
Berbicara tentang diri Ryspa yang merupakan tumbal dari warga kota yang dekat dengan dungeon terlarang.... aku penasaran. Jika benar dia ditumbalkan untuk keamanan kota tersebut, maka, seharusnya dia telah meninggalkan dunia ini.
Tetapi, kenapa dia masih berada di dunia ini? Selain itu, dia tiba-tiba saja menerima tawaranku untuk bergabung dengan keluargaku.... aku benar-benar penasaran. Jika dia benar ditumbalkan, otomatis warga kota akan membawa Ryspa untuk dibiarkan meninggal dunia di suatu tempat. Jadi....
"Katanya kamu ditumbalkan.... tapi kenapa kamu...?"
"Ah, aku kabur."
"??" apa maksudnya? Dia kabur dari siapa?
"Dari pada aku mati konyol di sana.... Lebih baik aku mendatangi dirimu. Meskipun, awalnya aku merasa kalau kamu bisa saja membunuhku ketika aku mendatangi dirimu," ya... itu memang benar adanya sih. Tetapi, mau bagaimana pun, kamu seorang yang aku sukai dari segi sifat mu.
Kami berdua duduk sembari melihat Seyla melakukan tugasnya dalam memindahkan pasukan iblis ke suatu tempat di dekat ibu kota kerajaan Ralley.
"Bosan~"
"Mau bermain?"
"Aku bukan anak kecil, tapi, mau main apa?"
Permainan kartu... sebenarnya aku ingin sekali memainkannya lagi. Namun, di dunia ini, permainan semacam itu masih belum diketemukan. Dan juga, aku tidak mengerti banyak tentang permainan sederhana yang ada di dunia ini jadi, aku akan mengikuti apa yang ingin Ryspa mainkan saja.
"Suit?"
"Bosenin~" suit itu... hanya sebatas permainan yang akan berakhir setelah salah seorang pemain memenangkan permainan. Itu tidak seru!
"Lompat tali?"
Lompat tali...? Dulu di dunia lamaku, aku sering memainkannya. Bukan karena senang memainkan nya namun... aku melakukannya dengan alasan berolahraga.
"Boleh, tapi, dimana tali nya?"
"Itu...?" kau tidak punya?! Huh... baiklah, lupakan.
"Baiklah.... main rumah-rumahan?"
"Kau pikir aku anak kecil?"
Apa hanya itu yang mampu kamu pikirkan, Ryspa? Huh, kalau seperti ini terus, kita akan kehabisan waktu. Sebentar lagi Seyla akan menyelesaikan tugasnya jadi... jika kami tidak segera melakukan nya, maka, kami harus menundanya.
"Ah lupakan, aku kehilangan moodku," aku berteriak karena pikiranku juga buntu setelah semua dia ucapkan, aku ingin sekali bermain tetapi... Kurasa itu tidak mungkin terjadi.
Aku meletakkan kepalaku di atas paha Ryspa dan terbaring disampingnya.
__ADS_1
"Zerlicia...?" tak usah merengek, Ryspa. Aku juga kebingungan sekarang ini. Aku hanya mengetahui sedikit tentang permainan di dunia ini. Seperti, ah....
"Catur yuk?" aku baru saja kepikiran... di dunia ini, catur adalah sebuah permainan strategi yang juga digunakan pemerintah untuk melatih penerus tahta supaya mereka mampu bertahan dari berbagai serangan negara lain.
"Catur...? Tapi, dimana papan permainan serta bidaknya?"
"..... itu...?" ah, aku lupa....
"...."
"Anu...." jangan mengasihani diriku, sudahlah diam saja!
"...."
"Berbaringlah sejenak, setelah Ratu iblis selesai, aku akan membangunkan dirimu."
"Berbaring?"
"Benar, silahkan gunakan pahaku sebagai bantal..."
"Serius??"
"Iya."
*******
Sial, apa yang aku kenakan jadi kotor dan berantakan, semuanya bercampur dengan tanah... Seyla bajingan itu, dia memanglah seorang iblis tulen!
"Sudahi tidurmu, ayo kita segera berangkat?" begitulah katanya setelah sesaat dia membanting ku ke hingga diriku mencium tanah...
"Bisakah kamu bersikap lebih lembut kepadaku?!" meskipun aku ini telah abadi, tetapi, rasa dimana jantungku terasa seakan-akan terlepas dari tempatnya... benar-benar mengerikan!
Selain itu, katanya Ryspa berniat ingin membangunkan ku tetapi... kenapa dia membiarkan aku dibanting oleh Seyla?
Saat aku melihat ke arahnya, seketika, ia berpaling dariku, sepertinya dia telah mencoba untuk membangun kan aku sebelum Seyla kehabisan kesabaran nya lalu ia membanting ku ke atas tanah.
