
Seorang wanita berambut merah pendek, dengan zirah ketua pasukan kerajaan, tak sengaja aku tabrak. Ketika aku melihat wajahnya, aku sangat yakin, dia adalah seorang yang aku cari-cari selama ini.
Wayra, sosoknya yang penuh dengan kebohongan, berhasil membuatku tak lagi mudah untuk mempercayai sesuatu. Dua tahun dia menghilang dengan membawakan adik-adikku bersamanya, dalam kesempatan kali ini, aku tak sengaja bertemu dengannya.
"Ah maaf."
"Ya, tidak apa-apa, lain kali perhatikan langkahmu," dia hanya membalas permintaan maaf ku dengan kalimat tersebut tanpa melihat wajahku yang tertutup kerudung ini.
Sesaat setelah ia menjawab permintaan maaf ku, dirinya langsung pergi entah kemana. Sesungguhnya aku ingin sekali memukul wajahnya namun, disaat aku mengingat rencanaku, aku tidak bisa bertindak gegabah.
Jika aku memukulnya tadi, rencana baru yang aku bangun, akan menjadi tidak berguna lagi. Jadi, oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengikuti, kemana Wayra pergi. Kami berdua mengikuti Wayra secara diam-diam, tentu saja, jika kami mengikuti nya secara terang-terangan, otomatis kami akan tertangkap.
Hana aku perintahkan untuk terbang ke atas untuk mengawasi pergerakan Wayra dari atap ke atap. Sedangkan aku, aku hanya mengikutinya dari belakang sembari bersembunyi disaat ia hendak menoleh kebelakang.
"Loh kok...."
Saat berpapasan dengan persimpangan di depan, saat aku yakin jika Wayra belok ke kanan, tiba-tiba saja... keyakinan ku memudar.
Secara ajaib, Wayra menghilang bagaikan tertelan bumi. Hana yang mengawasi dari atas juga tidak menyadari kemana perginya Wayra. Sial, aku kehilangan dia?!
Aku memanggil Hana untuk turun kembali. Sesaat kami berbincang-bincang tentang kemana perginya Wayra, tiba-tiba saja, dia muncul dari belakang.
"Sudah aku duga jika ada seseorang yang mengikutiku," ucapnya seraya perlahan menghampiriku dengan langkah pendeknya.
"...." Jangan berbicara, aku rasa, dia akan mengetahui siapa aku jika aku bersuara...
"Kau tampak sangat berbeda meskipun hanya 2 tahun kita tidak berjumpa...." ah, lupakan.
"Hmmm....?" dia hanya mendengung?! Serius, dia semakin menjengkelkan saja!
"Jika kamu lupa, tak masalah. Aku bukanlah orang terkenal bagimu, tetapi.... perlu kamu ketahui, suatu hari nanti, kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu di masa lalu," ujarku seraya berjalan mundur menjauhi Wayra.
"Kamu..." jeda... "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Hah, dia benar-benar lupa?!
"Hmmm... entahlah, apakah otakmu hanya sebesar otak udang? Begitu mudahnya kamu melupakan seseorang yang pernah kamu pergunakan."
"... apa maksudmu?"
"... tenang saja, suatu saat nanti, aku yakin kamu akan mengingat semuanya. Dari saat kamu memohon dengan tangisan kepadaku, hingga hari disaat kamu mengkhianati ku, suatu hari nanti, tempat ini akan menjawab seluruh pertanyaanmu."
"Disaat aku berharap..... Tunggu, mungkinkah kamu...?!"
"Aku mempersiapkan kejutan spesial hanya untuk budak yang tidak menuruti perintah majikannya. Wayra, aku berjanji akan segera menemuimu dengan baik. Untuk sekarang, aku tak bisa memperlihatkan wajah yang terbuat karena dirimu," secara perlahan, kami berdua mundur....
"Zee... Zerlicia, kau kah itu?!"
"Hmm, entahlah..."
"Tunggu!!!" saat aku mulai membuka portal teleportasi di belakang tubuhku, dia seketika menahan langkahku. Hanya dengan sebuah kata... ia berhasil menarik perhatianku.
"Aku... minta maaf!"
"Huh, kukira kamu akan memberitahukan dimana tempat adik-adikku berada... tidak tahunya, kamu hanya meminta maaf?"
"Itu...."
"Hoi, mereka masih hidup, 'kan?!" jangan membuat ekspresi menyesal seperti itu, kau menghancurkan moodku brengsek.
"Brengsek!!! Katakan padaku, mereka masih hidup 'kan, Wayra!!!" sial, aku kehilangan kesadaran ku, aku maju, menarik badan Wayra dengan kencang hingga kerudung yang menutupi wajahku, terbuka sepenuhnya.
"Zerlicia, kau...?"
