
Akhirnya aku pun masuk ke akademi sebagai peserta didik baru. Aku beruntung karena dapat satu kelas dengan Rleas. Namun, aku juga sempat khawatir dengan adik-adikku yang berada di kelas yang lain. Mereka yang masih dibawah 17 tahun, berada satu tingkat di bawah kami.
Meskipun status ku dengan Rleas itu adalah peserta didik baru, namun sebenarnya, kami berada di tingkat kedua dari 3 tingkat yang terdapat di akademi ini.
Tingkat pertama adalah untuk murid dibawah usia 17 tahun, dan tingkat kedua adalah untuk murid diatas usia 17 tahun karena dianggap telah lulus pelajaran dasar.
Untuk tingkat ke tiga, adalah untuk murid yang berhasil sampai ke titik puncak. Dimana mereka telah menguasai kemampuan dasar sihir beserta berbagai rapalan sihir lainnya. Mereka dibawa ke tingkat lanjut supaya mereka dapat memperdalam ilmu mereka masing-masing.
Namun sebelum itu semua.... Layha menyuruhku untuk memakai wujud manusia semasa aku bersekolah. Dia berkata padaku untuk membayangkan tubuhku yang sebelumnya dimana aku masih belum menumbuhkan tanduk, gigi, dan ekor. Serta pupil mata yang berbeda.
Aku pun berhasil kembali ke tubuh lamaku namun kata Layha, jika aku tidak berhati-hati dalam mengeluarkan kekuatan ku, maka seketika tubuhku akan kembali ke wujud iblis sepenuhnya.
"Ini juga bertujuan untuk melatih dirimu supaya kamu mampu mengendalikan kekuatanmu, Kak," begitulah ucap Rleas dikala aku tengah gelisah tentang bagaimana jika aku tiba-tiba saja berubah menjadi iblis.
Meskipun tidak sedikit ras iblis juga bersekolah di akademi ini namun... rasanya aneh saja jika aku tiba-tiba saja berubah menjadi seorang iblis.
"Baik, mohon duduk di tempat duduk kalian!"
Begitu guru sampai dan mulai mengajar, kami dengan serius menyimak beliau dalam menerangkan kepada kami tentang dasar-dasar sihir sekali lagi sebelum kami lanjut ke tingkat selanjutnya.
Sejujurnya, aku sama sekali tidak memahami apa yang dia ajarkan kepadaku. Ini sangat berbeda dengan bagaimana caraku mempelajari tentang sihir seorang diri!
Sungguh, ini sangat rumit. Sangking rumitnya, aku jadi mengantuk.
"Zerlicia Namsaka!"
Saat aku menutup mataku, tanpa aku sadari aku tertidur di tempat dudukku. Tiba-tiba saja guru yang mengajar menghampiri tempat dudukku lalu membenturkan tongkat sihirnya ke meja ku dengan cukup keras hingga aku terbangun.
"Apa yang kau pelajari dari apa yang aku terangkan di depan kelas?"
Bagaimana ini... aku bingung. Aku sama sekali tidak paham tentang apa yang dia terangkan. Aku harap Rleas menolongku —
Lupakan, saat aku menoleh ke arahnya, dia berpura-pura tidak tahu jika aku sedang mengharapkan bantuan dari dirinya. Sialan!
"Maaf—"
"Meskipun kamu seorang bangsawan, tapi kita sedang berada di dalam kelas. Jadi, jangan tidur!"
"Iya... mohon maafkan diriku..."
Setelah itu, guru tersebut meninggalkan diriku.
"...." sesaat setelah guru tersebut berjalan ke depan kelas kembali, aku menoleh ke arah Rleas dan melihat jika Rleas tampaknya tengah menertawakan diriku diam-diam.
"Jangan ketawa!"
"Iya-iya, maafkan aku, Kak."
"Kau mengejekku?!"
"Tidak kok...."
"Bohong!"
"ZERLICIA!!!!"
__ADS_1
Ugh, lagi-lagi aku yang kena...?
Jika dipikir-pikir, di dunia lamaku, aku juga seperti ini. Aku mudah bosan jika guru hanya menerangkan begitu saja. Apalagi, ilmu yang mereka terangkan, semuanya tidak masuk ke kepalaku. Meskipun, aku bisa dengan mudahnya mempelajari sesuatu dengan caraku sendiri.
****
Pelajaran berikutnya adalah praktek mengendalikan boneka. Dengan menggunakan tongkat sihir yang disediakan, kami para murid diharuskan mengendalikan boneka jerami yang telah disediakan di depan kelas. Kami harus membuat boneka jerami tersebut berdiri dalam hingga satu menit lamanya.
