Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 3 Bab. 38 : Pendiri


__ADS_3

Dahulu kala, hiduplah sepasang kekasih hebat yang telah berjaya mendirikan sebuah kerjaan hingga berkembang dengan baik. Berawal dari cemoohan, hingga pada akhirnya, sepasang kekasih tersebut berhasil mematahkan cemoohan manusia yang meragukan kemampuan mereka dalam membina sebuah negara.


Ini adalah kisah, dimana kisah ini, adalah awal dari terbentuknya Kerajaan Ralley. Kisah tentang sepasang kekasih yang terus bersama hingga akhir hayat mereka, tak peduli susah senang yang mereka dapatkan setiap harinya, sepasang kekasih tersebut, selalu menyikapi segala rintangan yang ada dengan senyum riang.


** Tahun 405 sebelum kalender Kekaisaran Resfl.


Hidup seorang gadis muda yang sangat menawan. Lahir dari keluarga desa, membuat dirinya diincar oleh banyak bangsawan pada waktu itu. Beruntung, dirinya dijaga oleh para warga desa yang begitu menyayangi dirinya layaknya anak mereka sendiri.


Saat ada seorang dari luar desa yang berniat melamar gadis yang usianya baru menginjak umur yang ke-16, para warga desa langsung beramai-ramai mempersiapkan diri kalau sewaktu-waktu tenaga mereka diperlukan untuk mengusir bangsawan yang berniat menjadikan dirinya sebagai seorang istri.


Gadis tersebut bernama, Layha. Layha Namsaka.


Hidup dengan kedua orang tuanya, Layha tampak gembira menjalani hidupnya di desa. Bermain di taman bunga sendirian, Layha terkadang mendapati anak-anak yang mengajaknya bermain. Tentunya ia menerima tawaran dari setiap anak yang mengajak dirinya bermain. Oleh karena itulah, dirinya mulai disukai oleh para warga desa.


Namun, suatu hari, semuanya berubah secara drastis. Karena krisis persediaan pangan serta musim kemarau panjang yang tak kunjung berakhir, desa tempat kelahiran Layha Namsaka, terancam punah akibat kelaparan termasuk, Layha dan keluarganya.


Meskipun dicintai oleh seluruh warga desa, Layha tidak pernah berharap mendapatkan bantuan dari warga desa. Ia sering menolak tawaran warga yang menyisihkan sebagian persediaan makanan mereka untuk keluarga Layha. Akan tetapi, dirinya menolak setiap tawaran yang ada.


Bukan berarti Layha tidak kekurangan persediaan makanan, akan tetapi, Layha tidak ingin merepotkan warga desa untuk kesekian kalinya lagi. Dirinya ingin, sesekali membalas kebaikan warga desa yang telah banyak membantunya dalam berbagai hal. Setidaknya, untuk urusan perut, Layha ingin, warga desa lebih mementingkan diri mereka sendiri dari pada memberi persediaan makanan mereka ke dirinya.


"Layha, maafkan kami, Nak. Sepertinya kamu harus pergi dari sini."


"Ibunda, kenapa kamu mengusir ku?!"


"Ini demi kebaikan kamu, Nak. Gunakan sisa persediaan makanan ini untuk bekal perjalanan mu."


"Kemana aku harus pergi??"


"Di barat, ada sebuah kerajaan yang cukup besar. Mereka makmur, di sana kamu dapat hidup dengan sehat."


"Bagaimana dengan kalian? Ayah bilang seperti itu namun tetapi, bagaimana nasib kalian berdua?!"


"Takdir tidak bisa diubah, Nak. Biarlah kami di sini menunggu keajaiban dari langit."


"Tetapi, kapan keajaiban itu akan terjadi?!"


"Nak, sebenarnya kami pun tidak tahu. Akan tetapi, setidaknya, kami ingin kamu hidup dengan baik. Bawa anak-anak yang ingin ikut bersamamu. Aku percaya padamu, Nak."


"Tetapi...."


"Jangan khawatirkan kami, ibu yakin kamu dapat dipercaya."


"...."


Dalam kebingungan, Layha mencoba untuk berfikir keras agar dirinya tidak meninggalkan kedua orang tuanya sendirian di desa yang dilanda oleh kekeringan tersebut. Akan tetapi, mau seberapa keras pun dirinya berfikir, ujung-ujungnya, Layha dipaksa kedua orang tuanya untuk pergi berkelana untuk merubah kehidupan nya.


Dengan beberapa anak-anak yang dipasrahkan padanya, Layha, pergi ke arah barat menuju ke kerajaan yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya.


Tiga hari berlalu, akhirnya mereka sampai, banyak sekali orang terlihat mengantri masuk ke dalam kerajaan tersebut, di saat melihat barisan orang yang amat panjang di depan matanya, Layha khawatir, jika dirinya tidak diperbolehkan masuk ke dalam.


