
Menggunakan kereta kuda dari pedagang yang hendak singgah di kota tujuan Zerlicia, mereka bertiga akhirnya sampai di kota yang dimana, Lein berada di dalamnya.
"Lein, kau di dalam?", ketika mereka sampai, ketiganya langsung menuju ke kantor guild dimana Lein adalah seorang penerus guild tersebut.
"Ah, Nona, kau telah kembali?"
"Nona?"
Di saat Lein memanggil Zerlicia dengan sebutan Nona, keduanya seketika terkejut mengingat, Zerlicia bukanlah seorang bangsawan. Namun tetapi, seorang perempuan berperawakan layaknya usia 20an tahun itu, memanggil Zerlicia yang baru berusia 17 tahun dengan sebutan Nona. Tentu saja hal itu membuat mereka berdua terkejut dan penasaran. Namun, tak lama kemudian...
Rasa penasaran mereka akhirnya terjawab kan. Ketika mereka melihat ke arah perut Lein yang terbuka, mereka melihat tato budak di kulit rahimnya. Tak heran jika Lein memanggil Zerlicia dengan sebutan Nona jika terdapat tato itu di tubuhnya.
"Zerlicia, kau memperbudak seseorang?"
"Ah, karena suatu alasan, aku harus melakukannya.... tapi sungguh, sepertinya aku memang telah keterlaluan," ucap Zerlicia menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Wayra tersebut.
"Aku telah berbuat salah pada Nona Zerlicia. Sebagai gantinya, dia mengambil alih kehidupan ku."
"....?"
Mereka semakin bertanya-tanya disaat Lein mengatakan hal yang cukup membingungkan tersebut.
"Dia merasa bersalah karena telah memberiku misi jebakan, misi itu memakan hingga 16 wanita di saat mereka menjalankan misi. Dan aku adalah salah satu korban dari misi itu. Beruntung aku bisa kabur," jawab Zerlicia menjawab rasa penasaran dari keduanya.
"Oh... tapi kamu bukan seseorang yang suka memperbudak orang lain bukan?"
"Mana mungkin. Dia menyerahkan dirinya padaku. Apalagi, dia memaksaku. Mau tak mau aku harus melakukannya," ucapnya.
"Oh..."
Mereka bertiga kemudian dibawa ke rumah Lein. Disuguhi minuman dan sepiring biskuit, Zerlicia kemudian membuka mulutnya di saat mereka telah berkumpul di ruangan yang cukup sepi.
"Lein, bagaimana menurutmu jika aku, menggulingkan pemerintahan?", tanya Zerlicia dengan tatapan serius.
".... Menurutku, untuk seseorang selevel Anda, hal itu mungkin saja dilakukan hanya saja... secara pribadi, saya sangat menentang perbuatan Anda!"
"Kenapa?"
"Kerajaan tak bisa digulingkan hanya dengan satu manusia saja. Meskipun manusia itu kuat, tetap saja, mereka tak mampu menandingi kekuatan kerajaan yang memiliki ribuan pasukan di dalamnya," Lein memberikan penjelasan yang logis untuk pertanyaan Zerlicia tadi. Ucapannya pun didengarkan dengan baik oleh Zerlicia. Ia juga berpikir demikian.
Jika menggulingkan kerajaan tanpa persiapan pasukan yang cukup, maka hal itu sama seperti bunuh diri.
"Tapi, ada satu cara, cara agar hanya seorang saja mampu menggulingkan pemerintahan."
__ADS_1
Dalam senyap, Lein berkata sembari tersenyum.
"Namun cara ini tidak aku sarankan karena cara yang satu ini, sangat berbahaya," ucap Lein menjelaskan sesuatu cara yang efektif untuk menggulingkan pemerintahan.
"Kenapa?!", sontak, mereka bertiga berteriak kaget mendengar ucapan Lein tersebut.
"Izinkan saya menjelaskan, cara ini, adalah satu cara dari sekian banyak cara dan cara ini, yang paling berbahaya namun juga paling efektif," lanjut Lein.
"Cara ini, melibatkan Ratu Iblis agar rencana penggulingan suatu pemerintahan, dapat berjalan sempurna."
"Ratu... iblis...?", semuanya ternganga. Termasuk Zerlicia.
"Buat Ratu Iblis menjadi rekanmu. Dan kamu dapat dengan mudah menggulingkan suatu negara meskipun harus melakukan nya sendirian," ujarnya.
"Ratu iblis ya...?" ujar Wayra memecah ketegangan yang terjadi.
"Aku tahu sedikit tentang ratu iblis... tapi, aku bukanlah seorang yang tepat untuk berjumpa dengannya. Dan di sini, terdapat seseorang yang tepat tetapi, di dalam hati orang itu, masih terdapat kebimbangan yang memberatkan langkahnya," ujar Wayra menatap ke arah Zerlicia.
"Aku harus apa?", Zerlicia bertanya dengan wajah putus asa.