"Aku tak memintamu untuk mengalihkan pembicaraan!" seketika aku membantingnya ke atas tanah dengan keras.
"Katakan padaku, mereka semua selamat, bukan?!" aku tak bisa menahannya lagi... aku ingin sekali menghancurkan wajahnya hingga ia tidak dapat memasang wajah bohongnya lagi.
"Nona...."
"Maaf, Hana... bisakah kamu merantai dia dengan kekuatanmu?"
__ADS_1
"...?" tampak sekali, tadi Wayra memasang ekspresi takut meskipun, kemudian ia kembali memakai wajah melas. Aku benar-benar tidak mengerti dirinya sama sekali. Yang jelas, aku harus melakukan sesuatu agar dia dapat berbicara.
Hana merantai tubuh Wayra, meskipun bagi sebagian orang, Wayra tidak terikat rantai, namun, yang Wayra rasakan, adalah sekujur tubuhnya terlilit rantai yang menghalau seluruh gerakannya.
Ia hanya dapat berjalan mengikuti perintah Hana. Kami pun masuk ke portal teleportasi yang sejak tadi berada di sana. Huh.. sungguh, kenapa rencanaku selalu saja gagal...?
"Zerlicia ~"
Woah... sebuah nada mengerikan terdengar disaat kami tiba di sisi lain portal teleportasi, benar, kamar penginapan!
Kami bertiga, termasuk Wayra, datang ke kamar penginapan yang aku sewa untuk setahun.
Tidak ada seorang pun yang berani mengganggu kami karena kami telah membayar biaya tambahan yang tidak tercantum. Benar sekali, aku menyuap pemilik penginapan agar kami diberi kamar dengan dinding kedap suara.
Meskipun baru saja aku sewa... Lein... dia telah menungguku sembari mencambuk kan rotan panjang di telapak tangannya.
"Mengapa kamu menghamburkan uang hanya untuk kamar penginapan yang tak jauh berbeda dari sebelumnya?!" dia benar-benar marah padaku... uh, aku rasa, malam ini aku tak bisa tidur dengan tenang.
"Begini, Lein... maksudku, Kak..." sial, aku hampir membuatnya tambah marah.
"Lupakan itu," dia tak marah? Biasanya dia langsung memancarkan aura mengerikan di saat ia marah. Namun tetapi, sekarang...?
"Tidak baik membiarkan tamu kita berdiri, apa kamu tidak punya etika, Zerlicia? Tidak, maksudku, apa kamu tidak punya etika, Wayra?"
"Huh?"
"Nona telah menaruh harapan pada dirimu untuk melindungi adik-adiknya dari berbagai macam bahaya yang menimpa mereka. Namun... kamu malah...."
"...." Wayra hanya terdiam disaat Lein menekan Wayra agar ia tersadarkan.
"Jadi, mau diapakan, Zerlicia?", tanya Lein kepada diriku....
Jujur, aku masih ragu-ragu dalam memberi hukuman pada diri Wayra. Di sisi lain, sifat iblis ku mulai membara. Di sisi lain juga, aku masih memiliki sifat kemanusiaan.
Tidak mungkin aku menyiksa Wayra hanya demi kepuasan sesaat yang akan aku terima. Jadi.... untuk sekarang, akan aku tingkatkan, kontrak budak kami.
"Kamu masih perawan?"
"Bacot. Katakan saja!"
Dilihat dari tampangnya, jangan bilang, Wayra telah melakukan nya...? Dia bersama siapa? Apa dia telah bersuami? Tidak, jika dilihat dari segi peraturan kerajaan, ksatria tak bisa menikah hingga mereka memutuskan untuk pensiun. Ksatria wanita tidak bisa menikah dan mengabdi secara bersamaan.
Itu berat meskipun dilakukan oleh Wayra sekalipun. Secara, Wayra merupakan kepala ksatria yang memimpin ksatria di kerajaan Ralley ini. Ditambah dengan raut wajah melas yang ia selalu buat ketika aku melihatnya.
"Siapa yang melakukan tindakan bejat ke kamu, Wayra?" tetap terantai, Wayra ku dorong ke atas tempat tidur dan membiarkan dia menggeliat geliat di atas kasur.
"...." dia tak mau berbicara ya? Tak masalah, meskipun bukan darah perawan, itu tak akan merubah statusnya.
Yang terpenting, aku perlu darah dari tubuhnya.
"Guuhhhh....." hmmm, Hana dan Lein mendengung secara bersamaan. Apa yang terjadi?
"Kenapa?" saat aku bertanya kenapa, mereka hanya menggembungkan pipi kemudian memalingkan pandangannya dariku.
Jujur, ini membuatku bingung!
Karena tak kunjung dijawab, sontak aku yang merasa kesal, tanpa aku sadari, aku telah memicu kutukan dari segel budak di tubuh mereka.