Namun....


Saat dirinya sampai di depan pintu gerbang kerajaan, dirinya berbincang dengan penjaga hingga pada akhirnya, Layha berhasil membawa masuk beberapa anak-anak yang ikut mengadu nasib di kerajaan.


Sempat sesekali Layha dilecehkan di depan gerbang namun, beruntung, ada seorang laki-laki dari kalangan bangsawan tanpa nama yang menyelamatkan dirinya dari situasi yang tidak mengenakkan tersebut.


"Terimakasih," ucapnya setelah lelaki tersebut membawanya masuk ke kerajaan. Lelaki tersebut tidak sedikitpun membuka mulutnya untuk Layha. Layha berfikir jika lelaki tersebut adalah seorang yang sombong namun, dirinya tidak ingin berburuk sangka terlebih dahulu. Ia masih belum sepenuhnya mengenal tentang bagaimana kerajaan yang sebenarnya jadi, dirinya tidak boleh gegabah di dalam ruang lingkup kerajaan tersebut.


Sampai di kamp. Pengungsian, Layha dan anak-anak yang bersama dirinya, dikejutkan dengan apa yang terjadi di depan matanya.


Memang benar mereka tidak akan mendapatkan makanan jika tidak bekerja namun, di depan mata mereka semua, terlihat banyak sekali pekerja dengan seragam yang tampak lusuh. Mayoritas dari pekerja tersebut merupakan laki-laki. Perempuan dipisahkan ke tempat lain yang tidak diketahui dimana tempat tersebut berada.


Perempuan yang bersedia menjadi pekerja tambang, mereka wajib menandatangani perjanjian dimana pihak kerajaan tidak menanggung sebab akibat setelah mereka masuk menjadi pekerja. Bekerja dari pagi sampai malam, tentunya sangat menguras tenaga. Dan pekerjaan tersebut, tidak cocok untuk seorang wanita yang memiliki tubuh lebih lemah dari laki-laki. Secara, dari awal, struktur tubuh laki-laki dan perempuan, sangat berbeda.

__ADS_1


Namun, tak sedikit pekerja wanita yang mereka lihat di tempat tersebut, kebanyakan dari mereka telah kehilangan sinar kehidupan yang biasa terpancar dari mata mereka. Pekerjaan ini, sangat tidak disarankan untuk perempuan.... akan tetapi, jika mereka tidak memaksakan diri, mereka akan dibawa ke suatu tempat yang tentunya, mereka tidak ingin tahu.


Benar, tempat tersebut, merupakan neraka bagi para wanita. Menjadi budak ****. Jika tidak menjadi pekerja tambang, mereka akan dilatih untuk selanjutnya dijadikan budak yang pekerjaannya tidak lain adalah memuaskan hasrat lelaki.


Sampai saat ini, Layha belum mengetahui jika perempuan yang tidak bersedia menjadi pekerja tambang, akan menjadi budak pemuas. Dia tanpa tahu apa-apa, digiring ke sebuah kereta kuda bersama anak perempuan lain yang ikut bersamanya, sedangkan, anak laki-laki tetap berada di sana.


Selama diperjalanan, Layha terus menerus merasa cemas dan khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Akan tetapi, ia lagi-lagi berfikir positif. "Aku pasti baik-baik saja," begitulah isi kepalanya. Dia terus mengulangi kalimat tersebut sampai akhirnya, mereka tiba di tempat yang mana, tidak ada satupun perempuan yang ingin berada di sana.


"Tidak!!?" Layha yang melihat banyak sekali perempuan tanpa busana, diikat di berbagai tempat, langsung menjerit histeris.


Jeritannya mengundang perasaan kesal para penjaga yang menjaga kamp. Budak tersebut. Alhasil, Layha ditarik paksa oleh para penjaga keluar kereta kuda untuk selanjutnya, para penjaga mulai melakukan hal cabul kepada dirinya.


"Ibunda!? Tidak, jangan lakukan itu!! Aku...." Layha merengek memohon kepada penjaga yang hendak melakukan hal buruk kepada dirinya.


"Berisik, kau tampak cantik sepenuhnya, kamu tak perlu menyembunyikan tubuh cantikmu itu mulai sekarang ~"


"Tidak!!! Sakit!!!!"


"...."


Layha tak bisa berbuat banyak, tentu saja, dia seorang perempuan. Tentu saja perempuan tidak mungkin menang melawan laki-laki selain mereka memaksa diri mereka untuk menjadi lebih kuat dari pada laki-laki yang ada. Itulah yang seharusnya namun, Layha tidak pernah sekalipun belajar bela diri maupun mempelajari sihir lantaran.


