
Zerlicia Namsaka menyamar menjadi seorang gladiator, ia mendaftar dengan nama Zerfa Ahna agar identitas aslinya tidak terkuak.
Jika identitasnya sampai terkuak, keamanan nya tak lagi terjamin.
Kini Zerlicia berada di asrama Colloseum bersama dengan Wayra. Mereka berada di kamar yang sama karena Zerlicia diberi kesempatan untuk memilih, ingin berada di kamar manakah dirinya.
"Lepas pakaian mu!"
"Ya?" Zerlicia menatap kosong wajah Wayra, dengan senyum polos, Zerlicia tak mengerti apa yang Wayra maksudkan kepada dirinya.
"Memangnya kamu bisa tidur dengan pakaian di tempat yang panas ini?!", jawabnya.
"Tapi, memangnya kita harus? Bagaimana jika para penjaga....."
"Itu sudah biasa. Yang bisa kita lakukan hanya bertahan sampai akhir. Tapi tenang, untuk petarung dengan biaya taruhan besar seperti kita, mereka tak akan berani menyentuh kita. Jangan khawatir."
"Tetapi, tetap saja, tidur tanpa pakaian itu rasanya..."
"Terserah dirimu, setidaknya jangan memakai pakaian tebal atau kamu akan kegerahan," ucapnya kemudian ia tidur di tempat tidurnya tanpa selimut.
Karena berada di bawah tribun penonton, kebanyakan gadis yang menjadi gladiator, tidur dengan pakaian minim. Dan itu adalah hal yang biasa di dunia perbudakan. Selain itu, budak merupakan suatu individu yang hampir menyerupai hewan peliharaan. Jadi hak mereka bergantung pada tuan mereka.
Lupakan.
"Jadi, dimana kekasihmu berada?"
"Ah dia.... meninggal."
"Huh?!"
Benar-benar sebuah fakta yang tidak dapat dimengerti oleh nya. Zerlicia terkejut mendengar Kakak dari clientnya, mati terbunuh. Ia telah gagal... dirinya telah gagal mempertahankan senyum seorang gadis yang tidak bersalah.
"Elsa Frestya, apa kamu pernah bertanya nama panjangku? Kita bahkan belum berkenalan dengan baik."
"Apa kamu tidak, bersedih...?"
"Sebenarnya aku sedih mendengarnya namun, aku harus bertahan di neraka ini untuk berubah menjadi kuat hingga suatu saat nanti, akan aku taklukkan Negara ini."
"Kau sungguh keren, Wayra."
"Benarkah?"
"Jadi, kita punya rencana yang sama ya?"
"Benar... tapi, jika terus seperti ini, kita harus saling membunuh di final nanti..."
"Itu tak akan terjadi. Akan aku hancurkan tempat ini sebelum dirimu terbunuh, Wayra."
"Hahaha, kamu sungguh kasar! Begini-begini, aku lebih tua dari usiamu sekarang, Zerfa."
".... Oh ya, sampai lupa. Aku, Wayra Frestya. Aku Kakak dari anak yang menyuruhmu membawaku pulang," dengan senyum, Wayra menaruh telunjuknya ke bibir Zerlicia untuk menggodanya.
"Hah?"
"What?!"
"Kenapa kamu terkejut seperti itu?"
"Habisnya...." dengan sangat gugup, Zerlicia mengatakan jika ia salah mengira.
"Aku..... aku kira kakak Elsa seorang laki-laki...."
"Ahahahaa, pasti anak itu berkata sambil malu-malu, dasar siscon."
"Kamu ini..."
"Yah, sudah cukup, lupakan. Crazy Women sudah di sini jadi, tugasku selesai."
"Eh?"
__ADS_1
"Zerlicia Namsaka, sebenarnya tujuanku menyuruh dia untuk membuatmu datang ke sini, adalah untuk membebaskan kota Yura dari sistem perbudakan bebas yang dilakukan kerajaan ini!"
"... maksudmu?"
"Seperti penjelasan yang dikatakan oleh adikku tercinta, Kota Yura adalah sebuah kota yang terbentuk hanya semata-mata sebagai tambang manusia bagi Colloseum ini. Meskipun aku ada di sini dan mereka memberi perlindungan kepada adikku, aku mana mungkin mempercayai negara busuk ini. Selain itu, memangnya negara yang busuk ini, bisa berhenti mengusik hidup seseorang?
"Jawabannya pasti tidak, bukan?", ucapnya ketika mereka sedang bersiap untuk pertandingan berikutnya.