"Kau curang...." ujar Lein yang berusaha menahan rasa sakit bercampur nikmat yang ia rasakan akibat dari hukuman sang budak.
"Maaf, hanya saja, aku terlalu banyak pikiran. Aku tanpa sadar telah berbuat jahat ke kalian, maafkan aku."
Aku pun membebaskan mereka dari hukuman sang budak agar mereka tak lagi tersiksa oleh hukuman tersebut.
Huh, baiklah.
Setelah itu, aku melanjutkan apa yang aku lakukan sebelumnya. Benar, meningkatkan segel budak yang tertanam di tubuh Wayra, sekalian mengambil alih atas tuan baru bagi diri Wayra.
Aku selalu berasumsi bahwa kepemilikan Wayra telah beralih tangan dari tanganku dari awal. Sejak awal, Wayra bukanlah menjadi budakku melainkan budak kerajaan. Itulah asumsiku. Namun, perasaan tuan dan budak yang aku rasakan ini, terasa nyata.
Sial, ini memecahkan teoriku sebelumnya.
__ADS_1
"Jawab aku dengan kata-kata iya atau tidak," setelah selesai dan segel berhasil terbentuk di kulit luar rahim Wayra. Aku langsung menggunakan wewenang ku sebagai tuan atas diri Wayra untuk mendapatkan jawaban darinya dengan sejujur-jujurnya.
Dia tak bisa berbohong lagi setelah ini.
"Apakah adik-adikku masih hidup?"
"..." dia tak menjawab? Lumayan juga, dia tampak kuat menahan hukuman sang budak yang ia rasakan. Tapi, mari kita lihat.... seberapa jauh dia akan menahan semuanya.
"Apakah mereka masih hidup?"
"..." masih tak menjawab, kali ini hukumannya terasa dua kali lipat dari sebelumnya.
"Sekali lagi, jika kamu tidak menjawabnya, maka, kamu, dan adikmu, akan menderita!" aku sengaja mengancam Wayra supaya ia buka mulut atas apa yang terjadi kepada semua adik-adikku.
"Jadi, apa jawabanmu?"
"...." dia masih bersikeras untuk tidak menjawab pertanyaan ku?
"Tidak tahu..." huh? Dia menjawab nya?
Akhirnya ada jawaban meskipun, jawaban itu membuatku merasa sedikit kesal. Secara, setelah Wayra menjawab pertanyaan ku, Wayra tak terkena hukuman sang budak lagi.
Dengan kata lain, dia berkata jujur.
Sialan, tidak tahu?! Apa artinya, mereka berada di tengah-tengah antara hidup dan mati? Sebagian mati, begitukah?
"Zerlicia...." ah tidak boleh, aku tak boleh kehilangan kendali di tempat ini. Makasih telah menyadarkan ku, Lein.
"Dimana mereka?" pertanyaan kedua setelah aku tenang....
"Terpencar."
Terpencar? Apa mungkin, mereka dipecah-pecah?
"Dimana tepatnya?"
"Sebagian di Kamp pelatihan, sebagian di Kamp pekerja."
".... kau, menyiksa mereka?!"
"Bukan aku!! Ini semua salah putri kejam itu! Zerlicia... kumohon, aku akan melakukan apapun... jadi, tolong selamatkan lah, adikku yang mereka sandera!"
Tunggu, apa maksudnya?
"Maksudmu?"
"Elsa... dia adalah alasan mengapa aku melakukan semua ini."
"Tunggu, apa kamu mau bilang jika kamu mengkhianatiku dulu, juga karena adikmu yang jelas-jelas berada bersama kita?!"
"....." dia tak bisa menjawab ya..?
"Jadi, apa yang terjadi pada Elsa?"
"Dia... ditahan sebagai budak *"**..."
"Katakan sekali lagi..." aku tak salah dengar 'kan?! Gadis boneka itu...?
"Dia.... menjadi mainan bagi para pasukan kerajaan bersama sisa adik-adikmu yang tak mampu bekerja keras!"
"Tunggu, mereka juga ada di sana?!" adik-adikku juga menjadi budak pemuas di sana?!
"Aku tak tahu!!! Ini berbeda dari semua yang aku pikirkan! Mereka berbohong, mereka bilang jika aku berhasil memojokkan dirimu, maka mereka akan menampung kehidupan ku bersama adikku hingga kami menikah. Tetapi...."
"Mereka berbohong?"
"Ya..."
"Iya... itu adalah kebodohan mu sih."
"...." Wayra tak bisa menyangkalnya.
__ADS_1
Tetapi, adik-adikku.... sial, mau tak mau aku harus mempercepat pergerakan ku ya..? Mungkin ini saatnya aku menggunakan kekuatan yang kuperoleh dari Seyla.