
Zerlicia sekarang memiliki mainan baru, mainan yang akan menemaninya kemanapun, dan dapat ia suruh untuk melakukan apapun yang Zerlicia inginkan.
Mainan itu, adalah... Hana!
Setiap pagi, bagaikan sebuah kebiasaan, Zerlicia selalu membelai dagu Hana seperti layaknya ia membelai dagu anak kucing. Bahkan, ketika ia kelelahan setelah berkeliling, dirinya langsung memeluk Hana yang menunggunya di kamar penginapan, bagaikan memeluk seekor kucing.
Seperti masa lalu.
"Lambat laun, kamu jadi seperti Ratu iblis saja, Rally," kata Lein dengan tatapan jijik.
"Hahaha, habisnya dia imut sih. Rambut peraknya yang pendek lembut, dadanya yang mungil, serta perawakannya yang mungil juga. Mana mungkin aku tidak tertarik dengannya!", ujar Zerlicia.
"Rally, bukankah sekarang sudah saatnya kamu berhenti? Apa kamu lupa dengan tujuanmu datang ke tempat ini?", Lein menegaskan ulang bahwa kedatangan mereka ke ibu kota Kerajaan Ralley, adalah untuk menyelamatkan anak-anak panti.
"Kau benar... sudah seminggu kita berkeliling, tapi kita tidak menemukan organisasi gelap dimanapun. Aku rasa sudah saatnya kita merubah rencana kita," dengan keteguhan hati, Zerlicia yang tengah bersantai dengan membelai diri Hana, seketika menghentikan tindakan nya kemudian ia... berdiri untuk berbicara di depan mereka berdua.
"Akademi sihir!", itulah kata-kata yang Zerlicia ucapkan setelah dirinya berdiri di depan mereka berdua.
Akademi sihir, Zerlicia berniat menjadi murid di sana. Dirinya merasa, akademi sihir memiliki banyak sekali misteri di dalamnya, mungkin saja, ia bisa menemukan apa yang ia cari di dalamnya. Begitulah pikir Zerlicia ketika melihat akademi sihir kemarin.
"Akademi sihir, ya? Cukup masuk akal. Tetapi...." Lein memotong ucapannya untuk pergi mendekati diri Zerlicia.
"Sudah aku duga... terdapat gundukkan di kepalamu... tandukmu, mulai tumbuh," ujar Lein kemudian ia melorotkan celana pendek yang Zerlicia pakai.
"Bego!!!??" Zerlicia sontak terkejut dengan apa yang tiba-tiba Lein lakukan. Dia seketika berjongkok agar tubuhnya tidak terlihat meskipun, hanya ada mereka bertiga di dalam kamar tersebut.
"Hmm, dua tahun kamu menjadi seorang iblis, beberapa hari setelah menjadi iblis, rambutmu yang awalnya biru tua, kini memerah secara perlahan dari bawah, sekarang sudah dua tahun, warna merah yang dulu hanya berada di ujung rambutmu, mulai menjalar naik ke atas. Lalu, pertumbuhan tanduk... aku rasa, kita tak punya banyak waktu untuk tetap berpura-pura menjadi manusia di ibu kota ini. Sesaat setelah tubuh iblismu terbentuk, pasti pihak kerajaan akan langsung mencarimu," ujar Lein menjelaskan semuanya.
"Hei, Kak... aku senang Kakak jadi lebih pintar, namun... bisa tidak, Kakak lebih menjaga privasi ku? Jika Kakak melakukannya di tempat umum, mau ditaruh kemana lagi muka ku ini?!", ucap Zerlicia yang cukup merasa kesal dengan perbuatan Lein tadi.
"Yah tapi, aku rasa ekormu masih belum tubuh. Intinya, kita harus segera menyelesaikan urusan kita, Ra— Zerlicia," ucap Lein dengan menyebut nama asli Zerlicia.
Karena tiba-tiba berkata seperti itu, Zerlicia sontak panik menutup-nutupi kebenaran tentang nama aslinya dari diri Hana, meskipun, sekarang ini, Hana tak lebih seperti seekor anak kucing di mata Zerlicia.