"Ryspa, aku tanya sekali lagi padamu, apakah kamu bersedia bergabung denganku? Aku tahu aku bukanlah seorang yang berpengaruh besar terhadap suatu kedaulatan namun, aku akan menjamin keselamatan mu serta keselamatan warga di kota tempat kelahiran mu. Asalkan, kamu bersedia menjadi pasukan tertinggi di kelompokku."
"Pasukan...? Apa aku harus bertarung?"
"Tentu, kalau tidak seorang itu, apa gunanya kamu aku bawa? Aku melihat potensi dan bakat yang terpendam dalam jiwamu. Aku yakin, dulu kamu pernah bercita-cita menjadi seorang petualang namun... kamu tidak ingin Ayahmu hidup sendirian. Jadinya kamu merelakan impianmu..."
"Um...."
__ADS_1
Apa kamu tidak sanggup? Yah, aku yang salah juga karena tidak menjelaskan kelebihan serta kekurangan nya masuk ke dalam kelompokku sih... jadi....
"Maaf jika aku... lancang, namun... apakah ada pedang legendaris atau semacamnya? A-aku tahu ini keterlaluan, aku juga mengerti dengan posisiku di sini namun....."
"Aku punya satu, itu boleh kamu pakai."
"Huh?! Serius?!" yah, daripada berdebu di dalam gudang panti, lebih baik aku kasih ke dia saja, pedang legendaris yang dulu diberikan Lein kepadaku, aku belum pernah menggunakannya bahkan untuk melawan Seyla sekalipun karena takut, pedang tersebut akan hancur.
Tapi sekarang... sudah terasa lama sejak aku memiliki pedang tersebut, memang benar jika dihitung dalam waktu nyata, sudah dua tahun aku memiliki pedang legendaris pemberian Lein itu, tapi, jika dihitung dengan perhitungan masa hidupku maka, sudah sekitar 4 tahun aku memegang pedang tersebut. Bisa dibilang, pedang legendaris yang tadinya masih kuanggap milik Lein, sekarang ini telah sepenuhnya menjadi milikku.
"Benar, mari kita mampir ke panti untuk mengambil pedang tersebut..."
"Ya!!!" dia sangat bersemangat, Ryspa meloncat dengan girangnya kemudian memeluk diriku, apa ini pertama kalinya dia mendapatkan hadiah dari seseorang?
"Berhenti mencampakkan aku, ayo pergi, Zerlicia!" ugh.... dengan kasarnya, Seyla menarik jubah yang aku kenakan hingga aku hampir saja tercekik karena ulahnya.
Dengan kemampuan teleportasi nya Seyla, kami bertiga sampai dengan sangat cepat ke depan bangunan panti asuhan yang tampak indah di mata ku ini.
"Kakak pulang!" yang pertama kali menyambut kedatangan kami, adalah Rleas, dia tampak menunggu di depan panti meskipun aku bisa saja langsung menuju ke kamarku.
"Zerlicia?"
"Dia adikku, bukan adik kandung namun, kami yang merupakan korban kekejaman kerajaan Ralley, semuanya tinggal di tempat ini sebagai sebuah keluarga. Termasuk ibu panti serta para pengurus panti asuhan," ucapku menjelaskan semuanya kepada diri Ryspa.
"Perkenalkan, dia Rleas, usianya.... 18 ?" sial, aku kebingungan dengan sistem usia karena beralih alih dimensi....
"Kak, apa kamu mulai pikun karena menjadi iblis?" ucap Rleas yang semakin membuatku merasa sakit hati....
"Rleas Namsaka, seperti yang dia katakan, aku berusia 18 tahun," kau menyebut Kakak mu dengan kata ganti 'dia'?! Kenapa?! Padahal aku hanya membuat satu kali kesalahan loh!?
"Yah, 18 tahun... kau telah dewasa ya..." aku memeluk Rleas dan membelai rambut nya, meskipun tekstur rambut laki-laki dan perempuan berbeda namun, aku sangat senang membelai sesuatu yang aku sukai!
"Hentikan, kau mempermalukan aku!" ......
"Aku Ryspa Ramszh. 21... Aku setahun lebih tua dari Kakak mu..."
"Jadi, kau adalah kakak kelimanya Kakakku?" ucap Rleas...
"Aku tidak mengerti ucapanmu namun, mungkin iya..."
Humu, mereka berdua tampak akrab meskipun baru bertemu... yosh, satu langkah menuju ke kedewasaan, Rleas, jika kamu menyukai Ryspa, akan aku bantu! Kakakmu ini siap membantu urusan asmaramu....
"Ehem...."
__ADS_1
Ah, aku sampai lupa, apa aku menunjukkan wajah bodohku?! Sial, ini cukup memalukan. Lebih baik aku segera mengambil pedang dan menyuruh Ryspa berguru kepada Rleas ataupun Wayra. Mereka berdua adalah anak didikku yang paling baik.
Setelahnya, aku meninggalkan mereka kembali kemudian melanjutkan misiku untuk, menghancurkan kerajaan Ralley pada hari yang cerah ini!