
Aku bisa menggunakan sihir tanpa memerlukan tongkat sihir. Dengan berbagai macam sihir, aku mampu meratakan seluruh monster yang berada di depanku.
Akan tetapi, saat aku hendak menggunakan sihir dengan tongkat sihir, tiba-tiba saja aku tidak bisa mengeluarkan sihirku. Bagaikan, ada sesuatu yang menghalangi energi sihir dari dalam diriku untuk keluar.
"Apa kamu telah selesai, Kak?!"
"Ya... tetapi, ini aneh. Bagaimana bisa aku tidak bisa melakukan nya di dalam kelas tadi."
"Yah, aku juga tidak tahu. Akan tetapi, yang jelas, jangan pernah tidur di kelas lagi!"
"Hah?!"
"Aku mengerti kenapa Kakak mudah bosan di dalam kelas tadi namun, semuanya perlu dipelajari. Tak peduli seberapa baik Kakak menguasai sihir tanpa rapalan, jika Kakak tidak bisa mengikuti perkembangan di sekitar Kakak, maka hal itu sama saja tidak berguna."
"......"
Baru kali ini aku dimarahi oleh adikku sendiri. Yah memang benar sih jika aku tidak pernah mempelajari tentang bagaimana caranya mengeluarkan sihir dengan menggunakan tongkat sihir. Ya! Itu tentu saja! Aku tidak mempelajarinya karena aku bisa mengeluarkan sihir tanpa tongkat sihir! Kenapa orang-orang zaman sekarang mempersulit semuanya?!
"Danau....?" saat kami tengah berjalan-jalan di dalam sebuah dungeon, tiba-tiba saja kami menemukan sebuah danau dengan hiasan tanaman menjalar yang memenuhi area sekitar danau.
"Jika aku masih kecil, Kakak pasti akan mengajakku untuk berenang di sana."
Yah, benar, masa kecil... itu indah.
"Rleas?"
"Hmm..?"
"Bagaimana jika kita... berendam sejenak?" aku tak tahu apa yang aku katakan! Aku sangat ingin berenang di dalam danau tersebut namun.... Mana mungkin aku melepas baju ku di depan Rleas yang telah tumbuh dewasa di sampingku! Jika dia masih kecil, aku tak akan berpikir panjang untuk melepas bajuku di depan dirinya. Bahkan mengajaknya mandi bersama namun sekarang.....
"Tidak, terimakasih.."
Yah, kau benar. Sial, ini memalukan! Kenapa aku tiba-tiba saja berkata seperti itu kepada dirinya!
"Aku akan berjaga-jaga saja. Jika Kakak ingin berendam, silahkan," ucap Rleas dengan tampang yang sangat datar lalu meninggalkan diriku sendirian di danau ini.
Dia pergi ke lorong yang terletak di depan tempat danau berada.
Dia benar-benar meninggalkan diriku seorang diri.
Adik macam apa dia itu!
Yah meskipun, aku menghargai tindakannya itu. Aah, aku yakin jika Rleas berpikiran macam-macam padaku di sana. Apa mungkin, dia akan.... yah, lupakan. Lebih baik aku segera membasuh tubuhku dan pergi melanjutkan perjalanan kami kembali.
"Segar?"
"Yah, tadi itu menyegarkan!!! Meskipun, aku agak khawatir jika kamu akan melihatku saat aku mandi."
"...."
"Ngomong-ngomong, kamu tidak berpikiran aneh tentang diriku kan tadi?!"
"...."
"Jawab!!!!"
"Ha?" Saat aku berteriak ke arahnya, dia hanya terdiam sembari menempatkan telapak tangannya ke kepalaku. Lalu dia mengusap kepalaku seraya berkata....
__ADS_1
"Jangan pernah, menjadi liar dengan laki-laki lain. Kita tidak tahu sifat mereka. Kakak bisa saja dalam bahaya jika nekat mandi jika bukan aku yang berada bersamamu."
Lagi-lagi dimarahi?! Ini aneh, kenapa Rleas sering memarahiku? Seingatku aku tidak pernah memarahi dirinya dulu.
"Hei, memegang kepala orang yang lebih tua dari mu itu, tidak sopan! Kau akan dicap sebagai setumpuk sampah jika kamu melakukannya ke wanita selain diriku."
"Itu tidak akan," ucap Rleas dengan senyum tipis.
"Hah?!" apa ini, apakah dia.... diam-diam punya pacar?! Memang benar, akhir-akhir ini aku jarang berbicara dengan dirinya. Terlebih, saat Kerajaan ini bangkit kembali. Aku sibuk mengurusi kedamaian di Kerajaan ku sampai lupa menghabiskan waktu dengan adik-adikku.
Jadi itu alasan dia merayuku? Dia menggunakan aku sebagai kelinci percobaan sebelum pada akhirnya, dia mempraktekkan nya dengan pacarnya.
Kami melanjutkan perjalanan kami. Menelusuri setiap lorong, kami sampai tidak mengetahui jika hari telah gelap. Mungkin ini adalah dampak dari kami membawa banyak bekal sebelum berangkat menelusuri dungeon.
Hingga kami dihubungi oleh Layha, kami baru menyadari bahwa malam telah tiba. Saat dia menghubungi ku, terdengar nada marah dari suaranya. Aku rasa, dia akan memarahi kami jika kami tidak segera pulang.
Dahulu, walaupun malam telah tiba, jika aku masih belum puas berpetualang, aku tidak akan berhenti sampai misiku terselesaikan. Meskipun, hari telah berganti.
Namun sekarang, karena Layha kini bagaikan ibu kandungku, dia jadi lebih protektif terhadap diriku. Terlambat makan malam sedetik saja, dia pasti akan memarahiku. Yah, seperti tadi.