"Zerlicia....?", Hana memanggil nama Zerlicia dengan tatapan manja.
"Ya?!", karena sudah terlanjur, apa boleh buat, lagipula, Hana telah menjadi budak tetap Zerlicia. Tak peduli seberapa jauhnya Hana berkhianat, jika ia terus melawan, maka Hana akan mati!
"Jahat, meskipun aku tahu kamu sedang menyamar... tapi, kenapa baru sekarang kamu memberitahu nama aslimu?!" ucap Hana dengan raut wajah cemberut.
"Ah... jangan ngambek begitu dong..."
"Berisik! Ngomong-ngomong, bisa lepaskan kalung peliharaan ini? Aku lelah jadi hewan peliharaan mu!" seusai ia mengatakan hal tersebut, secara seketika, Hana menggeliat kesakitan di atas lantai sembari memegang perutnya.
"Kumohon!!! Baiklah... aku menyesal, aku hanya berniat bercanda !!!" rintih Hana yang menahan rasa sakit di sana.
"Yah, sudah aku duga hukuman yang kamu terima dengan segel budak yang aku pelajari dari Seyla, tidak bisa membedakan mana yang bercanda dengan mana yang tidak bercanda. Sedikit saja kamu memberontak, maka hukuman akan langsung kamu rasakan. Maafkan aku ya, Hana."
"....."
Melihat Hana bergeliat geliat di atas lantai, Zerlicia langsung memberi penawar terhadap dirinya, penawar yang harus dia berikan adalah sebuah ciuman. Sebenarnya, ciuman bukanlah poin utama dari penawar hukuman budak. Memberikan budak cairan dari tubuh majikannya, adalah poin terpenting dalam membebaskan budak dari siksaan hukuman.
"Beruntung, aku hanya dapat yang normal," ucap Lein yang mensyukuri apa yang ia dapatkan.
"Hahaha, maaf."
*****
Hari ini, Zerlicia Namsaka akan mendaftar ke akademi! Dengan berkas seadanya, Zerlicia hanya mengandalkan kemampuannya sahaja. Ia berharap mendapatkan keringanan dipembayarannya.
Semoga.
"Baik, dikonfirmasi. Rally Hannsa usia 18 tahun. Kemampuan tingkat A, bagus. Kamu dapat langsung bergabung dengan murid kelas 3 di akademi ini," ucap seseorang yang menjadi juri di dalam tes yang Zerlicia jalani.
__ADS_1
Awalnya, Zerlicia ditolak oleh akademi tempatnya mendaftar dengan alasan, Zerlicia adalah seorang petualang. Tetapi, karena Zerlicia membuat kesepakatan dengan pihak akademi, akhirnya ia dapat masuk ke akademi yang ia dambakan tersebut.
Jujur saja, Zerlicia melakukan hal semacam itu, hanya untuk kesenangannya semata saja, ia lupa dengan misi utamanya!
Selain itu.... kembali ke diri Zerlicia, ia merasa, bahwa dirinya sangat tersiksa ketika harus menahan diri agar statusnya tidak terbongkar dengan mudah.
"Jadi, dengan kata lain, kamu lupa dengan tujuanmu?!" ujar Lein memarahi Zerlicia yang duduk berlutut di depan diri Lein.
"Heh..." Hana tak sengaja menertawakan diri Zerlicia dan hal tersebut, membuat Zerlicia merasa kesal.
"Jangan tertawa!!!" ketika Zerlicia menjerit kencang, seketika tubuh Hana mulai merasa aneh kembali. Dia bodoh apa?
"Zerlicia!"
"Ya?!", dengan raut wajah takut, Zerlicia memandang Lein yang tampak marah di depannya. Ia benar-benar tidak bisa melakukan apapun sekarang.
"Sudahlah, cepat bebaskan Hana, kasihan jika dia dibiarkan lebih lama lagi."
"Males ah, dia menertawakan ku tadi..." ucapnya.
"Zerlicia!" namun, ketika Lein menekan diri Zerlicia, seketika, Zerlicia langsung bergegas menuju ke tempat Hana berada.