"Maka dari itu, aku membuat kesepakatan dengan adikku. Jika suatu saat aku tertangkap, adikku akan pergi mencari dirimu. Tapi yah, tak aku sangka dirimu datang secepat ini, keberuntungan pasti berpihak padaku."
".... Dengan kata lain..."
"Zerlicia Namsaka, aku memerlukan kekuatanmu, tolong bantulah aku!", dengan menjulurkan tangannya, Wayra tersenyum menunggu Zerlicia menjabat tangannya.
"Akan aku bantu, lagipula, aku juga memiliki urusan dengan negara busuk ini."
"Benarkah? Kalau begitu, aku senang tujuan kita sama, Zerlicia."
Kemudian, keduanya pun keluar dari kamar mereka. Mereka tidak langsung menuju ke arena pertarungan, Zerlicia dan Wayra diharuskan menyantap sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktifitas sehari-hari mereka.
Akan tetapi, setelah makan, Zerlicia beserta Wayra, merencanakan untuk keluar dari Colloseum tersebut dengan cara mengendap-endap. Bagaikan seekor tikus di langit-langit rumah, Wayra terlihat telah hafal dengan jalur yang harus mereka lalui. Padahal mereka merangkak di jalan yang cukup sempit, bagaikan seekor tikus.
Namun pada akhirnya, mereka berhasil keluar juga.
"Zerlicia!"
"Baik!", ketika mereka keluar dari lubang yang dibuat oleh seseorang, di depan mereka, tanpa mereka sadari muncul, dua orang penjaga yang harus sekali mereka lawan karena jika tidak, mereka tak akan bisa kabur.
Zerlicia melontarkan bola api ke arah keduanya dan bola tersebut meledak hingga akhirnya membakar tubuh keduanya.
Dia benar-benar membunuh seseorang!
"Ayo kabur sebelum kekacauan menjalar!", ujar Wayra seraya membawanya berlari menuju ke kota Yura.
Mereka berdua terus berlari hingga mereka bertemu dengan kereta kuda seorang pedagang dan akhirnya, mereka berdua pun menumpang di dalamnya.
"Jadi, apa sebenarnya yang telah terjadi di sini?"
Zerlicia merasa, bahwa akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi pada dirinya. Dan benar saja...
"Ratu...."
"Bentar bentar bentar!!!!!!"
Keduanya berlutut di depan Zerlicia, bak seorang bawahan kepada majikan mereka, Elsa dan Wayra, keduanya menatap Zerlicia sebagai seorang Ratu.
Sontak saja, hal itu membuat Zerlicia menjerit karena kebingungan. Tiba-tiba dipanggil dengan sebutan Ratu.... hal itu membuat Zerlicia merasa bingung!
"Apa yang kalian inginkan dariku?! Asal kalian tahu saja, tubuhku rasanya tidak enak!", ucapnya.
"Ayolah, memangnya kami kanibal?"
"...."
"Maaf karena tiba-tiba bertingkah seperti ini. Tapi, Zerlicia, aku telah mengawasimu sejak dahulu kala. Tepatnya, di saat karirmu sebagai seorang Crazy Women melesat hingga ke atas awan."
"Itu namanya bukan sudah lama..."
"Maafkan aku. Zerlicia Namsaka, apakah maksud dirimu memiliki urusan dengan negara busuk ini, adalah untuk membalaskan dendam kedua orang tuamu?", dengan santainya, Wayra tersenyum mempertanyakan hal tersebut.
"Kalau benar begitu... Lalu kenapa?!", jawab Zerlicia dengan nada tinggi.
"Jangan memasang wajah marah seperti itu, aku jadi takut—"
"Aku akan membunuhmu!"
"Heh, bercanda, Zerlicia. Kalau memang begitu niat aslimu... akan ku ceritakan sebuah kisah."
"Kisah?"
__ADS_1
"Benar, sebuah kisah tentang bagaimana kota kami bisa berubah menjadi kota para budak...."
"?!"
***
Ini dimulai pada saat Zerlicia belum lahir di dunia ini. Pada masa itu, kerajaan awalnya sangat senang dengan warga serta sumber daya yang terletak di kota tersebut. Tidak, lebih tepatnya, mereka hanya tertarik dengan sumber daya yang ada dan... membuat warga di kota tersebut bekerja untuk mereka.
Setelah sumber daya habis, mereka tak lagi dipedulikan. Mau hidup atau mati, kerajaan tak peduli lagi. Kota tersebut berdiri sendiri tanpa bantuan dari kerajaan. Bisa dibilang, anak tiri.
