
Mnnmmmm, mimpi?
Ada di mana aku? Tubuhku tidak dapat bergerak, tapi mataku masih melihat.... kenapa ini.... rasanya seperti sekujur tubuhku lumpuh. Aku masih bisa merasakan tangan para bandit itu yang sedang meraba-raba tubuhku. Kenapa dengan semua ini?!
Ah iya.... tadi aku terkena efek hipnotis. Tidak... ayo bangun! Sebelum mereka melakukan hal-hal cabul pada diriku!
*Dalam diam, Zerlicia merengek lemas. Tubuhnya tidak dapat ia gerakan. Meskipun sudah berusaha sekeras mungkin, Zerlicia tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya termasuk bola matanya. Itu masih terbuka karena para bandit membiarkannya terbuka.
Mereka melakukan hal itu karena ingin membuat kesan trauma terhadap diri Zerlicia. Membiarkan Zerlicia melihat para bandit yang tengah mencabulinya, tentu akan membuat kesan trauma mendalam bagi si korban.
Badannya tidak dapat digerakkan namun anehnya, matanya sama sekali tidak kering. Zerlicia menatap dengan mata kosong, meskipun begitu, dirinya melihat dan mendengar para bandit yang tengah merencakan hal buruk kepadanya.
"Jangan terlalu menyentuhnya, Klien kita membayar harga mahal untuk petualang perempuan dengan kelas S seperti dirinya. Jika Nona muda ini kalian cabuli, harganya akan menurun secara drastis," ucap bandit yang menyamar sebagai pedagang yang tadinya membantu Zerlicia untuk dapat sampai di lokasi hutan terlarang.
'apa ini??'
Para bandit seketika kecewa, bagaimana tidak, gadis secantik dan se-"indah" Zerlicia, tidak dapat mereka cabuli sebelum akhirnya mereka jual.
Meskipun ada rasa kesal, mereka berjalan menuju ke suatu tempat dengan kereta yang menyekap Zerlicia di dalamnya.
Para bandit tidak diperbolehkan merusak segel tubuh Zerlicia. Mereka tidak boleh merusak namun, tidak ada yang melarang mereka menanggalkan pakaian Zerlicia, meraba-raba tubuhnya, bahkan memainkan Zerlicia layaknya boneka.
Dan hal itu, membuat Zerlicia menangis dalam diam karena tidak dapat melepaskan diri dari mantra hipnotis menyebalkan ini. Zerlicia sangat ingin menangis dan menutupi tubuhnya karena malu. Meskipun air matanya dapat mengalir, dirinya tidak mampu berhenti menangis dan memberontak dalam diam sebelum dirinya berhasil mematahkan hipnotis yang membuat tubuhnya tidak dapat digerakkan.
Zerlicia berharap, dirinya terus berharap seraya merapalkan berbagai sihir penyembuhan yang ia ketahui. Kalau-kalau ada sihir penyembuhan yang mampu mematahkan hipnotisnya, Zerlicia akan sangat terbantu.
Namun, meski dirinya berharap dengan sangat, dirinya tetap tidak mampu melepaskan diri dari hipnotis yang ia alami sekarang ini. Yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu para bandit melepaskan mantra hipnotis dan membuatnya mampu bergerak kembali.
Ketika Zerlicia berusaha mencoba dan berharap di alam bawah sadarnya, kereta kuda yang membawanya ternyata telah sampai ke kota tempat klien para bandit berada.
Kota tersebut, bukanlah sebuah kota biasa. Itu ialah sebuah ibukota negara asal Zerlicia, ibu kota Negara Lairan. Zerlicia dibawa oleh para bandit untuk pergi ke ibu kota Negara Lairan. Pada awalnya, para bandit mencari kriteria wanita yang sesuai dengan apa yang pangeran negara itu minta. Sudah sekitar 15 gadis yang mereka bawa kepada pangeran negara Lairan, namun mereka semua masih belum sesuai.
Wanita-wanita sebelum Zerlicia, ditangkap dan diperlakukan layaknya Zerlicia. Mereka tidak disentuh oleh para bandit sebelum sampai ke pangeran. Setelah pangeran menilai wanita itu, barulah para bandit boleh melakukan hal macam apapun kepada para wanita yang mereka tangkap.
Mereka, para bandit, telah beroperasi di hutan terlarang selama kurang lebih tiga bulan lamanya, mereka yang membuat maskas di hutan terlarang, pada awalnya karena diperintah oleh pangeran secara langsung. Hingga kini, karena para bandit maaih belum berhasil membawa wanita yang sesuai dengan kriteria pangeran, para bandit tidak akan pergi dari sana. Lagipula, hutan terlarang merupakan wilayah yang strategis untuk menangkap dan memperbudak petualang wanita yang tengah menjalankan misi di dalam hutan terlarang.