"Hana,...." seusai Zerlicia memberi Hana penawarnya, ia kemudian mulai membisikkan sesuatu ke diri Hana. Itu sangat mencurigakan, sebab, Zerlicia yang tadinya marah dengan Hana, seketika telah baikkan dan mulai merencanakan sesuatu. Benar-benar mencurigakan, bagi diri Lein.
"Jangan berfikir untuk merencakan hal buruk kepadaku atau, aku tak akan segan-segan...." ucap Lein dengan mengambil rotan panjang yang berada di dekatnya.
"Ma... maaf....", ucap Zerlicia dengan memalingkan wajahnya.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya, Zerlicia, kutegaskan sekali lagi, jangan lupakan tujuanmu! Waktu kita tidak banyak! Sebelum tubuh iblismu terbentuk, kita sudah harus menaklukkan negara ini... jika tak sempat, setidaknya, kita harus menyelamatkan adik-adikmu terlebih dahulu!"
"Ehh... aku tahu itu... Le —"
"Kakak!!", bentak Lein.
"Maafkan aku, Kak!" seketika Zerlicia memohon ampunan Lein karena telah salah memanggil diri Lein dengan sebutan apa.
"Dibilangin!!!!"
"Iya-iya, tapi, kamu tak perlu memaksakan diri untuk menjadi Kakak di sini. Kamu tak perlu membantuku untuk membohongi diriku sendiri bahwa aku, memang tak bisa apa-apa."
"Zerlicia...." Lein tampak mengkhawatirkan Zerlicia.
"Tapi...." putusnya kemudian ia pergi ke tempat Lein berdiri... "Maaf tapi, bisa tolong kamu bekerja untukku? Selama di akademi, aku tak bisa berpetualang secara leluasa, pembayaran akademi juga tidaklah murah, lambat laun, uang kita pasti akan habis, jadi...."
"Kamu mau aku bekerja?"
"Tepat, maaf kalau merepotkan. Tenang saja, di akhir pekan nantinya, kamu bisa beristirahat. Giliran aku yang bekerja seperti biasanya," ucap Zerlicia meraih telapak tangan Lein.
"Baiklah, lagipula, aku sudah menunggu saat seperti ini. Aku juga bosan jika harus berdiam diri di tempat ini. Jadi, izinkan aku bertindak layaknya seorang Kakak yang menyayangi adiknya, Zerlicia?"
"Itulah rencanaku, hehe."
"Bilang saja kalau kamu tak ingin bekerja!"
"Maaf," ucap Zerlicia sembari merapatkan kedua telapak tangannya.
"Lalu untuk Hana, aku punya pekerjaan khusus untukmu."
"Aku?" Hana sedikit merasa gelisah. Ia merasa gelisah, lantaran ini adalah kali pertamanya ia keluar setelah beberapa hari berdiam di dalam kamar penginapan.
"Dilihat dari tubuhmu, kamu terlihat seperti gadis berusia 17 tahun... atau 15?"
"Umurku 152 tahun!!!!" seketika, Hana berteriak kencang.
__ADS_1
"Aku tahu itu, ini samaran!"
"Tunggu, Zerlicia, kamu tak berniat...?", tiba-tiba saja Lein menyadari rencana Zerlicia yang sebenarnya.
"Benar, Hana, aku butuh kamu berada di akademi bersamaku," ucap Zerlicia dengan mengulurkan lengannya.
"Aku butuh kekuatanmu untuk melihat aura seseorang," lanjutnya.
"Kemampuan melihat aura?" tanya Hana yang merasa kebingungan. Hana bingung, karena ia merasa aneh dengan diri Zerlicia. Padahal, kini Zerlicia telah menjadi seorang iblis, namun ia masih belum dapat merasakan aura seseorang. Apakah itu mungkin? Begitulah pikirnya.
"Benar, Kerajaan mungkin akan menargetkan murid terkuat di akademi untuk masuk menjadi pasukan mereka. Jadi, aku perlu bantuanmu agar aku bisa menjadi orang terkuat di akademi!"
"Zerlicia...." ucap Lein dengan nada lelah.
