis tersebut. "Sejujurnya, 1.000 koin emas saja tidak cukup untuk membayar sesuatu hal yang telah aku alami kau tahu?"


"Mereka... asli?" Resepsionis dengar rasa takut membuka kantung yang penuh dengan kepala para bandit.


"Iya."


Setelah Zerlicia selesai, resepsionis menelan ludahnya lalu segera mencari uang yang pas untuk membayar Zerlicia. Zerlicia sempat berfikir jika terdapat beberapa komplotan bandit lain yang berada di dalam kantor guild petualang ini, meskipun demikian, Zerlicia mengurungkan niatnya untuk menghabisi bandit-bandit yang menyamar di dalam guild.


"Mohon maaf, kami hanya punya 5.000... aku harap ini bayaran yang sesuai," ucap resepsionis dengan menundukkan kepalanya.


Resepsionis itu tampak seperti begitu menyesali perbuatannya. Zerlicia tidak tahu apa yang resepsionis itu sesali namun, sampai memberikan semua yang dia punya... bagi Zerlicia, itu sedikit keterlaluan.


"Aku ambil setengah nya saja. Cepat hitung!"


"Eh?"


"Jangan malah eh! Hitung!" Zerlicia menampar meja di depannya lalu resepsionis itu dengan gemetaran mulai menghitung apa yang Zerlicia inginkan.


Setelah beberapa saat menunggu, Zerlicia mendapatkan apa yang ia mau. Kemudian setelah itu, Zerlicia hendak pergi namun....


"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu...."


"Yah terserah, aku yakin kamu tadi membayarku dengan seluruh uang yang kau miliki karena menyadari kalau misi yang kujalankan tadi adalah misi jebakan."


"Aku benar-benar minta maaf."


"Tidak apa..."


"Sebagai permintaan maaf ku... Tolong temui aku malam nanti di depan kantor guild petualang ini."


"Hmm...."


Zerlicia tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya takut jika resepsionis itu menjebaknya lagi meskipun begitu, tidak enak mengabaikan permintaan dari seorang yang meminta hingga membungkukkan tubuhnya hingga sudut 90 derajat.


Oleh karena itulah, Zerlicia pergi saat malam tiba. Tepatnya ketika jam kerja resepsionis itu berakhir dan diganti oleh orang lain.


"Aku benar-benar minta maaf!" Dia membungkukkan badannya kembali ketika Zerlicia sampai di sana.


"Huh.. jadi, apa yang ingin kau sampaikan?"


"Anu... Ayahku pemilik guild ini dan.... aku mewarisi guild ini dari ayahku," dirinya memulai sebuah cerita...


"Sedari guild ini berdiri, kesalahan seperti ini tidak pernah dilakukan oleh ayahku. Saat dia mulai sakit-sakitan, aku mengurus guild ini sejak 2 tahun yang lalu."


"Sekarang ayahmu?" Zerlicia bertanya.


"Dia sudah tiada," jawab resepsionis dengan nada sedih.


"Dengan demikian, aku benar-benar meminta maaf sebesar-besarnya kepada dirimu, dan juga kepada petualang yang hilang saat menjalankan misi ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi namun yang pasti, itu buruk bukan?


"Ah, mari ganti tempat kita ke rumah ku."


Tidak nyaman rasanya membicarakan hal berbobot besar di tempat umum. Oleh karena itu, mereka pergi ke rumah resepsionis bernama Lein yang terletak di belakang kantor guild petualang di kota tersebut.


"Kau tinggal sendirian di rumah besar ini?"


"Ya... kedua orang tuaku sudah tidak ada. Aku sendirian..."


"Tidak ada niatan untuk menikah apa?" Zerlicia sedikit bercanda dengan Lein.


"Tidak mungkin bagiku. Aku terlalu sibuk dengan kantor guild. Setiap hari aku sibuk dan tidak punya waktu untuk urusan asmara."


"Eh~. Jadi, apa yang kamu ingin katakan?"