Tak hanya misi tersulit saja, terkadang ada misi Rank D yang mengharuskan petualang pergi ke hutan terlarang untuk menemukan tanaman herbal yang hanya tumbuh di dalam hutan tersebut.
__ADS_1
"Tuan muda, pesanan," ujar ketua bandit membawa Zerlicia yang tangannya diborgol dan diikat menggunakan rantai. Zerlicia juga didandani dengan pakaian layaknya budak. Sebuah kain persegi panjang kusut yang tengahnya berlubang sebagai kerah baju mereka.
Zerlicia bertubuh pendek, tingginya hanya sekitar 156 sentimeter, dan beratnya, 56 kilogram. Rambut berdurinya yang berwarna merah pendek, Zerlicia selalu menggunakan potongan rambut pria untuk model rambutnya.
Dia masih dalam pengaruh hipnotis. Namanya juga hipnotis. Dirinya tidak bisa bergerak dengan kemauannya sendiri. Dirinya baru bisa bergerak setelah diperintah oleh para bandit terutama penyihir yang menghipnotis dirinya.
"Menarik, kalian tidak menggunakannya sebelum aku bukan?" Pangeran bertanya dengan tatapan tajam kepada ketua bandit yang berlutut memegang rantai pengikat leher Zerlicia.
"Tentu saja tidak, Tuan muda. Apakah ini sesuai dengan kriteria Anda?" Ketua bandit bertanya. "Iya, dari semua yang kau bawa, dia sangat cocok," jawab Pangeran dengan senyum tipisnya.
Mereka berdua berbincang-bincang seputar diri Zerlicia layaknya mereka mengetahui siapa itu Zerlicia. Di sisi lain, Zerlicia yang menjadi korban, masih saja memberontak dari dalam dengan harapan jika dirinya dapat memecahkan hipnotis mereka.
"Sebelum itu, lepaskan pengaruh sihir kalian."
"...." tampak ragu, "Jika dilepaskan, wanita ini akan bertindak agresif..." ujar ketua bandit.
"Agresif ya...?" Jawab Pangeran yang salah sangka.
"Tidak, bukan agresif yang itu... dia..." ketua bandit mencoba membenarkan. "Aku tak peduli, aku ingin mendengar teriakannya saat dirinya terikat kontrak budak selamanya pada diriku!"
"Baik."
"Flame!" Seketika Zerlicia mengeluarkan sihir tingkat tinggi. Flame, sebuah api besar yang panasnya mampu membakar kulit meskipun jika itu meledak, hanya memberi luka bakar yang sedikit.
Setelah dilontarkan, bola api itu mengenai ketua bandit dan membuatnya berguling-guling dan bergeliat di lantai karena sekujur tubuhnya terbakar oleh api. Karena melihat ketuanya terbakar, penyihir tersebut seketika merapalkan sebuah mantra elemen air untuk memadamkan api namun....
"Pisau air!" Zerlicia meluncurkan serangan kedua yang membuat tubuh penyihir tersebut, terbelah hingga empat bagian.
*Plak plak plak "Mengagumkan," ujar Pangeran sambil bertepuk tangan melihat Zerlicia menghabisi para bandit yang menangkapnya dengan begitu mudah.
Karena dirinya mengetahui apa yang akan Pangeran tersebut lakukan terhadap dirinya, Zerlicia tidak akan segan-segan lagi. Dirinya juga mengancam Pangeran meskipun tahu jika dia melakukan hal itu, otomatis Negara Lairan akan menjadi musuhnya.
"Jangan gegabah, Nona petualang," dengan sombong, Pangeran berkata seraya mendekati Zerlicia tanpa rasa takut sedikitpun.
Tangannya masih terborgol dan lehernya masih berkalung rantai. Meskipun begitu, Zerlicia tampak seperti tidak kesulitan dengan kondisinya sekarang.
"Bagus... aku tahu itu. Jangan nekat, jika begitu, kau... dan keluarga mu akan terkena masalah," Pangeran membelai dagunya dan membuat Zerlicia menghadap ke atas. Saat Zerlicia hendak dicium oleh Pangeran, dirinya sontak saja melompat ke belakang meskipun, rantainya begitu panjang.
__ADS_1
Karena rantai yang mengikat lehernya begitu panjang, Pangeran berhasil menggenggam nya lalu menariknya. Itu menimbulkan rasa sakit bagi Zerlicia. Seketika, Zerlicia langsung terjatuh tengkurap saat Pangeran menarik rantainya sekuat tenaga.