"Ya?"
"Ya...? Apa kamu mau bilang bahwa, kamu berencana untuk dikeluarkan dari akademi di hari pertamamu masuk?!", ucap Lein dengan kesal sembari meraih rotan disampingnya.
"Hei bung, itu berbahaya!", seketika saja, Zerlicia merinding di sekujur tubuh disaat ia mendengar suara sabetan rotan yang Lein perbuat.
"Jawab!"
"Baiklah!!! Aku tidak berniat dikeluarkan di hari pertama, tenang saja! Rencanaku... adalah untuk mencari organisasi rahasia yang tak bisa kita cari di ibu kota ini."
"Maksudmu...?", Lein bertanya.
"Akademi sangatlah ketat, mereka sangat tertutup dari dunia luar, jadi, bisa saja, kita menemukan organisasi gelap semacam itu di dalamnya. Dan jika kita berhasil membuat mereka membantu kita, dengan kata lain, kita akan menumbalkan mereka, maka, dalam hitungan bulan, negara ini akan hancur!", jelas Zerlicia akan rencananya yang sesungguhnya.
"Maaf jika ucapanku membuatmu salah paham!!!"
"Hmm..."
Meskipun tahu, jika jalan yang ia tempuh cukup sulit untuk ia lalui, Zerlicia tetap mencari apa yang sejak awal ia cari. Organisasi gelap yang berniat melakukan kudeta ke pemerintah sekarang. Zerlicia berniat menggunakan mereka sebagai pasukan berani mati demi revolusi negara.
Memang, rencananya terkesan jahat ketika didengar namun, ada segelintir orang yang mau mengorbankan nyawa mereka demi kebebasan, pasukan berani mati, adalah pasukan yang rela mengorbankan nyawa mereka untuk merevolusi sebuah negara.
Dengan stok pasukan yang memang tidak banyak, Zerlicia yakin, bahwa semua itu akan berjalan dengan baik jika terus bergerak sesuai rencana.
"Hoho, sepertinya kamu bersenang-senang ya, Kucing ku? Aha, kamu punya kucing juga ya? Siapa namanya?", keluar dari portal teleportasi yang cukup mengerikan, sebuah suara dari gadis cantik, terdengar oleh semua orang yang berada di dalam kamar tersebut.
Dia, Archela, Sang Ratu iblis. Kedatangannya kemari, tentunya bukanlah untuk hanya sekedar menengok Zerlicia.
"Pergilah! Sampai kapanpun, Hana tak akan menjadi milikmu!"
"Jahatnya~. Apa kamu lupa, siapa yang membawamu sejauh ini?"
"Mana mungkin aku lupa."
"Kalau begitu, mari kita mulai pelatihan tahap selanjutnya."
"Pelatihan, tahap selanjutnya?", Zerlicia merasa gelisah ketika Archela mengatakan hal tersebut.
"Benar, tandukmu mulai tumbuh. Jika kamu tak bisa mengendalikan hasrat iblismu setelah tandukmu terbentuk secara keseluruhan, maka kamu akan menggila dan menghancurkan negara ini hanya dalam waktu sehari."
"..... Hah, seperti biasa, kamu sangat suka bercanda ya, Seyla? Mana mungkin aku bisa menghancurkan negara hanya dalam waktu sehari?"
"Mau dibuktikan?"
"Aku pikir itu akan berbahaya bagi adik-adikku jadi, kumohon, pelatihannya jangan berat-berat!"
"Tenang saja, ini hanya akan berat dalam sehari saja."
"Huh?!"
__ADS_1
Seketika, Zerlicia dilempar masuk ke dalam portal teleportasi menuju ke suatu tempat, mereka tak tahu Zerlicia akan dibawa kemana namun yang jelas, Lein dan Hana, hanya bisa berpasrah diri jika Archela telah bertindak.
"Mungkin akan sedikit menyiksamu tapi, aku akan mengajari dirimu, bagaimana caranya untuk menahan diri agar tidak mudah mengamuk," ucap Archela sebelum pada akhirnya, Zerlicia menutup matanya.