"Ah itu..." Lein meninggalkan Zerlicia di dalam kamarnya. Dirinya pergi ke bawah untuk mengambil sesuatu. Sesuatu itu berupa pedang yang terbuat dari sisik naga yang sangat keras.


"Apa itu?"


"Mohon diterima. Sebagai permintaan maaf ku, aku rasa ini sesuai," Lein benar-benar merasa bersalah. Dirinya hingga menyerahkan kepada Zerlicia, sebuah senjata legendaris yang ayahnya wariskan untuk dirinya sendiri.


"Lalu?"

__ADS_1


"Masih belum?!"


Di sini, Zerlicia sedikit menjahili Lein yang berupaya mendapatkan kepercayaan Zerlicia kembali.


"Tapi, hanya itu yang ku punya..."


"Oh~" Zerlicia menghela nafas.


"Baiklah, bagaimana dengan rumahku?!"


"Kau akan tinggal dimana?"


"Kantor guild Petualang punya kamar di lantai dua!"


"Masih kurang!"


"Eh~"


Ini mulai terasa menyenangkan bagi Zerlicia. Menggoda seseorang yang usianya lebih tua darinya, Zerlicia merasa senang saat mempermainkan Lein yang memiliki sifat semacam itu.


"Akan ku berikan sisa uang yang kau minta tadi juga!"


"...." Zerlicia menggelengkan kepalanya.


"Baju? Aku akan menjual semua bajuku. Dan uangnya akan kuberikan kepada dirimu?!"


"Lalu apa yang kau pakai?"


"Pakaian murahan...."


"Akan kuambil baju-baju mu saja, tapi masih kurang!"


"Eh~" Lein kembali merengek. Kini dia tidak memiliki hal lain yang bisa ia berikan ke Zerlicia yang mengalami kejadian menyebalkan karena misi jebakan.


"Aku...."


"Huh?"


"Aku akan memberikan kehidupan ku ke kamu," dirinya sudah benar-benar terdesak kali ini.


"Bentar... kenapa kamu tidak memberikan guild yang kau jalankan saja? Dengan itu kamu tidak perlu sampai kehilangan harga diri serta nyawamu tidak akan berada di dalam genggaman ku." Zerlicia mulai merasa kalau dirinya sudah keterlaluan mempermainkan Lein.


"Aku tidak bisa. Guild itu tidak boleh jatuh ke tangan lain."


".... Bukan begitu... Ayahku memberiku pesan wasiat terakhirnya untuk mempertahankan guild apapun yang terjadi. Oleh karena itu... aku tidak akan menumbalkan guild ku!"


"Dengan kata lain, kamu bersedia, secara kasarnya, kamu bersedia menjadi budakku, begitukah?"


"Iya..."


"Apa itu tidak keterlaluan?" Zerlicia bertanya dan kini, hatinya mulai merasa was-was.


"Tidak... hingga kini, aku sudah membuat sekitar 15 petualang wanita hilang memasuki hutan terlarang. Dibandingkan dengan mereka yang menjadi budak di tempat lain... aku masih belum bisa membayar kesalahanku kepada mereka. Meskipun kini aku menjadi budakmu, aku masih tidak dapat membayar kesalahanku."


"Apa kau yakin?"


"Iya... dipergunakan untuk mencari uang instan juga tidak masalah. Jadi, aku ingin kau, menjadi perwakilan bagi mereka. Aku ingin kau mewakili mereka untuk memberikan hukuman seumur hidup kepada diriku."


"Maksudmu mencari uang secara instan?"


"Prostitusi... jika kau rasa itu hukuman yang pantas bagiku, aku tidak akan melawan. Segera kita akan melakukan kontrak budak dan pemilik."


"...." Zerlicia benar-benar kehilangan kata-kata dan merasa bersalah karena telah mempermainkan Lein yang begitu rapuh ini.


Lein menganggap, semua petualang wanita yang menghilang itu karena perbuatannya. Lein beranggapan bahwa setelah dirinya memberikan misi-misi yang memiliki kaitannya dengan hutan terlarang kepada petualang wanita yang hilang, dirinya tidak berhenti-henti menyalahkan diri sendiri setelah menyadari kesalahannya.