Jika kurang dari semenit atau bahkan sama sekali tidak bisa mengendalikan boneka tersebut maka, mereka akan gagal dalam test pertama di hari pertama mereka bersekolah.
"Padahal hanya sihir dasar loh namun, banyak yang gagal?"
"Kalau buat Kakak, memang benar apa yang akan kita praktekkan adalah sebagian dari sihir dasar. Apa kau tau? Sejujurnya aku ragu, apakah aku sanggup melakukan nya?"
"Yah, kamu ini adikku! Jangan berputus asa!"
"Iya-iya, Kakakku yang cantik."
"Hajar dia!"
"Belum giliranku, Kak."
Sial, rasanya aneh disaat Rleas mulai menggodaku seperti biasanya. Seharusnya aku telah terbiasa dengan perilakunya jika dilihat dari seberapa banyak dia menggoda diriku sejak setahun yang lalu. Namun, lagi-lagi, rasa aneh ini muncul.
"Kak!" meskipun dia tidak bersuara, namun, aku yakin tatapannya itu adalah tatapan pamer. Hahaha....
"Humu, begitulah adikku! Kau berhasil."
Saat giliran Rleas tiba, aku melihat Rleas melakukan nya dengan baik. Kemudian giliranku pun tiba.
Meskipun begitu, bagaimana ini?!
"Apa kita benar-benar harus menggunakan tongkat sihir?" tanyaku. Aku benar-benar tidak mengerti tentang bagaimana tongkat sihir bekerja.
"Memangnya kamu bisa melakukan nya tanpa tongkat sihir?!"
"Bisa!" ini dia! Kesempatan ku!
"Jangan mengigau! Tidak mudah menggunakan sihir tanpa memerlukan tongkat sihir sebagai perantaranya. Berhenti mengoceh dan cepat lakukan! Jika tidak, kau gagal!"
"...." bagaimana ini.....
Semoga saja tidak mengecewakan.
Aku mengambil tongkat sihir di meja kemudian mencoba cara yang sama seperti apa yang Rleas lakukan tadi. Sama persis dengan apa yang Rleas lakukan namun....
Kenapa boneka jeraminya tak mau bergerak sedikitpun?! Padahal aku sudah benar-benar yakin kalau aku telah melakukan nya dengan baik.
Apa aku salah mantra?
"Simsalabim!"
"Hah?"
Salah ya?! Mereka semua melihat ke arahku dengan tatapan menghina. Sialan, jika aku tidak bisa melakukan nya dengan baik di sini, maka aku akan dicap sebagai murid yang tak berguna.
__ADS_1
Ini akan mencoreng nama keluargaku bahkan, nama baikku sendiri!
"Hah, sudah, selanjutnya!"
"T-- Tapi aku belum!?"
"Kau gagal!"
"Tunggu, aku masih..."
"Kau gagal! Selanjutnya!"
Ugh, ini menyakitkan. Bagaimana bisa petualang kelas S seperti diriku ini, gagal menjalani ujian kekanak-kanakan seperti ini?
"Kak...?"
"Jangan bicara kepadaku! Hatiku sedang tidak bagus untuk diajak bicara!"
Aku duduk kembali ke tempat dudukku yang berada di samping Rleas yang mana, kami masih satu meja di baris ke empat dari depan kelas.
*
"Bisa-bisanya aku gagal...?" Zerlicia menggerutu sembari terus menyenderkan kepalanya ke kursi belakang.
"Ayolah, hanya satu kali kegagalan bukan berarti...."
"Rleas, kapan sekolah berakhir?"
"Jika menurut jadwal, tengah hari. Dengan kata lain, sebentar lagi akan berakhir."
"Bagus. Ayo pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke istana."
"Kau mengajakku untuk pergi berkencan?!" jawab Rleas dengan nada yang bersemangat.
"Tidak, aku hanya ingin melampiaskan kekesalan ku," ucap Zerlicia memadamkan semangat Rleas yang tengah membara.
"Apa mungkin?"
"Memangnya berburu monster bisa disebut berkencan? Lagipula, jangan bicara hal-hal aneh. Kita berdua adalah keluarga. Tak mungkin bagi kita untuk menjalin hubungan asmara."
"...."
"Apa kamu mau ikut? Aku bisa melakukannya sendirian sih jika kamu tak mau."
"Aku mau!"
"Bagus, ayo berburu Naga!"
"Naga?! Kak, sebaiknya kita jangan mengganggu populasi Naga di dunia ini."
"Lalu apa?!"
"Minotaur, Hobgoblin, Orc, Orge, atau apapun itu intinya jangan Naga."
"Terserah kamu. Intinya aku ingin melampiaskan kekesalan ku!"
__ADS_1
"Baik!"