Pada masa tersebut, sihir hanya boleh dikuasai oleh para bangsawan saja. Rakyat tak diperbolehkan mempelajari ilmu sihir selain menggelontorkan dana yang cukup besar untuk bersekolah di akademi sihir yang berada di dalam kerajaan terdekat. Namun, nominal yang ditentukan oleh kerajaan, di luar batas kemampuan rakyat jelata yang ada. Hanya anak golongan bangsawan saja yang mampu membayar biaya tak normal tersebut. Alhasil, rakyat jelata selalu ditindas oleh para bangsawan.


Dan kini, begitu pula dengan Layha yang sekarang mulai kehilangan sorot kehidupan yang ia pancarkan dari matanya. Anak-anak yang lain juga ikut kehilangan semangat hidup mereka. Banyak dari mereka yang berniat mengakhiri hidup. Kalian bisa melihat mereka yang terikat di berbagai penjuru tempat. Merekalah para perempuan yang berniat mengakhiri hidup mereka sendiri.


"Ibunda...." untuk Layha dan beberapa perempuan yang belum terpikirkan untuk mengakhiri hidup mereka masing-masing, mereka akan leluasa bergerak meskipun, mereka harus tidur di dalam kurungan yang kotor dengan beralaskan daun pisang yang mulai robek.


"Kakak...." saat Layha mulai merasa putus asa, ada seorang perempuan yang tampak lebih buruk kondisinya daripada dirinya sendiri. Perempuan tersebut terus memanggil Kakaknya dengan kondisi menyembunyikan wajahnya. Layha tak tahu perempuan itu sedang menangis atau tidak.


"Permisi...." dengan sigap Layha berinisiatif untuk menyemangati dirinya namun...


"Jangan mendekat!" usahanya gagal karena perempuan tersebut tampaknya sedang tidak ingin diganggu.


Beberapa dari mereka mencoba mengakhiri hidup namun, malang sekali. Mereka justru ketahuan oleh penjaga yang berpatroli hingga pada akhirnya, mereka akan bernasib sama seperti perempuan yang diikat di luaran sana.


"Sudah cukup!" saat Layha mulai terlarut dalam khayalannya, tiba-tiba saja, ada seorang perempuan yang berdiri kemudian berteriak kencang. Layha yang mendengarnya, sontak berdiri untuk menahan perempuan tersebut agar dia tidak bernasib sama seperti apa yang dialami perempuan di luaran sana.


"Maaf..." ucap Layha setelah penjaga meninggalkan mereka.


"Tidak... aku justru ingin berterimakasih. Hei, siapa namamu? Huh, kita tidur di tempat yang sama namun, kita tidak saling kenal."


"Layha, Layha Namsaka."


"Layha Namsaka? Akan aku ingat namamu."


"Anu... tadi kamu berteriak kencang... apa yang terjadi?"


"Ah itu... sebelumnya, aku Klya. Klya Cakh. Hmm, soal pertanyaan mu tadi, aku akan menjawabnya. Aku berteriak tadi, karena aku ingin... mengakhiri semuanya!"


"Huh?!" Layha sontak saja tercengang dilanjut dengan sedih karena mendengar jika seorang yang baru ia kenal, harus pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya....


"Ah, tidak, maksudku, aku tidak pergi secara cuma-cuma."


"Apa maksudmu?"


"Ibuku seorang alkimia, kami sering mempelajari lingkaran sihir, dan berbagai macam yang berkaitan dengan ilmu sihir secara illegal!"


"Apa maksudmu?" tanya Layha.


"Maksudku, kami dari keluarga jelata. Jadi kami sekeluarga tertangkap setelah mereka mengetahui kegiatan illegal kami... Awalnya aku bersama kakakku di sini namun, dia telah pergi entah kemana."


"Pergi entah kemana?"

__ADS_1


"Dijual. Kakakku jadi gila...."


"Oleh karena itulah kamu.... merindukan Kakakmu setiap malam?"


"Yah... begitulah."


"Lalu, kenapa tiba-tiba kamu tampak bersemangat? Apa yang akan kamu lakukan, dapat membawa diriku keluar dari tempat ini?"


"Tentu saja! Baiklah, akan aku lanjutkan....


"Rencana nya adalah... menggunakan jasa iblis!"


"Huh?!"


Layha amat tercengang dengan ucapan yang baru saja dia dengar. Menggunakan jasa iblis? Apa maksudnya?


"Sebelum kami berakhir di sini kami pernah mempelajari lingkaran sihir untuk memanggil seorang iblis. Dengan bayaran jiwa sang pemanggil, kita boleh meminta berbagai macam permintaan meskipun itu mustahil diwujudkan!"


"Huh?! Kamu, berniat menumbalkan dirimu untuk...?! Kalau begitu, apa gunanya itu?! Kamu tidak bebas. Bukankah itu sia-sia?"