"Nona Namsaka?"


"Jangan bicara padaku! Aku pusing! Bisakah aku menginap malam ini?"


".... Bukankah kini rumah ini menjadi milikmu?"


".... Met malam, tidurlah di sampingku."


"Tapi?"


"Aku tak mau menerima keluhan apapun malam ini! Selamat malam~."


Mereka pun tidur berdampingan di sebuah kasur yang cukup luas untuk dipakai oleh dua orang remaja perempuan. Keduanya tidur dengan pulas, saat pagi telah tiba, seperti biasanya, Zerlicia bangun yang pertama kali. Dia bangun dengan rambut berantakan. Memang dia tidak pernah menata rambut nya setiap hari namun, dia selalu mempedulikan poninya.


Rambut atas hanya disisir dan dirapikan sedikit saja. Untuk sisanya, Zerlicia membiarkan mereka berantakan.

__ADS_1


Ketika dia bangun, Zerlicia melihat Lein yang tidur dengan pulas di sampingnya, dengan rambut panjang nya, Lein tertidur pulas meskipun terkadang, Lein kerap mengigau di malam hari.


Zerlicia sempat terbangun hingga tiga kali semalam karena mendengar suara rintihan dari mulut Lein.


"Mnnmmmm....?" Lein mulai membuka matanya, akhirnya ia terbangun dari tidurnya yang pulas.


"Met pagi.." saat ia bangun, Zerlicia menyambutnya dengan senyum ramah yang berseri-seri.


"Maaf, Nona Namsaka, aku seharusnya bangun lebih dulu dari Anda..." Lein kemudian duduk secara perlahan lalu setelah dia mengumpulkan seluruh nyawanya, Lein berdiri dan pergi untuk mempersiapkan apa yang dirinya dan juga Zerlicia perlukan hari ini.


Mengingat kini, dia sekarang merupakan budaknya Zerlicia, jadi Lein harus bersikap layaknya seorang budak yang disuruh-suruh meskipun Zerlicia tidak menyuruhnya.


Mungkin karena enggan, atau masih terlalu cepat bagi Zerlicia untuk mengetahui sistem perbudakan. Intinya, Lein menjadi budak didasari oleh kemauannya sendiri.


"Masak apa, Lein?" tanya Zerlicia yang melihat Lein yang tengah sibuk mempersiapkan makanan di dapur.


"Apa Anda suka, roti isi? Maaf namun, hanya itu yang aku punya. Jika Anda tidak menyukainya, saya akan...." Lein berbicara secara berlebihan. Zerlicia tampaknya tidak menyukai cara berbicara Lein yang sekarang ini. Jadinya, sebelum Lein menyelesaikan kalimatnya, Zerlicia menyentuhkan telunjuknya ke bibir Lein supaya Lein berhenti berbicara.


Ketika ia terdiam, Zerlicia membuka mulut seraya berkata dengan senyuman, "Aku belum memiliki pemikiran untuk mempekerjakan dirimu di posisi itu, Lein. Mungkin saat uangku benar-benar habis, aku akan mulai menggunakan jasamu."


".....Nona, Anda terlalu baik."


"Kenapa? Apa kamu tidak suka? Bukankah kamu ini budakku, Lein?" tanya Zerlicia memastikan keteguhan hati Lein yang bertekad menjadi budaknya Zerlicia demi menebus kesalahan-kesalahan nya.


"Tetapi..."


"Budak harus menuruti perintah majikannya, aku benar bukan? Jadi oleh karena itu, Lein. Aku akan mengunakan dirimu jika aku membutuhkanmu. Tentunya jika kita masih bersikeras ingin melakukan kontrak budak dan tuan, aku bersedia menjadi tuan yang baik."


"Tetapi...." Lein ragu-ragu. Dirinya ragu karena mana mungkin dirinya berhak menerima kebaikan dari Tuan nya meskipun sudah menjadi budak.