Atau anak pungut? Intinya, kota tersebut telah lepas dari tekanan kerajaan. Meskipun berada di dalam wilayah, kota tersebut hidup bagaikan berdiri sendiri.
Awalnya kota tersebut berjalan sendiri dengan sangat baik. Rakyat rakyatnya saling membantu, tidak ada perbedaan di kota tersebut, semua rakyat harus hidup berkecukupan. Itulah slogan yang dimiliki oleh bangsawan penguasa kota tersebut setelah kerajaan melepas liarkan kota tersebut.
Singkat cerita, kota Yura berjalan dengan baik selama kurang lebih 12 tahun berlalu. Para rakyat di dalamnya hidup bersama, setiap permasalahan selalu diselesaikan secara kekeluargaan hingga menemukan titik terang. Benar-benar sebuah kota yang indah.
Hingga...
Kerajaan kembali berkuasa lagi. Pemimpin kota tertangkap, anak gadis dari pemimpin kota dimasukkan ke penjara bawah tanah istana kekaisaran, serta mereka menangkap beberapa manusia untuk diikut sertakan dalam pertarungan berdarah.
Setiap kurang lebih 3 tahun sekali, kerajaan akan memilih serta menangkap rakyat yang memiliki potensi untuk diikut sertakan sebagai peserta pertarungan berdarah.
Dan di saat itulah, kota tersebut terkenal sebagai kota budak. Pernah suatu hari, pemilik guild memajang sayembara untuk menjatuhkan pemerintahan kerajaan namun....
Tak lama kemudian, pemilik guild menghilang dan bisnisnya pun dilanjutkan oleh putrinya.
***
"Intinya, Negara ini hanya memandang kota Yura ini sebagai kota sumber daya! Jika tak ada sumber daya alam, maka mereka melihat sumber daya manusia! Kau tahu? Tak jarang mereka menangkap perempuan untuk dijadikan budak pemuas oleh negara busuk ini."
"Aku sangat khawatir, selama ini aku sangat khawatir dengan keselamatan adikku. Umurnya telah dewasa untuk dipaksa ikut oleh para pasukan kerajaan. Aku takut, Elsa yang lemah ini akan menjadi budak pemuas.... jadi, aku... ingin segera mengakhiri sistem perbudakan di Kota ini... Zerlicia, kumohon... tolong kami!"
"Me... memangnya apa yang bisa aku lakukan?", ucap Zerlicia. Bgaikan membanting piring ke lantai dengan keras, Zerlicia menghancurkan harapan terakhir warga kota yang telah menderita karena negara yang busuk sejak awal dari akar-akarnya.
"Kalian tahu tanggung jawabku yang masih tersisa bukan? Aku punya 25 adik yang harus aku asuh hingga mereka dewasa. Aku tak bisa meninggalkan mereka."
"Tapi!!", bentak Wayra, "Jika akar permasalahan tak dicabut, lambat laun itu akan menjalar ke keluargamu juga, Zerlicia!"
"...."
"Zerlicia, jawab aku!", ucap Wayra dengan nada tinggi.
"Kamu suka perempuan bukan? Kalau begitu, aku akan menjadi bayarannya kali ini."
"Kakak?!!", Elsa seketika membentak.
"...."
"Aku saja tidak cukup? Kalau begitu... " Wayra melirik ke arah Elsa yang menatapnya dengan gugup.
"Kami menyerahkan hidup kami untuk kesejahteraan rakyat kota Yura!", dengan niat dan tekad yang teguh, Wayra memberikan sebuah tawaran yang cukup menggiurkan, bagi seorang pria tetapi! Yah tapi, Zerlicia wanita, memangnya wanita mana yang suka dengan sesama wanita?
"Sebenarnya, bukan masalah bayaran, Kakak."
"Wayra saja, Zerlicia."
"Enggak, kamu lebih tua dariku. Seperti kataku, ini bukan masalah bayarannya! Sekarang ini, aku masih belum mengetahui, apakah menjadi Rank S saja sudah cukup untuk menggulingkan pemerintahan kerajaan ini. Jadi...."
"Tenang saja, Zerlicia! Akan kami bantu!"
"Kalau begitu... aku kehilangan bayaranku dong!"
"Eh?"
"Untuk sekarang, karena sekarang kalian tengah buron, ikut aku!"
"Kemana?", mereka berdua bertanya.
"Ke tempat dimana seseorang bisa memberiku saran!"
__ADS_1
"....?"
Mereka berdua kebingungan dengan ucapan Zerlicia. Keduanya diam, mengikuti Zerlicia dari belakang, kemudian duduk di kereta kuda untuk pergi ke kota dimana Lein berada.