Otomatis, karena dia menghubungiku dengan nada yang tampak marah, kami berdua segera kembali menggunakan portal teleportasi yang aku keluarkan.
"Karena inilah kamu tidak kunjung mendapatkan seorang pasangan, Zerlicia," ketika aku sampai, belum sempat aku menyapa Layha dan yang lain di meja makan, Layha telah mengoceh terlebih dahulu.
"Maaf?"
"Berkeringat, bau, tidak feminim, kau, lebih cocok disebut sebagai laki-laki daripada disebut perempuan!"
"Ughh, terserah."
"Zerlicia, aku masih berharap kepada dirimu agar kamu memberiku seorang cucu."
"......"
"Jika kamu ingin sekali menimang cucu, akan aku beri kamu seorang cucu namun, tidak sekarang! Aku masih belum siap untuk menjadi seorang istri!"
"Lalu, sampai kapan kamu akan menunda pernikahan mu? Bukankah ada Ibu panti yang juga berharap dapat melihat kamu bahagia bersama orang yang kamu sayangi?"
"Ugh..."
"Berbeda dengan kita yang tidak dapat menua, ibu panti telah berusia 58 tahun kau tahu?" Aku mengerti....
"Aku mengerti! Hanya saja.... Aku masih...."
Lagi-lagi, Layha selalu saja membicarakan hal ini saat kami melaksanakan makan malam bersama. Di sebuah meja panjang, kami sekeluarga besar, makan bersama di ruang makan istana.
"Kau juga setuju denganku bukan, Ibu panti?" woah, dia mencari pendukung.
"Jika boleh aku berpendapatan, memang benar aku selalu berharap ingin melihat masa depan anak-anak yang aku asuh. Aku ingin melihat, mereka memiliki masa depan yang bahagia. Aku ingin melihat mereka hidup dengan bahagia di keluarga kecil mereka."
"Tuh..."
Sial, aku dipojokkan?!
"Iya! Aku mengerti!! Kau pikir anak itu dapat dibeli dengan harga murah?!"
Argh sial, aku kehilangan kendaliku.
__ADS_1
"Makan makananmu!"
"Tiba-tiba saja aku merasa kenyang. Aku ingin tidur!"
"Zerlicia?!" semua orang yang dekat denganku, tampak mengkhawatirkan diriku.
Terutama, Lein, Wayra, Hana, dan Ryspa.
"Tunggu!"
"Mn?" saat aku hendak meninggalkan ruangan, Hana berdiri lalu berjalan mendekati diriku.
"Kenapa?"
"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana namun, aku pikir, seharusnya aku menghibur dirimu. Jadi,...." oh, dia ingin berguna sebagai seorang budak ya? Lucunya.
"Itu tidak perlu. Kamu habiskan saja makan malammu."
"Tetapi...!!"
"Kau tahu, Zerlicia. Bagaimana kamu akan mengandung jika kamu terus menggoda wanita bagaikan seorang playboy?"
"Diamlah!!!"
Aku berjalan dengan kencang dan meninggalkan Hana sendirian berdiri di ruang makan ketika mereka semua tengah menyantap makan malam.
"Aah, dia pergi."
"Archela, apa aku terlalu kasar pada dirinya?"
"Yah, mungkin, secara, Zerlicia adalah gadis liar selama dia tumbuh sampai sekarang ini. Sejak kehilangan kedua orang tuanya, dia terkesan tidak terikat oleh sesuatu. Jadi dia bebas melakukan ini dan itu. Sampai ketika kamu datang di kehidupannya, dia merasa terkekang oleh ucapanmu itu, Layha. Meskipun aku memahami keinginan mu untuk mengasuh anak, itu bukan berarti kamu boleh menekan dirinya sampai seperti itu. Bahkan Ibu panti saja tidak pernah menekan Zerlicia hingga dia merasa terkekang."
"Lagipula, dari awal ini adalah salahmu. Aku.. aku hanya ingin menjadi perempuan yang normal. Mengandung, membesarkan anakku sendiri, lalu melihat dirinya tumbuh. Aku ingin menjadi seorang ibu yang normal!"
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengandung sekali lagi?"
"Hah?! Bagaimana bisa?! Aku tidak bisa mencintai lelaki selain Azn! Dan juga, aku mencintai Azn karena paksaan dari dirimu. Jika aku tidak dipaksa oleh dirimu, kerajaan ini tak akan terbangun dan Zerlicia tidak ada di dunia ini!"
"Itu tidak boleh terjadi!!!" Ibu panti tiba-tiba saja berteriak.
"Aku tahu itu! Disisi lain aku bahagia dengan apa yang Archela lakukan demi keturunanku namun, disisi lain itu juga, aku kecewa karena diriku tidak bisa mengasuh anak kandungku!"
"...."
"Aku hanya ingin menjadi ibu yang normal!"
.
.
.
.
Sulit bagiku untuk mencari seorang pasangan. Seluruh pria yang dapat aku sebut sebagai seorang kenalan, hanya sebagai kenalan sesama petualang. Selain itu, mereka semua telah memiliki pasangannya masing-masing.
Ini menyebalkan.
__ADS_1
Apalagi, aku tak bisa menggunakan anak hasil hubungan aneh ku dengan Fristca, sial, aku sebenarnya tidak peduli dengan Layha namun, Ibu panti juga berharap kebahagiaan atas diriku ini. Bagaimana aku bisa membuatnya bahagia sebelum pada akhirnya, dia akan meninggalkan diriku selamanya.
Apapun itu, aku tak ingin salah memilih pasangan. Aku muak dengan semua hubungan yang pada akhirnya, hanya akan berubah menjadi sebuah penyesalan.