"Tidak sia-sia jika itu menyelamatkan banyak nyawa... Layha, ayahku pernah bilang, pahlawan sejati adalah seorang yang berani mengorbankan nyawanya untuk melindungi banyak orang!"


"Tetapi?!"


"Santai saja, aku tidak punya penyesalan."


Seusai berbincang sejenak dengan Layha, Klya mulai menggambar sebuah lingkaran sihir dengan alat seadanya. Saat lingkaran tersebut telah terbentuk dengan sempurna, Klya mulai berdiri di atas nya kemudian.... dirinya merapalkan sebuah mantra terlarang.


Layha saat itu hanya ditugaskan untuk mengawasi pergerakan penjaga yang tengah berpatroli. Saat penjaga mulai menghampiri kurungan mereka, maka Layha mau tak mau harus menutup-nutupi apa yang tengah dilakukan oleh Klya di belakang sana.


Namun untung saja, tidak ada seorang pun penjaga yang berkunjung ke kurungan keduanya.


Setelah mantra berhasil dirapalkan dengan sempurna, Klya sontak tersungkur ke tanah. Sesaat setelah dirinya tak sadarkan diri, muncul kabut hitam disertai hawa dingin yang begitu menusuk hingga membuat semua orang di dalam kurungan, merinding ketakutan.


"Hahahaha... lucu sekali. Anak ini berhasil memanggil ku? Apa dia berfikir nyawanya saja cukup untuk membuat permohonan agar aku dapat mengabulkannya?? Mari kita lihat, satu, dua, tiga, empat, lima, en— yang satu itu tampak berbeda... hmm, baiklah, aku menambahkan dirimu sebagai bayaran atas apa yang akan aku lakukan, apa dirimu setuju akan hal itu? Permintaan anak ini adalah, menghancurkan negara serta membebaskan tawanan budak yang ada."


Kabut hitam tersebut mulai mengeluarkan suara, dengan suara misterius yang berat, kabut tersebut mulai menghitung jumlah perempuan di dalam kurungan. Hitungannya mulai berhenti di saat dirinya melihat ke arah Layha yang diam terpaku di sana.


Kabut tersebut mendekati Layha, lalu membuat perjanjian khusus dengan diri Layha.


"Apakah kamu serius bersedia melakukan nya?"


"Tentu, bagiku, kamu harta karun yang baru saja aku temukan."


"Baiklah, aku setuju, akan tetapi, sebelum mengambil jiwaku, aku ingin melihat langsung bagaimana dirimu melakukan pekerjaan yang kamu terima dari kami berdua."


"Hmm, itu bukan masalah besar, mari kita lakukan sekarang!"


Sontak, kabut tersebut mulai melakukan pekerjaan nya. Mulai dari melelehkan kunci kurungan, kemudian membimbing tawanan yang ada keluar dari tempat mereka disekap.


Tentunya, kabut tersebut terus menyelimuti tubuh Layha supaya Layha tidak kabur sesuai janjinya.


"Kita keluar..." setelah sampai ke luar, kabut tersebut kemudian berkata.... "Mulai dari sini, aku tak bisa melakukan nya sendirian, aku butuh wujud. Sesuai janjimu, aku akan menggunakan wujudmu hingga tubuhku tidak lagi tersegel, Layha."


Saat kabut tersebut mulai meminta bayaran, Layha tak bisa berbuat banyak selain menerima kabut tersebut masuk ke dalam dirinya dan mulai mengambil alih tubuh serta pikirannya.


"Humu, energi yang besar, sesuai dengan apa yang aku lihat tubuh ini memiliki potensi yang besar untuk menjadi yang terkuat," setelah masuk, kabut yang kini menguasai tubuh Layha tersebut, mulai terbang ke langit untuk selanjutnya, mulai membunuh berbagai orang-orang jahat yang ada di kerjaan tersebut.


Hanya dengan satu gerakan, kabut tersebut, berhasil membunuh ribuan orang jahat di dalam Kerajaan. Hanya dengan mengangkat tangan kanannya saja, mulai terlihat dari berbagai penjuru, sebuah cahaya yang tampak seperti bola api namun berwarna putih ataupun hitam. Yang menghampiri kabut tersebut berwarna hitam. Warna yang pas dengan jiwa para penjahat di kerajaan tersebut.


"Kalian bebas, kalau begitu, aku pamit~" setelah itu, kabut tersebut pergi dengan membawa tubuh Layha bersamanya.


Sejak hari itu, jejak Layha, tak lagi ditemukan di manapun itu. Meskipun banyak yang mencarinya, Layha, tidak pernah ditemukan hingga 10 tahun ke depan... muncul seorang yang menyerupai Layha....

__ADS_1


Malahan, dia adalah Layha yang asli.


__ADS_2