"Jika kamu menerima nasibmu, ini tidak akan bertahan lama. Hanya dalam waktu sebulan, kau akan menjadi wanita yang hanya tergila-gila dengan yang namanya, s e k s."
Ketika mendengar Pangeran membisikkan hal semacam itu ke telinganya, Zerlicia sontak saja terbangun dan berdiri kembali. Meskipun kini, dirinya dikendalikan oleh Pangeran karena Pangeran memegang rantai pengikat lehernya.
Kali ini Zerlicia tidak akan ceroboh lagi.
"Kau mau melakukan apa ke borgol tanganmu yang terbuat dari besi itu? Meskipun lenganmu cukup berotot, kau tak mungkin bisa menghancurkan borgol besi itu!" Teriak Pangeran dengan senyum yang menertawakan sesuatu hal yang lucu.
"Tidak akan bisa. Meskipun tanganmu sampai berdarah-darah, kau, tak mampu membuat borgol besi itu hancur hanya dengan kekuatan fisikmu," kini Pangeran menatap tajam ke arah Zerlicia yang sedari tadi, mencoba untuk menghancurkan borgol yang memborgol kedua tangannya secara paksa meskipun dirinya tahu itu mustahil untuk dilakukan.
Iya, itu mustahil dilakukan... itu mustahil dilakukan hanya dengan kekuatan fisik Zerlicia saja. Namun, apa jadinya jika Zerlicia menggunakan pisau air untuk membelah borgol tersebut.
"Hoi hoi hoi," Pangeran tercengang.
Zerlicia berhasil membebaskan diri dari borgol yang memborgol tangannya. Dengan dibantu oleh pisau air dan telekinesis, dirinya mampu membelah borgol yang memborgol lengannya. Untung saja ada celah yang cukup besar di tengah-tengah borgolnya. Jadinya Zerlicia dapat dengan aman memotongnya. Meskipun, yang terpotong hanya rantai pengait antar lengan saja.
"Yah sudah, kau pikir kau bebas hanya dengan terbebasnya kedua lenganmu?!" Pangeran berteriak dengan wajah takut lalu menarik rantai pengikat leher Zerlicia.
"Kuh... ini menyebalkan," ucap Zerlicia seraya memegang lehernya yang sakit karena ditarik...
"Etto...." Zerlicia berniat mencoba hal-hal baru... pertama dirinya membuat pisau air di atas lengannya dan kini, pisau air itu dapat ia pegang.
"Pelan-pelan..." ucap Zerlicia berbicara dengan dirinya sendiri memotong borgol yang tersisa di lengannya.
"Apa yang kau lakukan, sialan?!" Pangeran semakin panik saja. Dirinya menarik rantai itu kembali supaya Zerlicia terjatuh lagi seperti tadi.
"Ini memang menyebalkan..." Zerlicia mengarahkan pedang airnya ke depan lehernya, lebih tepatnya, ke sela-sela kalung yang mengikat dirinya dengan rantai yang Pangeran pegang.
"Kau, benar-benar brengsek."
Setelah kalungnya lepas, Zerlicia kemudian memutar otaknya supaya sisa borgol di lengannya dapat terlepas sepenuhnya dari lengannya. Kemudian setelah itu, Zerlicia mencoba mengecilkan pisau airnya namun kepadatannya masih sama. Lalu setelah itu, barulah Zerlicia memotong sisa borgol yang masih terdapat di kedua lengannya.
"Hmm... beruntung bola hipnotis nya tidak pecah..." Zerlicia memungut bola hipnotis yang penyihir itu bawa. Dan juga, dirinya memenggal kepala penyihir serta kepala ketua bandit yang terbakar lalu membawanya sebagai bukti bahwa dirinya telah selesai menjalankan misi.
"Kau?!!!"
__ADS_1
"Pangeran... Aku benar 'kan? Kalau benar begitu, Pangeran... kau benar-benar bajingan!" Setelah mengatakan hal itu, Zerlicia pergi keluar dengan membawa bola hipnotis di tangannya kemudian dirinya keluar menuju ke kereta kuda yang membawanya karena masalah pakaian yang ia kenakan.
Tentunya setelah sampai, dirinya menemui sisa kawanan bandit yang menangkapnya lalu menghabisi mereka dengan cepat. Sejujurnya, mereka bukanlah masalah yang besar bagi Zerlicia selain si pengguna hipnotis itu. Setelah mengalahkan semuanya, Zerlicia memakai pakaiannya kembali lalu berjalan menuju ke kota tempatnya singgah sekarang ini.