Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 01 Bab. 21 : Pahlawan #2


__ADS_3

Mereka berdua saling beradu pedang dengan sekuat tenaga yang mereka miliki. Terlihat keduanya sangat mahir dalam mengoperasikan pedang di tangan mereka masing-masing.


Sudah jelas, mereka bukanlah pemula!


"Uwah... rasanya seperti bernostalgia!!"


"Senang dapat menghiburmu, tapi, kali ini aku tidak berniat untuk kalah darimu, Archela!"


"Benarkah?"


Berbagai jenis serangan sihir juga turut mereka lontarkan satu ke yang lain. Jika ada pemula yang melihat pertarungan mereka berdua, sudah dapat dipastikan, pemula tersebut akan langsung mengundurkan diri dari pekerjaan nya sebagai seorang petualang.


Sebab, keduanya bertarung tanpa mempedulikan sekeliling, mereka membiarkan sihir mereka mengamuk hingga menghancurkan alam sekitar mereka.


Bangunan panti juga turut hancur karena terkena serangan dari keduanya. Semua hal itu, membuat Lein yang melihatnya, tak bisa berkata-kata lagi. Dirinya takut dengan apa yang dia lihat. Lein ingin membantu Zerlicia namun, apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya akan mengganggu pertarungan Zerlicia. Yang bisa Lein lakukan hanya melihat pertarungan yang Zerlicia jalani dengan terus berharap agar, Zerlicia dapat memenangkan pertarungannya.


"Hebat juga, kamu memakai pola seranganku? Sudah aku duga kamu sangat menarik, Zerlicia!"


"Terimakasih."


".....?"


Keduanya terus bertarung, decitan pedang terus bergema di sekitar tempat mereka bertarung. Semuanya, sangat gila.


Pertarungan Zerlicia melawan Archela, sangat berbeda dibandingkan dengan saat Zerlicia harus melawan temannya sendiri, Wayra. Sekarang, Zerlicia tak lagi menahan diri dan bertarung dengan sekuat tenaga yang ia miliki.


Berbagai sihir tipe serangan, memenuhi atmosfer disekitaran tempat Zerlicia bertarung, kalau saja ada seorang yang masuk ke area pertarungan mereka berdua, akan sangat sulit bagi orang itu untuk kabur hidup-hidup.


"Kamu sangat berbeda dengan terakhir kali kita bertemu, Zerlicia. Aku sangat senang namun, aku juga suka dirimu yang berputus asa. Kamu lebih mudah dimonopoli saat kamu berada diambang batasan mu. Tapi yah...." dirinya menghela nafas sejenak.


"Sepertinya hasilnya sama saja ya, Zerlicia?"


"Sangat disayangkan~"


.


.


.


.


.


.


.


Masih saja, Zerlicia masih belum mampu mengalahkan Archela yang begitu kuat itu. Zerlicia terpental hingga tubuhnya membentur tembok bangunan panti dengan begitu kerasnya.


Suaranya terdengar sangat kencang, bahkan sampai, membuat Lein yang melihatnya, terkejut akan suara tersebut.


"Sayang sekali ya?", ucap Zerlicia menyikapi kekalahannya dengan senyuman.


"Zerlicia, kau...?"


"Yah, aku lemah, itu sudah jelas."


"Apa aku terlalu kencang ketika memukul kepala mu tadi?"


Sikap Zerlicia mendadak terasa aneh. Bagaikan, Zerlicia tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri. Yang ia lakukan sedari tadi, adalah mencoba membuat Archela menolongnya dengan sepenuh hati.


"Aku kalah~. Apa hukumannya?", Zerlicia bertanya dengan senyum tipis di wajahnya.


"Tidak ada... Zerlicia..."


"Kenapa, Archela?", Zerlicia tetap tersenyum.


"Apa kamu gila? Kamu mabuk?", melihat tingkah Zerlicia yang cukup berbeda dari biasanya, membuat Archela berfikir jika Zerlicia tengah mabuk. Meskipun Zerlicia sebenarnya tidak mabuk!

__ADS_1


"......."


"Aaaaahhhhh!!!!! Sebenarnya aku ingin sekali mabuk saat ini!!! Archela, kau punya wine, bir, atau semacamnya?!", tiba-tiba saja Zerlicia berteriak mengeluarkan isi hatinya.


"Kenapa jadi begini.... padahal aku sudah berjuang keras......", ujar Zerlicia sembari menahan air matanya agar tidak menetes.


"Zerlicia...?", Lein memanggil namanya dengan perasaan yang begitu mengkhawatirkan diri Zerlicia.


"Nih, wine," ucap Archela memberikan satu tong penuh botol wine yang ia ambil dari ruangannya.


Menggunakan sebuah portal, Archela pergi dan kembali dengan begitu cepatnya.


"Gelasnya?"


"Maaf," ucap Archela kemudian ia pergi kembali ke ruangannya hanya untuk mengambil gelas wine untuk Zerlicia.


"Kenapa aku malah melayanimu, SIALAN!!", menyadari jika dirinya tertunduk sesaat pada manusia seperti Zerlicia, Archela seketika membanting gelas wine yang ia bawa dari ruangannya.


"Ahhhh....?"


"Apa?! Hoi, kenapa dirimu?"


"... jahat."


"Huh?"


"... Archela jahat!"


Yah, dia iblis sih. Sepertinya Zerlicia benar-benar kehilangan akal sehatnya.


".....", Archela diam tak menjawab perkataan Zerlicia yang menangisi pecahan gelas wine yang berserakan di tanah.


"Akan sangat berbahaya jika pecahan gelas kaca ini mengenai kakimu. Memang benar aku benci dirimu karena gelas wine yang kau bawa untukmu, malah kamu pecahkan. Tetapi, Archela.... Jangan menyakiti dirimu sendiri~" dengan lembut, Zerlicia membelai dagu Archela.