"Lagipula, semua itu bukan murni kesalahanmu. Itu juga termasuk kesalahan petualang yang kurang waspada. Itu seperti saat ada petualang yang gugur kau tahu?"


"Tetapi...."


"Sudahlah, mereka tidak dendam pada dirimu, mereka dendam pada orang yang membuat misi yang berkaitan dengan hutan terlarang. Jadi, jadilah dirimu sendiri, ngomong-ngomong, aku tidak menerima pembatalan kontrak perbudakan," kata Zerlicia dengan niatan membuat hati Lein menjadi tenang kembali.


"...."


"Berapa usiamu?"


"21 tahun ini..."


"Yups, aku akan mempekerjakan dirimu di posisi itu jika aku benar-benar kehabisan uangku."


"...."


"Kau tahu? Rasanya aneh memiliki budak yang usianya lebih tua dariku. Ini cukup aneh karena aku harus bersikap seperti kakak meskipun aku lebih muda dari dirimu."


"Nona Namsaka!"


"Ya?"


"Kumohon, mulai hari ini aku bersedia menjadi budakmu sepenuhnya jadi, aku akan menuruti semua yang kau perintah. Aku tidak peduli apapun perintahnya...." ucap Lein dengan tangisan di matanya.


"Tentu," Zerlicia tersenyum manis menghadap ke arah Lein yang tampak terbebaskan di depan dirinya.


Kemudian setelah itu, Zerlicia menyantap sarapan yang Lein buatkan, sebuah roti isi dengan berbagai macam sayur serta sedikit daging di dalamnya. Setelah rampung sarapan, keduanya pergi ke tempat pedagang budak illegal yang terletak di daerah terpencil pada kota tersebut.


Mereka berdua meminta segel kontrak dan meminta dibuatkan kontrak budak dan tuan oleh orang itu. Hingga pada akhirnya, mereka berdua menjalin kontrak tuan dan budak.


Kontrak akan dinyatakan berhasil ketika si budak menerima hukuman ketika menentang perintah tuannya. Misal ketika, Zerlicia memintanya menunduk namun dirinya tidak menunduk. Hanya dalam waktu sekitar tiga detik, Lein menerima hukuman yang berupa, peningkatan hasrat seksual berlebih.


Ketika budak menerima hukumannya, perut mereka akan terasa panas dan kemudian, mereka merasa sensasi aneh meskipun mereka tidak memainkannya.


Dan begitulah singkatnya, di sini, Zerlicia bersedia mengikuti permainan Lein karena dirinya merasa bersalah karena telah mempermainkan Lein. Mau menolaknya juga dirinya tidak sanggup. Jika saja Zerlicia menolak tawaran Lein yang ingin menjadi budaknya, otomatis Lein akan melakukan hal nekat demi bisa membalas kesalahannya kepada para petualang wanita yang hilang.


Toh, jika hanya seperti ini, kehidupan Lein tidak jauh berbeda dari kehidupannya sebelumnya. Beruntung Lein menyerahkan diri kepada Zerlicia dari pada menjadi budak dan dijual di pasar budak.


"Anu, Nona Namsaka?" Lein mendekati Zerlicia yang bersantai sembari melihat dirinya bekerja.


"Zerlicia saja."


"Ya, jadi... apa Anda yakin Anda tidak akan menggunakan saya untuk mencari uang?"


"Iya... lagipula, pekerjaan yang tidak kau sukai hanya akan membunuh mentalmu. Jadi, aku memperbolehkan dirimu melakukan keseharianmu seperti biasanya."


"Anda terlalu baik."


"Baiklah, mari cari uang."


"Eh, katanya Anda... tapi, budak harus mematuhi perintah pemiliknya ya?"

__ADS_1


"Aku ingin berpetualang. Kau tetaplah di sini sambil mengawasi kalau-kalau ada salah seorang bandit yang menyamar di tengah-tengah petualang petualang ini."


"Baik!"


__ADS_2