"Karena kita sudah memulainya, jadi... kamu tetap harus melakukan nya, Zerlicia."
"..... Tetapi....", Zerlicia masih tidak bergerak meskipun Wayra telah menyuruhnya.
"Dengar! Jika kamu menyerah di tengah jalan seperti ini, tak hanya aku dan Elsa saja yang terkena masalah! Kamu juga akan terkena masalah, Zerlicia! Pikirkanlah adik-adikmu! Bukankah kamu ingin mereka tumbuh di negara yang sehat?!"
"Aku tahu tapi..."
"Zerlicia!"
"Huh?"
Dalam ketegangan, Zerlicia merasakan sebuah air menetes ke pipinya. Ia terus berpaling di saat Wayra mendudukinya namun, ketika ia merasakan setetes air menetes ke pipinya, dirinya langsung berbalik menatap Wayra.
"Aku akan memberikan segalanya untukmu! Kumohon... kumohon ubah negara busuk ini menjadi sebuah negara yang layak untuk dihuni...", wajahnya terlihat menyedihkan, air mata terus mengalir dari kedua matanya, sembari membentak Zerlicia, Wayra terus memaksakan keinginan kepada diri Zerlicia hingga...
"Kau, wanita yang cantik," ucap Zerlicia sembari meraih pipi Wayra di atasnya kemudian, dirinya mulai mengusap air mata yang keluar dari mata Wayra.
"Sangat disayangkan jika, kecantikanmu harus menghilang disaat kamu menangis. Kau wanita yang tangguh. Kau sangat hebat bertahan hidup sejauh ini meskipun tumbuh di negara busuk ini," lanjut Zerlicia kemudian membelai rambut merah Wayra yang menarik pandangannya.
"Aku mohon, Zerlicia!", ia tak berhenti berharap sembari menangis.
"Karena kamu lebih tua dariku, kamu pasti telah mengalami banyak sekali kekejaman dunia. Lebih banyak dari pada diriku. Bahkan, jika dipikir-pikir lagi, aku tak mampu jika harus berada di posisimu."
__ADS_1
"Zerlicia!" ia terus berharap.
"Kau, kau sungguh keren."
Zerlicia kemudian bangun dari tempatnya berbaring, menatap mata Wayra yang tak jauh dari wajahnya, Zerlicia kemudian berkata, "Aku benci perempuan yang mengingkari janjinya. Jadi, berjanjilah padaku. Setelah aku menuruti keinginan mu, kamu akan selamanya menurut pada diriku."
"Apapun itu.... aku ingin penderitaan kami cepat berakhir. Dan dirimu 'lah, seorang gadis dalam ramalan."
".... Gadis, dalam ramalan?"
Seketika Zerlicia bertanya tentang maksud ucapan Wayra barusan.
"Dahulu kala, ada seorang peramal yang memiliki kekuatan untuk meramal masa depan. Dan ramalan tersebut berupa ramalan tentang adanya seorang anak perempuan yang memimpin dunia seisinya. Anak itu akan menjadi seorang yang sangat hebat nan tangguh. Anak itu... aku yakin anak itu adalah dirimu, Zerlicia," ujar Wayra menceritakan tentang sesuatu yang Zerlicia tidak ketahui selama ini.
"..... jadi, apa yang terjadi pada peramal itu?"
"Beliau dieksekusi."
"Iya juga ya... dia bekerja untuk Negara sih, aku benar 'kan?"
"Ya. Jadi, Zerlicia, kami berdua rela melakukan apapun demi membuat negara ini menjadi negara yang lebih baik lagi. Aku tahu ini kurang. Mengorbankan dua perempuan untuk merevolusi negara, tentunya itu sebuah hal yang masih belum setara. Tetapi, kami berdua siap mendedikasikan kehidupan kami hanya untuk melayanimu, Zerlicia. Jadi, aku harap kamu menerima tawaran ku."
Sungguh pilihan yang sangat membuat Zerlicia kebingungan. Daripada dikatakan sebagai sebuah pilihan, Zerlicia merasa jika ia harus menerimanya. Bukannya harus memilihnya. Jika ia menolak, maka kehidupan adik-adiknya akan terusik lebih jauh lagi. Namun jika ia menerimanya, Zerlicia tak tahu bahaya apa yang akan mendatanginya selanjutnya.
"Aku ingin kalian berdua membuktikan keteguhan hati kalian dengan memotong rambut kalian seperti ku! Aku suka wanita berambut pendek."
"....?!"
"Apa, tak sanggup?"
"Tidak... hanya saja...."
"Ya sudah kalau begitu..."
"Tunggu, Zerlicia!"
"?"
"Kami akan melakukan nya, karena kehidupan kami berada di tangan Anda sekarang," ucap Wayra sebagai seorang Kakak, mewakilkan adiknya.
"Bagus, sekarang, akan aku potong rambut kalian."
"... Baik."
__ADS_1