Kemudian Archela membalas tindakan Zerlicia tersebut dengan, sebuah sengatan listrik yang ia keluarkan.


"Sakit....", rintih Zerlicia.


"Manusia diam saja!"


"Ah..."


Ketika Lein ingin bergabung dengan pembicaraan mereka, Archela seketika menahan Lein agar ia tak mengganggu pembicaraan nya dengan Zerlicia.


"Jangan jahat jahat ke Lein dong. Dia budakku kamu tahu?"


"Aku tahu itu! Maka dari itu aku menyuruhnya diam selain itu, ada apa dengan dirimu?"


"Kenapa dengan aku? Entahlah, aku terlalu lelah mungkin? Lein, bisa ambilkan gelas di dalam? Gelas apapun terserah, yang penting, aku dapat meminum wine ini."


"Baik!"


Seketika Lein bergegas masuk ke dalam untuk mengambilkan gelas agar Zerlicia dapat meminum wine tersebut.


Ketika Zerlicia telah cukup mabuk... Archela bertanya kembali.


"Kau ini kenapa?!"


"Aku...? Aku... Akuuuu..."


"Ngomong yang jelas!"


"Apakah kamu akan selalu disamping ku, Archela?", tiba-tiba Zerlicia mempertanyakan hal tersebut.


"Aku musuhmu, kau tahu?"


"Benar tapi, aku sudah tak punya apa-apa lagi. Jadi, boleh ya?"


"Nggak...."

__ADS_1


Jahat... padahal Zerlicia memohon dengan sangat ramah. Tetapi permohonan Zerlicia, ditolak mentah-mentah oleh diri Archela.


"Kalau gitu aku mau mati saja!!!"


"Tunggu tunggu tunggu!!!!! Zerlicia, dengarkan aku! Jangan kamu membuat keputusan seperti ini!", ucap Archela, tiba-tiba mengkhawatirkan Zerlicia.


"Kenapa? Bukankah kamu tidak menyukaiku? Aku tak punya apa-apa lagi jika kamu tidak menyukaiku bukan? Kalau begitu..."


"Kau mau kembali ke masa lalu?"


"... Ini terlalu rumit! Kenapa masalah terus berdatangan ke diriku? Kenapa aku harus menderita sejauh ini... kenapa? Archela, tolong jawab pertanyaanku," ucap Zerlicia yang kini telah mabuk berat.


"Karena... kamu naif."


"Naif? Seperti pernah mendengarnya, Lein, naif itu apa?"


"Eh...." Lein terdiam sejenak. Zerlicia terlihat linglung dari matanya. Seharusnya Zerlicia tahu namun, karena efek alkohol, Zerlicia tidak sanggup berfikir jernih.


"Naif itu, kamu terlalu baik!", ucap Archela menjawab pertanyaan Zerlicia tersebut.


"Aku tidak memintamu menjawabnya tapi, makasih, Chela, Sella, Seyla?"


"Sekali lagi kamu membuat ulang namaku, akan aku hajar dirimu!"


"Eh~ jahatnya. Sayang sekali, Ratu iblis yang menawan, harus kehilangan kecantikannya hanya karena marah-marah," ujar Zerlicia, merayu Archela tanpa peduli dengan keselamatannya sendiri.


"Zerlicia Namsaka," ucap Archela menyebut nama Zerlicia secara lengkap.


"Apa, Seyla?"


"Kubilang!!!!", seketika, Archela menyengat Zerlicia yang memanggilnya dengan sebutan yang Zerlicia buat secara sepihak.


"Kamu sangat menyeramkan, Seyla..."


Kemudian, Zerlicia menerima sengatan lagi, lagi, lagi dan lagi hingga Archela lelah dengan diri Zerlicia.


"Jadi, aku punya kesepakatan untukmu. Mungkin terdengar aneh namun, jika tak aku lakukan, kau, berpotensi membunuhku!"


"......"


Terdiam sejenak ketika mendengar ucapan Archela, Zerlicia kemudian tertawa.


"Itu kebohongan yang sangat indah... aku senang kamu mengatakannya. Meskipun, itu hanyalah sebuah kebohongan semata, Seyla."


"Kau masih menggunakan nama itu?!"


"Kenapa? Cocok denganmu kok. Lagipula, menyebut Archela itu cukup panjang! Kusingkat Seyla saja!", ujar Zerlicia dengan senyum di wajahnya.


"Huh, suka-suka kamu. Ngomong-ngomong Zerlicia, soal kesepakatan..." saat Archela hendak membahas tentang kesepakatan yang ia inginkan, Zerlicia malah pergi ke tempat Lein kemudian mengangkat rok yang Lein pakai.


"Lein, kau masih perawan?"


"Uwa?!"


"Ahaha, bagus. Tetaplah seperti itu!", ucap Zerlicia sembari menurunkan rok yang Lein pakai, lalu pergi ke sisi Archela kembali.


"Duh... Nona ngapain sih!!!??", teriak Lein kepada Zerlicia yang tengah mabuk berat di hadapannya.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Seyla?"


"Ah, gak jadi... nanti aja setelah kamu sadar. Percuma aku bicara panjang lebar namun kamu tidak mengingatnya."


"Begitukah? Kalau begitu, mari pesta minum-minum!! Lein juga ikut ya?"


"Saya?! Tapi, saya jarang minum yang seperti itu.."


"Sudah-sudah, ini lezat kok."


"Tetapi.. "

__ADS_1


"Lein boleh ikut bergabung 'kan, Seyla?"


"Suka-suka kamu!"


__ADS_2